Jamban: Refleksi Superrealis

Mashuri

Kini, di saat hiperrealitas demikian sengkarut, saya hanya merindukan sebuah jamban. Jamban bagi saya adalah ruang pribadi yang unik, yang bisa mengatasi ruang dan waktu. Saya bisa merasakan kehadiran saya seakan-akan penuh, baik dalam alam kesadaran dan ketaksadaran.

Panggilan-panggilan kerinduan itu datang, ketika segala hal yang berada di luar diri, dipenuhi dengan rekayasa-rekayasa. Apalagi, aroma kapitalisme semakin mengglobal dan menelan segala hal yang bersifat pribadi. Tak jarang, sisi kemanusiaan saya terseret dalam sebuah titik nadir. Saya sampai terengah-engah untuk menemukan sesuatu yang ‘pure’ diri saya sendiri.

Mungkin Adam Smith, Karl Marx, Max Weber atau Daniell Bell juga mengendus adanya kemungkinan itu, kemungkinan rekayasa yang mencengkeram kehidupan manusia. Tetapi saya lebih memaknai dan menyikapinya dengan merengkuh kembali apa yang pernah saya alami, dalam sebuah kurun waktu, untuk mengukur kedirian yang semakin nisbi, bermain dalam simulakra-simulakra yang tiada berkesudahan.

Di jamban, saya bisa mengenali sesuatu yang harus disingkirkan dari tubuh secara detail. Bila jamban itu jamban yang dibangun dari anyaman bambu, yang memiliki celah untuk mengintip, maka dengan agak malu-malu, saya akan menengok jauh ke dalam sana, melihat belatung-belatung merubung tahi dengan semangat berapi-api. Jika jamban itu dari ubin, saya akan melihat kotoran saya lewat selangkangan.

Anehnya, ruap bau busuk yang menusuk tidak mengendorkan semangat untuk mengembarakan imajinasi, yang paling liar sekalipun. Di sinilah, letak kelebihan jamban: meski bau busuk, tetapi orang yang sudah duduk di atasnya akan kerasan untuk berlama-lama. Kiranya, hal itu seperti watak dasar kekuasaan (politis).

Di sinilah, dalam kekuasaaan diri saya, saya merasa terlepas dari rekayasa. Saya selalu menganggap dunia kini dipenuhi rekayasa. Bagaimana tidak, dalam segala hal, dalam masalah yang paling intim sekalipun, tak lepas dari upaya rekayasa, seperti pada masalah gambaran alat kelamin ideal dan cara yang ‘baik’ dan ‘benar’ dalam bersenggama. Kumparan tehnologi virtual dan multimedia telah menjejalkan citraan-citraan itu bertubi-tubi ke setiap kepala. Bahkan batas yang real dan tiruan atau turunan nyaris tanpa penghalang.

Mungkin, ketakutan saya pada kehilangan sisi manusia dari diri demikian besar dan menghantui. Saya hanya tahu, bahwa arus global dan hiperreal mengalir demikian deras dan bagaimanapun harus dihadapi. Saya hanya berusaha mengembalikan segala apa yang saya miliki, termasuk ingatan-ingatan, mimpi, imajinasi dan kehendak tentang pembebasan menjadi hakiki: milik saya pribadi. Mungkin saya, akan menenggelamkan diri dalam arus dan pusaran besar mesin waktu yang datang bergulung-gulung dan siap menelan segala hal, tidak juga alam bawah sadar saya.

Dan sambil menyedot rokok, di atas jamban, saya akan mengenali bau terbusuk dari tubuh saya dengan gairah seorang pemberontak: melayangkan seribu kunang-kunang di kepala, pada palung kegelapan dari lamunan, dalam kembara-kembara yang jauh. Untuk mengundang gairah yang terpendam, yang lebih purba, yang mengatasi sekaligus membongkar realitas-realitas yang berlimpahan. Juga untuk menembus batas ruang dan waktu, yang kadang sudah tidak terasa lagi jaraksnya. Meskipun, pada hakekatnya ‘realitas-realitas’ itu hanya maya dan pura-pura.

Sambil jongkok dan ngeden, saya akan mencipta mesin waktu sendiri dalam kurun parsial-parsial yang sangat subyektif, mengenali ide-ide yang terentang, ide-ide yang masih murni. Jika mampu menyelami ke gelap jiwa, saya bisa mengintip kembali hati nurani, yang kini nyaris tergilas, karena segala hal lebih menghamba pada materi dalam jagat kapitalisme nan duniawi.

Mungkin, di jamban, saya bisa menemukan tuhan dalam diri saya sendiri dan membunuh atau menyingkirkan (untuk sementara) tuhan-tuhan lain. Maka, ketika Nieatzcshe mengatakan, tuhan telah mati. Saya pun mengamininya. Tuhan-tuhan yang berada di luar lingkar diri dan melakukan penetrasi pada segala kehendak memang harus disingkirkan.


Masih mengikuti filsuf yang berfilsafat dengan palu itu, setelah meneriakan kematian tuhan, Nieatzcshe pun berkata: “Zarathustra, lihatlah aku”. Lihatlah manusia, yang terbebas dari tuhan. Lihatlah saya yang terbebas dari tuhan-tuhan baru yang bisa membelenggu manusia. Tuhan-tuhan yang diciptakan manusia sendiri. Meskipun, harus ditebus dengan kegilaan! Tetapi bukankah kegilaan itu kreatif?

Di jamban, saya melakukan dekonstruksi dari segala tuhan yang dijejalkan dalam pikiran, perasaan dan kesadaran saya. Saya bisa berlama-lama, sambil menghela nafas panjang untuk sebuah arus yang telah memenangkan pertempuran ‘diam-diam’ dan besar dengan sosialisme. Di jamban saya melakukan teror pada kesadaran saya yang hampir terenggut oleh pertunjukan maha besar dan spektakuler akhir dari sejarah.

Di wilayah pinggiran, dengan buang air besar, saya berusaha merebut diri saya. Hiperreal silahkan berjalan, kapitalisme global silahkan berjalan, terorisme global silahkan melangkah. Tapi di jamban, saya telah menemukan ruang dan waktu untuk lepas dari segala hal yang menyetir kehendak dan meracuni pikiran waras saya.

Surabaya, 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *