Pengarang yang Menggandeng Jibril

dicawuk dari Jurnal Nasional 7 Sep 2008.
Grathia Pitaloka
Berbicara mengenai spiritualitas dalam karya sastra Indonesia, tak genap rasanya bila tak menyebut Danarto.

Membaca cerpen-cerpen Danarto, lelaki kelahiran Sragen, 27 Juni 1940 ini, seperti masuk ke sebuah dunia asing layaknya Alice in the Wonderland. Dengan cantik Danarto menyulap pohon, hantu, bahkan ayat suci Al Quran menjadi tokoh dalam ceritanya. Berlatarkan nuansa Jawa yang sangat kental, Danarto mengetengahkan cerita bergaya surealis lengkap dengan pilihan kata fantastis.

Coba tengok karya Danarto yang berjudul Pohon Rambutan. Cerita pendek yang dimuat dalam buku berjudul Kaca Piring ini bercerita tentang sebatang pohon rambutan yang tumbuh begitu saja di tepi jalan, di tepi sawah. Tak bertuan, tak berteman. Pohon rambutan itu sudah ada sejak zaman Jenderal Sudirman berperang melawan Belanda. Buahnya selalu lebat dari musim ke musim, dinikmati oleh siapa saja. Pohon ini menjalin persahabatan dengan seorang lelaki. Sebuah pertemanan yang abadi, sejak si lelaki masih belia hingga tua renta.

Dalam salah satu esainya, Korrie Layun Rampan menyebut Danarto sebagai pembaharu dalam khazanah sastra Indonesia. Pendapat tersebut diamini oleh sutradara sekaligus penulis Putu Wijaya.

Menurut Putu, gaya eksperimen telah digeluti Danarto sejak tahun 60-an, meski pada masa itu gaya eksperimen terbilang sesuatu yang tak lazim. “Kalau saat ini tulisan eksperimentalis bisa dibilang biasa, tetapi ketika itu Danarto telah memperkaya pembendaharaan cerpen lewat cerita-cerita yang surealis,” kata Putu kepada Jurnal Nasional, Selasa (2/9).

Senada dengan Putu, sastrawan Abdul Hadi WM juga menilai kalau Danarto telah membawakan corak baru dalam dunia sastra Indonesia. Danarto mengajak para pembacanya masuk ke dalam dunia lain yang tak mungkin terjangkau realitas sehari-hari. “Danarto menyajikan tema, gaya bercerita, serta tokoh-tokoh ceritanya seperti mendongeng. Ia menggerakkan imajinasi, tak peduli realitas atau bukan, bagi Danarto semua hal adalah realitas,” ujar Abdul Hadi.

Keberanian mengangkat nilai-nilai tradisi sebagai bahan baku tulisan merupakan salah satu keistimewaan pria lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia ini. “Cerita-cerita Danarto dapat menyusup ke relung hati pembacanya,” kata Putu Wijaya, pentolan Teater Mandiri ini.

Putu mengatakan, ketika tokoh-tokoh pembaharu sastra lainnya banyak terpengaruh oleh aliran roman baru yang tengah berkembang di dunia Barat, Danarto justru berangkat dari nilai-nilai tradisi yang digali dari latar belakang budayanya.

Ketika kaum eksistensialis Barat bertolak dari rasio dan penalaran ilmiah yang bermuara pada sistem filsafat, maka Danarto lebih memilih merapat pada nilai-nilai mistik yang sulit dijabarkan lewat logika. “Danarto belajar dari tradisi Jawa. Ia menulis layaknya orang Jawa menulis, di dunia Barat tidak ada yang seperti dia,” kata pria yang pernah menjadi Dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS ini.

Sisi mistik Jawa
Berbeda dengan Putu Wijaya, bagi Budi Darma, nilai-nilai kejawaan Danarto belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tak seperti Pramoedya Ananta Toer atau Mangunwijaya yang mengangkat budaya Jawa secara realis, Danarto cenderung menyajikan sisi mistiknya.

Budi mengatakan, hal lain yang menjadikan Danarto penulis yang istimewa adalah kepiawaiannya menguntai plot cerita yang sederhana, namun membuat pembacanya paham tentang kehidupan lain. “Karya-karya Danarto sulit untuk dijabarkan, tetapi dengan mudah dapat dirasakan,” ujar penulis Nyonya Talis ini.

Selain sarat akan nilai-nilai mistik Jawa, karya-karya Danarto juga kental dengan doktrin sufi yang disajikan sebagai salah satu corak pemahamannya terhadap Tuhan. “Danarto adalah seorang Muslim yang taat, ia memasukkan nilai-nilai agama pada hampir semua tulisannya. Tentu saja melalui jendela pemahamannya yang tidak umum,” kata Putu.

Danarto berkenalan dengan dunia tasawuf dari buku-buku yang sering dibaca ayahnya, Jakio Harjodinomo. Ayahnya yang berprofesi sebagai mandor sebuah pabrik gula sering membaca buku-buku tasawuf Al-Ghazali, Agus Salim, bahkan Leadbiter. Maka tak heran jika Danarto lebih dulu akrab dengan dunia tasawuf ketimbang agama.

Penerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand ini juga mengaku tak pernah belajar tentang agama pada siapa pun. Ia bertutur jika kota yang didiaminya tidak terdapat pesantren maupun tempat untuk menuntut ilmu agama.

Danarto mengaku baru berkenalan resmi dengan agama ketika menginjak 27 tahun. Nah, Pengalaman-pengalaman spiritualnya dalam mencari sosok Tuhan itulah yang kemudian dicurahkan dalam karya-karyanya. “Karya-karya Danarto dipengaruhi oleh pengalaman batinnya. Di mana jalan ceritanya merupakan rekaan namun intisarinya merupakan kisah nyata,” kata Putu.

Pembelajaran hidup membuat Danarto tidak menyajikan nilai-nilai ketuhanan secara vulgar. Ia tidak mengobral dakwah melainkan memilih mengadopsi bias-bias realita dan menyajikannya melalui cerita-cerita fantastis.

Seperti dalam cerita pendek berjudul Anakmu Bukanlah Anakmu, ujar Gibran. Cerita tersebut berkisah tentang perempuan bernama Niken yang hamil tanpa melakukan hubungan seksual. Kemudian Niken memilih menikah dengan Tomo, lelaki miskin yang tak pernah dikenal sebelumnya.

Bukan Danarto jika tidak menyajikan kejutan dalam ceritanya. Pada pesta pernikahan Niken dan Tomo muncul pujangga Khalil Gibran – seorang tokoh sufi yang telah meninggal tahun 1931- yang datang untuk memberikan kado.

Dalam cerita yang sederhana, Danarto melakukan eksperimen sehingga terbentuklah cerita yang tak biasa, bahkan bisa terbilang absurd. “Danarto banyak terpengaruh tarekat Jawa yang kental akan nilai-nilai mistik. Namun karena dia Muslim yang baik maka semuanya tersalur dengan baik,” ujar Putu.

Latar seni rupa
Abdul Hadi menambahkan, gaya penuturan Danarto merupakan perpaduan antara sastra Melayu dan sastra Jawa. “Dengan semangat Jawa yang kental Danarto mencampuradukkan tokoh-tokoh mistik Islam dan non-Islam dalam sebuah cerita,” kata Abdul Hadi.

Latar belakang seni rupa yang digeluti Danarto juga berpengaruh pada karya sastra yang dihasilkannya. Ia pernah aktif di Sanggar Bambu Yogyakarta, sebuah perhimpunan pelukis yang biasa mengadakan pameran seni lukis keliling, teater, pergelaran musik, dan tari.

Danarto juga sempat berkecimpung dalam pementasan drama dan film sebagai penata dekorasi. Ia sempat membantu beberapa pementasan yang disutradarai Rendra dan Arifin C Noor. Beberapa film yang dekorasinya sempat dikerjakan Danarto yaitu, Lahirnya Gatotkaca (1962), San Rego (1971), Mutiara dalam Lumpur (1972), dan Bandot (1978).

Di mata Putu, Danarto merupakan seorang pelukis yang baik. Persingungan antara seni rupa dan sastra yang digelutinya tak dapat dihindari. “Karya-karya sastra yang dihasilkannya sangat dekat dengan seni rupa, sehingga ketika membaca tulisan Danarto bagai membaca lukisan yang diceritakan,” kata pria yang telah empat kali dinobatkan sebagai pemenang sayembara penulisan lakon Dewan Kesenian Jakarta itu.

Sementara, seiring berjalannya waktu, Budi Darma melihat Danarto mulai bisa memberi sekat antara dua dunia seni yang digelutinya. “Pada karya-karyanya yang sekarang nuansa seni rupa sudah tidak terlalu kentara, sepertinya Danarto sudah membedakan keduanya,” kata pria kelahiran Rembang, 25 April 1937 ini.

Putu mengatakan, dari segi konteks maupun cara penuturan Danarto mulai mengalami pergeseran. Jika dulu Danarto lebih konsern pada konteks transendetal, sekarang karya-karyanya cenderung konsern pada konteks sosial politik. “Jika dulu cara penuturannya kental dengan nuansa sufistik, sekarang cenderung lebih populer,” ujar pria asal Tabanan, Bali ini.

Dari puisi ke prosa
Budi juga memiliki pandangan serupa dengan Putu, menurutnya, karya-karya Danarto di masa lampau terasa lebih syahdu, sementara karya-karya saat ini lebih cenderung kearah realis. “Gaya bahasa Danarto dulu lebih mengena pada hati pembaca cenderung seperti puisi, kalau sekarang seperrti prosa biasa,” kata mantan Rektor IKIP Surabaya ini.

Budi melihat perubahan pada karya-karya Danarto disebabkan oleh perubahan realita sosial yang bergulir begitu cepat. Sementara dulu, ritmenya terbilang masih lebih lambat. “Dulu jumlah media dan bacaan tidak terlalu banyak seperti saat ini,” kata penulis Orang-Orang Blomingtoon ini.

Namun baik Budi maupun Putu sepakat jika Danarto merupakan penulis Indonesia terbaik untuk aliran realisme magis. “Jarang penulis seperti dia, Danarto masih yang terbaik saat ini,” kata Putu.

Danarto dapat dikategorikan sebagai seorang penulis bernapas panjang. Hingga menginjak kepala tujuh pria yang sempat mengajar di Institut Kesenian Jakarta ini masih produktif menghasilkan karya-karya berkualitas. “Untuk menilai produktivitas seorang penulis tak boleh hanya berdasarkan kuantitas karyanya, aspek kontinuitas juga harus diperhatikan,” ujar Putu.

Putu mengatakan, ada banyak penulis lain yang awalnya produktif menghasilkan karya, namun kini tak terdengar lagi kabarnya. “Tetapi Danarto masih tetap menulis dan melahirkan karya-karya berkualitas,” kata ayah satu orang anak ini.

Hal senada juga dilontarkan oleh Abdul Hadi, menurutnya, imajinasi Danarto semakin berkembang dan merajalela. “Kalau pengarang lain banyak yang memilih mengekang kebebasannya, tidak untuk Danarto. Bahkan ia tak peduli jika disebut kuno,” ujar Abdul Hadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *