?Poem of Blood?: Tragika Kuda ala Ugo Untoro

Fahrudin Nasrulloh
Jawa Pos, 1 April 2007

Memasuki pameran Ugo, seketika tatapan mata tiba-tiba disergap dan dilemparkan ke padang penuh kebiadaban. Nyata benar di sana, panorama dunia kuda yang tragis; mata bolong, bangkai tersungkur, jejeran kulit terpajang bak mantel atau handuk, potongan kaki berupa sepatu kuda, tato api bertatah kata dislomotkan di kulit, goa bersuara ringkik kuda. Bagi penonton, yang tak akrab menyaksikan kekejian; inilah suguhan ganas tapi komtemplatif yang menyayat kesadaran.

Di sanalah legenda kuda terpampang dalam sejarah peradaban manusia. Bagai sosokan puisi enigmatik tiada henti menggedor batin. Lantas meringkus kita. Litle by litle word will finish you, ujar Edmond Jab?s. Ledakan kata lewat waktu dan labirin peristiwa, yang menyusuri jejak-jejak sejarah, menyimpannya dalam ingatan yang fana, sebelum kita menyerah pada kejahatan hasrat tersembunyi. Inilah kiranya yang meledak di benak Ugo Untoro, yang dituangkannya dalam pameran — bermedia instalasi, kulit kuda dan kanvas — bertajuk Poem of Blood, pada 9-17 Maret 2007, di Taman Budaya Yogyakarta.

Beranjak dari ?moment of art? itu, pameran Ugo ini seperti permainan tafsir yang menukik pada mistik kesehariannya yang akrab dengan dunia kuda sejak kanak. Dari pergulatan yang sublim itu, dan karenanya, dia berupaya mewedarkan hikayat kuda dalam peradaban manusia yang konon telah berlangsung sejak 40 juta tahun silam. Betapa riwayat kuda telah mengisi mitos, dongeng, atau legenda di mana pun. Kita mengenal, Centaurs, Pegasus, Sleinir, Unicorn, Buchepalus, Morengo, Ibnu Ranger, atau Gagak Rimang. Kuda, sebagai produk karya cipta manusia yang flamboyan ini, seperti ciptaan manusia yang lainnya, segera tersingkirkan, terbuang tatkala ciptaan baru muncul. Kuda bukan lagi produksi tetapi produksi itu sendiri! Serampung mengantarkan manusia menuju peradaban, kuda mati di jalanan aspal berasap dan rumah penjagalan.

Dunia kuda, menurut Ugo, merupakan cikal bakal kendaraan tempur yang efektif, menjadi saksi bisu dari perang-perang besar di abad silam. Melewati tombak, pedang, panah dan peluru, mereka binasa tanpa nisan dan nama. Debu yang terderap sepatu besinya menguburkan keringat dan darahnya. Pendek kata, kesaksian kuda sebagai penyaksi utama tingkah manusia yang ganas nan brutal terabaikan. Kuda menyimpan sisi kelabu kejahatan manusia. Selanjutnya, dari imajinasi kuda menyeruaklah gagasan teknologi berupa mesin-mesin perang semisal, panser, pesawat tempur, tanker, dan tank.

Inilah biang yang melahirkan abad penaklukan menyebar, dahsyat dan menakutkan. Kuda, pada puncak gunanya, menjelma menjadi paradoks yang tragis dari budaya modern di mana manusia terus berupaya mengongkosi sisi absurd ?homo ludens?-nya. Kejahatan manusia ini juga disinggung dalam Al-Qur?an, Q.S. Al?Aadiyaat: Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah (ayat: 1), Dan menyerbu ke tengah-tengah kawanan musuh (ayat: 5). Memang terbukti benar, bahwa dari punggung kuda, peradaban manusia merebak ke Asia, Afrika dan Eropa. Dari lari trengginas kuda, wejangan dan sabda para nabi, Zarathustra, Buddha, Lao Tse, mistikus, wali, dan cenayang menyebar hingga ke benua-benua terpencil. Segalanya, bisa dibilang, adalah andil jasa dan pengabdian sang kuda, kendati terlupakan.

Tampaknya karya-karya Ugo kali ini memang benar-benar provokatif, mengguncang, memancing kegusaran, aib, amarah dan kecaman. Menyaksikannya, kita seolah didesak semacam pekik berkabut diam; ?Ugo, sadis,? seperti ucap Jim Supangkat dalam ulasannya di katalog berjudul ?Death Row di Dunia Kuda?. Selain eksplorasi Ugo yang menyingkap dan membangkitkan perenungan kita, tambah Jim, inilah ekspresi yang memperlihatkan proses sofistikasi citra keindahan kuda. Ugo melihat ini sebagai puisi tentang darah.

Puisi ber?aroma? darah itu bisa disuntuki pada sejumlah karyanya, terutama Poem of Blood yang memajang sepuluh kulit kuda; masing-masing dengan tato bercap-tulis: sword, soul, fear, fire, myth, tears, dust, poem, of, dan blood. Di samping sejumlah karyanya yang lain semisal, The Last Race, Dari Padang Liar Terkapar di Aspal, Menjemur Sejarah, Identity Is Yours, I?m Ready, The End of Badai, Disposible Hero (1,2, dan 3), Melipat Sejarah, Drawing History, Menggantung Sejarah, It?s a History, Artificial Identity, Blue Civilization, The Journey was Lost, dan Make Me Ready, Please!

Dari sederet judul itu, yang paling menyedot gentar dan menggedor telinga adalah It?s a History. Di situ Ugo menggunakan blabak kayu yang dibentuk menyerupai goa purba persegi panjang berukuran 600 cm x 220 cm x 90 cm. Berpintu dua, dengan suara derap kuda, ringkik-lengking panjang, kadang terdengar sayup-sayup patah, menerobos masa dan renik bayangan peristiwa, saling sahut menyahut. Bisa dipastikan, siapa pun yang tergoda memasukinya, bakal terasa dilemparkan ke jurang waktu yang panjang bersama hikayat kuda dan solilokui-tragikanya.

Menyimak pameran ini, barangkali akan terbetik selarik tanya, adakah pesona pengalaman estetik, apa pun bentuk ekspresinya, selalu mentok pada sejauh mana keindahan juga tragedi diwujudkan dalam karya seni? Sedang di sisi lain, hasil dari seni, boleh jadi hanya semacam rumah istirah, halte, tilas, mimesis, atau ?artefak gairah? yang seakan sia-sia tapi dibikin abadi. Lepas dari itu, greget dan kecamuk gagasan Ugo, setidaknya, telah menghadirkan semacam ?biografi visual? dari sandiwara ?senjakala kuda?, seperti yang diungkapkan Suwarno Wisetrotomo.

Walhasil, Poem of Blood berikhtiar mengekplorasi kuda sebagai penyaksi sejarah peradaban berdarah manusia yang sunyi sekaligus menyedihkan. Seakan terbayang si kuda meradang memekik aku ini binatang jalang/dari kumpulannya yang terbuang (Chairil Anwar, ?Aku?), dan dengan segala petaka dan penderitaannya yang dinistakan, dieksploitasi, si kuda, jika dapat bicara, ia akan merintih nestapa kulihat Tubuh mengucur darah/aku berkaca dalam darah (Chairil Anwar, ?Isa?). Maka, rasa empati dan simpati pada kuda yang kerap jadi korban dan dikorbankan, seperti tulisan ?Ugo dan Kuda, Saksi dan Korban? Enin Supriyanto, telah menunjukkan keseriusan Ugo menggeluti wilayah bawah sadar dunia binatang perkasa ini, kendati bernasib malang. Ya, kuda, dalam sisi gelap-terangnya, menyimpan misteri pengkhianatan manusia atas sahabat silamnya itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*