Nabi dan Puing-puing Romawi

Hawe Setiawan
http://republika.co.id/

”Muhammad, dengan pedang di tangan yang satu dan Quran di tangan yang lain, menegakkan tahtanya di atas puing-puing Kristenitas dan Romawi,” tulis sejarawan Inggris Edward Gibbon (1737-1794).

Kalimat dramatis itu adalah bagian dari alinea pembuka salah satu bab dalam buku klasik The Decline and Fall of the Roman Empire Jilid III (Modern Library, tanpa tahun). Judul buku ini –yang asalnya The History of the Decline and Fall of the Roman Empire– mungkin mengingatkan Anda pada salah satu ayat di awal Surah Ar-Rum dalam Quran: ”Kalah sudah bangsa Romawi”.

Bab tersebut memang bercerita tentang terbitnya kekuatan baru di kala kekuatan lama terbenam. Di ruangan sepanjang 75 halaman, dengan catatan kaki sebanyak 202 (atau 187 dalam versi eletroniknya di situs www.ccel.org), Gibbon menuturkan riwayat dan pergerakan Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari perubahan sejarah dunia.

Mula-mla ia menggambarkan Jazirah Arab dan watak penghuninya pada abad ke-6 M. Kemudian ia memaparkan kelahiran dan kepribadian Muhammad serta ajaran yang disampaikannya; dakwahnya di Makkah; hijrahnya ke Madinah; peperangannya; masuknya masyarakat Arab ke dalam Islam; wafatnya Nabi dan keberadaan para penerusnya dan kepemimpinan Ali serta keturunannya.

Dengan rincian seperti itu, bab tersebut jelas dapat disebut biografi Nabi. Bedanya dari biografi Nabi karya penulis lain kiranya terletak pada latar makronya, yakni kemunduran dan keruntuhan bangsa Romawi. Dalam pandangan Gibbon, ”kegeniusan nabi Arab itu, watak bangsanya, dan semangat agamanya turut menyebabkan mundur dan hancurnya belahan Timur kekaisaran Romawi”.

Belakangan, studi atas riwayat dan pergerakan Nabi dengan latar makro seperti itu diupayakan pula oleh sarjana Barat lain, misalnya Maxime Rodinson. Dengan perspektif Marxis, Rodinson melihat kebangkitan ideologi Islam yang digerakkan oleh Muhammad sebagai tumbuhnya kekuatan baru di antara dua kekuatan lama yang bersaing: Romawi di Barat dan Persia di Timur.

Dengan kata lain, seperti juga karya Rodinson kemudian, karya Gibbon ini turut memperlihatkan, bagaimana bisa di sebuah jazirah tandus yang tanahnya diliputi pasir dan batu dalam sengatan matahari tropis, timbul sekelumit iman yang daya gugahnya kemudian mengatasi kejayaan imperium-imperium besar sebelumnya? Inilah kiranya yang oleh Gibbon disebut sebagai ”salah satu revolusi yang paling melekat dalam ingatan”.

Peperangan antara para pengikut Nabi dan balatentara Romawi, yang pertama kali pecah pada tahun 629/630 M, tentu, tidak dilupakan. Dicatat, antara lain, bahwa persahabatan antara Nabi Muhammad SAW dan Kaisar Heraclius berlangsung singkat. Manakala kekuatan Islam tampak mulai memasuki kawasan Palestina, yang mencapai belahan timur Yordania, persahabatan itu seakan terputus, dan peperangan pun meletus.

Seperti yang dikemukakan dalam catatan kaki pertama pada bab tersebut, Gibbon tidak menguasai teks Arab. Ia mengandalkan sumber berbahasa Inggris, Prancis, dan Latin. Namun, uraiannya yang logis, padat, terperinci, dan berimbang pastilah tak kalah oleh hasil kerja para peneliti sejarah Islam yang menguasai teks Arab.

Untuk melihat ketekunan Gibbon dan sikapnya terhadap Nabi Muhammad, pembaca dapat menyimak catatan kaki ke-202 (atau ke-187). Di situ ia menyebutkan bahwa dari dua jilid sumber Barat, yang mencakup 850 halaman folio tentang kehidupan Muhammad dan para khalifah, ia ”tidak menemukan… informasi tambahan” dan tidak melihat adanya upaya ”memperlakukan Muhammad dengan cara yang baik, atau bahkan dengan sikap adil”.

Lalu ada satu hal yang diakui menyulitkan Gibbon tatkala ia –mungkin dengan membayangkan harapan pembacanya– merasa perlu menyimpulkan kategori mana yang tepat buat melihat Muhammad: ”enthusiast” ataukah ”impostor”? Yang pasti, dalam pandangannya, Muhammad adalah ”manusia luar biasa (extraordinary man)”.

”Sekalipun misalnya saya kenal akrab dengan putra Abdullah, tugas ini tetap sulit, dan hasilnya tidak pasti: Terpisah dua belas abad, secara kelam saya merenungi bayang-bayangnya dengan menembus gumpalan asap dupa agama; dan sekiranya saya dapat menggambarkan zaman itu secara tepat, kemiripan yang terlintas tidak dapat sepenuhnya diterapkan pada Sang Penyendiri dari Gunung Hira, pendakwah dari Makkah, dan penakluk negeri Arab,” papar Gibbon.

Gibbon kiranya bukan semata penulis Zaman Pencerahan yang termangu-mangu merenungi reruntuhan Capitol di antara sisa-sisa kejayaan Romawi. Ia mungkin dapat disebut sebagai peziarah terpelajar yang mampu melihat gerak sejarah dengan beragam kompleksitasnya. Deskripsinya tentang kebangkitan Islam, khususnya tentang riwayat Nabi Muhammad SAW, kiranya masih terasa elegan.(-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *