Di Penghujung Revolusi

Geger Riyanto
suaramerdeka.com

BAR itu jauh dari keramaian. Jauh dari lalu lalang manusia yang bermandi peluh demi sebongkah roti, jauh dari jalan utama yang merupakan ban berjalan bagi mereka -para sekrup kecil ekonomi negara tersebut. Di ujung dalam, tampaklah seorang pria paro baya mengenakan kacamata hitam, masker, dan berjaket. Ia sedang berbicara dengan pria lain dengan topi bermoncong panjang yang nyaris menutupi matanya, dan kemeja lengan panjang bergaris-garis yang dilipat hingga siku.

Belum lima menit wiski dalam gelas kristal itu berdiri di atas meja mereka, tapi batu es yang semula seukuran bola ping-pong tinggal seukuran anggur hanya untuk menunjukkan betapa panas pembicaraan mereka.

“Apa yang salah denganmu”! Jumlah turis kita menurun pesat!? ujar pria berkacamata hitam itu.

“Kau mau tahu mengapa? Karena kau tak bisa mencegah tetangga-tetangga kita membuka atraksi yang sama!”

Beberapa lama lalu, sang Jenderal Revolusi dan pasukan gerilyanya yang bersemayam di hutan tiba-tiba kedatangan tamu yang tak diduga. Satu… dua… tiga orang turun dari sebuah bus militer yang sekonyong-konyong berhenti di perkemahan mereka. Orang-orang itu berwajah kaukasian, mengenakan celana jins dan kemeja kasual, dan menggendong tas ransel.

Sang Jenderal Revolusi agak lega karena langsung menduga mereka utusan PBB, atau pihak-pihak yang berdalih kedamaian internasional lain. Mungkin mau memberi bantuan obat-obatan atau persediaan logistik. Hanya, ia heran bagaimana orang-orang ini dapat mengetahui lokasi markasnya di jantung hutan. Ia melemparkan tanda agar anak buahnya tak menurunkan penjagaan dan senjata mereka.

Semakin banyak yang turun dari bus, sang Jenderal kian kehilangan akal untuk mengenali mereka. Betapa tidak? Sebagian di antara mereka masih anak-anak, sebagian sudah lanjut usia. Sebagian membawa minuman dan makanan dari restoran siap saji. Tapi sekumpulan orang itu tak kunjung menunjukkan tindak-tanduk yang mengancam.

“Ada apa ini? Kalian mau liburan di sini?!” sergah sang Jenderal.

Lalu, seseorang yang tampak sebagai pemimpin rombongan itu menunjukkan diri dan menghampiri sang Jenderal.

“Perkenalkan, nama saya Michael.”

Sang Jenderal tak menggubris sodoran tangannya. Ia kian bingung, orang-orang asing di sekelilingnya menatapnya ganjil dan menunjuk-nunjuk kepadanya sambil membuka selembar kertas yang telah dilipat empat dari kiri ke kanan. Sang Jenderal geram dan merebut kertas itu dari seorang pria gundul yang sampai melotot memperhatikannya.

Di kertas itu terpampang gambar dirinya yang bertuliskan “Jenderal Besar Pasukan Revolusi, Immanuel Sanchez”. Sebelum ia semakin kebingungan karenanya, di sebelah atas kertas itu terpampang tulisan “Panduan Wisata Revolusi Latinoamerikano”. Dan sang Jenderal naik pitam tak terkira. Turis-turis yang mengelilinginya segera mengambil kamera untuk memotret harimau yang mengaum-aum itu.

Saat sejenak tersadar, sang Jenderal segera merogoh pistol di kantungnya hendak melampiaskan amarahnya melalui desing-desing peluru yang mengoyak daging dan tulang. Namun seorang anak buahnya menahan tangannya sebelum ia mengangkat senjata.

“Dinginkanlah kepalamu, Jenderal!”

“Kau ini bodoh atau apa?! Kau lihat bukan, bagaimana mereka memperlakukan kita bagai binatang dalam kotak pajangan?!”

“Lihat Jenderal, Michael memberiku ini.”

Ajudannya itu memperlihatkan berhelai-helai uang seratus Euro di genggamannya. Sang Jenderal terkesiap sejenak. Hanya sejenak, kemudian ia merogoh senjatanya kembali. Ajudannya kembali menahan tangannya.

“Coba Jenderal pikirkan. Corrales pasti yang merancang ini. Setiap malam kita berpindah, tapi keberadaan kita dapat ditemukan seperti ini. Bukankah itu berarti dia sudah mengetahui pola perpindahan dan pengambilan logistik kita? Bukankah mereka sebenarnya bisa menggempur kita setiap saat? Dan bayangkan, Jenderal sudah menjanjikan kepada kami semua kemenangan, kesejahteraan, dan kedudukan sejak sepuluh tahun lalu. Tidakkah Jenderal melihat, kami semua sudah lelah dengan janji-janji Anda?”

Muntahan nekat anak buahnya itu mengundang sang Jenderal menodongkan senjata ke kepalanya. Turis-turis di sekelilingnya pun riuh, seperti sekumpulan anak kecil yang menemukan mainan baru.

“Silakan saja, Jenderal tembak saya. Tapi saya katakan, kami semua sudah lelah dengan kehidupan seperti ini. Setelah Jenderal menembak saya, yang lain dapat saja meledak dan menyerahkan kepala Anda ke Corrales.”

Sepi merebak tanpa kecuali. Meninggalkan pistol sang Jenderal Revolusi, Immanuel Sanchez, menuding kepala ajudannya. Sang ajudan sudah menarik urat nyalinya hingga ambang batas. Sedikit sisanya ia gunakan untuk mematri tubuhnya agar tak bergidik, dan membalas tatapan tajam sang Jenderal.

“Sudahlah! Terserah kalian…”

Itu adalah pertama kalinya kata “terserah” menyeruak dari mulut sang Jenderal. Sesudah itu, ia melangkah kembali ke kediamannya. Langkah-langkahnya terlihat payah, tanpa daya.

Semenjak itu, nyaris setiap harinya kamp para gerilyawan yang berpindah-pindah itu dibanjiri oleh rombongan turis asal Eropa Barat, Amerika Utara, maupun Asia. Bagi para turis, menemukan kamp yang setiap hari berpindah di sekitar jantung hutan Mestizo adalah sebuah hiburan yang menantang -lebih dari mendaki gunung atau berselancar. Dengan truk militer yang disediakan, mereka mesti menaklukkan sang hutan.

Dari latihan fisik sehari-hari hingga kegiatan makan para gerilyawan menjadi atraksi yang menawan. Para gerilyawan pun menjual makanan dan minuman siap saji, yang dikotaki seolah ransum prajurit, dan berbagai oleh-oleh, seperti selongsong peluru “katanya dari peluru yang membunuh komandan musuh” atau helm gerilyawan, yang katanya gugur melindungi rekan-rekannya dari ledakan granat dengan tubuhnya sendiri.

Sang Jenderal yang tak kunjung mau keluar dan menampakkan wajahnya menjadi mitos tersendiri. Foto dan sketsa dirinya terjual dengan harga selangit. Para turis bersedia membayar berapa pun demi mendengarkan cerita kegagahannya memimpin pertempuran revolusi, meski gagal, hingga kabar mengenai pernikahannya yang berakhir tragis karena keyakinan Sang Jenderal pada revolusi.

Para gerilyawan hari ini tak lagi hidup di hutan belantara yang kejam. Mereka kembali ke hutan hanya saat pagi menjelang, ketika turis-turis mulai berdatangan. Malam hari mereka habiskan di belantara ibu kota, di bar-bar mewah yang dipenuhi musik latin dan wanita-wanita hispanik, dan beberapa wanita keturunan Eropa yang lebih mahal harga pelayanannya. Dan beberapa yang lebih sukses memiliki villa di daerah eksotis. Corrales dan pemerintahannya hanya tersenyum karena devisa yang dikeruknya.
***

DI bar itu, Jenderal Corrales yang mengenakan masker dan kacamata hitam masih terus berdebat dengan Sanchez. Wisata revolusi tak mereka monopoli lagi. Keduanya tak kunjung berhenti mencari kambing hitam.

Sempat sebuah gagasan menyeruak, bagaimana bila wisata revolusi ini dipatenkan? Tapi mereka segera menyadari, negara-negara tetangganya tak akan mengindahkan hak paten itu. Mereka juga hafal, tanpa kepentingan negara-negara maju konsep hak paten itu tak akan mampu menjangkau siapa pun. Fajar segera menjelang. Kedua sosok itu pun sudah terlihat lelah.

“Aku tahu,” ujar Corrales, “kita buat atraksi revolusi!”
“Maksudmu?”

“Kita buat sebuah pertempuran, seolah kau hendak menggulingkan pemerintahanku. Kau sebarkan kabar ke para turis bahwa kau berencana menyerang ibu kota. Lalu mereka yang mau menonton langsung, bisa meneropong aman dari bukit. Dan pertempuran ini juga kita dokumentasikan, lantas kita angkat sebagai sebuah film layar lebar.”

“Tunggu dulu! Lalu bagaimana dengan dampaknya? Kerugiannya, serta korban yang akan berjatuhan?”

“Kau ini,” tukasnya sambil menepuk-nepuk pipi Sanchez, “bukankah Hollywood selalu punya trik sulap untuk hal-hal semacam ini?”

Rencana besar itu pun berlangsung tiga bulan kemudian. Benar, jumlah turis kembali meroket setelah kabar-kabar diembuskan dari perkemahan Pasukan Revolusi. Tiket penerbangan ke negara itu habis sebulan sebelum pertunjukan besar itu. Para pembuat film dokumenter yang berbondong-bondong datang tidak diizinkan membawa alat perekam.

Pada hari-H, pagi-pagi buta sekitar lima ratus pasukan gerilya menyelinap melalui pinggiran ibu kota. Mereka mengendap, menghindari penjagaan, dan menyelinap dari gedung ke gedung. Dari bukit-bukit kejauhan, jutaan turis memperhatikan seksama. Bagi yang tidak membawa teropong, di lokasi dijual teropong dengan harga yang selangit. Dan bagi yang lapar atau haus, ada yang menjual makanan dan minuman dengan harga yang juga selangit.

Setelah membungkam sejumlah tentara pemerintah dalam sunyi, prajurit gerilya tiba di pos-pos strategis sekitar Istana Kepresidenan. Sebuah sinyal untuk menyerang dilemparkan Jenderal Sanchez. Hari itu para turis untuk kali pertama melihat wajah sang Jenderal Revolusi. Banyak wanita jatuh lemas melihat betapa tampan dan berkharismanya Jenderal berusia 40-an itu. Tampan layaknya Ricky Martin, hanya dagu dan hidungnya lebih tajam serta diliputi brewok. Banyak turis berdecak kagum, karena sosoknya membenarkan cerita-cerita kehebatan yang sebelumnya hanya kabar.

Desingan-desingan peluru memenuhi langit. Korban pun segera berjatuhan dari kedua belah pihak, tergeletak bergelimang cat merah. Tak satu adegan pun terlewatkan oleh kamera-kamera tersembunyi dalam gedung-gedung yang terbelalak menatap pertempuran di hadapannya.

Sekelompok kecil pasukan yang dipimpin Jenderal Sanchez berhasil menerabas masuk ke jantung kekuasaan. Skenarionya, mereka akan berhadapan langsung dengan pasukan elite Jenderal Corrales di atap Istana Kepresidenan ?agar pertarungan terlihat jelas dari bukit. Dan ketika mereka nyaris mendapatkan kepala Jenderal Corrales, pasukan gerilya akan dipukul mundur oleh bala bantuan tentara pemerintah yang datang sekelebat.

Tapi pertempuran yang seharusnya seimbang berkembang ke arah yang tak terduga. Pasukan Sanchez mendesak pasukan elite istana, dan mereka tak bisa berkutik. Sehabis mereka tertembak peluru cat merah, mereka tak boleh berdiri atau akan menimbulkan keganjilan di antara jutaan audiens. Setelah banyak pasukan elite istana rubuh, Sanchez berhasil mencapai Jenderal Corrales. Lantas, menodongkan senapannya ke kepala Corrales. Bukit-bukit riuh bergemuruh. Jutaan turis menepukkan tangannya, menunjukan rasa salut dan simpati terhadap perjuangan sang Jenderal Revolusi hingga tiba di titik ini.

“Kau melakukan improvisasi ya? Bagus! Bagus!” bisik Corrales senang. “Sekarang kita tunggu sebentar sampai pasukan bala bantuanku datang.”

Tanpa diketahui Corrales, Sanchez menyelipkan peluru asli di senapannya. Dalam hening itu, teringat di benak sang Jenderal Revolusi betapa menyebalkannya kemarin malam saat ia didandani agar tampak lebih gagah dan kharismatik. Mengapa ia tak pernah menampakkan diri terang-terangan, bukan karena ia tak tergiur uang, atau reputasi dan ketenaran, atau minuman keras, atau wanita. Atau gaya hidup kebanyakan anak buahnya sebagai orang kaya baru. Tapi setiap kali menyapa kerumunan orang, ia segera merasa berada dalam kotak etalase, bagaikan barang, atau binatang, atau barangnya binatang. Darah malunya tersirap menembus ubun-ubun setiap kali itu terbayang.

Lalu ia membayangkan, bagaimana bila ia memimpin negeri ini? Baru sesaat ia melayang karena aroma nikmat kekuasaan, kenikmatan itu terpotong oleh bayangan kelam negerinya sendiri. Dikelilingi perbukitan yang sukar dilintasi, yang tanahnya menolak benih-benih makanan pokok warganya sendiri, serta tak mengandung sebongkah pun mineral berharga.

Bagaimana bila Jenderal Revolusi tak ada lagi, dan tinggal Jenderal Penguasa? Bagaimana bila negeri ini terlempar dari lingkaran industri pariwisata dunia?

Segenap renungan Sanchez buyar oleh derap tentara bala bantuan pemerintah yang mendekat. Perhatian Sanchez terbelah. Sekelebat, Corrales merogoh pistol di kantungnya. Setengah detik kemudian, terdengar dua suara tembakan. Sanchez melepaskan tembakan, dan pelurunya bersarang di pundak kanan Corrales. Tapi Sanchez sangat terhenyak, bahwa peluru lawan mainnya itu juga mengoyak setitik daging di lengannya.

Semua kembali ke skenario awal. Sanchez dan pasukannya melarikan diri dari tempat itu. Jutaan penyaksi sungguh menyayangkan kegagalan sang Jenderal Revolusi, padahal semua tinggal selangkah lagi. Tapi Sanchez tak merasa kecewa ataupun sakit, hanya ketegangan yang berkecamuk bersama kebingungan.

Sanchez! Sanchez! Sanchez! Barisan bukit yang mengelilingi negeri itu menyobek udara. Sorak-sorai yang menggetarkan langit dan bumi. Sanchez, yang berlari membawa lengannya yang terluka melintasi gemuruh namanya sendiri, menyadari tembakan Corrales yang dilepas hanya dalam jarak puluhan senti itu meleset bukan karena kesilapannya. Begitu juga dengan Sanchez sendiri, yang dengan sengaja menyarangkan pelurunya di bagian yang tidak fatal.

Corrales pun sempat berencana mengakhiri revolusi pada hari itu. Mengkhianati revolusi. Namun, keduanya menyadari bahwa revolusi belum sepatutnya berakhir. Dan akhirnya seorang Sanchez tersenyum. Ia telah yakin bahwa dirinya seutuhnya seorang Jenderal Revolusi. Walau pada keesokan hari ia harus tampil di saluran FOX mengenakan kacamata hitam, dan jas, serta sepatu necis buatan Italia, revolusi belum berakhir.

Depok, Juli 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *