Najib Tun Razak: Memelihara Bahasa yang Agung

Abdul Malik

Berita

Menutup tahun 2008, pada 22?24 Desember 2008 Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) menyelenggarakan Konvensyen ke-9 di Hotel Holliday Inn, Melaka, Malaysia. Pada acara Konvensyen yang megah itu pulalah kembali bergema kalimat bernas Charles de Secondat Baron de Montesquieu (1689?1755), ?Bahasa ialah ciri agung suatu identitas kebudayaan. Selama suatu bangsa … tak kehilangan bahasanya, bangsa itu tetap memiliki harapan.? Dengan ucapannya itu, Montesquieu hendak menegaskan bahwa suatu bangsa boleh jadi pernah terkena musibah: terjajah, krisis ekonomi, krisis politik dan kepemimpinan, dihantam bencana alam yang besar sehingga porak-poranda, dan sebagainya; tetapi kalau mereka tak kehilangan bahasanya?dalam arti tak beralih kepada bahasa bangsa lain?bangsa tersebut akan dapat bangkit kembali membangun dan menuju kejayaan. Itulah peran penting bahasa-sendiri bagi suatu bangsa.

Kali ini pastilah kalimat itu tak keluar langsung dari mulut Montesquieu, tetapi dari pidato tanpa teks tertulis Dato? Sri Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Razak, Wakil Perdana Menteri Malaysia, yang jika tak ada aral melintang akan menjadi Perdana Menteri (PM) Malaysia kurang dari tiga bulan ke depan, ketika meresmikan Konvensyen, Rabu, 24 Desember 2008. Pidato putra mantan PM Malaysia, Tun Haji Abdul Razak, itu sangat memukau dan menginspirasi semua peserta Konvensyen. Bagaimanakah persisnya Dato? Sri Najib mengungkapkan hal itu dan apakah yang melatarbelakanginya?

Najib sangat terkesan setelah mengikuti perkembangan DMDI dan mendengarkan laporan Presiden DMDI, yang juga Ketua Menteri Melaka (sama dengan gubernur kalau di Indonesia) Dato? Muhammad Ali bin Haji Muhammad Rustam. DMDI yang sembilan tahun lalu hanyalah organisasi sederhana kini anggotanya sudah meliputi seluruh dunia. Pelbagai bantuan kemanusiaan sudah, sedang, dan terus diberikan kepada anggotanya meliputi bantuan pendidikan, kesehatan, perekonomian, dan lain-lain. Anak-anak korban tsunami Aceh, misalnya, diberikan beasiswa dari pendidikan dasar sampai mereka menamatkan pendidikan di perguruan tinggi.

Kini DMDI sudah memiliki aset berupa tanah yang tersebar di banyak negara di dunia. Dalam Konvensyen itu juga diresmikan lembaga keuangan ?DMDI Finance House? dengan modal awal 210 juta ringgit Malaysia, yang Gubernur Kepulauan Riau Ismeth Abdullah menjadi salah seorang pengurus utamanya (wakil ketua?). Hal itu juga membanggakan kita karena pemimpin Kepulauan Riau diberi kepercayaan memimpin organisasi berkelas dunia. Rencana luar biasa lainnya yang juga akan direalisasikan oleh DMDI ialah membangun jembatan terpanjang di dunia yakni lebih kurang 53 km menghubungkan Kota Melaka, Malaysia dengan Kota Dumai, Propinsi Riau, Indonesia, yang diperkirakan menelan biaya 11 miliar dolar Amerika. Tujuan utama pembangunan jembatan itu ialah untuk lebih mempererat hubungan silaturrahim sesama Melayu dan bangsa-bangsa lainnya, di samping untuk melakukan akselerasi pembangunan ekonomi dan perdagangan di kawasan Melayu.

Apakah dampaknya bagi bangsa Melayu jika semua rencana itu dapat direalisasikan? Yang pasti, orang Melayu akan diperhitungkan dalam pergaulan masyarakat dunia. Dengan begitu, dapatlah kita menegakkan kepala dan mengacungkan jempol untuk mengatakan, ?Melayu boleh!? Semua serba mungkin, mengapa tidak. Asal kita betul-betul melaksanakannya secara ikhlas, bertanggung jawab, bekerja keras, dan mengutamakan kebersamaan seperti yang diajarkan oleh nilai-nilai terala (luhur) budaya Melayu. Tak heranlah jika ada peserta Konvensyen menyarankan DMDI agar menggunakan mata uang sendiri seperti bangsa-bangsa Eropa untuk mempercepat menuju puncak kejayaan Melayu kembali. Saya memang menaruh harapan akan hal ini dan sangat optimistis karena DMDI kebetulan dipimpin oleh Malaysia. Bukankah orang Melayu Malaysia sudah membuktikan kepada dunia bahwa dengan kerja keras mereka akan menjadi bangsa yang maju?

Dalam konteks itulah Dato? Sri Najib Tun Razak mengatakan bahwa apa pun kejayaan yang telah diraih, orang Melayu tak boleh melupakan bahasa Melayu yang agung. Mengapa? Bahasa Melayu itulah yang mampu mengantarkan orang Melayu ke tangga kejayaan sehingga setara dengan bangsa-bangsa lain. Pasalnya, bahasa Melayu adalah kehidupan orang Melayu itu sendiri, nurani dan pikiran orang Melayu. Kejayaan Melayu sejak Sriwijaya menguasai seluruh Asia Tenggara memang ditandai dengan dipergunakannya bahasa Melayu untuk semua bidang kehidupan: pergaulan sehari-hari, perdagangan, ekonomi, politik, agama, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

Temuan mutakhir neuropsikolinguistik (ilmu yang mengaitkan kemampuan berbahasa manusia dengan fungsi otak) membuktikan bahwa suatu bangsa hanya akan mencapai kemampuan maksimalnya dalam pelbagai bidang jika bangsa itu menggunakan bahasanya sendiri. Jika suatu bangsa menggunakan bahasa asing sebagai alat untuk mencapai kemajuan, mereka tak akan mampu mengatasi bangsa yang bahasanya dipinjam itu. Artinya, jika bangsa Melayu menggunakan bahasa Inggris untuk keperluan hidupnya, misalnya, bangsa Melayu tak akan pernah mampu meraih prestasi menyamai, apalagi mengatasi, bangsa Inggris. Pasalnya, bahasa manusia bertumbuh dan berkembang bersama dan di dalam kebudayaan. Walaupun begitu, orang Melayu boleh belajar dan menguasai seberapa banyak pun bahasa asing, asal mampu, untuk memudahkan berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini, tetapi bahasa Melayu haruslah menjadi bahasa utama kalau kita tak hendak ketinggalan atau ditinggalkan. Jadi, jangan remehkan bahasa sendiri sebab buruk padahnya bagi generasi.

Dengan dasar itulah, DMDI menyelenggarakan pengajaran bahasa Melayu bagi anggotanya yang menjadi minoritas dan tak dapat lagi berbahasa Melayu di negara-negera Afrika Selatan, Bangladesh, Kamboja, dan lain-lain. Upaya yang dilakukan itu sudah banyak menuai keberhasilan.

Bersempena dengan Konvensyen ke-9 itu juga, pada hari kedua, Rabu, 23 Desember 2008 Biro Sosio-Budaya DMDI menyelenggarakan seminar kebudayaan. Saya berkebetulan dipercaya mewakili Wakil Gubernur Kepulauan Riau yang juga Ketua DMDI Propinsi Kepulauan Riau, H. Muhammad Sani, yang berkebetulan tak dapat hadir pada saat itu, membawa makalah ?Kepeloporan Raja Ali Haji dalam Bidang Ilmu Pemerintahan di Dunia Melayu.? Berdasarkan pembahasan dalam seminar, Biro Sosio-Budaya DMDI merekomendasikan pengajaran matematika dan sains di Malaysia harus tetap diberikan dalam bahasa Melayu. Rekomendasi itu diberikan bukan atas dasar emosional, melainkan benar-benar dengan landasan ilmiah ilmu bahasa, khususnya neuropsikolinguistik, agar bangsa Melayu tak terperosok ke jalan yang salah.

Layar sudah terkembang, maka surut kita berpantang. Untuk itu, orang Melayu, tanpa kecuali, harus terlibat dalam pelayaran tamadun ini sesuai dengan kemampuan masing-masing agar kita segera sampai ke pulau yang dimatlamatkan. Mereka yang sudah mendapatkan Anugerah Tun Perak, Anugerah Tun Fatimah, dan Anugerah Hang Tuah lebih-lebih harus mengambil berat akan tugas ini karena dipercaya mampu membawa orang Melayu ke tangga kejayaan. Adalah ironis jika anugerah tinggal anugerah, tetapi tak ada yang dikerjakan. Sudah saatnya kita mengepalkan tangan ke atas dan meneriakkan, ?Melayu boleh!?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *