MENcatat DEMAM – memendam TACAT – Produk Sayembara Puisi yang Kacau

Shiny.ane el’poesya

Mungkin saat ini kita bisa mengatakan, bahwa kita kembali tak lagi dapat percaya pada seyembara-sayembara buku puisi yang ada di dalam tubuh sejarah Sastra Indonesia. Terlalu mudah untuk melihat begitu seringnya publik sastra kecewa pada beberapa kali hasil keputusan sayembara-sayembara tersebut. Terlalu sering pula pembaca kritis bukan lagi angkat bicara atau menepuk jidat, melainkan mengelus-mengelus dada atas hasil yang dikeluarkan oleh lembaga-lembanga penyelenggara sayembara tersebut. Terhadap hasil sayembara Hari Puisi Indonesia 2019 akhir tahun kemarin, misalnya. Continue reading “MENcatat DEMAM – memendam TACAT – Produk Sayembara Puisi yang Kacau”

“Kakaren” Simposium Kritik Sastra

Achdiat K. Mihardja

Kakaren adalah kata Sunda. Artinya ‘sisa’, ‘yang tertinggal’, ‘restantjes‘ kalau kata Belandanya. Dan sufiks diminutif ‘tjes’ itu memang esensial, sebab kakaren (boleh diindonesiakan menjadi “kekaren”) semata-mata merupakan sisa-sisa makanan yang tertinggal sesudah pesta makan selesai. Sisa itu dikumpulkan untuk dimakan besoknya, atau dibuang ke tempat sampah. Continue reading ““Kakaren” Simposium Kritik Sastra”

Amarah Burung Hong

Rinto Andriono *

Tuhan Yang Maha Cantik, sertai aku dalam membatik, hidupkan hawa warna dalam kain. Nyalakan bara pada tungku, lunturkan malam yang liat dan yang rapuh. Pulaskan warna daun jati sebagai alasnya, seduhkan warna teh untuk batangnya, baurkan sepat akar manggis sebagai daunnya, bubuhkan kunyit dan jenitri untuk bunganya. Aku butuh ilalang bersinar untuk burungnya dan daun putri malu mengalun merdu untuk sayapnya, yang bergetar ringan mengambang mengimbangi bumi, untuk menghirup sari bunga yang manis, simbol harmoni di tiga negeri! Continue reading “Amarah Burung Hong”