Cerita yang Menyertai Wabah di Kampungku

Raudal Tanjung Banua
http://www.korantempo.com/

PADA awal 1980-an, ketika kelompok tani dan kelompencapir (kelompok pendengar, pewicara, dan pemirsa) mulai menjamur, sudah seharusnya kampungku mengadakan panen raya dengan hasil yang jauh lebih baik. Maklum, sebuah bendungan di bagian hulu sungai baru saja diresmikan di tahun 1976 oleh Ir. Sutami, Menteri Pekerjaan Umum dalam kabinet Soeharto. Empat kali berturut-turut sejak peresmian, hasil panen memang melimpah. Namun, tak lama kemudian, secara ajaib, panen kami hancur-lebur. Saat itu, wabah mencengkram kampungku: hama tikus merajalela, gangguan babi menjadi-jadi. Gagallah panen tahun-tahun itu, menyebabkan tak seorang pun memiliki segoni dua goni padi. Dan kami hanya punya tengkulak–wabah lain yang mengerikan!

Kini, daerahku kembali paceklik. Siklus berulang. Kali ini bukan hanya panen yang gagal, tapi hidup kian sulit pula, dalam segala hal. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Pupuk dan obat tanaman tak terjangkau. Banyak orang kampungku memutuskan pergi merantau, tapi tak lama kembali terdampar pulang. Tampaknya “wabah” hidup susah sudah merajalela ke mana-mana. Tapi tetap saja aku merasa, kampungku paling parah. Dari catatan lembaga sosial, jumlah anak kurang gizi (lebih tepat kurang makan) meningkat di daerahku. Perut mereka membuncit dan mata mereka melotot sedih. Setiap rumah hanya punya setekong dua tekong beras saja dan tidak mampu menambahnya sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Saat beginilah, cerita-cerita seputar wabah hampir 30 tahun lalu itu kembali menyeruak seolah baru saja terjadi.

JIKA benar cerita dapat jadi pelipur lara pelerai demam, maka itu dibuktikan oleh orang kampungku dengan menghidupkan cerita-cerita yang mulanya memancing gelak tawa. Meski gelak tawa yang sedih. Di tengah hidup susah, mereka masih ingat kisah “tudung periuk dalam kuali” yang terjadi berapa waktu sebelum hama tikus menghantui.

Adalah Mak Roji, yang suaminya sudah meninggal, tinggal dengan enam anak. Anak-anak itu, maaf, seturut istilah orang kampung, “bodoh-bodoh”; dua orang tumbuh sebagai anak yang terganggu jiwa, yang lain punya tingkah aneh-aneh, seperti suka berjoget di keramaian. Menurut sahibul hikayat, mereka selalu bertengkar kalau mau makan. Ada-ada saja yang mereka pertengkarkan. Misalnya, nasi siapa paling banyak. Biasanya mereka bertimbang nasi di pinggan, dan ditaruh di atas telapak tangan, dan mana yang dianggap lebih berat itulah yang diperebutkan.

Hari itu, seperti biasa Mak Roji bersiap-siap ke sawah. Yang tidak biasa adalah masakannya hari itu. Ia masak nasi banyak sekali, maklum baru saja usai panen. Uap nasi dari beras baru mengepul wangi ke udara. Ia pun menggulai ikan campur paku, pastilah enak sekali. Tetapi anak-anak yang disuruh makan masih juga bertengkar, padahal hari untuk ke sawah sudah tinggi. Mak Roji akhirnya dengan geram mengambil nasi seperiuk dan memasukkannya ke dalam gulai paku di kuali. Dengan cara itu, tanpa rasa bersalah ia makan dengan lahapnya. Anak-anaknya yang tadi bertengkar hanya terdiam melihat ulah si emak. Mungkin mereka tak menduga bahwa nasi dan gulai sebanyak itu bisa habis sekali duduk dimakan orang seorang.

Lagi pula Mak Roji sampai hati betul, sebutir nasi pun tak ia sisakan, setangkai paku pun tak terbuang. Malah, demikian cerita orang-orang itu sambil mulai tertawa, Mak Roji masih sempat mengambil singkong rebus yang mengepul di hadapan anak-anaknya. Semua anak melongo bodoh, mungkin juga takjub, sehingga tak sadar kalau tangan si emak sudah meraih wadah dari hadapan mereka. Mereka baru sadar ketika si emak kepanasan singkong rebus, dan untuk menjaga wibawa tak mungkin ia semburkan ke luar, meski juga tak mungkin ia telan. Maka untuk menghembuskan hawa panas di mulutnya, Mak Roji berkata, “Ayo ke sawah, hah!” (Sampai di sini, orang yang bercerita dan yang mendengar sama meledak tawanya.) Lalu, setengah membuang muka yang sempat panik, Mak Roji menyambar peralatannya ke sawah dengan langkah seperti bebek pulang petang. Tawa orang-orang itu pun bertambah-tambah.

Singkat cerita, besoknya, tanpa ada sakit, Mak Roji meninggal dengan tenang. Tetapi cerita tentang “tudung periuk dalam kuali” terus menyertai. Yang menarik, enam anak Mak Roji silih berganti bercerita bahwa sebelum mak mereka meninggal dunia, ada isyarat tertentu yang disampaikannya. Sehari sebelum meninggal, perempuan kuat perkasa itu sempat menunjuk-nunjuk puncak Bukit Talau, yang memang tampak belaka dari sawahnya. Apa artinya? Beberapa orang bertanya sekadar iseng dan anak-anak Mak Roji berebut menjelaskan, seolah berebut pinggan.

“Beliau berpesan sering-seringlah memandang Bukit Talau,” kata si sulung.

“Untuk apa pula?” tanya seseorang, seraya melayangkan pandang ke Bukit Talau, sebuah bukit paling tinggi di kampungku, bagian dari Pegunungan Barisan.

“Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan….”

“Menghibur hati yang rawan, hahaha…. Ayo, Buyuang, tiup serulingmu!” kata seseorang. Dan orang kampung lainnya tertawa.

Kata si bungsu, yang agak pintar: “Di puncak Bukit Talau ada inyiak balang, jadi hati-hatilah kalau ke ladang!”

Orang-orang terdiam, tetapi seseorang menyela, “Tentu saja. Sejak dulu di sana inyiak berumah. Katakan kau sendiri yang takut….”

“Kalau soal inyiak saja awak tak takut. Tapi kata Mak, di puncak Talau juga ada bigau, ia akan turun menghalau celeng gembalanya….”

Orang-orang kembali terdiam, beberapa mulai gelisah.

“Kata Mak, bapak tidul-tidulan di puncak Talau, dekat batu belbentuk huluf waw,” kata si anak yang dianggap cadel dan terganggu jiwanya. “Kalau mau bigau tak tulun, bakal kemenyan bial bapak bangun kena asapnya, dan mencegah bigau menghalau celeng gembalaannya. Hus, hus, jangan tulun, kata bapak!”

“Di sana juga ada batu belah batu bertangkup, tapi ndak mau menyungkup badan Mak, sebab beliau yang menghabiskan makanan sekuali….” kata anak yang suka berjoget.

Pada bagian ini, biasanya orang-orang kembali meledak tawanya. Tentu saja, sebab cerita batu bertangkup di kampung kami merupakan cerita mengharukan. Seorang ibu yang bersedih disungkup batu belah saat sembunyi di sana. Hanya saja, itu disebabkan anak-anaknya yang durhaka: menghabiskan makanan sampai tak ada yang bersisa. Nah, dalam cerita Mak Roji, si ibu yang justru menghabiskan makanan!

Kata si sulung, agak malu, “Sebenarnya Mak minta kami menyimak suara dari Bukit Talau….”

Orang-orang tersenyum geli, tak hendak memperpanjang lagi pertanyaan. Sebab suara apa pula yang hendak disimak dari sana? Tapi aneh, beberapa pekan kemudian Bukit Talau memang bertingkah aneh. Malam-malam, terdengar gema suara di puncaknya, kadang gemuruh, kadang bunyi angin kencang, kadang desau yang tak kunjung hilang. Ada apa gerangan? Semua orang melepas pandang ke puncak Talau dan bukit-bukit sekitar. Tak ada yang berubah. Bukit Talau masih seperti dulu: tegak runcing dengan dua pucuk, seperti huruf M, yang satu lebih rendah dan yang lain agak sumbing. Jalan setapak peladang dan perimba masih melingkar di sisi-sisinya, seperti ular dalam kabut. Beberapa pondok bertengger, serupa sarang burung di dahan pohon besar. Beberapa pohon yang memberi bentuk pada Bukit Talau–karena besar dan rimbunnya–toh masih berdiri, tak mengubah pemandangan.

Orang-orang mulai cemas, dan segera teringat cerita “ular selingkar gunung”.

ALKISAH di Bukit Talau hidup seekor ular besar peliharaan Nenek Tatak, perempuan bagak, pemberani. Tahun-tahun itu, hanya dia yang berladang di puncak Bukit Talau, sedang yang lain hanya sampai di kaki dan pinggang bukit. Tentu bukan bukit yang tinggi membuat orang ciut nyali, tapi di situ bersarang harimau dan mungkin juga bigau (sebagaimana dikatakan si pintar anak Mak Roji). Menurut cerita, harimau tinggal di ngalau atau gua (mungkin ini yang dimaksud si tukang joget Mak Roji dengan batu belah batu bertangkup; atau yang dimaksud si cadel dengan batu huruf waw, dan dipercayainya bahwa arwah ayahnya di sana, jika merunut penghormatan orang kampung pada harimau sebagai “leluhur”).

Ah, lupakan dulu anak-anak Mak Roji sebab cerita Nenek Tatak sebenarnya tak ada hubungannya dengan harimau atau bigau, tikus dan babi, ini cerita tentang mimpi-mimpi–sekadar menghibur cemas hati!

Tiap hari Nenek Tatak bekerja di ladang, menajak rumput, menanam labu dan pisang. Ia baru akan beristirahat tengah hari dengan mengunyah sirih. Menjelang petang ia pulang, menuruni jalan setapak yang melingkar-lingkar. Suatu hari, saat beristirahat di bawah pohon jengkol, seekor ular kecil–orang kampung menyebut “sebesar batang korek api”–menyusup ke dalam kotak sirih sang nenek. Saat hendak mengambil sirih, ia singkirkan ular itu hati-hati, tapi sebentar hewan itu kembali menyusup, bahkan lebih dalam sampai ke balik pinang dan gambir. Setelah tiga kali begitu, si nenek akhirnya membiarkan ular itu ikut dengannya. Mula-mula dibiarkannya tinggal di dalam kotak sirih, sesekali dimasukkannya ke dalam tengkuluknya, sampai tak muat lagi. Ia pindahkan ke dalam tas rotannya. Hari demi hari si ular kian besar juga, dan akhirnya dibiarkannya tinggal di rumah. Orang kampung mulai takut, dan menyebar kabar bahwa Nenek Tatak punya anak seekor ular. Ia yang memang hidup sebatang kara itu sebenarnya tahan terhadap gunjing dan cercaan, tapi tak sampai hati jika si ular sampai menanggung akibatnya. Namun badannya sudah besar. Maka si ular mesti dipindahkan.

Tak mungkin si nenek menggendongnya, maka mereka harus berjalan beriringan sebelum orang-orang memergoki mereka. Bagi yang diam-diam sempat melihat, perjalanan itu tampak menyedihkan. Seperti sepasang ibu-anak. Terasa sekali mereka tak ingin berpisah. Tapi takdir berbeda. Akhirnya si ular dilepas ke belantara Bukit Talau.

Konon, bertahun-tahun kemudian, Nenek Tatak bermimpi bahwa si ular yang ia pelihara sejak “sebesar anak korek api” itu kini telah berubah jadi ular raksasa yang melingkari Bukit Talau. Dalam mimpi itu, si ular meminta supaya Nenek Tatak sudi mendatanginya lewat kepala di bagian puncak bukit yang sumbing. Sebelum mimpi berakhir malam itu, si ular mengangakan mulutnya, dan tampaklah benda sebentuk cincin sewarna permata! Si nenek menceritakan mimpi itu kepada beberapa orang, dan tak ada yang menolak ketika Angku Jurtatap yang ahli takwil meminta Nenek Tatak datang ke sana. Itu cincin Sicindai, kata si angku, banyak manfaat jika dipakai. Itu sama dengan rantai bertuah si bigau. Tapi si nenek menolak, bukan tak percaya mimpi, bukan sudah tak kuat mendaki, tapi hanya tak ingin balas jasa.

Pada malam berikutnya, mimpi yang sama datang kembali, dan si nenek tetap menolak. Setelah tiga kali menolak, terdengar suara, serupa gema, “Baiklah Nenek tua, engkau orang yang ikhlas. Emas permata tak engkau cari, balas budi tak diharap. Tapi biarkanlah aku melindungi nagari di selingkar Bukit Talau. Simak jika ada isyarat dariku, itu pertanda akan terjadi bahaya atau bencana!”

Dan benar: isyarat itu, gema dan gemuruh itu, jadi pertanda datangnya wabah!

ISYARAT itu akan menemukan titik terang apabila kita masuk ke dalam cerita berikutnya, yakni tentang “pasukan tikus menyeberangi jalan.” Adalah seorang sopir di kampungku yang konon pernah menyaksikan peristiwa ajaib itu. Pak Mua, nama sopir itu, sudah tua dan sakit-sakitan. Ini perlu dikemukakan sedikit, sebab lantaran sudah tua dan sakit, tidak seorang pun akan menanyakan lagi kebenaran ceritanya. Jika pun ia masih sehat, sebenarnya juga tak bakalan ada yang mendatangi, sebab cerita itu sudah menjadi cerita dari mulut ke mulut, dan boleh jadi jika Pak Mua ditanya, ia juga menyebut nama seorang lain sesama sopir yang mengalami langsung peristiwa seperti disebut dalam cerita. Begitu seterusnya. Cerita di kampung bukan soal sumber utama, bukan soal benar atau tidak, tapi bagaimana cerita itu mengalir sampai jauh. (Kini “hak paten” cerita itu dipegang oleh bekas kernet, Serel, yang masih bersemangat menceritakan kembali meski ia mengaku melihatnya setengah kabur sebab ketika itu ia baru bangun tidur.)

Begitulah, konon, sebelum panen gagal karena diserang tikus, Pak Mua melihat kejadian aneh tak lama berselang setelah musim tanam tahun itu. Sebagai sopir truk jarak jauh, yang mengangkut semen dari Padang ke Bengkulu, ia biasa melaju malam. Selepas tikungan Jaring Punai yang lengang, Pak Mua melihat sesosok bayangan aneh yang tak pernah ia lihat sebelumnya: kecil dan cebol untuk ukuran manusia. Ia mengibaskan tongkatnya yang diartikan Pak Mua sebagai permintaan agar truknya berhenti. Benar. Setelah truk berhenti, melintaslah beribu-ribu ekor tikus yang digembalakannya. Tikus-tikus itu berbaris rapi menyeberangi jalan, dan karena jumlahnya banyak, sampai tak terasa sudah ada sejumlah kendaraan yang terpaksa berhenti di belakang truk Pak Mua, serta kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan. Semua memilih berhenti dan memberi jalan kepada pasukan tikus menyeberangi jalan.

Sesampai di rumah makan, para sopir berkumpul dan setengah menggigil bertanya tentang kejadian apa gerangan yang barusan mereka saksikan. Mereka sungguh tak paham. Berbagai tafsir pun mengumandang. Ada yang berpendapat si tikus berusaha pindah tempat sebab tempat sebelumnya sudah diaduk-aduk oleh orang proyek yang membuat bendungan. Ada yang bilang, pasukan tikus itu kini datang untuk membalas dendam. Ada yang menghubungkannya dengan Nabi Sulaiman: mungkin sang Nabi tak ingin ada satu pun makhluk teraniaya. Sebagian bilang, itu akibat dari upacara “obat padi” yang tak ada diselenggarakan lagi.

Ya, menyangkut kepercayaan pada upacara memang bisa jadi alasan sendiri. Sejak peresmian bendungan, prosesi turun ke sawah tidak lagi memakai perlengkapan yang disyaratkan: sesaji dan bunga-bunga. Para petani mulai jalan sendiri, suka berebut air, siapa cepat ia dapat dan musim tanam jadi tak serentak. Biasanya, berkat hujan dari langit, turun ke sawah milik bersama: para tetua membawa “obat” padi dari daun-daun dan pucuk tumbuhan, dihantarkan lewat pematang hingga sampai ke tengah sawah. Mantra-mantra keselamatan menggemaung. Semua makhluk semesta terasa agung: tikus tidak disebut tikus, tapi puti, artinya putri; babi disebut urang elok, artinya orang baik-baik; dan hanya berang-berang yang tetap disebut dengan berang-berang; dia toh tidak merusak padi, hanya membuang muntahan sisik ikan atau berak di pematang.

Setelah kejadian “pasukan tikus menyeberangi jalan” itu padi-padi di kampungku puso, hama tikus merajalela…. Jika itu benar campur-tangan Nabi Sulaiman atau Khaidir, maka, maaf saja, itu bukan campur tangan yang membawa berkah, Saudara.

KINI, tanpa isyarat dan aba-aba, wabah hama tikus kembali melanda kampungku dan kampung-kampung sekitarnya. Ini diperparah oleh “wabah” harga dan segala sesuatu menjadi langka. Harga-harga naik, minyak tanah tak ada. Pencurian meningkat. Dua hari yang lalu, pencuri bahkan membawa pergi periuk ibuku yang masih berisi nasi, di atas tungku. Di desa sebelah, seorang tengkulak diamuk warga karena menolak meminjamkan uang atau padi. Katanya, sudah tak ada modal lagi. Tapi warga yang terlanjur sakit hati tak bisa terima. Di tengah situasi sukar inilah, cerita-cerita kecil hampir tiga puluh tahun yang lalu, yang menyertai wabah di kampungku, kembali diminati. Aku sendiri tak tahu apakah ada hubungan antara cerita dulu dengan keadaan kini.

Ya, cerita-cerita itu kembali menyertai wabah di kampungku. Besar-kecil pada mempercakapkannya. Meski mereka lebih banyak mengomentari jalan cerita sesuai situasi sekarang. “Mengapa Pak Mua tidak menggilas saja tikus-tikus itu?” kata seorang anak muda di pos ronda, di tepi jalan raya.

“Hus! Tidak digilas saja keadaan sudah begini,” yang lain menimpali.

“Itu karena kita tak melawannya. Mestinya dihadapi, jika perlu sekalian dengan si bigau cebol pimpinan mereka itu,” ia meradang.

“Husni! Jangan terlalu kasar. Ia bertelinga bumi,” Kudal, si tukang cerita minta pengertian Husni.

“Kau masih peduli, Kudal? Dari tahun ke tahun kita begini. Sudah empat kali mestinya panen, hanya padi hampa. Untuk rokok saja kita menyetop mobil lewat!”

“Aku tak mau lagi memanggil tikus dengan puti, celeng dengan urang elok, bahkan harimau dengan inyiak balang,” kata Kutir dingin.

“Aku juga tak mau lagi. Kita saja yang menghormati mereka, sedang mereka tidak,” Mawi yang pendiam tampak menahan geram.

“Inyiak balang mengamuk karena semua hutan dijadikan ladang gambir, bahkan sampai ke puncak Bukit Talau. Makanya tak ada lagi suara-suara dari sana,” kata Kudal.

“Percuma. Wabah datang tak diundang, semuanya tiba-tiba. Apa yang dapat dilakukan saat harga sembako naik, meski jika semalaman Bukit Talau bergemuruh?”

“Dan apa pula komentar kau tentang tikus dan babi-babi?” desak yang lain.

“Sudah lama tak ada upacara obat padi di kampung kita,” Ikal yang menjawab.

“Tutup mulutmu, Kepinding! Dari dulu kita berupacara menyambut semuanya. Mulai dari Pemilu sampai peresmian jamban. Apa hasilnya?”

Mereka yang bergerombol di pos ronda mulai tegang. Mereka mulai bosan pada cerita-cerita yang menyertai wabah. Ada raut kesal kepada teman-teman sendiri yang semula dianggap fasih bercerita, sekarang tampak sebaliknya: terlalu larut dalam cerita. Mereka marah dan mual, meski sebenarnya lebih terarah pada keadaan. Saat itulah, iring-iringan kendaraan rombongan Pemda dan DPRD kabupaten kami lewat untuk sebuah kunjungan kerja di Balai Selasa, kecamatan di selatan. Ada peresmian mesjid sumbangan perantau, sekaligus peletakan batu pertama pembangunan SPBU milik ipar bupati. Bunyi sirene meraung-raung, seperti mengejek kampung-kampung yang lapar.

“Mereka datang!” kata Isul.

“Ya, mereka datang, tikus-tikus itu….”

“Babi-babi itu….”

“Hadang!”

“Lempar!”

“Jangan!”

Begitu saja, gerombolan anak-anak muda di pos ronda itu berloncatan ke jalan raya. Terdengar rem mencericit dan dentang benda keras beradu. Kaca-kaca berhamburan. Anak-anak muda yang marah dan lapar itu beringas berteriak, “Gilas mereka! Gilas! Jangan kita terus yang digilas!”

Peristiwa itu pun menjadi cerita baru yang menyertai wabah di kampungku!
———-

Rumahlebah Yogyakarta, Agustus-November 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *