MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=235

Allahhumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad;
ruh bersaksi sederaian gerimis mengantarkan rasa atmosfer semesta
terkumpul di dasar laut di kedalaman rongga dada pujangga (I).

Mengatup manggar sayang, mengadu dataran gurun,
gapaian kalbu menyingkap suluran tabir, berdentaman tembang ganjil (II).

Yang genap dinikmati terhuyung ingin penuh, dari awal hingga akhir
harap dipunggah, bermula lelembaran magnet cahaya rasa (III).

Kertas ini seluruhnya bertakdirkan nyawa persembahan,
kelanggengan bagi anak-anak sungai menuju muara (IV).

Maka jangan menghitung masa bertirakat,
hisaplah kutub keberadaan kekuatannya (V).

Percikan ini berasal bebijian zaitun bersimpankan minyak
cemerlang tanpa nyala api, laksana insan berkehendak tinggi
melebihi kursi kedudukan para Malaikat Ruhaniyyuun (VI).

Kesungguhan mendekatkan diri, di muka pintu serasa lenyap;
kau mendaki usia, ia suguhkan udara bagimu,
kau kunjungi telempap, ia persilakan waktu bagimu juga (VII).

Jangan mewujud tanya gentayangan, tak diketemukan senyawa
bila belum mendapati diri berpasang-pasangan (VIII).

Kenapa sebentar-sebentar kalian menarik nafasmu kembali?,
pena ini menemani gamelan hening kalimah ke dasar relung misteri (IX).

Rengkuhan kasih sayang merawat tiap-tiap abad,
lalu gerak reinkarnasi sayapnya sampai kepadamu, ke dasar jiwamu (X).

Bulu-bulu lembut juga tegas mengajarkan aksara tidak patah
walaupun air laut berselimutkan kain sutra angkasa jiwa (XI).

Sengaja mengunjungi masa silam
puja keagungan di tengah pencarian kesejatian,
bertarian Keilahian terpatri di dinding gua sejarah
inilah relief-relief pahatan orang-orang berbudi utama (XII).

Pada gua batu yang teguh tidak binasa lahar halilintar,
pintu-jendela tertutup, hilang ingatan kan kecewa dan di sebrang angan
tiada duga, sedang damai dititipkan pada goyangan rimbun dedaun (XIII).

Tubuh letih mata senja setajam pandangan arif menakar peristiwa,
segenggam benih padi, senyum taburan suci para petani (XIV).

Hadiahkan bulir-bulir jagung dari keranjang emasmu,
rindu datang sendiri sedang gerimis sebentar lalu pergi (XV).

Membasuh kaki-kaki kembara ke makam para wali,
ada teratai bermekaran dalam bentangan waktu petang hari,
malamnya purnama, siangnya menutup kelopak-kelopak penuh rahasia (XVI).

Memindahkan rasa sakitmu dari tangan alam ke titian waktu,
serpihan cahaya langit membatu granit, serupa butiran garam
dihempaskan ombak ke bunga karang berulang-ulang (XVII).

Yang setia menyusuri jalan menapaki pantai hakikat, segera tahu
bunga Wijayakusuma merekah, bagi syarat penobatan Ratu Adil (XVIII).

Inikah cahaya kata-kata di malam purnama demi rakyat jelata?
Surat muqaddimah ini kunyalah penuh ketabahan,
rajut benang-benang sutranya bagi baju kebesaran (XIX).

Dasarnya sakit ada tombonya, sejengkal air bengawan mengaliri mata kaki,
menikmati tapakan melangkahi bencah membaca peta pesisir,
menjelma tarian pulang berjejak makna peristiwa sejarah (XX).

Mengagungkan rahmat-Nya sejauh menimba sumur terdalam,
jikalau bersemedi di dalam gua nurani (XXI).

Setiap mengambil nafas darimu memejamkan mata terpuaskan
dan ruh suci kehidupan asyik-masyuk mengejawantah (XXII).

Bukan berasal ragu menjelma keyakinan, namun
mengangkat legenda dari kurungan masa sedari kungkungan pelita (XXIII).

Niat gairah berlimpah, menumpuk bebatuan candi menstupa,
apabila tugu tegak di tengah-tengah kota, manusia berlalu-lalang saling tanya
kepada dirinya juga lebih (XXIV).

Setidaknya kalian ketahui loncatan menjangkau perasaan kaum Hawa
melebihi percepatan hitungan nalar para penanya (XXV).

Panjangnya benang layang-layang ditiup bayu,
rambut terurai selendang mendatang yang mendentang
dan wengi melahirkan hikayat di bawah sadar penciptaan (XXVI).

Di terik mentari mereka enggan bersapa, maka ingatlah
yang mengalir ke bawah hati senantiasa berabadi
melepas beban ruang waktu pengisi sesungguhnya (XXVII).

Apabila menyelami inti sadarnya alam menjernihkan mata batin,
itulah embun di idep-nya kembang Prabusetmata (XXVIII).

Sengaja melibatkan hukum-hukum langit di bukit Giri
tersebab bumi menggosok-gosokkan tubuh mentari kian renta (XXIX).

Anak-anak jaman menjunjung kepundennya,
menciumi tangan-tangan mewangi (XXX).

Bunga merekah di awan meneteskan gerimis embun kahyangan,
terhisap para kembara yang mengajari jiwa-jiwa kalian (XXXI).

Tetapi rautnya kerap berubah jikalau pandanganmu gusar, maka
nyalakan api ke satu titik, setiap insan menyembunyikan tanya sebenarnya
; aku ingin terkubur di dasar laut, kata kembara (XXXII).

Yang hafal menancapkan keyakinan dalam-dalam,
lalu keringat kesembuhan menguap
melampaui awan ribuan jendela hujan (XXXIII).

Terbangun puing-puing menjelma lestari
dan umur berserakan tertata kembali (XXXIV).

Sebelum sampai hembusan membesar
sebentar-sebentar kalian merasa kekenyangan,
ini bukan kembang gula atau jajan pasar (XXXV).

Menujulah kepada diri kesucian,
saat di jalan licin mendapati tongkat di tengah-tengah sebrang titian,
bebatuan mulia kau simpan, tetapi para kekasih tidak membutuhkan (XXXVI).

Isyarat sudah cukup atau kalian telah muntah,
mimpinya lebih berharga dari selingkar kalung di leher putri raja (XXXVII).

Bulan tidak pecah hanya tanggal di kalender malam
dan masa mengembalikan tubuh purnama (XXXVIII).

Ragumu menghantui, tekadmu berjembatan,
ia di sisimu di setiap engkau rebah (XXXIX).

*) Pengelana dari desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*