Ucu Sam

Minggu Pagi,Juli 2002,Riau Mandiri, 20 April 2003
Marhalim Zaini

Ucu Sam mengamuk. Kebun karet seluas satu hektar dekat sungai Rambai itu, dini hari tadi habis dilahap api. Seperti orang kesetanan, Ucu Sam berteriak-teriak sambil mengacungkan parang panjang ke sekeliling kampung. Tak pelak, subuh yang biasanya damai dengan kicau burung murai, kini seperti dihantam badai. Orang-orang yang bersiap-siap berangkat ke batang karet untuk menunaikan rutinitas, tiba-tiba harus dikejutkan dengan suara petirnya Ucu Sam.

“Pukimak! Ini pasti ulah bule bedebah itu! Betul cakapku dulu, pasti budak-budak yang sok pandai tu telah mulai berani buat rusuh, telah berani membawa penjajah ke kampung kita ni. Tengoklah, kebun karetku satu-satunya telah mereka bakar. Mereka kira aku ni bengal, tak tahu menahu tentang politik kotor mereka tu. Pukimak! Mentang-mentang aku tak sekolah, mereka seenaknya nak menukar kebun karet aku tu dengan janji-janji busuk mereka tu. Oi…ke sinilah! Kubabat batang leher kalian…!”

Ucu Sam kalap. Matanya gelap. Lalu jatuh terjerembab.
Dalam waktu sekejap, orang-orang telah berkumpul di ujung kampung, di sebuah rumah panggung reot beratap rumbia. Matahari yang berangsur merangkaki celah-celah pohon kelapa yang berbaris, mulai menelusup ke celah jendela papan dan menyirami wajah Ucu Sam yang terbaring di tengah rumah. Seraut wajah keriput, dengan garis-garis jelas dan keras, legam dan penuh bekas jilatan matahari. Lelaki berumur mendekati satu abad, yang masa tuanya tak ditemani siapa pun. Ia sebatang kara sejak istrinya meninggal dan enam orang anaknya pergi dan tak pernah kembali. Ia sendiri tak tahu, kenapa semua anaknya satu persatu pergi dan tak kembali. Padahal ia merasa tak pernah mengusir mereka dari rumah. Tak pernah pula rasanya ia berkata-kata kasar kepada mereka, apalagi dengan sengaja menyinggung perasaan mereka. Meskipun demikian biarlah, ia tak pernah mengutuk anak-anaknya itu sebagai pendurhaka, sebab ia sadar bahwa setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing. Lagi pula, seekor burung Tiung dalam sangkar yang tergantung di teras depan rumah, masih tetap setia setiap pagi memanggil-manggil, “Ucu Sam Abahku…Ucu Sam Abahku….”

Sampai matahari naik sepenggalah, Ucu Sam belum juga sadarkan diri. Orang-orang bingung. Lurah, ketua RW, ketua RT dan semua perangkat desa yang hadir, hanya bisa menunggu. Sementara mantri Warno, satu-satunya tukang suntik di kampung itu, tampak tak berkutik menghadapi Ucu Sam. Tapi, yang pasti Ucu Sam masih bernafas. Itu artinya, masih ada harapan ia akan terjaga. Walau tak tahu, kapan saatnya.

”Ucu Sam mengalami defresi berat, ia sebaiknya kita bawa ke rumah sakit di kabupaten.” Mantri Warno nyeletuk sambil membenahi peralatannya.
Semua orang semakin bingung. Kalau saja Ucu Sam dibawa ke kabupaten yang jaraknya 83 kilometer itu, tentunya harus ada yang menanggung biaya dan semua kebutuhannya. Apalagi membawa orang sekarat di atas jalan penuh lubang dengan oplet tua satu-satunya milik Wak Karman, bukanlah hal yang mudah. Sementara Ucu Sam sendiri, selama ini tak pernah bertegur sapa dengan siapapun di kampung itu. Ucu Sam dikenal sebagai lelaki tua yang menyendiri, introvert. Apalagi dalam kondisi ekonomi kampung yang teruk, tentu tak mungkin ada yang berani berkorban hanya untuk seorang Ucu Sam.

“Sudahlah. Ucu Sam tu cuma pingsan saja, paling satu atau dua jam lagi bangunlah dia.” Kata si Bujang, pemuda kampung.
“Mungkin juga dia tu kemasukan hantu galah. Bolehlah kita panggilkan bomo Hasan di kampung sebelah!” usul yang lain.
“Atau jangan-jangan penunggu kebun karet Ucu Sam yang terbakar tu, mengamuk, dan masuk ke dalam tubuh Ucu Sam!” seru yang lain pula.
“Ya, benar juga tu…” sambut suara-suara yang lain.

Mantri Warno hanya geleng-geleng kepala. Tentu, setelah selama belasan tahun dia mengabdi, ia tahu benar bagaimana fikiran mayoritas masyarakat kampung itu. Meskipun ada juga yang sudah berfikiran agak maju, itu pun sebagian kecil, dan tentunya takkan mampu mempengaruhi sebuah faham yang turun-temurun menjadi kepercayaan yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat, seolah-olah telah menjadi semacam ideologi.

Kini bomo Hasan telah beraksi. Dengan berharap-harap cemas semua orang memperhatikan aktivitas Bomo Hasan. Bau asap kemenyan memenuhi ruangan. Daun-daun ramuan ditabur ke tubuh Ucu Sam. Semburan air sirih berkali-kali keluar dari mulut bomo Hasan ke wajah Ucu Sam. Jampa-jampi terdengar mendengung di telinga. Sungguh, waktu seketika terbius oleh suasana mistis.

Entah pada hitungan semburan air sirih ke berapa, tiba-tiba mata Ucu Sam terbuka, dan seketika itu juga ia memaki dengan lantang, “Pukimaaaaaak!” Semua orang tersentak, termasuk bomo Hasan. Apalagi mantri Warno yang sejak tadi hanya mengeleng-gelengkan kepala, dahinya berkerut seakan tak percaya.

Ucu Sam perlahan bangkit, dan duduk bersandar di tiang jati tengah rumah. Matanya kosong. Tubuhnya lunglai. Bibirnya berkomat-kamit, tapi tak bersuara. Orang-orang pun tak berani bersuara. Ucu Sam seperti bicara dengan dirinya sendiri. Orang-orang pun hanya berani bicara dalam hati. Lama Ucu Sam begitu. Orang-orang pun mulai gelisah, tapi tak satupun yang berani mengungkapkan kegelisahan dengan kata-kata. Orang-orang hanya saling pandang, bertanya lewat isyarat mata. Tapi jawaban hampir serupa, menggelengkan kepala.

Tapi tiba-tiba saja burung Tiung memecah kebekuan, “Ucu Sam Abahku…Ucu Sam Abahku….” Ucu Sam seperti tersadar, tapi tak mampu beranjak. Kini matanya membelalak. Nafasnya berpacu. Kedua tangannya mengepal. Ia kembali berteriak, ”Bedebah. Kalian penjajah. Kalian nak usir kami dari sini. Kalian nak rampas hidup kami. Tak cukupkah kekayaan kami yang kalian jual buat kenyang perut kalian sendiri. Tak sudahkah derita kami selama ini. Sekarang kalian nak bunuh kami pelan-pelan. Kalian bakar kebun karet kami dengan api dengki. Hati kalian telah mati!”

Orang-orangpun tersentak. Orang-orang tak paham kenapa Ucu Sam memakai kata kami, padahal yang terbakar hanya kebun karet milik Ucu Sam. Siapakah kalian yang dimaksud Ucu Sam? Kalaulah yang dimaksud kalian itu adalah orang-orang kampung, sepertinya tak satupun orang kampung yang pernah mengusir Ucu Sam, merampas hidup Ucu Sam, menjual kekayaan Ucu Sam. Dan tak pernah terniat di hati orang kampung untuk membunuh Ucu Sam secara perlahan. Lagi pula apalah gunanya membunuh Ucu Sam yang sudah dekat dengan pintu kubur itu. Wah, kejam sekali Ucu Sam menuduh orang kampung hatinya telah mati.

“Kalian memang haram jadah. Kalian kira kami tak tahu akal bulus kalian tu. Kalian cakap datang nak bertamu, tapi diam-diam kalian curi isi periuk kami. Tengoklah sekarang dapur kami tak lagi berasap. Anak-anak kami jadi pendatang haram di negeri orang, jadi kuli di negeri sendiri. Sementara kalian sibuk makan darah dan minum keringat kami. Oi, awas kalian, takkan selamat hidup kalian..!”

Orang-orang semakin bingung, dan seperti mulai terbawa emosi. Betapa tidak, setelah dimaki tak tentu ujung pangkalnya, kini Ucu Sam mulai menuduh yang bukan-bukan. Kalau tentang pendatang haram, mungkin orang-orang agak maklum, sebab bisa dikata semua anak laki-laki setamat Sekolah Dasar, paling tinggi tamat SMP, telah ikut tongkang Wak Birin ke Malaysia, bekerja secara illegal, Imigran Gelap kata orang kota. Tapi itukan namanya mereka berdikari. Daripada nganggur jadi preman simpang di kampung, lebih baik ke Malaysia cari untung. Paling tidak cari bekal buat berumah tangga, sekaligus bisa bantu orang tua. Yang jadi kuli di negeri sendiri pun banyak juga. Tapi, apakah Ucu Sam tak salah cakap bahwa orang-orang makan darah dan minum keringat sendiri?

Wak Loyang yang sejak tadi diam di sudut dekat pintu, lama-lama tak senang hati juga mendengar perkataan Ucu Sam yang tak tentu arah itu, “Ucu Sam, awak tu kalau cakap elok-eloklah sikit. Kampung kita ni kampung beradat, ada petatah-petitih kalau nak selamat. Apalagi awak tu sama tuanya dengan usia kampung ini, sama putihnya rambut di kepala kita!”

Tapi, Ucu Sam malah tertawa. Tawanya seperti orang geli kalau perutnya ditusuk-tusuk pakai jari. Wak Loyang tentu semakin panas hatinya. Tampak gigi Wak Loyang gemeretak menahan geram. Namun, sebelum Wak Loyang membuka mulutnya, Ucu Sam telah lebih dulu meracau. “Kalian memang pandai bersilat lidah. Sebab yang tak bertulang memang mudah melenggang. Dengan begitu, semua tipu dianggap madu. Kita ni, dianggap bengang, tak sepadan dengan rambut yang dah beruban.”

“Ucu Sam! Jangan gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga!” seru Wak Loyang dengan berkacak pinggang di tengah pintu. Tapi belum sempat Wak Loyang menyambung kalimatnya, sebuah suara dari jauh memanggil-manggil nama Wak Loyang. Semua orang memandang siapa yang datang.

“Wak Loyang……Wak Loyang……” rupanya si Atan. Ia terengah-engah seperti dikejar setan.
“Ada apa Tan?” orang-orang tak sabar menanti kabar.
“Kenapa kau Tan?” Wak Loyang menggoyang bahu Atan.
“Anu Wak, anu…” Atan tergagap.
“Apa Tan?”
“Kebun karet Wak Loyang…”
“Kenapa kebun karetku?”
“Ter…ter…terbakar!”

Seperti disambar petir, tubuh Wak Loyang gemetar. Ia berlari melebihi dikejar setan. Orang-orang pun segera berlari mengikuti Wak Loyang. Siapa tahu, masih ada sepetak sisa kebun karet yang masih bisa diselamatkan. Tapi, mungkinkah memadamkan api yang mengamuk dengan jiwa yang remuk?

Senja kembali datang, menutup lembaran siang. Semburat merah, menyala di mata Ucu Sam. Ia masih bersandar di tiang jati. Mulutnya masih berkomat-komit. Tapi kini ia sendiri. Tak ada lagi yang sudi menemani.

Sorot matanya nyalang, memandang sisa asap kebun karet yang terbakar di langit malam. Memandang waktu yang segera menghilang dan segera pula datang. Ia sadar, umurnya takkan panjang. Ia tak mungkin bisa menyaksikan barisan pabrik di sepanjang tepian sungai. Ia tak mungkin dapat mendengar dan melihat kapal-kapal dari segala penjuru dunia berlabuh di sepanjang pantai. Ia pun tak pernah berharap akan bertemu dengan anak-anaknya. Sebab ia sangat tahu anak-anaknya pasti sangat sibuk melayani para pendatang dan meraup keuntungan di atas bekas kebun karet yang ter(di)bakar. Ia hanya berharap, semoga kelak anak-anaknya tak didustai (bukan didurhakai) oleh anak-anak mereka sendiri. Sebab, ia sangat tahu betapa tidak nikmatnya hidup dalam sejarah yang berulang. Ah, setelah ini entah kebun karet siapa lagi yang terbakar. Entah, hati siapa lagi yang terbakar.

“Ucu Sam Abahku……Ucu Sam Abahku……”

Riau-Yogyakarta, Maret 2002