Menimbang Diponegoro dalam Fiksi

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 12 Okt 2008

Bercermin pada realitas masyarakatnya, karya sastra Indonesia juga mengeksplorasi kisah dan perjalanan pahlawan.

Ingatan masyarakat Indonesia mengenai sosok Pangeran Diponegoro boleh jadi kian pudar tergerus roda zaman. Lalu, karena tak ingin tokoh yang dikaguminya hilang tersapu waktu, Remy Sylado mencoba menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang semangat kebangsaan Pangeran Diponegoro melalui novel. “Diponegoro sosok yang sangat menarik. Sekarang ini saya belum pernah menemukan orang yang memiliki rasa kebangsaan seperti dia,” kata Remy kepada Jurnal Nasional, Selasa (7/10).

Bagi lelaki yang memiliki nama asli Japi Tambajong ini, mengerjakan Pangeran Diponegoro bukanlah kali pertama ia menulis novel sejarah. Sebelumnya pria kelahiran Makassar, 12 Juli 1945 ini telah menghasilkan tiga karya fiksi berlatar sejarah. Tapi untuk menulis novel Pangeran Diponegoro, Remy mesti rela bolak-balik ke Belanda demi mengumpulkan data-data yang berserak. “Kadang saya suka gregetan kalau menemukan fakta baru, tetapi buku sudah dicetak,” ujar pria yang memulai karier sebagai wartawan ini.

Sudah dua jilid novel tentang Pangeran Diponegoro yang Remy selesaikan. Keduanya baru bercerita tentang masa kecil pangeran yang memiliki nama asli Ontowiryo ini. “Diponegoro kecil amat menyukai wayang, Kumbakarna adalah tokoh yang dikaguminya. Ia amat terkesan dengan sosok raksasa yang hingga akhir hayat tetap membela tanah airnya,” tutur Remy.

Pangeran Diponegoro lahir dari pasangan Raden Mas Suroyo dan RA Mangkarawati garwa selir dari RM Suroyo. Sejak kecil Pangeran Diponegoro tidak diasuh kedua orangtuanya, melainkan dengan nenek buyutnya, Ratu Ageng, permaisuri dari Hamengkubuwono I.

Ratu Ageng tidak membesarkan Pangeran Diponegoro di Keraton Mataram, melainkan membangun puri sendiri di Tegalrejo. Di sanalah ia dididik berbagai macam ilmu terutama ilmu agama Islam di Perdikan Mlangi.

Sejak kecil Pangeran Diponegoro telah diberi petuah oleh Ratu Ageng tentang kekejian bangsa Belanda terhadap rakyat Jawa. Karena itu sedari kecil rasa kebencian terhadap bangsa penjajah telah tertanam dalam benak pangeran yang kerap menggunakan sorban ini.

Pangeran Diponegoro tumbuh sebagai sosok lelaki yang memiliki integritas diri yang kuat. Pernah suatu ketika seorang warga Tegalrejo dibunuh Belanda karena tidak mau membayar pajak. Pangeran Diponegoro nekad menguburkan mayat tersebut, meski hal itu dilarang oleh Belanda. Kejadian tersebut kemudian menyulut perselisihan dengan Belanda.

Remy kini tengah mempersiapkan novel Pangeran Diponegoro jilid ketiga. Di sanalah sastrawan yang juga piawai melukis ini mulai bertutur mengenai konsep kebangsaan Pangeran Diponegoro sebagai orang yang berbudaya Jawa.

Kecintaan Pangeran Diponegoro terhadap Indonesia akan digambarkan secara detail oleh Remy dalam novelnya. “Ada bagian di mana Diponegoro meyingkirkan orang yang tak memberikan kontribusi apa-apa bagi perjuangannya,” ujar Remy.

Novel yang dikerjakan dalam kurum waktu satu bulan itu, merupakan gabungan antara data historis dan imajinasi. Tentu kepiawaian Remy memadukan kedua unsur tersebut tak perlu dipertanyakan lagi. Ia sudah membuktikannya dalam Ca Bau Kan, Parijs van Java serta Kembang Jepun. “Imajinasi memiliki kekuatan untuk menghidupkan fakta sejarah yang semula kering kerontang,” kata pria yang menjadi pengajar di beberapa perguruan tinggi itu.

Lelaki yang menguasai banyak bahasa ini memcontohkan, adegan di mana Pangeran Diponegoro memukul Danurejo. Pemukulan itu merupakan fakta, tetapi bagaimana Pangeran Diponegoro memukul, bagian mana yang terkena serta bagaimana respons Danurejo adalah hasil imajinasi Remy.

Menurut Remy, di sanalah kecerdasan penulis untuk membentuk sebuah kontiniuitas diuji. “Fiksi berfungsi membuat fakta sejarah menjadi untaian kata-kata naratif dan memiliki kontiniuitas menjadi enak untuk dibaca,” kata Remy.

Remy mengatakan, novel Pangeran Diponegoro yang ditulisnya berbeda dengan novel sejarah tentang Gajah Mada ataupun Ken Arok. Menurutnya, buah karyanya berdasarkan pada data serta dokumen sejarah, sementara novel Gajah Mada maupun Ken Arok seratus persen imajinasi. “Merajut fakta-fakta sejarah merupakan kesulitan tersendiri bagi saya,” ujar Remy.

Bukan hanya Remy yang mencoba membuat membaca sejarah menjadi menyenangkan dan menyulapnya dalam bentuk novel. YB Mangunwijaya pernah menulis tentang sosok Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dalam novelnya yang berjudul Burung-Burung Manyar. “Novel tersebut mempengaruhi pendapat orang terhadap Sjahrir, padahal belum tentu sosok Sjahrir di dunia nyata sama dengan di dalam novel,” kata sastrawan Budi Darma.

Dalam novel tersebut, Mangunwijaya dengan bahasa yang indah berhasil melukiskan situasi periode peralihan era kolonialisme dan era kemerdekaan. Semangat zaman yang menginginkan perubahan dapat dirasakan langsung oleh pembaca. “Sejarah dalam arti sebenarnya sering kali dilupakan, orang lebih condong membaca karya sastra,” ujar pria kelahiran Rembang, 25 April 1937 ini.

Ia memberikan contoh, ketika hendak mengingat kembali fenomena kawin paksa yang terjadi pada tahun 1920-an, orang tidak akan membuka-buka dokumen tentang kawin paksa atau data statistik pada tahun itu. Mereka akan memilih membaca karya-karya Balai Pustaka. “Oleh sebab itu karya sastra sering dianggap sebagai bukti otentik meskipun itu hanya imajinasi belaka,” ujar Budi.

Nama Tirtoadisoerjo pun tak akan muncul kepermukaan, sekiranya Pramoedya Ananta Toer tak menulis novel Bumi Manusia. Novel buah karya pria kelahiran Blora ini sesungguhnya merupakan cerita fiksi, namun keberadaannya saat ini kerap dianggap sebagai fakta sejarah. “Fakta mengenai kebangkitan pers dalam novel Bumi Manusia memang ada benarnya, tetapi lebih banyak fiksinya,” kata Budi.

Begitu pula ketika hendak menguak fakta tentang kerja paksa pembuatan jalan raya Anyer-Panarukan, orang lebih suka membaca novel Pramoedya yang berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ketimbang membuka setumpuk dokumen sejarah berbau apek.

Dalam novel yang ditulis mengalir tanpa pembagian bab ini, Pramoedya menjabarkan betapa kerja paksa pembangunan jalan tersebut memakan begitu banyak korban. Bahkan ia mengkategorikannya sebagai genosida. Pramoedya mengurai sejarah tercetusnya ide pembuatan Jalan Raya Pos di benak Daendels, serta 39 kota yang berada di sepanjang Jalan Raya Pos lengkap dengan dampak sosial yang terjadi karena pembangunan jalan.

Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki. “Sastra itu meski tidak menggambarkan realita sesusungguhnya, namun dapat disebut sebagai dokumen sejarah sekunder,” kata Budi.

Budi mengatakan, kekuatan sebuah karya sastra mempengaruhi bisa atau tidaknya ia diperlakukan sebagai sebuah sejarah. “Semakin kuat dan semakin bagus unsur imajinasi pengarang dalam sebuah karya, maka ia akan semakin diperlakukan sebagai sebuah fakta sejarah,” ujar penulis kumpulan cerpen Orang-Orang Blomingtoon.

Untuk novel berlatar sejarah Budi mencungkan dua jempol buat karya-karya Pramoedya. Menurutnya, hingga saat ini belum ada pengarang yang mampu membangun imajinasi seperti Pramoedya meniupkan ruh pada sosok Minke yang notebene merupakan prototipe dari Tirtoadisoerjo.

Dalam novelnya Pramoedya membangun sebuah panggung fiksi yang hidup dan memikat. Singkatnya, Pramoedya mampu menggelitik benak pembaca untuk mempertanyakan kembali narasi sejarah yang ada selama ini. “Pramoedya menggambarkan dengan sempurna kebangkitan yang terjadi pada tahun 1920-an,” kata mantan rektor IKIP Surabaya.

Sementara pada novel-novel lain, Budi merasa penulisnya kurang mendalami semangat kepahlawanannya. Padahal, ketika seorang penulis mengangkat tema kepahlawanan dalam karya sastra ia harus menyerap semangat jaman serta semangat juang pada masa itu. “Jika kurang mendalami maka pahlawan yang diangkat akan tampak berupa latar belakang ketimbang tokoh yang menonjol,” ujar ayah tiga orang anak ini.

Novel-novel berlatar sejarah tak hanya bermanfaat pembaca awam, namun juga untuk para peneliti. Misalnya saja, Benedict Anderson yang menggunakan novel No Moli Tangere-nya Jose Rizal untuk menggambarkan situasi dan semangat zaman pada periode kemunculan nasionalisme di Filipina. Novel tersebut menjadi latar belakang karya monumentalnya, Immagined Communities.

Dalam studi sejarah Indonesia, Rudolf Mrazek banyak menampilkan fragmen-fragmen novel Student Hidjo-nya Mas Marco Kartodikromo untuk membangun argumentasi ihwal perubahan yang dipicu oleh merebaknya penggunaan teknologi modern.

Mrazek akhirnya berhasil melahirkan Engginers of Happyland, satu-satunya karya yang meneropong perubahan yang sedang berlangsung di Hindia Belanda dengan membedah penggunaan teknologi modern dan peran para insinyur dan teknisi.

Remy menyayangkan minimnya minat pengarang untuk menulis novel berlatar belakang sejarah. Menurut dia, hal itu disebabkan masih minimnya minat pembaca pada novel genre ini.

Belum lagi keterbatasan bahasa para pengarang muda, padahal litelatur sejarah rata-rata berbahasa Belanda. “Tapi saya melihat ada harapan regenerasi pengarang novel sejarah, saya melihat pengarang muda ES Ito punya kemampuan itu,” ujar pria berambut putih ini.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *