Ruang Mimpi

Al-Fairish

Denting irama jarum jam dan nyanyian satwa malam seakan tak pernah berhenti. Angin malam dengan hembusan mesranya melewati celah angin-angin, menyentuhku yang sedang asyik membayangkan wajah-wajah ceria para penikmat cinta. Kemudian aku berjalan mendekati jendela dan melayangkan pandangan keluar kamar, tampak deretan pepohonan yang menjulang tinggi. Lambaian daun-daunnya seakan memanggilku dan menawarkan keindahan mahkota bunga yang sedang mekar. Rumput yang hijau memantulkan sinar melalui embun yang menempel dan terbias oleh sinar rembulan.

Malam kian larut sedang mata ini sulit terpejam. Dalam kesunyian itu kudengar suara seseorang memanggil namaku.
“Naila, Naila.”
Suara itu menggema di antara bunyi gemerisik daun yang terhempas angin.
“Naila, Naila.”

Suara itu kembali hadir memenuhi setiap ruang telingaku. Seketika itu aku berjalan keluar kamar lalu menelusuri koridor asrama menuju jalan setapak dari mana suara itu jelas terdengar.
“Sayang, akhirnya kamu mendengar panggilanku. Hati ini telah lelah menunggu kehadiran belai kasihmu. Mendekatlah, mendekatlah, kasih.”

Suara itu makin jelas ketika kulewati ayunan tempat bermainku di senja hari.
Alangkah terkejutnya diriku, ketika kulihat sosok laki-laki berbadan tegap berdiri di bawah pohon.
“Deka!,” teriakku kaget. Bukankah dia telah meninggal sebulan yang lalu, tanyaku dalam hati.

“Ya, ini aku. Apakah kamu di sini baik-baik saja? Apakah kamu betah tinggal di asrama? Bagaimana dengan pelajaranmu, apa ada masalah?”
Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Deka tanpa memberiku kesempatan untuk menjawabnya.
“La, aku di sini tak bisa lama. Kedatanganku hanya ingin memberikan ini.”

Dia menyodorkan sebuah bingkisan kotak kecil padaku.
“Ini adalah cincin tunangan yang belum sempat kuberikan padamu. Sekarang pakailah cincin ini di jari manismu.”

Seperti orang yang sedang dihipnotis tiba-tiba tanganku bergerak, sedangkan tubuhku hanya diam dan membiarkan cincin itu terpasang di jari manisku.
“Malam ini kamu resmi menjadi tunanganku. Sekarang bulan Maret dan empat bulan lagi kamu lulus SMA. Aku akan menjemputmu kemudian kita langsungkan pernikahan. Kamu setuju?”

Tanpa kusadari kepala ini mengangguk perlahan.
“Kalau begitu aku pergi dulu,” ucapnya singkat lalu sosoknya menghilang di kelam malam.
Setelah kepergian Deka aku masih berdiri terpaku sendiri memandang kerlipan bintang yang tiada lelah bercumbu mesra dengan rembulan. Aku pun berpikir andai saja cinta manusia seteguh kesetiaan rembulan pada bintang. Tetapi, semua itu tidak mungkin. Tidak mungkin semua insan setia pada para kekasih. Dunia ini pasti berjalan lurus dan membosankan.

Tak terasa suara dentingan jam menunjukkan tengah malam. Aku bergegas kembali ke kamar. Dalam ruang sepi itu aku masih membayangkan peristiwa yang baru saja kualami dan aku masih tidak percaya apakah semua ini nyata?
* * *

Dingin angin fajar menyusup ke dalam sendi-sendi. Adzan shubuh menggema di tiap sudut ruangan. Mata yang terpejam kini terbuka dan pagi menyapa kembali dan asrama pun perlahan dipenuhi kesibukan para penghunimya.

“Pagi Naila, tidurmu nyenyak sekali,” sapa teman sekamarku.
Pagi ini pikiranku benar-benar kacau. Tanpa mengambil jatah sarapan aku berangkat ke sekolah yang berada satu kompleks dengan asrama, jadi tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapainya.

Sedetik pun aku tidak bisa melupakan kejadian yang kualami semalam ketika pelajaran berlangsung, hingga ketika guru memanggil namaku untuk mengerjakan soal aku malah menghapus semua tulisan yang ada di papan. Semua seperti bukan kehendakku sendiri dan ada sesuatu yang selalu mengganggu pikiranku.

“Dooor! Pagi-pagi sudah melamun, lagi mikir apa sih?” tanya Tasya, sahabat karibku, ketika kami berdua berada di kantin.
“Paris!” jawabku keras. “Kamu tahu, kan? Paris adalah kota yang kudambakan menjadi tempatku menimba ilmu, tapi semua itu hanya bayangan semu.”
“Apa maksudmu? Bukankah tekadmu sudah bulat untuk kuliah di sana?”
“Sya,” kataku pelan. “Sebentar lagi aku akan menikah.”
“Apa?!” tanya Tasya kaget. “Kamu akan menikah dengan siapa?”

Kutarik nafas sedalam mungkin untuk mengurangi ketegangan suasana kemudian kuceritakan peristiwa yang kualami semalam tanpa meninggalkan pertunanganku dengan Deka. Tasya menanggapi ceritaku dengan dingin, tapi aku tidak menyalahkannya. Dia benar bahwa apa yang kualami jauh dari logika manusia biasa, jadi pantas bila dia tidak mempercayainya.

“Kamu terlalu memikirkan Deka,” komentar Tasya. “Sehingga semua kejadian selalu kamu kaitkan dengannya.”
“Tidak!” bantahku. “Kejadian semalam benar-benar nyata.”
“Kalau benar-benar terjadi, apa buktinya?”
“Ini adalah pemberiannya,” jawabku sambil kutunjukkan cincin di jari manisku.

Taysa terlihat berpikir sebentar, antara percaya dan tidak kemudian dia bicara dengan nada yang kuatir, “Benar-benar aneh. Menurut cerita orang-orang tua, keadaan seperti ini sangat gawat. Deka tidak hanya mengajakmu menikah, tapi mengajakmu untuk mati bersamanya.”

“Apa maksudmu?”
“Bukankah Deka bilang padamu bahwa empat bulan lagi dia akan menjemputmu. Itu artinya dia akan mengajakmu mati.”
Dengan sedikit pengetahuan yang dimilikinya, Tasya mengartikan kejadian yang kualami. Katanya, cinta Deka padaku sangat dalam. Meskipun jasadnya sudah terkubur di dalam tanah, tetapi cintanya tetap melekat dalam hati dan sanubarinya. Meskipun nyawanya sudah terpisah dari raga, namun cintanya tidak turut binasa.

Setelah mendengar semua ocehan Tasya yang panjang lebar, aku langsung berteriak histeris yang menarik perhatian teman-teman lain. Untunglah Tasya berhasil mengusir mereka dan menenangkanku. Tasya memberiku saran bahwa agar aku selamat dari peristiwa yang akan kualami adalah membuang cincin tersebut. “Buanglah cincin itu mungkin kamu akan terhindar dari bahaya yang mengancammu,” katanya.

“Tapi, harus kubuang ke mana cincin ini?”
“Kamu tidak usah bingung. Berikan saja cincin itu padaku dan biar aku yang membuangnya.”
Setelah peristiwa itu, hari-hariku berjalan kembali seperti dulu. Keceriaan selalu hadir menghiasi wajahku di pagi hingga sore. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lebih dari empat bulan. Tasya, sahabat dan orang yang sangat mengerti tentang aku harus pergi selama-lamanya menyusul Deka. Aku datang ke rumahnya dan tidak bisa menyembunyikan kesedihanku. Setelah upacara pemakaman, keluarga Tasya bercerita padaku bahwa sebelum meninggal Tasya berpesan untuk memberikan bingkisan padaku. Aku membukanya dan isinya adalah cincin pemberian Deka serta buku diari.

Pada malam harinya aku baru sempat membacanya dan betapa terkejutnya aku ketika membaca kalimat, “Deka, aku sangat mencintaimu. Tetapi, aku tak akan bisa memilikimu. Sebab, sahabatku Naila pun mencintaimu dan dia membutuhkan belai kasihmu.”

Aku baru mengerti, selama ini Tasya sangat mencintai Deka dan menyembunyikannya rapat-rapat demi persahabatannya denganku. Mengapa aku baru tahu setelah semuanya terjadi, padahal kami adalah sahabat yang sangat karib? Andai aku tahu jauh hari sebelum semuanya terjadi, tentu tidak seperti ini kisah kita, Tasya?! Barangkali ini adalah kisah paling baik yang harus kita jalani.
Selamat jalan sahabat!

Lamongan, 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *