Pengantar ?Mimpi Jakarta?

Rakhmat Giryadi
http://www.sastraapakah.blogspot.com/

Menulis Cerita Pendek Karena Terpaksa
Saya menuls cerita pendek (cerpen) karena terpaksa. Ya, terpaksa saya lakukan karena memang tidak ada yang harus saya lakukan selain menulis cerpen. Karena terpaksa saya menulis cerpen dengan tangan di kertas folio bergaris. Saya menulis cerpen, karena hanya pada cerpen saya bisa ?berbuat?.

Saya menulis cerpen memang selalu dalam keadaan terpaksa. Kali pertama saya menulis cerpen serius ?dimuat media massa- sejak sekitar tahun 90-an. Hal itu harus saya lakukan karena saya tidak punya uang sama sekali untuk hidup. Mengapa uang? Ya, dengan menulis cerpen saya berharap dapat honor.

Karena terpaksa, saya menuliskan kisah saya sendiri yang miskin secara materi dan miskin tentang seluk beluk menulis cerpen itu sendiri. Karena dalam keadaan terpaksa sayapun menuliskan nasib saya pribadi. Mengapa saya menuliskan kisah saya sendiri, alasannya cukup sederhana, karena saya yakin dengan menuliskan nasib orang lain pasti hanya akan mengisahkan permukaannya saja. Karena itu dengan mengisahkan nasib saya sendiri, saya berharap cerpen itu memiliki kekuatan permenungan yang lebih dalam. Dengan menuliskan tentang nasibnya sendiri, saya yakin saya tidak kehabisan tema.

Tentu saya harus mengakui, saya menulis tidak semata-mata menguraikan nasib saya yang penuh haru biru karena kemiskinan. Tentu otak dan perasaan saya bekerja dengan sendirinya, mengungkapkan segala kisah yang terekam dalam otak dan perasaan saya. Karena itu tak ayal lagi pengalaman-pengalaman itu tiba-tiba bermunculan saat saya menorehkan tinta di atas kertas bergaris itu.

Cerita Laki-Laki Miskin, sebenarnya berkisah tentang kebosanan saya terhadap ?ilmu melukis? yang saya pelajari di bangku kuliah. Waktu itu saya ingin memaparkan pengalaman saya. Tetapi tiba-tiba seorang tokoh hadir. Dia mengaku seorang laki-laki gelandangan. Ia memrotes pada seorang pelukis yang hanya menjadikan dirinya sebagai obyek lukisannya belaka. Banyak pelukis yang menjadikan ?gelandangan? sebagai obyek lukisan dan kemudian dia menjualnya sampai ratusan juta. Sementara nasib gelandangan itu tetap gelandangan.

Ini tidak adil. Gelandangan itu memprotes tindakan para pelukis. Iapun melakukan bunuh diri, karena nasibnya telah dipermainakan bahkan diperdagangkan oleh seorang pelukis. Pelukis itupun akhirnya sadar, ternyata apa yang dilakukannya selama ini, yang dikatakan bermanfaat bagi dirinya tetapi belum tentu bermanfaat bagi orang lain.

Begitu banyak pengalaman batin dan pengalaman social yang saya alami, ternyata tak mudah diungkapkan lewat cerpen. Setelah cerpen saya Laki-Laki Miskin, saya seperti kesulitan mengungkapkan segala peristiwa yang secara struktur menarik diceritakan. Dari cerpen satu ke cerpen lainnya, jaraknya cukup lama.

Saya menulis cerpen tidak seperti penulis-penulis lain yang cukup produktif. Bahkan hampir setiap minggu tulisan mereka terpampang di media massa baik lokal maupun nasional. Sementara saya, sering tersendat-sendat dalam mengungkapkan kegelisahan saya. Karena itu, sejak tahun 1990-an sampai sekarang tidak banyak cerpen yang saya buat.

Tetapi saya tidak pernah menyerah. Karena itu sayapun menarget, minimal dalam setahun ada cerpen saya yang dimuat di media massa. Dan target itu tidak membebani saya. Dengan cara seperti itu, akhirnya saya tetap bisa bertahan menulis cerpen.

Itu merupakan keterbatasan saya yang lain. Saya tidak bisa menulis segala peristiwa yang saya lihat, alami, dan saya baca. Ternyata semua peristiwa yang kita lihat, kita alami, dan kita baca tidak mesti bisa dibuat cerpen. Intinya membuat cerpen ternyata tidak gampang. Kalau ada yang menggampangkan, itu persoalan lain.

Dalam sepuluh tahun, saya baru menerbitkan sekitar puluhan cerpen. Tetapi saya berusaha, cerpen saya terbit merata mulai dari koran lokal sampai nasional. Bahkan obsesi saya untuk bisa masuk ke majalah Horisan pada tahun 2002 akhirnya kesampaian.

Saya harus mengakui, kemampuan saya memang sangat terbatas. Karena keterbatasan itulah saya banyak belajar pada orang lain, selain juga mencoba belajar sendiri tidak ada henti. Sahabat saya, Tjahjono Widijanto, Tjahjono Widarmanto, Tengsoe Tjahjono, Ratna Indraswari Ibrahim, banyak memberikan inspirasi kepada saya untuk terus bertahan menulis fiksi.

Dari Widijanto dan Widarmanto saya belajar tentang cara menembus media massa. Tengsoe Tjahjono mengajarkan saya tentang teknis menulis yang komunikatif. Dosen yang puisisnya saya kagumi itu memang ahli dalam menulis puisi yang sederhana dan komunikatif. Ternyata untuk menemukan itu sulitnya bukan main. Dari mbak Ratna saya selalu terlecut dengan semangatnya meskipun dirinya orang yang sangat ?terbatas? dalam berbagai hal. Hanya saja saya tidak pernah bisa ?nyontek? ilmunya untuk bisa menembus harian Kompas.

Sekali lagi, kemampuan saya sangat terbatas. Karena itu tema cerpen-cerpen saya tidak jauh dari yang dibayangkan kebanyakan orang. Cerpen saya memang terbatas pada obsesi saya pada peristiwa realitas sehari-hari. Saya tidak berusaha mengkonstruksi ataupun mendekonstruksi realitas sedemikain jungkir balik, hingga dikatakan sebagai cerita pendek. Tidak. Saya tidak punya obsesi apa-apa terhadap realitas.

Saya orang yang berkemampuan sangat terbatas. Saya tidak bisa menjungkir-balikkan realita. Saya justru melihat realia itu jungkir balik dan selalu diluar logika. Bahkan terkadang realita itu sebuah suasana yang absurd dan sulit dipahami. Karena itu sayapun tidak ingin terjebak dalam realitas yang absurd ini. Saya ingin apa adanya. Meskipun saya terkadang tidak berdaya melawan diri sendiri, untuk mencoba ?mengkocok? realita yang amburadul ini.

Saya memang tidak bisa menolak. Karena kemampuan saya sangat terbatas untuk melawannya. Karena itulah cerpen yang hadir di sini, tak jarang, muncul dengan berbagai cara, dan gaya. Saya memang tak pernah membatasi dengan cara dan gaya tertentu. Saya menulis cerpen dengan gaya saya sendiri. Kalau kemudian ada yang menyamakan dengan penulis tertentu, itu bukan urusan saya.

Karena saya orangnya sangat terbatas, tak jarang tokoh-tokoh yang hadir adalah tokoh fatalis. Mereka adalah tokoh-tokoh pragmatis, yang menilai hidup itu secara hitam putih. Keterbatasan saya selalu berbicara begitu. Saya sering tidak berdaya untuk tidak berbicara secara hitam putih. Padahal semestinya saya berada di daerah abu-abu. Atau jangan-jangan yang abu-abu memang tidak ada? Saya sering membenarkan pertanyaan ini.

Kalau pembaca tidak sependapat dengan yang saya omongkan, tentu ini karena keterbatasan saya belaka. Hadirnya cerpen-cerpen dalam kumpulan ini, setelah sekian puluh tahun saya berkarya tentu juga keterbatasan saya. Karena itu saya bersyukur kalau akhirnya cerpen-cerpen ini bisa terbit dan bisa diapresiasi oleh banyak orang.

Saya sangat berterima kasih kepada berbagai pihak yang telah menyokong penerbitan ini. Cerpen yang saya terbitkan ini telah dimuat di media massa seperti, Horison, Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, Sinar Harapan, Suara Karya, Suara Merdeka, Suara Indonesia. Semoga cerpen ini bermanfaat dan selamat membaca keterbatasan saya.

Sidoarjo, Oktober 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *