S e n g a u

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

KESEGARAN pagi ini nresep perasaanku. Lebih hebat dari tumpukan gunung dan lembaran langit. Dua makhluk ciptaan Tuhan paling angkuh di mataku, di atas ubun-ubunku, tapi begitu mungil di dasar hati dan pikiranku. Segala benda terkukuh di semesta atas kemauanku sendiri bisa berada dalam genggaman tanganku, kubuat mainan di telapakku dalam waktu singkat yang memadat. Sekejab.

Itu bila kumau. Bila kupunya kehendak. Karena sesungguhnya seperti itulah keadaanku. Memilih dan tidak untuk dipilih. Aku ini pilihan untuk memilih, memandang gunung dan langit lainya batu atau emas. Segalanya cuma kutukan. Sebuah pilihan. Disiapkan untuk tunduk menjadi bencana bagi yang lain.

Kasihan sekali mereka. Tak bisa bangun pagi sesegar ini sepertiku. Membuka mata menganga, menangkap cahaya mentari, menjadi sais bayang-bayang sendiri. Kesegaran yang sempurna setidaknya menurutku sendiri sejak berpuluh tahun. Kesegaran yang sumringah dan tak seorang pun sanggup mengisahkan hal ikhwalnya. Betapa ini kesegaran purba yang kurengkuh sendiri dengan satu-satunya mataku. Cahaya Tuhan itu. Kesegaran pagi yang musti kupendarkan segenap tenaga ke dalam perasaanku, hatiku, bahasaku, ucapanku, keheningan cuping telingaku berkat kekuasanku sendiri. Saat inilah terpenting kujaga hidupku betapa kian waktu merangkak jelang siang menuju malam sesuatu yang menggigilkanku menerobos masuk tubuh. Bahwa jika aku lena sekedip saja jurang nganga kutukan dan pilihan merangsek amat tipisnya.

Kerap menyergap kengerian itu padaku. Membeberkan peta mengajukan tanya jaddi manusia ataukah terseret dalam makhluk kutukan yang menyunpahserapahi Tuhan. Aku lahir tanpa pengetahuan siapa bapaku, ibuku, dimana alamatku, kakek nenekku, nenek moyangku. Aku lahir begitu saja. Apa adanya karena seluruh pengetahuanku telah lebih dulu tersumbat bisu tuli lidah dan kupingku. Itu tak cukup oleh karena perkenalanku kali pertama di dunia ini adalah ketika manusia lain mengasihaniku melihat kakiku bercabang seperti akar pohon trembesi. Hitam, bersisik dan mekar. Begitulah di satu saat aku ada, hidup dan cacat. Tapi di saat lain aku tiada dan ditiadakan. Hanya sepasang cahaya kecil meredup di mata yang kukuh menyampaikan kisah meski kian memerah sulur-sulurnya ke segenap tubuh dan jiwa.

Ketika itu betapa lekat derita dan kekosongan dan kedekatan itu hanyalah serupa kepura-puraan atas nama sabar, kemanusiaan, dosa, kerja, kasihan dan tetek mbengek cinta lainnya yang tentu akupun harus pura-pura pula memahaminya, melakoninya. Bahkan harus rela menyulap agar tampil lebih paham dari arti sebenarnya. Padahal sesungguhnya itu pekerjaan yang sia-sia saja. Lalu demi hidup pun kesia-siaan masih harus ditutup-tutupi. Ketika itu bagiku berlaku hukum: Hanya orang yang beruntunglah yang dengan sadar menutup-nutupi kesia-siannya. Luput dari itu, mereka orang yang merugi. Tuhan bisa dibenci, dimaki. Namun itu bukan cara mujarab untuk menyembuhkan luka hati manusia. Tuhan tak pernah terluka hatinya sekalipun dicaci.

Inilah sungguh keadaan yang menggetarkan nyaliku. Bila sesekali menyeruak ke permukaan bagian hidupku, aku bisa menyerupai seorang yang murtad. Bila Tuhan menasbihkan sebagai makhluk yang aniaya dan bodoh, tentu bukanlah aku yang dimaksudkan. Bukan. Itu bukan diriku.

Saban senja berlabuh, itu detik-detik terkuat bagiku mengumpulkan kata maaf dan ucapan terimakasih. Kumaafkan ketebatasan ziarahku pada seluruh tubuh, rasa dan jiwa. Tak lain sekadar mengais makna, menemukan arti, meraih gairah yang ditebar matahari menerangi duniaku. Akupun merenda cerita kelumpuhanku, kebisuanku, gangguan pendengaranku ke dalam kesunyian yang sama sekali baru dari hari ke hari. Bila malam bertambah malam beribu ucapan terimakasih dan puji syukur kulampiaskan atas nama sepasang mataku?harta terindah yang kupunya, menyusul pikiran, perasaanku. Khusyuk hingga tak ikhlas bila malam-malam kupejamkan untuknya. Ya, mataku tetap menyala demi seluruh gairah sukma hidupku, jiwaku, hatiku, ruhku karena nun di sana tak ada gelap terang, tiada siang malam. Segalanya hanya bayang-bayang. Akulah sendiri bayang-bayang itu. Lalu untuk apa musti melumpuhkan bayang-bayangku sendiri? Mengalirlah sepertri desir air, berputarlah selaksa roda. Semaumu, semauku sendiri. Bayang-bayang itu senantiasa turut melaju atau lamban merayu.

Maafkan bila aku tak mampu menjerat segenap isi pikiran, perasaan, luka, bahagia, lelucon sebaik atau sesempurna mataku mencerapnya. Amatlah sulit bagiku menyakini kebahagiaanku sendiri, luka atau lelucon. Juga isi hati, gejolak pikiran.

Pembicaraanku tak terlampiaskan. Serba canggung, ragu-ragu dan mencemaskan. Ah, atau barangkali terlalu mengasyikkan menonton dunia demikian rumitnya meski sesungguhnya begitu sederhananya. Atau sebaliknya menyaksikan jagad begitu simplenya kendati sebenarnya amatlah dahsyat kerumitannya. Pada saatnya aku memungut jawab dimana letak kerumitan dan kapan waktu sederhananya. Aju menemukan kerumitan dunia itu pada dunia fantasi dan mainan masa kanak-kanak. Sementara penyederhanaan itu pada cara hidup manusia dewasa. Karena sifatnya yang sederhana tentunya sudah dapat diduga banyak yang tidak berguna, ternyata. Jika pun tak perlu kukatakan kecenderungannya yang memporakporanda.

Semenjak itu aku kembali menyukai dunia anak-anak. Menumbuhkan gairah hidupku dengan menikmati kesuntukan bermain, membelit dalam kerumitan. Kian terjerat permainan rumit kian aku merasa sanggup menjawab teka-teki siapa, dimana, apa, bagaimana, kapan aku terlempar ke rona dunia maha dahsyat ini. Sungguh sesuatu yang menakjubkan, ternyata.

Puji Tuhan. Betapa angin kebebasan menyejukkan pori-pori kulitku, nafasku, ruang gerakku, juga tentu saja bicaraku. Bukankah angin yang membisikkan, meneriakkan, menggumamkan suara-suara itu? Suatu percakapan yang paling rahasia sekalipun? Kusingkap seluruh tudung tubuhku agar leluasa menerima suara-suara. Juga kesunyian supaya terlepas segala beban, derita, sakit, cinta, cerita, berita. Selanjutnya meloncat, membobol dinding tubuhku diterbangkan angin.

Itulah mula aku merasa nyaman, bersih diri, enteng. Itulahawal aku melupakan, atau lebih tepatnya bersukaria dengan keadaanku sendiri maupun ketiadaanku yang melekat bersamanya. Itulah ikhwal segalanya milikku tapi aku tak punya apa-apa. Satu-satunya yang sering mendustaiku pun, yang saat ini demikian berharga bagiku, yakni mataku, nyala redup di dalamnya bukan aku yang punya. Betapa miskinnya aku. Anak-anak yang menyulapku jadi manusia kaya raya, justru dari kemiskinan yang demikian menjurang itu. Tak lain adalah karena ini kesempatan terbaik jadi manusia. Bukan sembarang manusia. Tak semua manusia sanggup hidup seperti aku. Bahkan kuyakin di dunia ini hanya akulah yang masih tersisa. Karena urutan paling buncit pun di antara yang terbagu pasti sudah memilih bunuh diri mengakhiri penderitaannya, atau yang terlampau bahagia tetapi takut akibat kebahagiaannya lantas dia perbanyak perkenalannya dengan dosa. Ya, tak ada pilihan lain baginya kecuali mengakhiri hidup, agar jelas dirinya tak berbuat dosa pada siapapun kecuali diri sendiri. Toh yang terakhir ini pun hanya dia sendiri yang tahu. Itupun masih amat sulit tesingkap dan bisa dinegosiasikan di belakang hari.

Begitulah, aku memang makhluk paling langka karena memang demikianlah seharusnya aku diciptakan, ditumbuhkan, digerakkan, dihidupkan?hidup yang sungguh-sungguh hidup, bukan kepura-puraan, apalagi bukan seni untuk menampilkan kepura-puraan. Bagiku hidup adalah hidup itu sendiri. Titik. Jangan campuradukkan hidup itu seni, seni untuk hidup. Hidup bukan lelucon sebagaimana air kehidupan atau air seni. Kendati keduanya memang ada dalam cerita-cerita dunia wayang dan dalam jungkir balik berbahasa.

Sungguh mengherankan sekaligus menakjubkan sesuatu kotoran tempat bersarangnya jutaan benih penyakit justru dengan kebanggaan luar biasa disebut air seni. Begitu pula air mani sebagai cikal bakal bibit manusia. Betapa dahsyat seni dunia wayang mengungkap lewat meminum air kehidupan? Ah, barangkali ini karena demikian adiluhungnya wayang sehingga hal itu terjadi. Di sana bisa jadi akibat pagar undang-undang pornografi saja. Bagiku ini ironi. Air kehidupan harus diambil dari kuping dewaruci. Bagi orang tuli sepertiku suatu yang mustahil.
***

DARI mata seorang anak sepertiku, berkat matahati, matakaki, mataair, matahari dan mata-mata, pengetahuanku hanya sebatas api, sepatu dan kursi jadi sesuatu yang begitu rumit. Begitu rumitnya sehingga wajar bila terkadang atau seringkali sudah dipahami orang lain. Apalagi oleh manusia dewasa yang telah meninggalkan dunia anak-anak.

Sebagaimana diriku, kawanku bermain anak-anak. Tentu saja jumlahnya membiak, begitu banyak seakan kampungku ini milik anak-anak. Dari kampung ke kampung. Bahkan lebih dari itu dunia ini seolah punya kami, anak-anak. Memandang mereka tanpa baju tanpa celana, inilah lelucon sesungguhnya di dunia tanpa tandingannya. Kami pun saling berbicara sonder jurang pemisah. Apalagi cuma soal sepele kaki, kuping dan lidah.

Juga kelamin. Kami menyukai kelamin kami. Buktinya, kami girang melukis kelamin kami dan pakaian ini terasa menyesakkan, memenjarakan tubuh kami, kelamin kami. Resleting celana seperti engsel penjara dijaga sipir-sipir berkumis kucing. Gagah tapi memalukan. Berani tapi tak punya nyali jantan seorang penjaga moral. Pakaian ini adalah siksa badan. Pakaian baju zirah para kalifah yang rindu udara kebebasan, kangen pada kesejujab angin padang savana dari pelarian di medan laga padang pasir kerontang. Pakaian ini adalah dendam laki-laki pada perempuan-perempuan calon istrinya menjelang malam pengantin. Lalu apa artinya ini bagi lelaki sepertiku yang jauh dari beristri? Bahkan pakaian adalah cinta pada derita tanpa akhir, duka yang abadi sebagai pasangan hidupku. Sekarang aku butu itu, meski Tuhan telah menyerangku habis-habisan dengan ayat-ayat apinya, tapi lidahnya tak pernah menyentuh batinku, apalagi menjilah. Kendati seribu ulama berdakwah, berjuta pengeras suara surau-surau dikumandangkan, seratus masjid selama sebulan penuh menggelar pengajian paling suci dan orang-orang mendarus seperti lebah. Betapa tak kuasa membiak dan menggetarkan gendang kupingku sekalipun ditusuk dan dihunjamkan ke ruang terdalam. Apalagi oleh suara sumbang ulama menjual tampang. Apalagi dari kaset-kaset bajakan tanpa imam dan makmum. Apalagi dari masjid-masjid sumbangan hasil perkosaan. Sayang, telingaku tak kuasa mencatat angka gelombang suara sumbang mereka.

Jadi maafkan bila pakaian ini menjadi penghalang ayat-ayat Tuhan bermula dari kelembaban udara, desir angin dan cuaca. Sebagaimana ayat-ayat Tuhan yang tertangkap oleh mataku pun tentu saja tak cukup untuk kumengerti, tak cukup membuat hidupku lebih laras seimbang. Apalagi hanya dari dongeng mulut ke mulut, yang sampai di dunia ini tinggal buih busanya alias omong kosong belaka.

Beruntunglah diriku diberi hak untuk menguasai penuh atas yang terjadi pada diri sendiri yang kosong. Lalu aku leluasa mengisinya dengan air tetes demi tetes dari mataair paling jernih yang bersumber dari sumur dalam tubuhku sendiri dari dasar jurang paling dalam dengan rongga paling nganga, sekaligus air dari dataran tertinggi palungnya. Inilah mataair paling suci bahkan tanpa mengalirkan airmata, membebaskan diriku dari situasi tersebut dalam kitab-kitab terhormat yang menyeretku dalam tragedi, korban, pelengkap penderita namun terbungkus manis oleh kata paling indah atas nama kemanusiaan, ketuhanan, moral ilmu pengetahuan, surga dan seabrek metafora yang hingga saat ini aku tak punya. Karena kenyataannya memang makhluk sepertiku tak tersentuh itu semua.

Bahkan oleh kemanusiaan itu sendiri. Lalu makhluk apakah aku ini? Rupanya ini pertanyaan yang tak terlalu penting karena aku hanyalah sepasang mata, bukan batu, bukan pula langit. Barangkali aku setengah manusia atau sejenis tumbuhan yang bisa melihat.

Bersama nak-anak kampung aku menuntaskan pekerjaan merakit kendaraan berbentuk kelamin. Dengan itu aku bisa berjalan, berlari dan terbang. Lantas tentu saja bisa bekerja mencari uang dan makanan?khas hidup manusia dewasa yang aku pinjam. Kendaraan itu berbingkai beberapa potong besi dirangkai berbentuk sepeda beroda tiga yang bisa kukayuh dengan lengan tanganku. Mengapa berbentuk kelamin, tak lain bila aku kurang terlatih dan suatu ketika menghantam suatu benda keras aku tidak terluka. Justru mengundang banyak tawa. Sementara aku tetap bertengger di kursi dudukku mengendarai seluruh kuasaku, menikmati seluruh pengetahauanku. Kenyataaanya sudah bisa diduga meski tak pernah terjadi sungguh peristiwanya. Toh banyak orang tertawa bila aku melintas di jalanan dengan kendaraanku. Mula-mula aku tidak mengerti apa yang membuatnya tertawa. Tapi kemudian kutahu jawabnya mereka sedang mentertawai dirinya sendiri. Bukan kasihan padaku, apalagi menganggapku konyol seperti semula kuduga.

Syukurlah lambat lain kebiasaan itu hilang dan giliran banyak orang membutuhkan pekerjaanku. Aku menjual jasa mengisi gas korek api dan menjahit sepatu?dua hal sederhana yang dibutuhkan manusia dewasa masa kini. Bisa dibayangkan bila tanpa kehadiranku, penduduk kampung miskin ini dijamin bakal bertambah miskin. Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan demi mendapatkan korek api baru, sepatu baru.

Kepadaku tinggal mengisi ulang dan memperbaiki bagian yang rusak, hidup mereka sehari-hari sudah bis berjalan seperti biasa dengan sedikit merogoh isi kantong mereka dan memberikan uang recehan. Sebaliknya, buatku aku bisa menyambung hidup dan memperbanyak pengetahuan dari korek api dan seperti bekas dengan memberi nilai penting dua benda berharga itu bagi perkembangan zaman bahkan peradaban dunia ini dilihat dari mata penduduk kampung miskin sepertiku. Tentu saja dengan penuh sadar, meski tiada aliran darah di tubuhku ini menjadi darah seorang budayawan, psikolog atau ilmuwan berdarah biru. Aku tetap saja seorang penjual jasa gas korek api dan ahli soal jahit menjahit seperti bekas yang menikmati panorama perubahan zaman dan peradaban dunia ini dari atas kursi kelamin sepedaku. Suatau keasyikkan yang tak terbeli siapapun. Suatu keindahan yang amat sensitif, sekaligus penyucian jiwa paling purba, paling suntuk sepanjang sejarah umat manusia dan semesta.

Apalagi di zaman supercanggih seperti sekarang, tak ada nabi, wali yang lumpuh duduk di kursi kelamin sepeda buatan, tanpa mulut dan telinga. Tidak ada. Yang banyak jumlahnya adalah manusia yang menyerupai nabi, berpura-pura wali dan yang mengenakan sepatu berbau ragam hidup tanpa tujuan. Terang saja aku bisa melihat semua itu dari bekas luka atau goresan sepatu-sepatu mereka. Aku bisa membaca langkah yang ragu-ragu, yang berjalan miring, angkuh, atau yang penuh keyakinan nafsu menguasai dunia. Aku bisa menangkap sisi gelap kaki yang bersih maupun yang penuh debu aroma korupsi: waktu, kekuasaan, jabatan bahkan uang. Aku bisa pula menangkap derap langkah kaki mesin perusak, penghancur, pembunuh tanpa otak dan hati.

Setelah bertahun lamanya hidung dan mataku, serta jari tanganku menajam melebihi jarum yang kutusuk-tusukkan pada daging sepatu itu. Aku bisa ceritakan itu semua bagaikan mengisahkan makhluk-makhluk bernyawa. Betapa sepatu-sepatu itu hidup, mengalami nasib buruk oleh tuannya. Semakin bobrok sepatu-sepatu itu, semakin sang tuannya berjaya menjalani hidup kesehariannya tanpa jarak antara dirinya dan alaskakinya. Bahkan nyaris tanpa beda. Tentu saja bedanya bila sedang tak lagi dikenakan. Atau bila sedang ditinggalkan tuannya sendirian di lorong-lorong gelap.

Sedang tuannya menggelar urusan penting, mungkin lebih berbahaya, barangkali lebih merdeka, atau bisa jadi tak kurang gilanya. Kasihan engkau, Bung! Di saat mulutmu lelah mengering, berdebu, kau ditilap menyantap ayam panggang, es buah segar, atau malah bercinta dengan istrinya. Tapi di saat tersemir rapi mengkilat seringkali kamu menjadi saksi terlibat sang tuan mengatur siasat sampai cacat. Ah, tak perlu kusebut dosa apa, karena aku tak tega melihatmu seolah duduk di kursi terdakwa.

Anehnya, hari-hari berjalan seperti biasa, seperti tak terjadi apa-apa. Bahkan telah menjadi kejadian yang biasa. Yang luar biasa, bila tak melakukan dosa tidak ada kejadian yang perlu dicatat. Rupanya dosa, kejahatan, cacat hukum, kebiasaan menyimpang telah jadi pengertian baru bagi manusia. Ah, jangan-jangan sebaliknya manusia pun jadi arti baru bagi dosa. Mana sesungguhnya yang benar? Kebingunganku seperti bukan tanpa jalan. Karena itulah aku menjadi pemantik bagi korek-korek api mereka, sebagaimana yang dibutuhkannya. Mereka perlu api.

Inilah sisi lain kenikmatan hidupku yang sekarang. Sementara bagian paling menyiksa tatkala menghadapi sepatu bobrok tapi tetap dipaksa pemiliknya, melayani dirinya, diperas kesaksiannya membungkus kakinya. Barangkali perasaan sama terjadi pada dokter ahli yang mendiagnosa pasien tua renta. Ditemukan banyak penyakit komplikasi berat dan sang dokter dipaksa mengoperasi pasien. Sekalipun pasien itu bekas presiden atau koruptor kelas kakap, tentu sang dokter menempuh jurus paling mutakhir: Berdoa. Lalu bagaimana bila dokter itu atheis? Barangkali ia akan membaca kitab ilmu kedokteran paling tebal di dunia ini, kendati jawabanya baru ia temukan pada bagian paling buncit dari kitab itu. Yaitu garis lurus datar penutup buku.

Begitulah sepatu-sepatu itu seperti orang tua yang masa mudanya tak punya kejelasan menggali pertanyaan siapa dirinya. Tetapi sudah ditentukan pimpinannya bahwa dia harus mengikuti kemauannya tanpa banyak cingcong, protes atau berbuat anarkhis. Bila perlu sesekali duakali dibersihkan otaknya, dipoles penampilannya, untuk sebetulnya menipu tuannya. Tapi bila telah tak terpakai, ia dijauhkan dari kebutuhannya sendiri tampil istimewa menggairahkan pesona berbicara dengan sepasang sepatu-sepatu cantik yang eksotis dan senantiasa dianugerahi sejuta gelar keindahan karena berjalan di lantai licin mengkilat atau permadani lembut bernama semesta. Yang terjadi justru sebaliknya. Sebab itulah bila tak terpakai, sepasang sepatu itu hanya menempati pojok ruang sempit dirubung kecoa dan laba-laba, semut serta angkrang buang kotoran sembarangan.

Nasibnya berujung di jarum jahit milikku. Di usia tuanya, nafasnya tertusuk ujung pisau dan dagingnya kubuat makin remuk rempu. Selanjutnya sepasang sepatu itu kembali teraniaya. Ah, kasihan sekali takdirmu, kawan! Engkau tak dianugerahi mulut, kuping dan mata tapi kepada engkau hanya disemburkan nafas pendek saja. Mengapa engkau tak diberi hak untuk memilih jadi sarung saja yang tiap hari kukalungkan di leherku ini? Ia bisa kupakai sembahyang menurut caraku menghadap Tuhan setidaknya di belakang orang-orang yang kupercaya jadi imamku. Ia yang menemani suka dukaku, menyelimuti tidurku, membungkus tubuhku bila angin terlampau hebat menghujat.

Bahkan ia yang seringkali menerbangkan aku menjauh dan meninggi dri kenyataan dunia yang basa-basi ini. Sarung ini sungguh suatu yang istimewa setelah mataku. Ia jadi kawan bergelut dan bermain seia-sekata sesudah anak-anak kampungku. Ia pula yang selalu menyadarkanku, menggugahku, menyemangatiku untuk tak boleh berhenti sampai di sini. Dialah yang mengingatkanku bahwa hidup ini bukan untuk dirinya saja tetapi juga untuk orang lain. Dia pula yang memamerkan kebenciannya saat kukisahkan sepatu-sepatu itu begitu besar pengorbanannya kepada orang lain.

Hidup untuk orang lain sampai dirinya pun dihidupi orang lain. Kecamuk keduanyakian menghebat terutama bila malam kian pekat dan mataku tersumbat. Kenyataan hidup memang demikian. Orang-orang justru dihidupi orang lain yang tentu saja ia tak tahu dan fatalnya lebih banyak dihidupi dengan kejahatan. Hidup bahagia, kaya raya, rumah mewah, uang banyak, anak-istri ganteng dan cantik meski itu semua bukan miliknya. Lantas dirinya sendiri sebagai dewa penolong juga dihidupi orang lain lagi dengan kekaburan pula. Hanya orang yang berani sendiri, sekalipun miskin, yang kehidupannya bagai dalam mimpi?bahwa dia sudah lagi bukan manusia. Entahla, jelas ia tak nyata.

Kecamuk itu berakhir pada kegigihan sarung untuk terus mendampingiku. Syukurlah, aku tak sulit untuk terus hidup karena aku punya sumber api. Meski demikian bukan berarti aku tak harus waspada. Kendati hati-hati tak musti berlebihan dan tak jarang justru menjatuhkan diri dalam rekayasa tak ada guna. Sumber api tentu saja berarti bahaya.

Terbakarnya rumah akibat kompor meledak atau kebakaran pasar lantaran sengaja dibakar bisa berbuntut tuduhan buatku hanya karena aku menjual gas korek api. Polisi yang terlalu pintar, jaksa yang terlampau pandai, juga hakim yang teramat jenius bisa menyeretku sungguh ke penjara. Terlebih bila itu didukung fakta tak terbantah bahwa aku diam membisu, tuli dan lumpuh. Itu artinya segalanya telah sempurna. Juga kejahatanku?membenarkan ketidaktahuanku tentang apa yang terjadi dan menimpaku.

Betapa aku tidak tahu apa-apa tapi peristiwa tetap saja terjadi suka atau tidak suka. Tidak ada penyangkalan, tidak ada pembelaan, tidak ada pilihan. Vonis telanjur dijatuhkan. Bahkan kesempatan pun aku tak punya.

Sumber api juga berarti petaka bila aku terlampau bersemangat untuk hidup dan mengajukan pertanyaan mengenai misteri hidup ini dengan gejolak penuh nafsu. Betapa gairah ini amat tipis dengan keputusasaan. Mengapa aku seperti ini keadaanku diciptakan Tuhan. Mengapa aku bukan pegawai negeri, menteri, polisi, tentara atau presiden? Mengapa aku bukan seorang kiai sehingga aku bisa mengaji selama berhari-hari di masjid yang kubangun sendiri, bukan seorang buta huruf seperti ini?

Kadang-kadang aku (ini yang paling gawat) tergoda dengan tanya orang-orang yang dengan susah payah melempar bahasa isyarat yang amat gampang kucerna, bila Tuhan menghendaki aku dilahirkan kembali, aku mau lahir seperti apa? Tentu saja jadi makhluk paling sepernu, sehat jasmani dan rohani, ganteng, berwibawa, sedikitnya pendidikan SMA agar aku bisa jadi penguasa. Supaya hidupku pun jadi ringan lantaran pekerjaanku satu-satunya tinggal menjaga diri dengan makan sehat, obat penenang, berpikir santai agar tidak jadi gila saja.

Ah, tampaknya aku harus menyudahi omonganku sebelum akhirnya aku tertelan sendiri oleh kata-kataku. Kini mulai tumbuh benih-benih takut, jangan-jangan akulah yang menjadi gila dengan keinginan sinting menjadi manusia sempurna. Bukankah aku lebih gampang gila ketimbang seorang penguasa, oleh sebab aku tak punya jaminan kesehatan dan pekerjaan serta makan yang cukup? Syukurlah dunia batinku segera menggugah fantasi edan ini untuk kembali jadi manusia biasa seperti apa adanya. Aku tidak ingin menjadi apa-apa. Aku ingin seperti ini saja dengan kekurangan dan kelebihanku. Aku hanya ingin menjadi seperti yang tertulis sejak awal hingga akhir karangan ini.

Ya, aku hanya ingin jadi pengarang setidaknya bagiku sendiri, keinginanku, imajinasi, catatan hidupku. Lantas, bagaimana itu bisa terjadi, aku berkata-kata indah, menari lincah, apalagi membaca menulis apabila aku bisu tuli, lumpuh dan buta huruf karenanya?

Kalau itu sungguh aku tidak tahu. Barangkali kata itu seperti wahyu. Juga mata pena dan ujung jemariku.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *