Laki-laki dari Pulau Salju

AS Sumbawi
http://sastra-tanah-air.blogspot.com/

Sebagai seorang laki-laki, sebenarnya berapa teman perempuan anda? Hanya beberapa. Atau sepuluh. Seratus. Seribu. Barangkali seratus ribu dua ratus lima puluh enam. Tak terhitung. Ya, terserah berapa anda menyebutkan. Akan tetapi, Saya pasti akan meragukan jika anda mengatakan bahwa teman perempuan anda sebanyak jumlah perempuan yang hidup di dunia sekarang ini. Apakah benar demikian?!

Berarti anda juga berteman dengan perempuan yang disebut pelacur, artis film porno, perempuan pijat plus, pengemis, gelandangan, perempuan panti jompo, pengidap HIV/AIDS, perempuan abnormal baik fisik maupun mental, perempuan jalang, perempuan yang dianugerahi wajah yang tidak menarik dan lain-lainnya. Saya pasti akan bersyukur jika memang demikian. Dan menurut Saya, hal itu merupakan ide yang sungguh baik sekali.

Berbicara tentang teman perempuan, bagi Saya akan memunculkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Kalau anda menyangka bahwa selama ini Saya hidup sendirian di dalam goa yang dingin, gelap, dan mencekam atau hidup seperti Tarzan di hutan bersama para binatang, anda sepenuhnya keliru. Kenyataannya Saya hidup normal. Sebagai makhluk dengan naluri gregoriousness, Saya hidup bermasyarakat. Saya tidak anti sosial. Tidak berpandangan bahwa neraka adalah orang lain. Saya pun kerap terlihat berkomunikasi dengan perempuan.

Di samping itu, sejak dari SD sampai Universitas, Saya sekelas juga dengan para perempuan. Bahkan pernah duduk berdua dengan beberapa dari mereka. Akan tetapi, Saya menganggap mereka bukan teman-teman Saya. Mereka tak lebih seorang asing yang kerap bertemu dengan Saya yang berbicara. Saya pun bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka meskipun seperlunya saja yang kemudian berakhir dengan kepergian mereka meninggalkan Saya. Karena dasar Saya yang tidak bisa beramah-ramah dengan mereka, beberapa di antara mereka diam-diam memberikan julukan laki-laki dingin atau laki-laki dari pulau salju atau The Ice Man kepada Saya. Dan karena mereka mampu bersuara hingga menembus telinga pendengarnya, maka teman laki-laki Saya kadang-kadang menyebut julukan itu kepada Saya dalam olok-olok dan canda.

Kalau anda menyangka selama ini Saya akrab dengan laki-laki, Saya mengiyakannya. Akan tetapi, Saya pasti akan menolak mentah-mentah jika anda mengatakan bahwa Saya seorang gay. Tidak. Sekali tidak. Sebaiknya anda cepat-cepat mengunci pikiran dan mulut anda sebelum terlambat.

Baiklah. Saya terima julukan-julukan semacam itu. Laki-laki dingin atau laki-laki dari pulau salju atau The Ice Man, Saya masa bodoh. Asal tidak laki-laki tanpa syahwat. Saya pasti akan marah. Karena hal itu berarti penolakan terhadap keberadaan Saya sebagai manusia. Juga asal tidak laki-laki tanpa cinta, Saya paling sebel dibilang seperti itu. Karena pada kenyataannya, Cupid, si bocah bersayap yang dianggap sebagai dewa cinta itu beberapa kali terbang datang kepada Saya dengan busur dan anak panah. Menembus jantung Saya. Menjadikan Saya jatuh cinta kepada beberapa perempuan. Akan tetapi, Saya tak pernah berkekasihan dengan mereka. Bukan sebab mereka menolak, melainkan Saya sendiri yang tak pernah mengungkapkan perasaan cinta Saya kepada mereka. Karena hal itu, seorang teman mengatakan bahwa Saya pecinta sejati.

Sebenarnya, Saya termasuk laki-laki yang mudah sekali tertarik kepada perempuan. Setiap kali melihat perempuan cantik, segera hati Saya tertawan. Entah. Sampai sekarang sudah berapa puluh atau ratus atau ribu jumlahnya perempuan yang membuat Saya tertarik kepadanya. Akan tetapi, sebentar kemudian Saya sudah lupa ketika mereka hilang dari pandangan mata Saya. Dan Saya tak pernah benar-benar mempunyai keinginan untuk menemui mereka.

Kemudian entah sejak kapan, Saya kerap merasa aneh dengan anggapan Saya ketika melihat dua atau tiga atau empat orang perempuan yang berjalan bersama. Dalam pandangan Saya, seorang perempuan akan kelihatan lebih cantik ketika bersama dengan teman perempuannya daripada kalau berjalan sendirian. Pada saat itu, di depan Saya tiba-tiba muncul sesosok perempuan ideal, yang tak lain adalah gabungan dari dua atau tiga atau empat orang perempuan itu. Mereka saling menutupi kelemahan masing-masing. Dan barangkali perempuan itu yang Saya jatuh cinta kepadanya.

Lantas pada malam harinya saat rebah di punggung kasur, Saya sering mengajak perempuan itu berbicara dan bermain. Bercanda dan tertawa. Berpacaran dan berkekasihan. Karena Saya sering tidak terkontrol dalam bersuara, seorang teman laki-laki pernah memergoki Saya.

“Apa yang kaulakukan?! Kau gila, ya,” katanya kepada Saya yang tengah tertawa terpingkal-pingkal karena perempuan itu bercerita tentang sesuatu yang lucu. Tentu saja, Saya kaget. Dan hancurlah suasana yang terbangun di antara Saya dan perempuan itu.

“Tertawa nggak karuan. Kalau ada temannya nggak masalah. Kalau sendirian bisa bahaya,” kata teman Saya lagi.
“Siapa bilang nggak ada temannya,” kata Saya.
“Jin temannya,” kata teman Saya kemudian pergi dengan geleng-geleng kepala.

Sejak saat itu, beredar kabar di antara teman laki-laki Saya, bahwa rupanya selama ini Saya telah menjalin cinta. Bukan dengan perempuan dari bangsa manusia, melainkan dari bangsa jin. Dan yang keterlaluan adalah bahwa jodoh Saya adalah perempuan dari bangsa jin.

Waton njeplak cangkeme, umpat Saya. Dongkol. Tentu Saya dongkol. Bukankah manusia diciptakan berpasang-pasangan. Laki-laki dan perempuan.

Kemudian ada di antara mereka yang mengatakan bahwa selama ini Saya berpacaran dengan perempuan bayangan Saya. Diam-diam Saya tersenyum.
*

Suatu hari ada perempuan yang mengungkapkan perasaan cinta kepada Saya. Perempuan itu bernama Nalia. Dan apa yang ada pada dirinya membuat Saya tertarik. Kulitnya yang putih bersinar, rambut hitamnya yang panjang dan halus, bulu matanya melengkung, hidungnya yang mancung, bibirnya yang merah dan sedikit tebal, serta dagunya yang lancip, plus tubuhnya yang langsing, terawat, dan sehat terpadu rapi menampakkan sebuah kecantikan. Akan tetapi, seperti pertemuan dengan perempuan-perempuan lainnya yang menarik Saya, setelah Nalia hilang dari pandangan mata, Saya lupa padanya. Dan Saya tak pernah benar-benar mempunyai keinginan untuk mengerami cinta di dadanya.

Dulu, Saya dan Nalia kerap bertemu dan berbicara di kampus. Juga duduk berdua. Dan kira-kira sebulan belakangan ini Nalia tampak mencoba menghindar dari Saya. Biar saja, pikir Saya.

Ketika bertemu di mana Saya dan Nalia saling bertatapan mata, Saya kerap menemukan sorot mata itu. Entahlah. Namun lebih jelasnya bahwa sorot mata itu membuat Saya menduga bahwa Nalia mencintai Saya. Dan kedatangan surat cinta dari Nalia yang dititipkan lewat teman Saya membuat dugaan Saya menjadi nyata. Nalia memang mencintai Saya.

Setelah membaca surat itu, Saya ingin segera bertemu dengan Nalia. Namun, karena malam itu adalah malam di hari terakhir ujian semester ganjil yang setelah itu banyak mahasiswa yang pulang, termasuk juga Nalia, maka Saya harus menunggu.

Sebenarnya kalau mau, Saya bisa menelepon atau mengirim SMS. Akan tetapi, apakah pantas untuk hal seperti itu, pikir Saya.

Hampir tiap malam ketika rebah di punggung kasur, bayangan Nalia muncul tersenyum dan menyapa. Kemudian Saya mengajak dia berbicara dan bermain. Bercanda dan tertawa. Menyanyi dan menari. Sementara surat cinta dari Nalia yang lungset akibat terlalu sering Saya baca itu tergeletak di punggung kasur tanpa daya.
*

Pagi itu Saya bertemu Nalia lagi di kampus. Dia sedang membaca daftar nilai yang terpampang di papan pengumuman. Ketika saling bertatapan, Saya lihat sorot mata itu. Terpendam begitu lama.
Saya ajak Nalia duduk di bawah rerindangan pohon yang cukup sepi dari mondar-mandir mahasiswa.

“Apa kabarmu?” kata Nalia membuka percakapan setelah saling terdiam beberapa saat.
“Baik. Kau?”
“Hem?, baik juga,” kata Nalia kemudian tertawa. Suasana tenang kembali.
“Bagaimana nilaimu?” kata Nalia.
“Belum lihat. Kau?”
“Lumayan,” Nalia tersenyum. Saya dan Nalia terdiam beberapa saat.
“Nalia,? ehm, suratmu,? kemarin…,” Saya diam sejenak. Dua jenak. Cukup lama.

“Hem.”
“Nalia. Benar suratmu kemarin, ehm,?.”
Tiba-tiba Nalia bangkit sembari mengelakkan tangan Saya yang hendak memegang tangannya.
“Kau bangsat. Katakan saja, kau tak mencintaiku. Dan pergilah kepada perempuan idealmu itu.”
“Nalia?”
“Laki-laki pengecut!!!”

“Nalia, apa?”
“Lihat kakimu. Lihatlah!!!” tunjuk Nalia. “Kau berpijak di tanah. Bagaimana kau bisa hidup di awang-awang?! Bercinta dengan bayang-bayang. Ini dunia. Realita. Bukan lamunan. Alam mimpi. Khayalan.”

“Apa maksudmu, Nalia.”
“Apa maksudmu, Nalia, heh!? Kau ini gila. Ganjil. Sakit. Abnormal. Kau tidak pantas hidup di dunia ini.” Saya diam ternganga. Melihat pipi Nalia berlumuran air mata.
“Aku tahu, kau juga mencintaiku. Tapi, kau menolaknya. Dan itu adalah karena kau hidup di dunia orang-orang sinting.” Nalia bergegas pergi.

Saya diam dengan pikiran berguling-gulingan. Seluruh perkataaan Nalia masih lekat dalam memori Saya. Benarkah Saya gila? Ganjil? Sakit? Abnormal? Dan tidak pantas hidup di dunia ini?!
Saya berlari memanggil Nalia. Ingin bicara dengannya. (*) 2006

Untukmu:
(maafkan aku,
jika pernah lebih mencintai
bayang-bayang yang kuciptakan
dari dirimu.)

Ket:
Waton njeplak cangkeme : asal bicara saja mulutnya.
Neraka adalah orang lain; merupakan pandangan eksistensialisme Sartre.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *