Lirik

Arie MP Tamba
http://www.jurnalnasional.com/

Kritikus sastra Indonesia berkebangsaan Belanda, A Teeuw, pernah merasa ?kehilangan? Rendra. Itulah yang dialami A Teeuw sebagai pecinta puisi-puisi Rendra ?? periode sebelum puisi pamflet (1970-an). Puisi-puisi pamflet, yang banyak mempersoalkan kehidupan masyarakat keseharian, termasuk masalah pendidikan, ekonomi, politik, bahkan kebijakan pembangungan ?? yang disampaikan juga dalam bahasa sehari-hari ?? membuat A Teeuw tidak mendapatkan kenyamanannya sebagai pembaca.

Dengan puisi pamflet, Rendra memang muncul sebagai penyair berkekuatan sosial-politik yang menggentarkan penguasa. Rendra juga terkenal tidak lagi hanya sebagai penyair, melainkan juga pemerhati dan pejuang masalah sosial. Dengan puisi-puisinya itu — Rendra pun tidak lagi hanya jadi milik para seniman dan pemerhati sastra. Tapi, sudah menjadi bagian penting dari pergerakan mahasiswa yang sering mengadakan demonstrasi pada masa itu.

Padahal A Teeuw, seperti dituliskannya dalam Tergantung Pada Kata (1980), lebih mencintai puisi-puisi lirik yang digeluti Rendra sejak awal kepenyairannya. Puisi-puisi yang bergerak dengan ?kerahasiaan? individual, muncul berupa larik-larik puisi yang bahkan mengasingkannya dalam sebuah orisinalitas pengalaman pembacaan.

Barangkali, itulah tipikal dan dampak dari Nyanyi Sunyi Kedua (1969). Sebuah kecenderungan lirikisme penyair Indonesia, seperti disinyalir Goenawan Mohamad, ketika mengulas karya-karya Sapardi Djoko Damono yang terkumpul dalam Dukamu Abadi (1969). Sebuah sikap yang mengedepankan personalitas ?? sebagai awal dan akhir ?? dalam penjelajahan pemikiran dan perasaan melalui aneka metafora.

Langkah ini pernah diperlihatkan secara maksimal, oleh Amir Hamzah, melalui Nyanyi Sunyi. Ia muncul berbeda dari puisi-puisi sezamannya, seperti karya STA atau Tatengkeng, yang memuja-muja tanah air, menggelorakan perjuangan, melambungkan rasa kebangsaan dan impian-impian sosial lainnya, yang terkadang bertopangkan ideologi politik dan ajaran agama.

Sedangkan bagi seorang penyair lirik ?? persoalan kepenyairan adalah bagaimana mengeksplorasi personalitas. Bukan saja karena personalitas baru ditemukan sebagai kesadaran sekaligus kemerdekaan ?? melainkan juga kebuntuan, keterusiran, dan pengasingan ?? yang harus dijalani sendirian sebagai nasib eksistensial.

Tak mengherankan, kesendirian lirikal bisa pula dipahami sebagai sikap melankoli, terhanyut perasaan, atau mengasihani diri sendiri. Sebab, seorang penyair adalah manusia biasa yang tak selamanya tegar ketika bertahan dalam kesendirian. Terkadang, ia pun lunglai oleh putus asa, menyerah, atau dan mengiba-iba, dan merindukan orang lain dalam kesunyian berbahasa itu.

Sementara itu, kategori puisi epik dan puisi lirik, menurut A Teeuw tidak hanya memenuhi kebutuhan manusia untuk mengklasifikasikan secara sistematis gejala-gejala yang dihadapinya, dalam hal ini gejala sastra. Setiap jenis sastra pada dasarnya mewakili sekelompok konvensi, atau sekelompok harapan pada pihak pembaca. Para pembaca yang mendekati puisi epik, pastilah memiliki (dan mendapatkan) harapan yang berbeda dengan ketika mendekati puisi lirik.

Pembaca epik akan mengenali seorang pahlawan dan petualangannya, mengikuti liku-liku perjuangannya, pahit getir penderitaannya, dan mengetahui bagaimana si pahlawan akhirnya merayakan kemenangan. Dan pembaca ingin mengagumi pahlawan itu, ingin mengidentifikasikan diri dengannya; ikut serta dalam suka-dukanya, dan menikmati kemenangan akhirnya atau tertegun sedih dengan kegagalannya.

Namun, harapan pembaca terhadap pahlawan lirik, akan berbeda sama sekali. Dalam kedua jenis puisi itu, pembaca memang ingin mengidentifikasikan diri dengan pahlawannya (baca: aku lirik). Tapi bila dalam puisi epik, yang dipentingkan adalah peristiwa, kejadian, petualangan. Dalam puisi lirik, yang dikedepankan bukanlah peristiwa atau kejadian, melainkan penghayatan batin. Kalaupun ada peristiwa atau kejadian dalam puisi lirik, itu hanya sarana untuk ikut dalam pengalaman batin si aku lirik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *