Monolog Putu Wijaya, Menggugah Rasa Kebangkitan

Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Satu Nusa, Satu bangsa, Satu bahasa kita. Lagu yang dilantunkan sejumlah personil Teater Mandiri kebangsaan ini menutup monolog Putu Wijaya (64) non stop berdurasi sekitar 80 menit di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), bertepatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2008.

Monolog bertajuk “Kebangkitan” dipentaskan Teater Mandiri memperingati 80 tahun Sumpah Pemuda juga 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Monolog karya sutradara Putu Wijaya ini berkolaborasi dengan beberapa musisi di bawah arahan Marusya Naingolan yang juga Direktur GKJ sebagai pianis, Vonti – kibod dan perkusi Dhani.

“Saya kepingin main karena angka 80 dan 100 susah dicari. Saya minta waktu kepada Marusya untuk tampil. Itu penting sekali. Kita merasa sangat penting di mana 80 tahun sumpah-pemuda, 100 tahun Kebangkitan Nasional, angka yang bagus sekali. Saya tidak perduli kalau tidak ada yang menonton. Yang penting saya main,” ujar aktor kondang itu dengan napas terengah-engah usai pentas.

Bagi Putu penampilan ini suatu moment yang tepat. Karena, orang muak dengan seremoni. Meskipun seremoni itu bersifat ulangan, tetapi perlu. Walau tidak mengalami revolusi, tetapi merasakan betapa pentingnya peringatan ini meskipun hanya pengulangan. Dan seremoni itu penting sekali untuk menggugah rasa kebangsaan, meskipun berbeda.

Menurut Putu peringatan Sumpah Pemuda ini perlu dilakukan. Karena apa, sekarang ini semangat kebangkitan kini sudah hilang, anak muda juga banyak yang tidak tahu. Sehingga semangat kebangsaan bangsa Indonesia makin lama makin menipis. Dengan pentas ini Putu mengajak orang memaknai kemerdekaan dengan lebih arif, bukan kepentingan sendiri atau kepentingan partai dan sebagainya.

Meskipun sudah menapak usia 64 tahun, pendiri/pemimpin Teater Mandiri itu tampil tetap prima dan ber-monolog dengan suara lantang. Naskah yang dibawakan ditulis tahun 1999 yang berjudul “Merdeka”. Ide naskah ini muncul ketika Putu dalam perjalanan Jakarta – Sukabumi di mana ia harus berbicara di depan para guru dan siswa di Sukabumi mengisi acara SBSB (Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya).

Selama ini sejak 5 tahun lalu naskah ini hanya dibawakan sendiri keliling Nusantara sampai ke Timor , namun baru pertama kali dipentaskan dalam bentuk kolaborasi. “Biasanya banyak sekali kelucuan, tetapi dibatasi karena masuk di tengah penonton, sehingga saya tidak mau kehilangan maknanya,” papar Putu.

Naskah yang dibawakan Putu yang juga sebagai sutradara untuk menggugah rasa kebangsaan baik dalam ideoloi, etnis, agama, tetapi Bhineka Tunggal Ika. Dan itu bukan hanya slogan. Negara kita ini luar biasa karena begitu banyak perbedaan seperti ada 700 lebih bahasa di Nusantara tetapi bisa berbahasa Indonesia . Ini perlu disadari lagi kepada anak-anak muda itu bahwa bahasa Indoensia itu indah.

Merdeka
Diakui Putu Monolog yang dibawakan di luar kepala itu sebenarnya berjudul “Merdeka”. Ini bukan kritik tetapi terjadi pada diri kita sendiri. Karena inilah keadaan sekarang bagaimana kita harus mencoba memperbaikinya. Satu-satunya cara adalah bertekad untuk memikul kemerdekaan itu, namun kemerdekaan itu bukan berarti kita berbuat seenaknya.

Dengan pesan yang disampaikan Putu dalam naskah ini jangan mengartikan kemerdekaan itu membuat orang menjadi anarkis itu seperti yang dialami pada jaman reformasi di mana seakan-akan kita melepas diri dari kekuasaan yang selama ini dari penguasa.

Sesuai judul naskah Merdeka dimaksud adalah sosok seorang anak yang bernama Merdeka tetapi ia salah mengartikan kemerdekaan yang akhirnya membuat dirinya frustrasi. Bahkan ingin menganti namanya sesuai anjuran sang dukun.

Kisah sosok pemuda Merdeka dalam monolog Putu dibantu beberapa personil Teater Mandiri yang hanya sebagai figuran. Tata panggung dan tata cahaya sangat mendukung penampilan monolog Putu dengan gayanya yang khas menghentakan kaki mewarnai adegan yang ditonton hanya puluhan orang.

Ada bola raksasa yang berkali-kali ditarik-tarik dan tali tambang untuk mengekspersikan pemuda Merdeka yang putus asa ingin menggantung diri tetapi gagal karena banyak pertimbangan.

Akhir kisah ini Merdeka baru sadar setelah ayahnya meninggal bahwa nama yang disandangnya itu bukan berarti harus berbuat semaunya agar bebas merdeka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *