SUATU KETIKA DI SRI KAHYANGAN

AS Sumbawi
http://media-jawatimur.blogspot.com/

Tak pernah kuduga sebelumnya aku akan mengunjungi desa Sri Kahyangan. Aku tak punya sanak keluarga, teman, guru, pacar yang tinggal di sana yang memberiku alasan untuk itu. Namun, kini aku sudah tinggal di desa itu selama dua minggu. Menurut rencana, aku masih akan tinggal di sana sekitar satu bulan setengah lagi. Dan ini adalah ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia pelaksanaan KKN suatu kampus di mana aku kuliah.

Beberapa hari sebelum berangkat, di depan papan pengumuman aku membayangkan bahwa dari namanya, desa yang akan menjadi lokasi KKN-ku berada di dataran tinggi dengan pemandangan indah. Sejuk dan permai. Dan ketika sampai di sana, aku kecewa. Ternyata kondisi yang sebenarnya berbeda dengan apa yang kubayangkan. Memang Sri Kahyangan berada di daerah perbukitan. Namun, kering dan panas. Ruas jalan naik turun dan masih berbatu, sehingga banyak di antara pengendara motor, sepeda, harus berzig-zag untuk mendapatkan medan yang tidak mendatangkan banyak guncangan. Sementara pengendara mobil harus sabar dengan tidak menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Apabila angin bertiup cukup kencang, maka tak pelak debu-debu jalanan betebaran ke sana ke mari. Dan sepanjang jalan, banyak kutemui pohon jati kering tumbuh di kanan kiri jalan. Juga orang-orang yang duduk-duduk di depan rumah dengan baju terbuka.

Di sana aku dan delapan orang anggota kelompok tinggal di rumah Pak Dukuh Gowangsan. Ia bernama Waskito dan tinggal bersama istri dan seorang anak laki-laki yang masih duduk di kelas lima SD. Bapak dan Ibu Waskito ramah dan aku percaya mereka berdua orang baik. Barangkali begitu juga anggapan delapan orang temanku.
*

Saat itu sekitar pukul satu siang. Aku duduk-duduk di depan rumah bersama seorang teman. Beberapa waktu yang lalu, setelah beramah-tamah, kami dipersilahkan memasuki kamar kami, meskipun hanya dua kamar. Juga dipersilahkan membersihkan badan, shalat, kemudian makan siang. Ternyata, keluarga ini telah mempersiapkan penyambutan kedatangan kami, gumamku setelah melihat beraneka macam makanan.

?Panas ya, Wik,? kata Heru.
?Iya,? kataku. Heru mencopot kaosnya. Kulihat tubuhnya mengkilat ditumbuhi butir-butir keringat.
Di jalanan angin bertiup cukup keras menerbangkan debu-debu. Terik matahari nyalang. Cukup lama tak ada seorang pun lewat di jalan. Dan sejauh edaran mataku, aku tak menemukan salah seorang warga pun yang duduk-duduk ngisis di depan rumah.
?Kemana yang lain?? kataku.
?Tidur.?

Dalam hati aku berkata bahwa pantas saja, karena cuaca yang panas seperti ini.

Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki seumuran kami berdiri di depan rumah di hadapan kami. Aku tersenyum ketika bertatapan mata dengannya. Namun aneh, ia segera membuang langkahnya ke arah sebuah bangunan kandang ayam yang ada di sebelah kiri rumah itu. Dia pincang. Tak lama kemudian, ia masuk ke kandang ayam tersebut. Tadi, kata Pak Waskito, di samping bertani, banyak di antara warga yang beternak ayam petelur.

?Mau kemana?? kataku ketika Heru berdiri.
?Aku ngantuk. Semalam kurang tidur,? katanya kemudian melangkah ke dalam.
Setelah cukup lama menunggu, dan laki-laki pincang itu tak juga kulihat lagi, aku pun pergi ke kamar.
*

Sore itu aku dan anggota kelompok yang laki-laki menggabung dengan para warga yang sedang main voli di sebelah kanan rumah Pak Waskito. Sebagian besar di antara mereka adalah para pemuda. Kami berkenalan dan bercakap-cakap dengan mereka yang menunggu giliran untuk bermain. Sesekali tertawa oleh kejadian lucu yang terjadi di lapangan. Juga olok-olok ringan.

Tak lama kemudian, terjadi pergantian pemain. Beberapa orang warga yang menunggu giliran memasuki lapangan, termasuk tiga orang temanku. Sementara aku, temanku, dan salah seorang pemuda desa bernama Sobri masih menunggu giliran pada permainan selanjutnya sembari bercakap-cakap. Enam orang warga desa yang baru saja digantikan itu duduk bergerombol agak jauh di samping kami. Meskipun begitu, kami dan mereka sudah melempar senyum untuk menunjukkan keramahan masing-masing.
*

Malam itu kami sekelompok beramah-tamah dengan muda-mudi Karang Taruna. Sebagian di antaranya adalah mereka yang tadi sore bermain voli. Dalam kesempatan itu, kami juga membakar tiga ekor ayam. Menurut kabar yang beredar, salah seorang di antara anggota Karang Taruna berulang tahun.

Sembari menunggu ayam matang, aku bersama beberapa orang duduk melingkar di lapangan voli sembari menyanyi diiringi suara gitar. Karena di antara kami hanya aku dan Sobri yang cukup pandai bermain gitar, tentu saja aku dan dia yang memainkan gitar. Sementara beberapa orang lainnya memasak nasi di dapur keluarga Pak Waskito yang terletak terbuka di belakang rumah.

Dari beberapa orang aku mendengar bahwa sebelum kami datang, mereka sudah sering masak-masak di rumah keluarga Pak Waskito. Dan aku tambah percaya bahwa Bapak dan Ibu Waskito adalah orang baik.

Dengan mencuri-curi kesempatan, salah seorang teman kelompokku mengatakan padaku bahwa ia cukup gembira karena kami disambut dengan baik di sini. Aku juga, kataku saat itu.

Tak lama kemudian, kami kembali berkumpul di dalam rumah untuk menyantap ayam bakar. Pada saat itu, tiba-tiba aku teringat dengan laki-laki pincang yang kulihat siang tadi. Ia tak ada bersama kami malam itu.
*

Sejak malam itu, kami cukup akrab dengan warga kampung, terutama golongan muda-mudi. Kami saling sapa jika bertemu. Namun di antara mereka, Sobri yang cukup sering bermain ke posko kami. Ya, maklumlah. Karena ia cukup pandai bergaul. Dan di antara teman kelompok, akulah yang paling akrab dengan Sobri. Kami berdua sering bernyanyi bersama diiringi permainan gitar secara bergantian. Di samping itu, ia sudah dua kali mengajakku pergi untuk melihat tontonan campur sari. Katanya, para pemuda desa yang lain pergi ke sana.
*

Malam itu, setelah memarkirkan sepeda motor, aku dan Sobri segera mendekati panggung yang sudah ramai dengan pengunjung. Tiba-tiba terdengar suara memanggilku. Aku mengalihkan pandangan mataku. Kulihat beberapa orang pemuda desa duduk melingkar di antara pepohonan jati. Aku dan Sobri segera berjalan ke arah mereka. Ah, rupanya mereka minum, kataku setelah melihat beberapa botol minuman keras. Salah seorang di antara mereka menawariku minum. Namun, aku mengatakan bahwa aku tidak doyan minum. Dan untunglah, mereka mengerti.
*

Setelah nonton campur sari, aku dan para pemuda kampung menjadi lebih akrab. Aku sering pergi ke pos kampling, bergabung bersama mereka. Kadang aku sendiri, kadang juga dengan Heru. Teman-temanku lainnya tak pernah mau kuajak ke sana. Entahlah, barangkali memang sebelumnya mereka jarang nongkrong.

Sementara laki-laki pincang itu tak pernah kulihat bergabung dengan para pemuda desa lainnya. Di tempat tontonan campur sari, di pos kampling, atau dalam permainan bola voli. Namun, aku kerap melihat dia di sekitar rumahnya. Dan setiap kali kami bertatapan mata, dia selalu menghindar. Entah kenapa?

Pagi itu, aku merasa aneh. Ia tersenyum menganggukkan kepala kepadaku ketika aku menyapanya dari depan rumah, seperti yang kulakukan kepada para pemuda desa yang hampir setiap pagi lewat di jalanan. Pergi ke sawah. Ia kemudian berjalan menuju bangunan kandang ayam. Tiba-tiba saja aku ingin menghampirinya.

?Wah, banyak sekali telurnya, Mas,? kataku. Ia hanya tersenyum. Aku segera mengulurkan tanganku.
?Awik,? kataku.
?Joko,? katanya.
Aku mengamati kandang ayam itu.
?Kandang sebesar ini, berapa ekor ayam, Mas??
?Lima ratus.? Aku mengangguk-angguk pelan.

Tiba-tiba aku mendengar suara memanggilku. Rupanya Sobri. Aku segera pamit kepadanya, karena sudah ada janji dengan Sobri. Ya, pagi ini, aku dan Sobri akan pergi ke kostku yang sudah seminggu kutinggalkan. Sementara jarak antara lokasi KKN dengan kostku kira-kira menghabiskan waktu 45 menit dengan sepeda motor.
*

Di kost, aku terkejut mendengar cerita tentang Joko. Kata Sobri, dulu Joko tidak pincang. Ia normal seperti kami. Suatu malam Joko tertangkap oleh warga desa sebelah karena mencuri. Salah seorang warga yang memergokinya dan membacok kakinya hingga memutuskan tulang yang ada di bawah mata kaki bagian belakang. Beberapa orang datang menghajarnya.

Untunglah, para warga desa lainnya segera berdatangan menghentikan perbuatan main hakim sendiri tersebut. Joko memang tidak meninggal. Namun, memerlukan perawatan yang cukup serius di rumah sakit. Ia kemudian dipenjara.

Baru dua minggu Joko dipenjara ketika keluarganya membawanya pulang dengan tebusan. Membayar jaminan. Sejak saat itu, para warga desa tahu bahwa Joko pincang. Salah seorang warga mengatakan bahwa tulang kaki Joko yang putus itu sengaja oleh dokter tidak disambung, tapi di tempelkan. Alasannya, biar Joko tidak bisa mencuri lagi. Karena ternyata Joko terlibat banyak kasus pencurian.
*

Pagi itu, aku kembali melihat Joko. Karena tak memperdulikan latar belakang hidupnya, aku menyapanya. Akan tetapi, ia tak merespon. Seperti dulu, ia membuang langkah menuju kandang ayam. Aku jadi berpikir sendiri. Dan pagi itu aku mengurungkan niatku untuk menghampirinya.
*

Waktu terus berjalan. Joko masih tak menghiraukan sapaanku. Tersenyum pun tidak. Sementara di antara para pemuda desa aku mendengar mereka membicarakan tentang kejelekan Sobri. Benarkah Sobri seperti itu? Tiba-tiba aku mencoba mengingat-ingat tentang Sobri. Setelah kuanalisa, memang Sobri tidak terlalu akrab dengan para pemuda desa. Dan selama ini, aku jarang melihat Sobri pergi bersama dengan salah seorang mereka.
*

Malam itu setelah mengadakan pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak aku pergi ke pos kampling seperti biasa. Aku ingin mengawasi Sobri. Dan benar. Setiap kali Sobri berbicara, para pemuda desa berpura-pura memperhatikannya. Mereka memang diam, tapi aku melihat perhatian mereka singgah di tempat lain. Dan malam itu, aku menyimpulkan bahwa banyak di antara pemuda desa yang tak menyukai Sobri.
*

Sore itu aku duduk bersama dengan Bu Waskito dan anak laki-lakinya di depan rumah. Baru kali ini aku ngobrol-ngobrol dengan Ibu Waskito tanpa ditemani teman-temanku. Ya, tadi saat aku pulang dari konfirmasi proposal dana yang telah kami ajukan ke Pemerintah Daerah, aku tak menemukan seorang pun teman kelompokku. Kata Bu Waskito, mereka pulang ke kost. Untuk mengurus registrasi di kampus. Aku kecewa kepada mereka. Kenapa mereka tidak bergiliran saja untuk pulang? Karena sudah terjadi, meskipun kecewa aku pun harus menerimanya.

Dalam kesempatan ini, entah tiba-tiba saja aku ingin bertanya tentang Joko kepada Bu Waskito.
?Bu. Dulu, Joko katanya tidak pincang ya, Bu??

Kemudian Bu Waskito menceritakan kepadaku bahwa kepincangan Joko disebabkan oleh kecelakaan di jalan raya. Saat itu ia pergi dengan Sobri untuk mengunjungi teman perempuannya. Sobri ingin berkenalan dengan perempuan itu. Karena tak sabar ingin cepat sampai, Sobri ngebut. Joko memintanya untuk pelan-pelan saja. Namun, Sobri tak menghiraukannya. Dan kecelakaan pun terjadi. Mereka tabrakan dengan truk. Memang Sobri hanya luka ringan saja, namun Joko mengalami patah tulang kakinya. Sejak itu ia pincang dan sempat mengalami tekanan berat. Ia menjadi pendiam, jarang keluar rumah, dan perasaannya menjadi sensitif. Padahal, dia terkenal pandai main voli dan bermain gitar.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Tiba-tiba aku teringat saat berbicara dengannya pagi itu. Sekilas tampak ada rona tak suka di wajahnya ketika Sobri memanggilku. (*).

2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *