Kota-Kota Hikayat

Raudal Tanjung Banua
jawapos.com

DAN akhirnya, berapa lama sebuah kota tumbuh dan runtuh? Seratus atau seribu tahun, berabad-abad atau tak tercatat?

Sesungguhnya, di dunia ini ada kota-kota yang tumbuh abadi, meski fisiknya sudah lama runtuh atau berganti, namun namanya tidak. Setidaknya itulah yang kurasakan, sejak masih seorang kanak hingga berangkat remaja, di kepalaku ada sejumlah kota yang jika namanya kulafalkan sedikit saja, maka ia akan tersepuh seperti suasa; dan ketika aku besar sedikit, ia terasa bangkit bernyawa, merentangkan jalan dan lorong-lorongnya seperti tangan yang terbuka, menggamit langkah siapa saja. Maka siapa pun akan tergoda menyusurinya dengan senter melesat-lesat dan obor menyala-nyala, o, tidak –bila lafalnya kuulangi, maka ajaib, sepenuh kota seakan diguyur lampu ribuan watt, menyuluh titik terdekat hingga sisi yang tergelap. Aku dan siapa pun akan megap oleh cahaya, berenang atas cahaya, dan lidahku terasa kelu melafalkan nama-nama!

Dan cahaya yang tak tepermanai dari ingatanku, sebagaimana fitrah sebuah kota, tentu akan mengalami masa reda dan surutnya juga, namun satu hal yang pasti: ia akan menggemaung sebagai sebuah nama paling indah. Itulah pertanda sebuah kota pernah ada, yang mungkin akan disebut juga di akhirat kelak, meskipun wujudnya di dunia sudah tak ada, sirna. Nama, bukankah itu warisan sejati dari dunia? Mungkin ia memang tak tercatat di kitab suci semisal Saba atau Eliah, Sinai atau Ararat, namun ia disebut dalam setiap cerita, legenda dan sejarah, melintasi usia, pulau, dan bangsa-bangsa. Meski pula secara fisik banyak yang berubah: ada yang kembali sebagai kampung pantai biasa, sepi, dan sunyi dalam kepungan pokok rumbia; ada yang tumbuh sebagai kota kecil, sesak, dan lamban; tempat pabrik hitam penuh jelaga; ada yang selalu kusut oleh konflik tak bertara, bahkan ada yang kita pun tak tahu di manakah gerangan kota itu pernah ada.

Lalu, kota apakah itu? Mungkin kau bertanya. Dan aku akan menjawab, ”Itulah dia kota-kota hikayat!” Duh, dalam kelu lidah, masih kusebut namamu: Barus-Singkel, Demak-Kudus, Gresik, Muar, Tidore-Malifut, Tiku, Siak, Bandar Sepuluh!
***

TAPI aneh, ketika aku dewasa dan mulai menyukai peta, nama-nama itu tidak lagi serta-merta benderang tiap kali ia kusebut, kubilang-bilang, bahkan kugosok ia dengan cara mengenangnya dalam-dalam; sebagai suasa ia terasa pudar. Beberapa di antaranya malah hilang, timbul-tenggelam dalam ingatan, di samping memang ada yang tak tercatat di dalam peta, sehingga untuk masa yang lama aku telah melupakannya.

Padahal, untuk masa yang lama pula, ia pernah hidup dalam kepala kanak dan remajaku, kubawa ke mana-mana. Dulu, sebagaimana anak-anak seusia, selalu kusebut ia dengan takjub, kujaga lafalnya dengan pantangan –meski sesekali teringat juga di tempat bermain dadu atau di tepian mandi telanjang– dan susah-payah kami ”sucikan” lagi dari kepala kami yang mulai digoda kemaruk dunia. Kami tak ubahnya menjaga warisan dua kota suci, nun di jazirah, yang di hati tak tergantikan, di lidah tidak sembarang dilafalkan!

Begitulah, aku merasa bahwa nama-nama kota istimewa itu tak bakal enyah dari kepalaku, mungkin juga di kepala banyak orang, sebab diwariskan dari lidah ke lidah yang fasih bercerita di surau tua tempat mengaji, di sekolah papan lapuk terlantar, di rumah-rumah doyong tercinta, serta padang belukar tempat gembala. Tak lupa di lepau-lepau kopi yang buka larut hingga pagi tiba, di mana ceracau dan igau, sesekali suara mabuk, campur-aduk dengan hempasan domino, denting gelas beradu, dan kartu-kartu!

Di surau tua, tentu Nenek Guru yang menghikayatkan kota-kota kudus-suci itu, takzim serupa doa. Ia bercerita tentang Sultan yang keras menegakkan hukum Tuhan demi lurusnya sunatullah –dan begitulah seharusnya– meski menggantung kawan dan keluarga, dan suatu kali ada murid seorang seteru yang berhasil menggantikan diri sang guru di tiang gantungan, Sultan tak peduli. Titah suci harus dilaksanakan. Yang melaknat iman harus enyah. Dengan tatanan imanlah dua kota bertetangga itu, Demak dan Kudus, memberi tempat yang seluas-luasnya –dan sudah seharusnya begitu– kepada para sunan atau para walinya yang diberkahi Maha Kuasa. Mereka adalah khalifatullah terpilih tanah Jawa, dengan tangannya sendiri membangun menara dan bandar besar, lalu menyerang kaum kafir-sipitoka di seberang lautan. Itulah, kata Nenek Guru, kota yang bila malam bertambah malam, bertambah pula cahaya bintang dan di sanalah malaikat turun malam hari. Tak seorang pun mengingkari, bahkan, kata Nenek –seperti mengancam– sepasang murid yang tak patuh kepada Sultan atau Sunan (aku lupa apakah Nenek membedakan keduanya) telah menjelma menjadi anjing-anjing hitam di dalam kubur mereka….

Untuk mencairkan suasana, Nenek Guru akan menyanyikan sebuah syair lama –tak ada bosannya:”Hamzah Fansuri di dalam Mekkah, mencari Tuhan di Bait Al-Ka’bah, dari Barus ke Kudus terlalu payah, akhirnya dijumpa di dalam rumah.”

Di sekolah, Pak Guru Umar bercerita tentang kota yang menjadi pusat rempah-rempah, jadi rebutan orang Eropa. Ia juga membawa kami berkelok-liku terlebih dulu menyusuri daerah pantai yang penuh batang rumbia, pokok sagu dan parak kerambil, sebagai latar cerita untuk Tiku, sebuah kota pantai di Pariaman (sekarang masuk Agam) yang punya hubungan langsung dengan Kasultanan Aceh Darussalam. Itu cukup bukti memercayai pentingnya Tiku di masa lalu. Dan tentang Bandar Sepuluh, daerah tempat kami tinggal, diceritakan Pak Umar dengan penuh perasaan, ”Daerah kita ini dulunya kota pelabuhan ramai, mulai Muara Sakai di Ujung Tanjung, sampai Air Haji, Batangkapas dan Painan.” Orang Portugis datang, mendirikan benteng di Pulau Cingkuk, yang sekarang masih ada, telantar. Dan puak Peranggi menjadikannya gerbang masuk ke pedalaman Minangkabau demi mengail untung dalam sangketa kaum adat dan pendekar Paderi, kaum berani-bijak bestari, kata Pak Umar, memihak.

Di masa remaja, ketika melanjutkan ke sekolah menengah, si penutur kisah –dalam mata pelajaran disebut sejarah– berganti Pak Syahrial yang suka membawa buku-buku tua. ”Pada tahun 1475, Islam masuk ke Ternate dan Tidore. Tahun 1478 Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak,” kata sang guru botak itu, mungkin terlalu banyak menghapal angka, sebagai kode yang akan diurainya dengan rangkaian cerita.

Di rumah, ayah-ibu kami yang menghikayatkan tempat dan nama-nama, meski tak lengkap sebagai ihwal sebuah kota, tapi selalu menggoda. Kata ibu, istilah ”orang siak” di daerahku –artinya orang taat beribadah– memang benar-benar berasal dari Siak secara harafiah. Ya, Siak Sri Indrapura, kota bandar di tepi Sungai Siak kebanggaan marwah puak Melayu, yang para pedagangnya sekaligus berdakwah sampai ke daerahku. Dari ayah aku dapat warisan kota hikayat –masih di ranah Melayu– dari sisi kultural, yakni Bandar Muar, bersanding dengan Buluh Ketunggalan dan Kampung Lengang Sunyi. Tentu, karena ayahku fasih bakaba Nan Gombang Patuanan, cerita rakyat yang mengharu-biru, sehingga kota-kotanya campur-aduk antara fakta dan bayangan.
***

SEMENTARA itu, di padang belukar tempat gembala (bukan padang hijau terbuka, tapi padang duri rawa-rawa!), ada Pak Gali yang tak kalah fasih berkisah tentang kota-kota tempatnya singgah atau sekadar lewat. Beberapa kuyakin hanya ia kenal secara khayali. Tapi perlukah mempersoalkan benar atau tidaknya ia pernah melawat ke sana? Tidak. Cukup bukti cacat pada kakinya, kami percaya Pak Gali sudah berjalan jauh, meski ada saja bisik menyertai bahwa cacat itu lantaran ditembak polisi di kota rantauan, mungkin Banten atau Tanjungkarang. Apa pun, Pak Gali atau yang kemudian akrab kami panggil Pak Parewa, adalah penggembala kerbau yang baik, dan yang penting ia setia berhikayat tentang kota-kota. Ia sebut tentang warga kota yang berpantang menyembelih sapi di hari raya, tapi kerbau, demi menjaga perasaan umat beragama lain yang berbaur damai di sana; bahkan sebuah menara besar, agak gemuk, peninggalan sebelum Islam dibiarkan berdiri menjadi bagian dari kokohnya masjid. Sebuah masjid lagi, katanya, berada di kota sebelah barat, didirikan tanpa paku, agak ceper, malah cungkup makam orang-orang suci di sisi kiri masjid itu, terkesan lebih gembung, meninggi. ”Kenapa, Pak Gali?” temanku bertanya, dan dijawab ringan saja, ”Ya, supaya peziarah mudah menemukannya!”

Ia lalu bicara tentang Singkil, kota para ulama yang utama di perbatasan Aceh, yang sebenarnya lebih tepat disebut masuk ke wilayah Medan, tapi beberapa kawanku protes tentang Tanah Batak. ”Apa ada orang Batak jadi ulama? Nenek awak cerita, orang Batak makan orang…,” Uman, sepupuku yang taat, mengajukan alasan. Bila anggapan itu salah –dan itu terlihat dari geleng kepala Pak Gali– toh ia tidak marah, dan tidak pula menghardik. Ia malah tersenyum dan menjelaskan lebih hati-hati bahwa ”banyak cerita yang sengaja dikaburkan pihak penjajah untuk mengadu-domba bangsa kita.”

Uman dan yang lain tak puas, maka Pak Gali bertanya, ”Ada yang tahu kamper?” Kamper? Kami saling pandang, dan ketika ia menyebut kapur barus barulah kami tahu yang ia maksud. Tapi tahukah kalian kenapa ia disebut dengan nama sebuah kota tua di pantai Barat Sumatera? Entah, kata kami. Itu karena kamper dari Barus paling terkenal dan baik mutunya, sehingga kelak orang lebih senang menyebutnya kapur barus. Dan, kalian tahu di mana bekas pelabuhan utama kota Barus? Tak ada yang menjawab, hanya terdengar lenguh kerbau dan kecipak luluk di kubangan rawa-rawa. Barus atau Fansur bersisian dengan Sibolga, Sumatera Utara; dan di situlah dulu hidup seorang ulama besar yang syairnya sering dilagukan Nenek Gurumu (kami duga, ia pasti pernah mengintip kami mengaji!) dan dari situ para ulama mensyiarkan Islam sambil tak lupa berdagang, dan tentu saja berperang… katanya, dalam dan panjang. Menyentak, menakjubkan.

Tak ingin membuat kami kelewat tegang, ia kembali pamer soal kamper. ”Kamper atau kapur barus berasal dari getah yang mengeras di dalam batang pohon damar, berharga mahal di negeri Arab dan di kalangan Peranggi, sebab tak sekadar pengusir kecoak di almari seperti kau kenal tapi bahkan juga untuk bumbu masak para bangsawan,” katanya meyakinkan (meski bagi kami sangat mengejutkan). Dan jangan lupa, katanya lagi, seperti kapur barus, buah pala di Ternate, Tidore hingga Malifut, telah membuat orang-orang kulit putih berebut kota-kota dan pelabuhannya. Hingga semaput!
***

BEGITULAH kota-kota hikayat itu diwariskan, berurat-akar dalam kepala kami. Akan tetapi, seiring waktu, kenangan itu pudarlah, sebagaimana kota-kota itu pun pudar dipiuh waktu. Adakah tradisi lepau yang lebih dominan kemudian, sehingga ketika aku ke luar dari tempurung kampung, aku jadi fasih menghapal nama-nama ”kota yang dikutuk segala kitab suci” atau ”kota-kota dalam daftar prakiraan cuaca dunia”? Inikah penyebab kota-kota hikayat, kota-kota kecil keramat, kian terkucil, digantikan kota-kota tipikal yang enak diobrolkan di tempat hiruk semacam kafe, bar, dan kedai pinggir jalan?

Nyaris aku percaya pada pikiran sempitku ini, tapi lalu teringat sosok lelaki tua yang memperkenalkanku lebih lanjut dengan kota-kota hikayat di masa lalu, penuh gairah dan semangat justru di lepau kopi: tempat paling hiruk dan selalu jadi tudingan telunjuk dalam hasrat hidup barokah di kampung! Jujur, dari sekian banyak sosok dan tempat imajinatif di masa kecilku –rumah, surau, sekolah tua, padang gembala dan lepau kopi– sosok Pak Gali alias Pak Parewalah yang secara telak hidup di kepalaku dan adukkan cerita padang gembala dan lepau kopinyalah yang menemani hidupku sampai sekarang.

Waktu itu, aku sudah remaja, tidak lagi menggembala karena ayah dan ibuku menginginkan aku fokus sekolah –meski tetap saja tergoda lagak membual dan beradu kartu di warung Simpang Tiga. Setali tiga uang, kerbau Pak Gali juga dijual habis oleh ponakannya –kubayangkan seperti juru sita– sehingga hari-hari Pak Gali banyak di lepau kopi, hidup selayaknya parewa sejati: tak punya kerja pasti, tapi selalu berbagi. Sejak itulah sapaan Pak Gali berubah kian kental jadi Pak Parewa. Nama tambahan yang justru mewakili keadaan dirinya yang sebenarnya. Ya, laki-laki itu memang layaknya seorang parewa, setaraf preman dalam kampung tapi selalu hangat kepada siapa pun.

Bila dengan orang seusia ia mengurangi ceritanya sebab ia dipandang sebelah mata, tidak begitu dengan yang muda-muda. Dengan kami –yang tumbuh jakun dan mulai tertarik pada pasangan– ia tak bosan menceritakan kota yang entah pernah dikunjungi entah tidak. Kami tetap tak peduli. Jika tidak fisiknya pernah ke sana, toh pengetahuannya menjangkau setiap sudut kota yang diceritakannya. Selalu, sedari dulu, tanpa sungkan ia menyebut kota-kota itu sebagai ”kota dagang” dan lantang menyatakan bahwa raja yang kuat (ia singgung juga soal selir), armada perang, benteng yang kokoh, pasar dan bandar merupakan pilar sebuah kota. Ia tak pernah menyebut ”kota suci” meski tahu persis kota-kota yang diceritakannya itu penuh masjid besar-kecil, pusat penyebaran agama dan tempat berkumpulnya para wali; ia cukup menyebutnya kota dagang saja.

Bisa dikatakan, Nenek Guru di surau memperkenalkan sisi suci sebuah kota, sementara Pak Gali alias Pak Parewa di lepau memperkenalkan sisi hiruknya. Lewat cara ini tatanan pendidikan bersinergi; surau dan lepau mengisi hari-hari kami tiada henti…
***

”DI Demak Bintoro ada masjid raya yang tidak memakai paku….,” begitu Pak Parewa pernah cerita. Suara itu kembali bergema ketika di hari baik bulan baik, aku pergi ke Demak. Bukan kunjungan khusus memang, sebagaimana para peziarah makam wali, hanya sekadar kangen suasana kampung-halaman. Di sinilah aku temukan sebagian cerita Pak Parewa: masjid raya, makam bercungkup besar, para peziarah datang dan pergi, meski hati lantak menyaksikan alun-alun yang sepi dan sungai di sisi kota yang mati.

Aku mencuci muka dengan air limau yang disediakan di serambi masjid raya, tradisi yang sama di daerahku untuk menyambut bulan suci Ramadhan atau bulan haji. Saat itulah wajah Pak Parewa dan Nenek Guru membayang wangi dalam wadah. Tersenyum. Begitu nyata. Seakan mengajakku ziarah ke kota-kota kuat keramat dari masa yang lewat. Tak tahu apakah aku masih cukup kuat mengikuti klangenan begini, atau memang butuh untuk menyalakan cahaya kota-kota itu lagi. O, cahaya yang tumpas dari jiwaku: jiwa di dunia yang hilang jiwa…. O, cahaya yang angslup dari dinding kota: kota yang tidur di bawah matahari yang tak tidur!

Aku singgahi Demak kini, sebagaimana pernah kusinggahi kota-kota hikayat yang lain, kadang dengan kegembiraan meluap, tapi lebih sering dengan sedih yang berlebih. Betapa tidak. Kota yang kukenang itu ternyata masih ada, hidup dalam takdirnya, meski di sisi lain kutemui ia dalam keadaan merana, hanya ditandai pasar becek atau menara semati tugu. Namun aku putuskan untuk terus menyusurinya tanpa merasa sia-sia….

Begitulah, di Kudus aku pernah singgah, dan merasa cahaya masa lalu itu lampus di sana. Di kota bermenara paling tua itu, dadaku sesak bukan oleh aroma cengkih dan tembakau, tapi digamit para pengemis buta dan tak buta, tengadah di jalan ke menara, lalu barisan buruh pelinting lewat tak putus, berbaur dengan kepadatan jalan pantura…

Aku juga pernah singgah di Gresik, tak sampai ke Giri. Kupilih pelabuhan, dan malam-malam tanpa cahaya bulan, aku menyusurinya bersama seorang kawan. Sungguh terasa keagungan sebuah kota, tapi lalu sedih sendiri ketika kusaksikan kapal-kapal kayu tua sandar tanpa gairah; seakan tak ada pelayaran esok hari…

Di tanah kelahiranku sendiri, ada sedikit catatan tentang Bandar Sepuluh, kerajaan masa lalu yang namanya sayup-sayup sepi, tapi sampai kini tak kutemukan di mana bekas bandar yang sepuluh itu, sebab memang betapa murung kenyataan; daerah laut tanpa pelabuhan, daerah pantai tanpa kampung-kampung yang meyakinkan…

Turun dari dataran tinggi Agam ke arah pantai Pariaman, kita bersua daerah Tiku, seolah kelok jalan akan menubruk langsung ke kebun kelapa dan bekas benteng tua yang merimba. Di sana aku pernah lama termangu, membayangkan betapa agungnya Tiku dahulu, dan lihatlah, alangkah lengang ia sekarang….

Yang aku belum pernah adalah ke Singkel dan Barus di ujung barat; Tidore dan Malifut di timur tanah air. Singkel sekarang masuk wilayah Aceh, dan Barus masuk Sumatera Utara, keduanya hanya dapat kubaca lewat titik kecil dalam peta. Tiap kali kubaca, gemetar tanganku dan berdenyar saraf kepala, meski selalu, masa lalu keduanya terasa lebih megah dibanding bayangan masa kini, bahkan masa depannya…

Begitu pun Tidore dan Malifut. Kota yang bangkrut! Meski kubayangkan segala yang menjadi modal masa silam masih dimilikinya: pala, cengkeh, segala rempah, benteng, gudang, dan jalan air yang sebenarnya tak akan berakhir selagi hasrat yang tidur dibangkitkan dan pulau-pulau dijaga datu-datu; tapi masih saja kita saksikan api dan batu-batu berterbangan. Tak hanya satu.

Aku pernah sudah begitu dekat dengan Bandar Muar, kota hikayat warisan ayah. Dari kota seribu museum, Melaka, jarak ke Bandar Muar tak sampai sejam perjalanan, tapi aku tak ke sana. Ada kecemasan lain jika aku melabuhkan ingatan, sebagaimana dulu aku ke Pelaihari, kota kecil di pedalaman Kalimantan. Ketika kuputuskan untuk tak mampir, aku merasa bakal lama tak berjumpa ayah.

Dari Melaka, aku akhirnya pulang menyusuri Sungai Siak melewati kota-kota sepanjang selat dan tepian sungai seperti Bengkalis, Perawang, Teluk Masjid, Sungai Pakning, dan Siak Sri Indrapura. Kota terakhir ini gampang dikenali lantaran sebuah istana dari abad ke-18 menyerupai masjid (mengingatkanku pada cerita ibu), masih kokoh berdiri di tepi air, meski kotanya sendiri tumbuh menjauh dari air.

O, kota-kota hikayat, kota-kota yang bakal atau telah tamat?! Tidak! Jangan! Tiba-tiba aku tersintak dari lamunan, seperti cemas dan ketakutan. Bersamaan dengan itu lenyaplah pula wajah-wajah yang kurindu, beserta kota-kota kenangan yang dihikayatkan dulu. Apa sebenarnya yang kucemaskan? Apa yang kutakutkan? Aku tak tahu. Aku hanya merasakan ada cahaya yang tiba-tiba direnggutkan dari diriku, menyemburat pudar, dan lampus! Gelap, aku merasakan gelap menyungkup alun-alun kota Demak, gelap di kota-kota yang dulu bercahaya, gelap bertahta di mana-mana…

/Rumahlebah Jogjakarta, Mei-November 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *