Komedi Sindiran ’’Hantu-hantu’’ Hang Kafrawi

Musa Ismail
Riau Pos, 7 Okt 2012

SECARA leskikal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘’hantu’’ diartikan sebagai roh jahat yang dianggap terdapat di tempat-tempat tertentu (2005:387). Ketika disebutkan kata ‘’hantu’’, tentu saja mencuat suasana mistis, menakutkan, atau mengerikan. Karena merupakan roh jahat, hantu bersifat mengganggu atau ‘menggoda’ manusia untuk berbuat sesuatu yang jahat.

Ini Anak Aku, Bukan Anak Kau

Hang Kafrawi
Riau Pos, 29 Juli 2007

Cu Man selalu memegang prisip bahwa anak merupakan loyang atau wadah segala tingkah-laku orang tua. Anak seperti mutiara yang belum diketahui oleh orang banyak: ia memancarkan kilauan suci kepolosan, kejujuran, yang bisa berubah menjadi cahaya suram di masa akan datang: tergantung tingkah-laku atau etika yang dicurahkan orang tua kepadanya.

Nusa Puisi, Antologi Puisi Penyair NTT 2016

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 28 Juni 2017

Dalam catatan dan koleksi buku saya, buku antologi puisi yang berjudul Nusa Puisi (2016) yang diulas dalam tulisan ini, merupakan buku antologi puisi keempat dalam sastra NTT. Buku antologi ini menghimpun cukup banyak puisi karya para penyair NTT. Dilihat dari segi banyaknya penyair NTT dan banyaknya puisi yang terhimpun dalam empat buku antologi yang ada, keempat buku antologi ini bisa dinilai sebagai buku antologi representasi karya para penyair NTT yang berkiprah di panggung sastra.

Membaca Kearifan Penyair Nusantara

Neva Tuhella
harian.analisadaily.com

PASIE KARAM meru­pa­kan judul yang dipilih tiga ku­rator Antologi Puisi Temu Pe­nyair Nusantara 2016. Dewan Kurator terdiri dari D. Kema­lawati, Fikar W. Eda dan Musta­fa Ismail. Ketiganya, penyair asal Aceh.

Ada 163 penyair se-Nusan­tara yang pusinya di muat dalam antologi setebal 460 halaman ini. Termasuk di dalamnya 13 pe­nya­ir yang berasal dari Rusia, Si­ngapura dan Malaysia.

Bahasa Ilmiah

Seno Gumira Ajidarma *
Majalah Tempo, 30 Agu 2010

SAAT mengikuti penjelasan seorang dosen tentang bahasa ilmiah, beliau memberi contoh bahwa tidak dibenarkan menuliskan kalimat seperti berikut: “Menurut pendapat gue….”

Hehe. Waktu itu semua mahasiswa tertawa. Namun saya sempat berpikir, bagaimana kalau kita tidak hidup di Republik Indonesia, tetapi di Republik Betawi? Benarkah bahasa Betawi masih tidak layak dan tidak sahih menjadi bahasa ilmiah?