Ombak

Jurnal Nasional, 14 Sep 2008
Arie MP Tamba

Ombak itulah yang membangunkan aku lagi padamu:
rambutmu masih hijau meskipun musim berangkat coklat.
Kujahit lagi robekan-robekan tahun pada gelisahku
dan darahmu kembali mengatakan yang ingin diucapkan jantung.

Dulu angin musim panaslah yang mendudukkan aku di sampingmu
dan atas ranjangmu ia tambatkan desirnya memeluk tidurmu.
Kau pun terima aku seperti pohon menerima benalu
dan aku mengikutimu seperti mata batu mengikuti suara di udara.

Garam adalah garam. Ia bisa lebur dalam air
tapi tak dapat lenyap atau dilenyapkan. Dari jauh
kupinjam mulutmu buat meneguk gelas-gelas kosong waktu
dan memberi jalan pada pagi hari lain yang tak mungkin datang.

(Abdul Hadi WM, Tergantung pada Angin, 1977)

Kritikus sastra asal Belanda, A Teeuw (1980) secara khusus memilih sajak Ombak Itulah untuk menjelaskan “kepenyairan” Abdul Hadi WM di antara para penyair penting Indonesia lainnya. Ia menyebutkan, Abdul Hadi adalah seorang penyair imajis Indonesia, yang terus-menerus melakukan pengayaan makna dengan berbagai bentukan metafora atau kiasan baru dan segar, yang diusakahan lolos dari pemaknaan keseharian.

Pada puisi Ombak Itulah di atas, misalnya, Teeuw mencatat penggunaan kiasan: rambut hijau, musim coklat; robekan-robekan tahun yang dijahit pada gelisahnya: angin musim panaslah, yang menambatkan desirnya memeluk tidurmu, adalah ungkapan-ungkapan personal penyair untuk memperlihatkan suasana kenangan dan peristiwa pertemuan yang terus berlangsung secara khusuk dengan “kau” yang dibayangkan.

Relasi aku-kau begitu dominan pada puisi Abdul Hadi ini. Dari membangunkan aku lagi padamu pada baris pertama sampai kupinjam mulutmu dalam bait terakhir jelaslah bahwa si kau begitu esensial bagi si aku. Dari berbagai pilihan kata simbolik yang digunakan si penyair, relasi aku-kau juga berindikasikan relasi percintaan yang posesif: rambutmu, darahmu, ranjangmu, tidurmu, mulutmu, sampingmu…

Dari keseluruhan bait puisi juga tercermin, bagaimana si aku begitu bergantung pada si kau, seperti dengan begitu jelas disarankan pada bait 7-8: Kau pun terima aku seperti pohon menerima benalu: si aku adalah parasit yang hanya mendapatkan kehidupan dari kebergantungannya pada kehidupan lain. Atau dengan penyampaian penuh saran: aku mengikutimu seperti mata batu mengikuti suara di udara.

Si aku lirik dalam Ombak Itulah, pasti akan esensi kehidupannya yang hanya mendapatkan pemaknaan dari adanya kehidupan lain. Ia seolah tak memiliki arti apa-apa tanpa keberadaan “induk” atau “kekasih” pemaknaan, yang jadi sangkutan maknanya. Meskipun keberadaan si kau, kekasih, atau induk pemaknaan itu, ada kalanya begitu abstrak dan hanya dapat dipahami melalui hubungan simbolik seperti antara batu dan suara di udara di atas.

Tak pelak lagi, puisi Ombak Itulah bukan sekadar karya psikologis-fisis-artistik biasa, melainkan serangkaian diksi yang disusun sebagai penopang keyakinan tertentu atau bahkan rekaman dari pengalaman religius yang sedang merasuki si penyair. Kau, kekasih, dihadirkan sebagai penggambaran keakraban dengan sebuah dunia transendental, atau atas pengalaman metafisis.

Dan mengidentitaskan Tuhan sebagai kekasih, bukanlah sesuatu yang aneh dalam tradisi puisi, terutama puisi sufistik Timur atau Barat. Dalam puisi Abdul Hadi, kesejajaran aku-kau ini juga berada dalam bingkai pemahaman sufistik yang sama. Posisi yang melihat relasi aku-kau, dalam tataran universal, seperti pernah dikiaskan secara cemerlang melalui puisi Jalaluddin Rumi yang terkenal:

Apa yang harus kulakukan Oh Muslim, sebab daku tak kenal diriku?
Aku bukan Nasrani, bukan Yahudi, bukan Majusi, bukan pula Muslim.
Aku tidak dari Timur, tidak dari Barat, tidak dari darat atau lautan
Aku tidak dicipta dari tanah, tidak dari air, udara atau api
Aku tidak berasal dari putaran cakrawala, tidak dari pusaran debu, tidak pula dari keberadaan dan wujud
Aku tidak bersal dari India, Cina, Bulgar ataupun Saqsin
Tidak dari kerajaan Iraq, Qum atau Khurasan
Aku tidak berasal dari dunia ini atau dunia yang akan datang, tidak dari surga atau neraka
Tidak dari Adam atau Hawa, tidak dari taman Firdaus atau kediaman Ridwan
Asalku bukan tubuh dan jiwa, sebab aku sepenuhnya milik jiwa Kekasih (Abdul Hadi WM, 2004)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *