HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII

Hukum-hukum Pecinta
(Interpretasi puisi Nurel Javissyarqi yang bertitel
“Hukum-hukum Pecinta” dalam “Kitab Para Malaikat”)
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013, Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=231

Ia tak pernah menjatuhkan vonis kematian kedua kali, kecuali kau
naik banding, serupa mati surinya pemegang sapu lidi di makam Ampel (II: I).

Tahukah kau mengenai tercerabutnya nyawa? Sebuah awal perjalanan baru
berakhirnya kesedihan menuju kelanggengan kasih sayang (II: II).

Tidakkah kau merasa bersalah, berjalan di depan matahari
sambil menggandeng bayangan? Kiranya bayangan lenyap jika kau bersujud
di hadapan cahaya, ia seekor burung mengamati langkah-langkahmu (II: III).

Sebenarnya kau tidak mencintai bayangan tetapi ia selalu mengikuti,
bukankah ketenanganmu bercermin cahaya? Dan bayang bergetar olehnya (II: IV).

Di atas bukit ia berseru, ikutilah kepakan sayapku serupa menuruti nuranimu,
dulu aku memiliki bayangan, di saat terbang tinggi hilang sendiri,
ia tak mampu terbang, hanya membebani pengembara (II: V).

Jadilah kekupu waktu, menerima berkepompong terlebih dulu,
lama memintal benang sutramu, akan anggun begitu tampil (II: VI).

Kelepakan sayapmu menawan mata seekor elang berhasrat reinkarnasi,
menyerahkan tulang-belulang digerogoti cacing-cacing tanah (II: VII).

Tahukah doanya burung elang itu sewaktu sekarat? Ia tak ingin menjelma
laba-laba juga kelelawar, tapi memohon dijadikan kekupu pendampingmu (II: VIII).

Bersabarlah kekupu betina, kekupu jantan ialah lelaki
yang diciptakan demi abadi dari seekor burung rantau (II: IX).

Kekupu itu menghiasi taman temanten kembang,
mempercantik kebun para petani di lereng gunung anggur
dan pujangga memetiknya bagi syair percintaan, tapi ia menyebut pasurgan (II: X).

Ia tak ingin lautan madu sejak berlayar, tapi sebenarnya, terdampar di pesisir
tersapu angin butiran garam, tidak luput dikenyamnya terik ombak lautan (II: XI).

Dari beberapa pantai di datangi, ia menemukan keserupaan, yakni dirimu selalu
di hadapan, dan ketika meninggalkannya, ombak mengejar sambil menghapus bekas
tapakan kaki, seperti hasratnya angin mengubur masa lampau bersamamu (II: XII).

Maka janganlah mendatangi tercinta
bila hanya sekadar mata rindu tak bertepian (II: XIII).

Kekupu itu tak membutuhkan tambang berlian, tetapi udara kesegaran,
hawa tipis dataran tinggi keakraban, lagi menghangatkan kemesraan (II: XIV).

Mereka memberi nama persetubuhan, ia menyebut peribadatan
setelah cincin pelangi melingkar di jemari manis sungai pengertian (II: XV).

Jika ada artikan sama antara tangga kayu dan tangga berjalan,
usah membuang keringat ke sangkar langitan (II: XVI).

Ia membiarkan kekabutan bersahabat,
tetapi kekupu itu tak pernah ada, kata mereka (XVII).

Di bawah langit paling jauh, jelas mereka tak mampu melihatnya
sebab tulang lehernya belum patah, saat mendongak di hadapan cinta (II: XVIII).

Kekupu itu menundukkan sayapnya penuh santun
tanpa mencelakai diri pun mencederai yang lain (II: XIX).

Selepas naungan magrib menghilang, lebih dekat terbayang,
pentas segera digelar, lelampu menanti gelapnya malam
dan terangnya panggung merindu gemerincing binggel penari (II: XX).

Ia dendangkan lagu yang kau tunggu-tunggu, syair tak pernah dinyanyikan
sebelumnya, lantas perasaanmu, serupa penantiannya di masa-masa lalu (II: XXI).

Wahai jiwa mengarus bertenggelam, tentramlah di kedalaman tak terukur,
ia berpesan, jarutlah wewarna benang sutra bagi baju sedang kau tenun (II: XXII).

Ia menyebut bukan cinta tetapi sekadar perjumpaan awal,
apakah pertemuan pertama melahirkan cinta?
Dan ia tak perbesar keadaan, atau melebihkan canda (II: XXIII).

Biarkan makna kata kita lebur dalam hati semesta,
bila nyatanya mengandung (II: XXIV).

Engkau rela diracun demi menyelamatkan jiwa-jiwa merdeka,
kesalahan jangan terulang, jikalau tak ingin dikatakan bodoh (II: XXV).

Tapi ia lebih suka dibodoh-bodohkan atau dianggap gembel
daripada diasingkan sebagai orang tidak waras (II: XXVI).

Sempurnakan bebulu sukmamu agar tangguh di saat menjelajahi bumi,
menafsirkan malam-siang, dari dingin masa merangsek terik meyengat (II: XXVII).

Menuangkan kendi moyang pada dirinya takkan lupa, seperangkat kisah
terlaksana dari dorongan terdalam, bersatunya puja seringkikan turangga sembrani
menembusi kematangan fajar cakrawala hati (II: XXVIII).

Sampailah panggilanmu, gegas berkemas bawalah rempa
seperti burung bersiap terbang mempertaruhkan pagi-wengi pulang
membawa luka juga salam debu yang mati (II: XXIX).

Keringkan bebulu sayapmu, terlebih dulu bersisirkan angin seribu
dan mereka tidak mengira, atas apa kilauan mahkotamu (II: XXX).

Naikilah kereta kencana, yang ditarik enam kuda bersayap putih mengibas
seharum melati, dan berilah sapaan kepada orang-orang mendiamkan batu,
ia segera datang, sebelum matahari sepenggal gapura (II: XXXI).

Saat membuat perumpamaan dirinya, ia bersedih berat, bertangis tidak berair duka,
terangnya sesal oleh malu, sehelai saputangan membalut luka melebar (II: XXXII).

Ia turut percaya suatu masa nanti ketika tidak dalam irisan perasaan,
airmata itu menggenang memaknai haru, sedalam menyebut keajaiban (II: XXXIII).

Dia tidak kelebihan muatan perkara, sukmanya lelah tidak pernah menetap,
bergetaran meranggeh kepada perkampungan sejati rasa (II: XXXIV).

Dengan kerinduan terpisah, ia bicara berbahasa ruh, lelangkah menjangkau,
mendebarkan lelantai marmer nurani, sesering kalbu jatuh cinta (II: XXXV).

Nafasnya tersengal, tak terukur kiranya memahami alam kelemah-lembutan diri,
begitu tegar wahai kau (II: XXXVI).

Lama tidak bermain cat di kanvas keadaannya mengering,
hanya cakar-cakar pena di kertas, tidak mendesahkan warna (II: XXXVII).

Kawah penciptaan menggelegak leleh, kau bergetar demi cinta,
tetangkai reranting yang kering menarikan api sederai tangisan jerami
merobek langit menggosongkan kulit awan (II: XXXVIII).

Resapilah wewaktu memilukan, ini benar baju kebesaranmu paling kekal
sedang borok kalian murni kenangan (II: XXXIX).

Bila keras dibanting pecahnya jangan sesali, ia tak menyarankan membeli lagi,
kenapa tak memberi tahu sebenarnya, bahwa tidak memiliki segelas piala? (II: XL).

Ia tak menamakan prahara maupun canda,
mestinya kau menerima dirinya tidak sedang terluka berat (II: XLI).

Kau puteri kegembiraan, aku lelaki ganjil,
aku menulis perjalananmu yang asing di sebrang itu (II: XLII).

Seharusnya tidak terbuai suasana anyar
sebab kau berpamor menghipnotis yang menyaksikanmu (II: XLIII).

Jangan menunggu, jadilah yang ditunggu
sebab keputusanmu dinanti-nanti dirimu juga semua bangsa (II: XLIV).

Mereka memendam perhatian mengagumimu menerima pengajaran,
perintahnya menguasai kemakmuran masa-masa tidak tersampaikan (II: XLV).

Sungguh ia mengenali tatapan itu, menulis tidak dalam puncak legendamu,
masamu kini kembali, kau penari, pelukis, pemusik, pemahat
dan terkadang sesosok penyanyi (II: XLVI).

Kenapa kau meragu di perempatan jalan simpang? Cukup ambil nuranimu
bagi penentu, dan jangan biarkan kebimbangan bersinggah kedua kali (II: XLVII).

Kau harus tetapkan diri, kalau ingin disetiai mereka,
kebuntuanmu kemarin oleh kepakkan sayap dengan meragu,
tidak seharusnya, ada rintihan sakit hati ketika itu (II: XLVIII).

Ia membimbing pertimbanganmu lagi tersenyum bila kau melewati,
tidak menjadi tumpang-tindih, ia mencintai pemampu yang ambil putusan
serupa patokan kecerdasan mematikan keberuntungan (II: XLIX).

Dapatkah berkeajaiban baru? Puing-punig terbangun lestari, hidup penuh
kemenjadian, dibantu senjakala, sikap syukurmu menerangi pelataran malam (II: L).

Tiada terlambat nalar berputar-balik tersebab kau makna
kala terdiam memperhatian berkecukupan limpahan doa
letak di mana dirimu tidak terjangkau kapal manapun,
hasratmu di atas segala gelombang lelautan (II: LI).

Tidakkah merasa kesepian di suatu masa? Maka turunlah sesekali
demi mengusir kebosanan, menyembuhkan rindu benar mereka (II: LII).

Ketika sangat kangen bergetaran kencang, jika tidak menepati janji,
kebosanan segera naik berkendaraan kabut naluri ibarat seekor burung ganas,
sekian waktu memporak-porandakan singgahsanamu (II: LIII).

Kau perlu waspada datangnya sambillalu berluap cinta, ia persis mereka
akan melabrakmu berkekuatan rindu dan jika tidak memenuhi kesepakatan,
tangan maut melentik bagai bintang pembantaian malam atas janji cedera
tiada pertemuan (II: LIV).

Awal tidak terduga, kesadaran awan mengepulkan kata-kata
di kala tersulut loncatan peristiwa, memercikkan cahaya waktu ke udara,
berkendaraan sunyi menyusuri pijakan suwong (II: LV).

Burung terbang buta beban tubuhnya, ia hanya menyiasati angin diandalkan,
badai merangsek memaksa dirinya menyisir ke samping lintasan
mengepak menuju satu titik yang musti melawan arus,
tapi mereka enggan hati penasaran (II: LVI).

Mempercayai mentari terbit dari timur itu pilihan,
sedang senja dan fajar jingga masih sama tidak mau bicara,
terbit-tenggelam ialah wewarna busana kehidupan (II: LVII).

Suatu ketika cahaya mentari menapaki tangga pebukitan,
kita perlu duduk di pematang memandangi rerumputan padi
dedahan reranting turi ditarik angin berlalu,
kaki-kaki menikmati aliran pesawahan membasuh keringat pagi sore hari (II: LVIII).

Bukankah setiap insan membutuhkan ketentraman? Sebelum tanah lumpur
mengering, injaklah, sedurung nafas-nafas melupakan kita (II: LIX).

Tetumpukan ruang waktu itu bebulu pena menaburkan benih,
serupa para petani merawat garis-garis benang ke pematang (II: LX).

Tangan tidak lembut mengusangkan kilauan cermin,
memantulkan cahaya mengelupas lelapisan jiwa, menciumi rumput sama kering,
bebijian embun tergolek di alun-alun tengah kota (II: LXI).

Siapa yang bersolek di meja perundingan menawan nalar?
Bersegeralah menyongsong pecahnya arah kebangkitan,
mengacungkan keris menaiki turangga perjuangan (II: LXII).

Luka terlabut selendang pelangi yang melengkung di lelangit pertiwi,
bagaikan selintingan sejarah akan ingatan resah dalam kalbu tersontak
dan tiada lagi wajah-wajah hafal terpuaskan (II: LXIII)

; petikan kembang diberikan walau berselang di belakang,
keharumannya menetapi kelopak-kelopak cahaya bulan
dan mata takkan silau kehendak kebijakan (II: LXIV).

Usah kagumi keindahan semerbak dengan bersorak,
cukup jelajahi senyum ranummu sederhana terima apologi, ikhlas
menjalankan tempaan senja keemasan, menuju waktu percintaan (II: LXV).

Kelebatan sampur penari selentur kerahasiaan bayu meniup jiwa lembut
yang gemulai mengejawantah (II: LXVI).

Kau didukung walau tidak sepadan pendapatnya sebab hak penghormatan
serupa bunga dalam pot, tetangaki menjalar menghiasi kediamanmu (II: LXVII).

Celotehmu ringan ke kanan dan ke kiri,
sebab panggung terbagi dua atas tempat duduk mereka (II: LXVIII).

Yang muncul pertama kali gemetaran, bukankah awal cinta debaran jantung,
tubuh terasa berdemaman, lalu terbiasa mengalir? (II: LXIX).

Bengawan Solo membutuhkan tanggul petani sejati,
di sudut-sudut ruang temaram diterangi senyuman,
menyenandungkan gurau toak dalam kenduri (II: LXX).

Adakah pertanyaan tersembunyi dalam percakapan hening?
Lamunan kerap berkelana tersadarkan dentingan tuwong kencana,
menumpahkan anggur mata beling hening berserak duka (II: LXXI)

; gempa menggeserkan letak atmosfir dari kesamaan menjauh
atau jemari gadis keluar darah atas tarian pisau tidak disengaja, terpesona
bagaikan batin berkecambah dosa tak menstabilkan alam nyata (II: LXXII).

Bersungguhlah menyimak letih, jangan bertirakat mengenai dakian gunung,
gelar dan pelajarilah peta sebelum berangkat (II: LXXIII).

Menjadi membosan terlalu banyak mengunyah hikmah, berlenggak-
lenggoklah mewarnai kanvas semesta, wahai kuas berbulu langsing (II: LXXIV).

Kurang bijak sering menerbangkan layang-layang
siapa tahu bayu kencang cepat berakhir (II: LXXV).

Walau tarian di sana tiada menjemukan, tapi ambillah bunga rumput
di kampung hujan, itu jalan kaki gerimis petani dan rebah di kala reda (II: LXXVI).

Waktu pijakan kaki bersinggah, gerak langit menafaskan lautan,
mendung masih menggemerincingkan bintang-gemintang,
pada selat malam kata-kata menggelombangkan makna (II: LXXVII).

Menyisir air laut ke ladang-ladang, bayu terik menggiring padatan kecil;
pengalaman mengeraskan lengan kincir mematangkan masa menemui titik jiwa,
kehendaknya menghadirkan bulir-bulir garam berfaedah (II: LXXVIII).

Ada keraguan menggegerkan jagad, digoyang hebat daya bersalah
sampai di sebilah pucuk bimbang, memotong benang pilihan (II: LXXIX).

Terketuk batinnya berucap, bukan menjadi seorang atas besar-kecilnya,
titisan hikmah pengetahuan terus berjalan, sedang yang belum menemukan arah
tidak lebih dikejar waktu berpayah, memburu luruh tenaga lungrah (II: LXXX).

Nilai belumlah terjawab, bukankah bulan tak selalu purnama? Terkadang
mentari enggan menyapa, pada dirinya bulan sabit tandas kasih setia (II: LXXXI).

Penantian pada kekekalan bukan berasal dayadinaya,
ini prosesi telur burung onta menetaskan bidadari, seekor burung
tidak selalu bersenandung merdu di gantungan dedahan (II: LXXXII)

; semua atas kehendak pemilik jagad, ada sengaja, setengah tidak disengaja,
sedangkan gelap terang ialah pilihan, dalam gua nurani atau padang peperangan (II: LXXXIII).

Tidakkah lebih indah meniti buih mencari makna
daripada berdiamnya karang di pantai? (II: LXXXIV).

Siang malam bercampur aduk mematangkan pewarnaan,
pada kanvas pun masih menambah-tambal kemungkinan (II: LXXXV).

Ia melukis berjemari telanjang tanpa palet-kuas masih kerap bersketsa,
semakin lincah mencoba guratannya lembut senilai pencarian (II: LXXXVI).

Ingatannya digiring sesuatu, resapilah sisi-sisi keabadian,
dengungan hening tak perlu di pertanyakan, apakah ruang, waktu, kesadaran,
ia mengisi bagian-bagian terlupakan (II: LXXXVII).

Bergegaslah pergi dari perbincangan kulit, sebab semua datang dari-Nya,
akan kembali kepada-Nya pula. Membongkar isi nalar jiwamu menerima cemooh,
tangan lembutnya menggendong kekasih, berdekap muka tiada risau,
meski tidak selalu sempurna (II: LXXXVIII).

Andai maut menjelang, terlepas berluapan senang,
akan jauh gunjingan atas keikhlasan (II: LXXXIX).

Pertanyaan besar menciumi kening melepaskan nyawamu,
tidakkah sesamamu berpengharapan, bercumbu sampai sepuh? (II: XC).

Ia pikul keheningan, saat kalian tidak menguliti bimbang,
rupa setali kesadaran menyampaikan salam perpisahan (II: XCI).

Tetapi yang lain meneguk racun keraguan,
atau membaca sambil mencuri-curi waktu (II: XCII).

Karena ingin menjadi bagiannya, kunyahlah ke-aku-anmu serta (II: XCIII).

Kalimah hadir tidak terkira seperti turunnya kabut berpelangi
atas kesamaan kehendak itu lahirnya embun dikilau cahaya (II: XCIV).

Sudahlah, baca mimpi-mimpimu lalu lipatlah, dan berkemaslah menuju
kampus dunia, tersebab di bangku kosong, selalu ada perbincangan serius (II: XCV).

Gambaran bayu menggejala di tiap kepala, tegaskan coretanmu
meski gagal bukan tanpa makna kuasa berkehendak (II: XCVI).

Para seniman dihargai menyetiai kesunyiannya, ini karya terbaik
tidak membuang tanaman bunga dari potnya (II: XCVII).

Jadikan sisi ganjil penentu membicarakan garam di sebrang,
ombak uji-coba berbuih-buih ke pantai (II: XCVIII).

Hadir tiada apa kesiangan menaiki kereta sejarah,
sebab kepayahannya membawa jiwa merdeka (II: XCIX).

Tidakkah itu lebih baik dari berjalannya gerbong kosong?
Berhentilah di stasiun kau kehendaki atau berhasrat melanjutkan,
ia melantunkan tembang, sesudah memahami kata-kata (II: C).

Bukankah pelayar tidak dipaksa selain tengah peperangan?
Adakah tragedi dalam dadamu ketika itu? (II: CI).

Seyogyanya duduk sama tinggi saling terima, tiada perlu kompromi kecewa
sebagaimana dongeng dalam negeri mimpi para penguasa (II: CII).

Siapa membuka gerbang, mengunjungi petilasan malam,
batinnya saling rengkuh-dekap gemintang menangkap gelap,
di sini tiada bahasa curiga, dedaun dikilau cahaya kejujuran
dan bayangan burung terbang, lenyap di gerumpul awan (II: CIII).

Mengajaknya membangkit dan keagungan ditandai
atas tuangan kendi air suci tempaan purba, digerojogi
melewati tenggorokan rindumu terdalam (II: CIV).

Adalah angin menyibak rambutmu pelahan, kepergiannya
mencipta kangen kebisuan perbincangan, bersegera menuju kekekalan,
wahai tempat naungan kalbu, darinya membawa waktu penentu (II: CV).

Sungguh ia tidak menghadiahkan selain kepadamu,
gemuruh teknik warna coretan, arah gelisah kepada puncak rahasia (II: CVI).

Ini racikan bumbu para utusan terkuak, menumbuhkan selera baca,
malam mematangkan langit klawu, menyenandungkan laguan serangga
di celah pinggir danau, sewaktu kekasih mendampingimu (II: CVII).

Diamnya berabad-abad berpadat tumpukan gemawan,
memulangkanmu ke bibir hening menuju tetembangan muasal,
lantas memasuki lambung renung akan kemanusiaan (II: CVIII).

Guratan salam pujangga, bagaimana kabar hatimu kali itu? Pahatan
tidak perlu dijawab dengan kata-kata terucap, biarkan mengalir melewati
perbincangan membisu, membimbing sampai mengaribi gelap (II: CIX).

Ia hadir menghikayat di saat ketidaksadaranmu,
bagimu aku sarankan menyerahkan pilihannya (II: CX).

Kelopakan bunga menyeruakkan revolusi menjelang cahaya,
selanjutnya berpasrah, meninggalkan setengah hati getir tersisa (II: CXI).

Suaranya mengisi ruang sunyi, kau jauh lebih berarti ketika mengolah
telapak nasib, sebelum memahami jagad diri berlebih dengan bekerja (II: CXII).

Tak seharusnya ia berterimakasih sebab dirinya kesadaranmu terdalam,
hanya selayang kertas begitu mudah, tapi selangkah kaki kenapa susah?
Cobalah terka, dari manakah asalnya kata-kata pecinta? (II: CXIII).

*) Pengelana dari desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*