Memaknai Puasa dengan Puisi Tardji

31 Agustus 2008, Jawa Pos
Kuswaidi Syafi’ie

Ibadah puasa adalah sebujur ritual yang paling rahasia di antara sekian ritual yang lain. Salat, zakat, dan haji adalah ritual-ritual yang selalu ”terpublikasikan” dengan sendirinya dan bersinggungan secara langsung dengan orang-orang sekitar. Sementara puasa sepenuhnya merupakan ”perjumpaan aku-Engkau” yang tidak mungkin terendus oleh siapa pun yang lain kecuali kalau perjumpaan sakral itu sengaja dipamerkan.

Dalam telaga dan diskursus sufisme, pelaksanaan puasa yang ideal sesungguhnya tak lain merupakan penyerahan diri seseorang (shaim) secara habis-habisan ke hadapan-Nya. Ketika dia menahan diri dari kemungkinan makan, mencegah diri dari kemungkinan minum, menyingkirkan diri dari kemungkinan melakukan hubungan seksual di siang hari, pada dasarnya dia sebenanrnya sedang berusaha memampatkan ”jalan-jalan” hidupnya yang nisbi demi memutlakkan dan menyuburkan satu-satunya jalan lempang yang berujung nun di hadirat-Nya sana.

Berupaya memutlakkan dan menyuburkan satu-satunya jalan itu tentu saja tidak bisa serta merta membuat seseorang terhindar dari cekaman risiko. Dirinya yang merupakan adonan kuat antara dimensi kebendaan dan kerohanian yang nirbenda, antara dimensi nasut yang sumpek dan dimensi lahut yang melampaui angkasa, pada tahap-tahap awal pasti dia merasakan gigitan-gigitan sakit, bahkan mungkin sakit itu tidak kepalang.

Inilah barangkali yang coba diisyaratkan oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam sebiji puisinya yang berumbul Perjalanan Kubur (Jakarta: O Amuk Kapak, Yayasan Indonesia dan Majalah Horison, cet. ke-2, 2002): ”luka ngucap dalam badan/ kau telah membawaku ke atas bukit ke atas karang ke atas gunung/ ke bintang-bintang.”

Idiom luka itu pastilah merupakan referensi sekaligus representasi dari sekujur badan, tidak boleh tidak. Sebab pasti, hanya badan dan bayang-bayangnya yang berujud dunia psikis yang sangat mungkin tergocoh luka. Sementara dimensi rohani yang tak lain merupakan semburan ruh-Nya sendiri, dengan sendirinya pasti berkelebat ketika luka mau mencengkeramnya.

Luka yang bertaut dengan badan itu minimal terbelah menjadi dua. Yang satu adalah luka yang tidak tertanggungkan, baik oleh badan maupun oleh dimensi psikis. Luka jenis ini adalah badai prahara yang pasti tega menyorong seseorang pada jurang kehancuran yang kelam. Orang yang digandoli luka jenis ini tidak akan menemukan kejembaran dan keceriaan hakiki dalam hidupnya. Yang bertahta padanya hanyalah murung dan rengsa. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Na’udzu billahi min dzalik.

Sedangkan yang satunya lagi adalah luka yang tertampung secara apik di lubuk keimanan seseorang. Luka macam ini tertebus oleh tangguhnya kesabaran yang secara sufistik jauh lebih kukuh dan lebih luas ketimbang seluruh alam raya. Orang yang memiliki kesabaran seperti ini menjelma keluasan tak terkira sehingga dia menjadi makrokosmos di hadapan semesta yang ”mengecil” menjadi mikrokosmos. Segala sesuatu yang beraneka ragam dan berjibun-jibun bisa tertampung di dalam hatinya. Bahkan Allah swt pun sudi untuk bersemayam di dalamnya, sebagaimana yang pernah diwartakan-Nya sendiri melalui sepotong hadis qudsi: ”Langit dan bumiKu tidak sanggup menampungKu, tapi hati seorang hambaKu yang beriman dan sabar sanggup menampungKu.”

Luka jenis yang terakhir inilah yang sewaktu-waktu bisa menjadi piranti bagi seseorang untuk mendapatkan sayap-sayap rohani yang menjuntai ramah dari alam malakut-Nya. Dan ketika dia telah mengenakan sayap-sayap rohani itu, maka dia akan mudah sekali untuk terbang ke bukit, ke karang, ke puncak gunung, ke bintang-bintang, sebagaimana diungkap oleh baris puisi di atas.

Sebagaimana yang lazim digunakan dalam kepustakaan bahasa puisi, idiom bukit, karang, gunung, dan bintang-bintang dalam puisi Sutardji itu pastilah bermakna majazi atau simbolik. Idiom-idiom itu tidaklah menunjuk kepada benda-benda atau wilayah-wilayah tertentu secara wadag, akan tetapi mengacu pada sejumlah tahapan atau pengalaman spiritual (experience of religion) yang merupakan penanda bagi adanya pencapaian-pencapaian yang telah diterobos oleh seseorang.

Ketika seseorang dengan girang mengalami pencapaian-pencapaian rohani itu, maka puasa secara substansial baginya betul-betul merupakan sumbat terhadap berbagai lubang atau jalan yang menuju ke arah selain-Nya. Hidupnya menjadi laksana pohon yang tidak bercabang, tapi sepenuhnya runcing dan ”menohok” ke arah ketakterhinggaan-Nya.

Seseorang yang berpuasa secara hakiki seperti ini tidak akan merasa menahan lapar ataupun haus. Sebab, lapar dan hausnya semata tertuju kepada Allah swt, bukan terutama kepada makanan ataupun minuman yang sangat menggiurkan sekalipun. Dan, Allah swt yang keramahan-Nya tidak perlu diragukan oleh siapa pun itu senantiasa bersedia untuk memenuhi raungan lapar dan gelegar hausnya dalam sebuah perjumpaan transendental yang bernama cinta.

Seluruh rangkaian hidup dan mati orang itu diletakkan di atas nampan cinta dan disodorkan sepenuhnya kepada Allah swt. Dan, tidak tanggung-tanggung balasannya: Dia Yang Mahapemurah itu juga menghablurkan seluruh kedirian-Nya kepada orang itu. Itulah yang oleh orang-orang sufi disebut dengan ridha, nilainya bisa melampaui keimanan seluruh alam semesta. Sehingga kalau ditimbang antara ”sebutir” ridha dengan seluruh keimanan yang ada, maka seluruh keimanan itu belumlah berarti apa-apa.

Dalam kondisi dibaluri oleh ridha itu, dia bisa dengan legawa berucap sebagaimana Sutardji berucap: ”lalat-lalat menggali perigi dalam dagingku/ untuk kuburmu alina.” Yakni, segala sesuatu yang pahit begitu leluasa menggedor-gedor lapis permukaan dari aku-lirik. Dan, si aku-lirik membiarkannya dengan penuh ketulusan dan penerimaan demi sesuatu yang sungguh mulia: terkuburnya segala kekasih yang selain-Nya (alina) demi tercapainya puncak pergulatan cinta dengan Yang Mahaesa.

Allahummaj’al hubbaka ahabba ilayna minal mail barid. Amin.

*) Kuswaidi Syafi’ie, penyair yang juga dosen Tasawuf di PP Universitas Islam Indonesia Jogjakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *