Derit Pintu yang Berulang

Pikiran Rakyat, 27 Mei 2005
Marhalim Zaini

Dan ia pulang, setelah larut malam.
“Apa kau mengira, aku tak tahu? Bahkan suara langkahmu, dapat kudengar sejak kau mulai masuk gang di ujung kampung.”
Dan ia membuka pintu kamar. Berderit. Padahal ia sedang tidak ingin mendengar suara derit.

“Apa kau menganggap, aku tak pernah ada? Atau mungkin aku hanya seonggok perabot tua, buku berdebu, sebuah album yang tak sengaja terbuka oleh angin, dan terbiar? Atau aku seperti suara derit pintu kamarmu itu?”

Ia mencampakkan tas tangan di atas meja, brak! Membuka jaket, dan melemparkannya di atas ranjang. Ia tidak sedang menginginkan suara lebih keras dari brak!

“O…begitukah jawabanmu? Ya, aku tak sedih mendengarnya. Bahkan yang lebih keras dari itu. Aku ini kan radio tua yang baik, sesuka hatilah tangan untuk memutarnya pada siaran apapun. Sebuah radio, adalah seorang pelayan yang setia, bukan?”

Ia kini telah bertukar pakaian. Pakaian tidur. Ia belum menutup pintu kamar, sebab ia tidak sedang ingin mendengar suara derit yang berulang.

“Baiklah. Aku tak perlu tahu, ke mana kau pergi setiap malam. Tapi rasanya aku ingin tahu, untuk apa kau pulang larut malam?”

Ia keluar dari kamar menuju dapur. Segelas air putih barangkali dapat memberi ia kelegaan yang lain. Malam yang cukup gerah. Apakah hari akan hujan?

“Apakah kau masih tak memiliki satu kalimat saja untukku? Untuk menjawab pertanyaanku?”
Malam sehening ini, satu suara saja dapat menggerakkan sepi. Ia selesai menenggak segelas air putih, seperti selesai menelan sesuatu yang menyempal di tenggorokan.

“Diammu itu, takkan membuat segalanya selesai…”
Padahal ia baru saja selesai menelannya. Ia membuka termos air, menuangkan ke dalam mug yang telah berisi kopi dan sedikit gula. Ada suara denting sendok kecil, beradu.
“Apa kaukira, kopi dapat membuat aku mengerti tentang kelakuanmu, dan memaafkannya?”

Ia berjalan menuju seperangkat kursi rotan tua. Dengarlah, yang paling khas dari rumah panggung ini, derit lantai papan itu, menirukan bunyi setiap langkah kaki manusia, seperti tuts piano yang bernada minor. Biasanya yang paling keras bunyinya, adalah saat kaki berada tepat di atas papan yang rapuh, yang reot, tempat bersarang ribuan rayap. Dan ia berjalan, seperti selalu berada tepat di atas yang reot, di atas yang rapuh. Ia meletakkan kopi panas di atas meja, yang sebenarnya berdebu. Ia sedang tak melirikkan mata atau menolehkan muka ke wajah lelaki tua, beruban, berkacamata, memakai syal, merokok, duduk bersandar seperti seorang juragan yang sekarat. Dan ia berlalu begitu saja. Meninggalkan yang bakal sia-sia.

“Dan nampaknya, kau memang suka melakukan pekerjaan yang sia-sia.”
Ia tahu, bakal sia-sia. Karena ia juga yang memindahkan dari meja, mug yang masih penuh berisi kopi dingin (yang seperti hitam yang beku), setiap pagi. Dan ia melakukan dengan senang hati. Membuang kopi ke tanah (seperti mengembalikan segalanya ke bumi), lalu mencucinya, dan meletakkan semula di rak-rak piring. Sebenarnya ia telah sampai pada satu perasaan bahwa apa yang telah dilakukannya tidaklah sia-sia. Ia merasa puas, saat ia bisa berbuat sesuatu untuk orang lain. Dan itulah ia. Hidup selalu untuk orang lain.

“Aku takkan pernah minum air dari seorang perempuan yang merasa dirinya paling benar, kau pasti tahu itu!”

Ia kembali masuk ke dalam kamar. Dan ia sedang tak ingin mendengar derit pintu yang berulang. Ia merebahkan tubuhnya. Membenarkan letak bantal. Membenarkan rambut panjangnya yang terhimpit badan, dan melemparkannya ke arah dinding di atas kepala. Mengambil guling, dan memeluknya. Apakah ia akan tidur?

“Hmm, aku tahu kau tidak akan pernah bisa tidur. Dan aku takkan pernah membiarkanmu tidur, selama kau masih menjahit mulutmu itu.”

Ia memang tidak pernah bisa tidur. Saat matanya terpejam, pikirannya justru terbangun. Tidur baginya, adalah sebuah pintu yang terbuka. Peristiwa-peristiwa hadir silang sengkarut seperti bayangan-bayangan hitam yang menakutkan. Dan ia selalu tak mampu menutup pintu, sebab ia sudah terlanjur muak mendengar derit pintu.

“Baik, aku tak peduli, kau mau membuka mulut atau tidak. Tapi aku tidak terima kau memperlakukan aku seperti batu. Sudah ratusan malam, kau pergi dan pulang larut. Tak pernah sepatah pun kau pamit padaku.”

Matanya seperti bulatan yang kosong. Ia takut mengatupkannya. Ia masih memeluk guling, seperti memeluk kehampaan. Dan telinganya, terus berdenyut. Apalagi malam sehening ini, selintas suara saja dapat membangunkan sepi.

“Apa kaukira aku tak tahu apa yang kaukerjakan di luar sana? Apa kau menganggap batu yang duduk dalam rumah tua ini, tak punya telinga untuk menangkap isyarat angin? Ini kampung, bukan Jakarta. Apa yang terjadi di ujung tanjung malam ini, malam ini juga kita dapat mengetahuinya. Dan para lelaki itu. Lelaki yang menjeling setiap lewat di depan rumah ini, apakah kaukira aku tak tahu apa makna jelingan itu?”

Telinganya terus berdenyut, seperti ada seekor coro yang terperangkap.
“Dan kau. Kau memang cantik. Masih muda. Satu kapal lelaki pun pasti masih sanggup kaulayani.”
Kini ada beberapa ekor coro lagi yang tiba-tiba menyumpal ke dalam telinganya, menambah denyut.

“Aku memang sudah reot, sama dengan kursi rotan ini. Sudah tak berguna bagi perempuan muda macam kau. Tapi perlu kauingat, bahwa aku pernah menjadi Ayahmu. Menjadi orang tua yang telah membesarkanmu. Kau mestinya harus bersyukur, sebab kau tidak selamanya menjadi gelandangan di perempatan jalan. Aku sudah mengangkat martabatmu!”

Dan menjatuhkannya kembali. Ia hanya bisa menjawabnya dalam hati. Suaranya telah lama hilang. Kini yang tinggal hanya suara hatinya. Dan suara derit pintu yang membuatnya mual, muak, dan miris…

“Dan kau yang menjatuhkannya kembali. Setelah aku reot dan tak mampu memenuhi kebutuhanmu, kau pergi mencari lelaki lain. Kaujual tubuhmu. Kautinggalkan aku dalam rumah terkutuk ini. Apa ini balasanmu?”

Balasan bagi orang yang telah memperkosaku? Denyut telinganya telah kebas, seperti baru saja kemasukan air bah. Ia tak jenak di atas kasur. Tubuhnya seperti dihuni oleh ribuan ular yang mengeliat-geliat. Ia meremas bantal guling, seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit yang nikmat. Dalam kepalanya, ada seorang lelaki yang sedang memainkan daun pintu, memainkan derit pintu…

“Benar, bahwa aku telah menidurimu. Terserah jika kau menganggapnya aku memperkosamu. Dan tersebab itu, istriku kemudian pergi, dan tak kembali. Aku memilihmu dan membiarkan ia pergi dan tak kembali. Tapi apakah tidak setimpal dengan kebaikanku yang memeliharamu sejak seumur jagung? Kini malah kaudiamkan aku. Kaubuang aku secara diam-diam. Kau lari ke dalam pelukan lelaki-lelaki kampung di simpang jalan. Dasar perempuan gembel!”

Dan derit pintu itu terus berulang. Semakin cepat berulang. Tubuhnya menegang, seperti sebatang kayu yang tumbang. Ingatannya membeku pada seraut wajah lelaki yang membuka pintu kamarnya, pada larut malam yang gerimis. Seorang lelaki yang telah ia anggap sebagai pelindungnya, sebagai Ayahnya. Seorang lelaki yang ditinggal pergi istrinya dan tak kembali. Lelaki yang setiap malam duduk di kursi rotan, memandang kepulan asap putih yang keluar dari mulutnya sendiri. Lelaki beruban, berkacamata, dan memakai syal. Lelaki yang mulutnya berbuih, bau belatung…
***

Orang kampung menganggap rumah panggung tua itu berhantu. Jeritan, denting gelas, derak ranjang, dan yang paling jelas derit pintu yang berulang-ulang, adalah suara yang seringkali didengar saat lewat di depan rumah yang terletak di sudut kampung itu. Terlebih, ada di antara mereka, yang melihat sesosok tubuh perempuan setengah tua berpakaian hitam-hitam, yang duduk di tangga rumah sambil menjahit syal. Yang pasti itu bukan sosok seorang perempuan muda. Ada juga yang menyangka, bahwa itu adalah istri yang telah lama pergi, dan kini kembali. Untuk apa ia kembali? Barangkali ia ingin memastikan keadaan suaminya, dan keadaan seorang perempuan muda, yang pernah mereka angkat sebagai anak, sekaligus yang pernah sangat ia benci. Atau, ia sengaja kembali setelah ia menerima kabar tentang kematian misterius yang menimpa suaminya dan anak angkatnya. Keduanya ditemukan oleh penduduk pada suatu pagi, entah pagi yang keberapa setelah kematian mereka, sudah dalam kondisi yang tidak wajar. Lelaki tua itu ditemukan kaku dan membusuk di atas kursi rotan tengah rumah, dengan syal yang terikat erat di batang lehernya. Sementara perempuan muda ditemukan sudah tergantung dalam kamar dengan leher yang terikat selimut. Orang mengira pastilah perempuan itu bunuh diri. Tapi lelaki tua itu. Entahlah.

Sejak itu, keramatlah rumah pangggung tua itu, dengan suara derit pintu yang terus berulang…
***

Pekanbaru, 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *