Jiwa Merdeka

Jawa Pos, 28 Sep 2008
D. Zawawi Imron

ORANG yang kurang suka membuka sejarah, jarang yang tahu bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan Ramadan. Tak heran kalau ada yang mengatakan bahwa Ramadan, selain bulan penuh ibadah juga bulan kemerdekaan. Apalagi kalau dihubungkan dengan proses pencerahan diri, puasa adalah perjuangan kemerdekaan bagi tiap pribadi dari belenggu egoisme yang tak pernah mengenal orang lain sebagai saudara dalam kemanusiaan.

Merdeka yang sejati itu hakikatnya memang harus dimulai dari jiwa masing-masing individu. Jiwa yang merdeka dalam pengertian positif, antara lain bebasnya seseorang dari aneka ketakutan, kekhawatiran, intimidasi, bahkan dari kesombongan, belenggu tradisi, dan warisan budaya yang tidak menghormati kehidupan dan kebudayaan. Feodalisme, birokrasi yang tidak ramah dan aturan-aturan yang merugikan rakyat jelata adalah penjajahan dalam bentuknya yang lain. Termasuk juga fanatisme buta pada satu organisasi massa atau partai politik, sehingga melupakan rasa toleransi kepada kelompok lain. Hal itu seharusnya tidak terjadi di alam kemerdekaan.

Kemerdekaan sejati adalah menempatkan seluruh manusia pada harkatnya yang mulia. Perbedaan pilihan dan aspirasi adalah variasi yang bisa memperkaya cakrawala dalam kebudayaan. Dengan demikian, istilah merdeka tidak hanya formalitas bebas dari penjajahan. Hal ini perlu dikaji bersama, bahwa di alam merdeka masih mungkin ada banyak orang yang belum bisa menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya. Termasuk ketika ada oknum atau beberapa kelompok oknum berperilaku yang mengancam kesejahteraan rakyat dengan berkorupsi, pembalakan liar, ketidakadilan dan kerusuhan.

Tanggung jawab intelektual adalah memerdekakan rakyat kecil dari hal-hal yang menganggu peradaban, kesejahteraan, dan kehidupan yang wajar. Partai-partai yang punya visi dan misi budaya akan berusaha mencerdaskan seluruh anggota partainya untuk sadar akan hak-hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Rakyat tidak hanya diajak mencoblos dan bertemu lima tahun sekali dalam setiap kampanye. Partai masa depan ialah partai yang selalu peduli kepada rakyat sepanjang tahun sepanjang zaman dengan menciptakan atmosfer merdeka pada jiwa rakyat. Partai yang mencerdaskan dan peduli kepada rakyat pada sepanjang waktu seperti itu pantas menjadi pilihan rakyat. Paradigma-paradigma baru yang memberi inspirasi kemerdekaan kepada jiwa rakyat harus dilahirkan, karena akan membawa rakyat kepada kebersamaan dalam mengisi kehidupan. Yang akibatnya, kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 mendapat dukungan rakyat yang berjiwa warga negara, yang tidak punya niat untuk merugikan bangsa dan negaranya.

Membentuk masyarakat yang berjiwa warga negara yang mengerti akan tanggung jawab kemerdekaan sangatlah penting. Dari situlah martabat dan kehormatan suatu bangsa dibangun di tengah percaturan kebudayaan dunia.

Tradisi yang merugikan dan yang mempermalukan bangsa, seperti mengutamakan emosi daripada rasio (akal sehat) memerlukan penanganan pendidikan akal budi yang harus menjadi agenda utama agar berita di media massa tidak hanya ramai dengan kerusuhan, permusuhan, tawuran, suap, korupsi, dan segala yang mencemarkan indahnya alam merdeka.

Sudah selayaknya masing-masing individu dari bangsa Indonesia untuk memberikan ruh rasa merdeka kepada seluruh komponen bangsa. Itu perlu dimulai dengan keteladanan dan ketajaman daya pikir para pemimpin dalam membaca nurani rakyat dan isyarat zaman. Para pemimpin yang berbeda aspirasi perlu kebersamaan sebagai teladan dalam menghormati bangsa dan kemerdekaannya.

Hanya jiwa yang merdekalah yang bisa mempersembahkan kemerdekaan kepada orang lain. Para tokoh yang zalim seperti Fir’un, Nero, Daendels, dan lain-lain, sebenarnya tidak menemukan ruh merdeka yang hakiki, karena hidupnya diperbudak oleh ambisi dan egoismenya sendiri sehingga tidak menghargai manusia dan kemerdekaan. Akibatnya, predikat zalim dan anti kemanusiaan akan lengket pada diri dan nama mereka, bukan hanya ketika mereka masih hidup, bahkan setelah mati pun akan tetap menjadi kenangan yang tengik.

Jiwa merdeka perlu ditanamkan sejak dini. Orang di tanah Wajo, Sulawesi Selatan, sejak dulu menyebut bahwa setiap manusia yang lahir adalah ”To Maradekka” atau manusia merdeka. Kesadaran itu jika benar-beanr dipahami sebagai ajaran serta menjadi ilham kehidupan, tentu akan membuat hidup lebih nyaman dan indah. Indahnya jiwa yang merdeka. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *