“Pornografi” Dalam Puisi Dharmadi

Rukmi Wisnu Wardani *
Kompas, 01/12/2008

Dua buku kumpulan puisi, Aku Mengunyah Cahaya Bulan (AMCB) (2004) dan Jejak Sajak (JS) (2008), yang dikirimkan oleh penulisnya sendiri, Dharmadi, saya terima, setelah kami bertemu kembali beberapa bulan yang lalu, di acara bulanan Pasar Malam (Paguyuban Sastra Rabu Malam), salah satu komunitas pecinta sastra yang ada di Jakarta, yang awal berdirinya digagas antara lain oleh Johanes, Jonathan, Budhi Setiawan, Zai Lawanglangit, Ileng, yang menggelar acara rutinnya tiap Rabu malam akhir bulan, di Wapres (warung apresiasi) di kompleks Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan.

Saya melihat warna-warni frekuensi pada kumpulan puisi Dharmadi. Sebagai manusia yang tak lepas dari kehidupan dunia (entah pengalaman pribadi atau orang lain), saya melihat, penulis cenderung menuangkan jejak perjalanan, keprihatinan, suka duka, ke dalam puisi-puisinya dengan cara yang lembut, hati-hati dan penuh barikade privasi.

Tapi jika dicermati, kecenderungan puisi-puisinya jauh lebih condong kepada Sang Khalik. Mungkin ini berhubungan dengan jejak penulis sendiri, dengan segala pergulatan batin dan perenungannya dalam upaya menjangkau, berjalan dan menuntaskan jalur peleburan dengan-Nya.

Kecenderungan arah puisinya yang lebih kental di jalur ini, mungkin dilatar-belakangi oleh laku prihatin, tetapa dan mungkin juga dipicu oleh teriakan batinnya dalam melihat perkembangan pola hidup, pola pikir manusia (Indonesia) belakangan ini yang cenderung terkontaminasi, kaku, majal.

Coba simak puisi-puisinya di bawah ini:

sehabis hujan dideraskan badai/tinggal engahan daun-daun/urat pohon meregang dalam dingin/tinggal riwis di teritis//sungai wajahnya dalam muram//langit masih diam/aku dalam diam/ada yang memandangku/diam-diam// (Sehabis Hujan, AMCB, hal 50).

dalam kediaman batu/menyangga langit/setia mengakarkan kehidupannya/ke bumi//(Candi Cetho,AMCB, hal 51).

batu dalam basah embun/di dasar kali di musim kemarau/ sambil mencucup cahaya pagi/bergumam sendiri; engkau beri/aku energi//(Sajak Batu, AMCB,hal 55).

demi hujan langit setia menjerat awan yang digiring angin/sambil mengingat bumi//(Dalam Kemarau,AMCB,hal 59).

embun membasuh malam/dari debu pengkhianatan/
dalam tatapan rembulan// (Penyucian,AMCB,hal 61).

sebiji beringin/lepas dari mulut kelelawar/jatuh di ceruk batu/tumbuh dalam mainan cuaca (Sebiji Beringin, AMCB, hal 62).

selembar daun mengapung/pada sungai yang mengalir/di sela-sela retak batu/mencari samudera//(Selembar Daun, AMCB, hal 64).

angin merasa bersalah/mengembuskan debu/menempel di jendela-pintu/sanubari//bening kacanya jadi kelabu//angin merasa semakin berdosa/meniup-niup mengobarkan api/membakar yang hidup/bersama matahari//angin menyesali diri/embusannya berhenti//matahari tak peduli/tetap membakar hari//(Musim Kering, Jejak Sajak, hal 21).

kau kosongkan pikir-rasa/dari mimpi-mimpi imitasi;/Kuisikan sejatiKu/sejatimu menjadi (Kesejatian, Jejak Sajak, hal 28).

embun dalam kabut dengan langkah lembut/diam-diam setia mengirim hidup pada awal hari/yang beranjak berangkat menyusuri/jalan waktu//selalu ada yang tak dapat lagi/ikut menyambut//lebih dulu telah Kau jemput// (Embun, Jejak Sajak, hal 38).

setia kau kirim subuh-mu/di kabut pagi membasuh/debu kalbu//aku dalam selimut// (Langit, Jejak Sajak, hal 39).

bulan pucat;/dengan hati kecut/sesaat mencangkung di bibir/jendela langit, menatap bumi//tak didengarnya lagi tetabuhan dan bunyi-bunyi/untuk mengusir sepi dan menakut-nakuti/sang waktu agar tak membuntutui//orang-orang tak lagi peduli/telah jatuh cinta pada cahaya imitasi//sebatang kara bulan berjalan sendiri/dalam remang meraba-raba hari/bumi menabir jalan cahaya matahari/waktu terus membuntuti//bulan menerima kodrat;/mati perlahan, disayat-sayat sang waktu//kau raba lukaku// (Gerhana Bulan, Jejak Sajak, hal 44).

Di tengah-tengah saya sedang menikmati puisi Dharmadi, suatu ketika, saya menerima pesan pendeknya,”Mbak Rukmi, ketika buku saya dibicarakan di salah satu acara apresiasi di salah satu kota, ada yang mengatakan, beberapa puisi saya porno”.

Coba kita nikmati bersama salah satu puisinya, yang dikesankan porno itu:
ketika sesekali naik bus transjakarta; //mata lelakiku kadang iseng atau tak sengaja menatap payudara/di dada pernumpang perempuan yang mengintip lewat model pakaiannya,/
ah, betapa subur dan indahnya;/lava gairahku mengalir begitu saja, ingat masa kecil ingin kembali/menetek susu ibu,/mencecap rasa nikmatnya sambil memainkan putingnya/kadang dengan jemari atau mulut lembutku dalam hangat dekapan di gendongan.//
ketika sesekali naik bus transjakarta; //mata lelakiku yang kadang iseng atau tak sengaja menatap pusar di perut penumpang perempuan yang nongol lewat model pakainnya,/ingat pada plasentaku yang dulu di dinding rahim ibu// dan pikiranku terus melayang, membayang lubang di bawah/pusar penumpang perempuan ketika menatap bagian celana dalamnya/yang sedikit nampak lewat pakaiannya;ingat lubang/di bawah pusar ibu yang terlindung sepasang pangkal tiang paha,/jalan awal kumemandang dunia.//(Ketika Naik Bus Transjakarta, Jejak sajak, hal 42).

Puisi tersebut, yang ditulis dengan bahasa tubuh, kalau dibaca dengan kacamata tekstual memang terkesan porno. Tetapi, benarkah puisi itu porno?

Puisi adalah bahasa multi persepsi, tergantung siapa yang membacanya. Seperti Serat Centhini, betapa absurd pornonya kalau dibaca dengan kacamata tekstual. Tapi menjadi beda kalau membacanya dengan kacamata hakikat.

Porno tidaknya sebuah puisi harus dikaji dari isinya secara keseluruhan. Belum tentu puisi yang ditulis dengan bahasa tubuh itu menyiratkan hal yang porno, begitu juga sebaliknya.

Membaca puisi Ketika Naik Bus Transjakarta, saya menangkap, Dharmadi sebagai laki-laki, sangat jujur dalam mengungkapkan kekagumannya terhadap lawan jenis dan tak segan-segan menyampaikan secara terbuka tentang keindahan obyek puisinya. Tetapi, apakah hanya sebatas keterkaguman Dharmadi pada wanita, sehingga ia menulis Ketika Naik Bus Transjakarta?

Kenyataan, mode pakaian wanita berkembang sedemikian pesatnya, untuk mengekspresikan keindahan tubuh wanita, sampai ada yang memperlihatkan bagian-bagian tertentu pada tubuh wanita yang memakainya, dan dianggap bisa merangsang nafsu sahwat yang melihatnya.

Lalu, apakah mode pakaian seperti itu mesti dilarang, dianggap porno, karena dianggap bisa merangsang nafsu sahwat (laki-laki) yang melihatnya?

Dharmadi sebagai laki-laki, dengan jujur mengungkapkan apa yang dilihatnya. Tetapi dengan cerdas, Dharmadi mengalihkan fantasinya, dari fantasi tentang sahwat ke yang lebih bernilai.

Ia ingat masa kecilnya ketika menetek susu ibunya, ketika melihat payudara yang sedikit nongol; ia ingat plasentanya (sumber makanan) di dinding rahim ibunya, ketika melihat pusar; dan ketika ia melihat bagian celana dalam, khayalannya ke lubang di bawah pusar ibunya, lubang awal ia bisa melihat dunia.

Dari puisi tadi, Dharmadi sepertinya mengatakan, masalah porno atau tidaknya sesuatu, tergantung dari siapa yang melihatnya, dan pikiran apa yang terbangun dalam otaknya.

Memang, selain pembaca puisi dituntut untuk peka dalam menangkap makna terhadap puisi yang dibacanya, di lain hal, penulis juga punya tugas untuk memilih dan meracik kata, kemudian merangkainya dengan maksud tujuan menyampaikan apa yang menjadi perenungannya.

Jika apa yang dituangkan tidak tertangkap oleh pembaca, tidak sesuai dengan harapan penulis, maka bisa saja puisi itu dinilai gelap, buruk. Jauh dari maksud yang sebenarnya, yang ingin disampaikan olrh penulisnya. Di sini peran penulis memang sangat besar.

Bukan maksud saya untuk menurunkan nilai puisi Dharmadi, kalau saya membuat beberapa catatan, setelah membacanya.

Pertama, penggunaan kata yang sama, atau diulang-ulang. Dharmadi sering menggunakan satu kata yang telah dipakai di salah satu puisi, dipakai lagi di puisi yang lain, atau malah dipakai dalam puisi yang sama.. Ini perlu dikaji kembali. Ini memang sering jadi problem penulis dalam menulis.

Kedua, mengacu pada perenungan, saya percaya, segala sesuatu-dalam semua yang ada-selalu mengandung daya. Untuk itu alangkah positifnya jika Dharmadi tidak menyederhanakan diri puisi.

Ada tali semesta yang menghubungkan saat kita (sebagai subyek), mengamati obyek pengamatan kita yang akan kita jadikan bahan untuk menulis puisi. Kasihan kalau obyek tersebut-di bawah alam alam sadar kita-kita vonis sederhana.

Karena bisa saja sebenarnya tidak.Tapi dengan adanya dampak psikologis-daya yang kita pancarkan-akan mempengaruhi obyek tersebut.

Dalam proses kreatif, lakon penulis (penyair) bertindak sebagai pencipta, tentunya dalam hal sebagai pencipta puisi, sekaligus sebagai manusia dan sebagai ciptaan Tuhan. Termasuk sebagai puisi dan sebagai khalayak pembaca.

Kegiatan menulis itu butuh dua mata cermin; sebagai pencipta puisi iya, sebagai puisi itu sendiri iya, dan sebagai pembaca juga iya. Subyek ya, obyek ya, keduanya perlu dalam kesemibangan.

Persepsi saya tentang dampak psikologis, yang memancar dari proses kreatif adalah, adakalanya puisi yang kita tulis ketika dicermati hasilnya bagus; tetapi ketika kita tidak PeDe-ragu-maka akan mempengaruhi puisi itu, begitu juga sebaliknya. Jadi, dampak psikologis bisa membuahkan negative atau positif.

Tetapi, bagaimanapun tak dapat dipungkiri, ketika saya menikmati AMCB dan JS, dua buku kumpulan puisi Dharmadi, dari halaman ke halaman, seakan memandang batu kali yang berada di dalam bening aliran sungai.

Puisi-puisinya tampak sederhana, tapi dengan kesederhanaannya itulah menjadi luar biasa. Jika ditanya, mengapa? Jawab saya, karena puisi-puisinya sarat dengan getar Illahi. Puisi-puisinya mengajak pembaca untuk masuk ke dalam diri-bukan ke luar diri AMCB dan JS, dua buku kumpulan puisi Dharmadi, bagi saya semacam diary-kitab hidup- perjalanan penulisnya dari waktu ke waktu.

Baik sadar atau tidak, sebenarnya lewat puisinya, Dharmadi mengajak pembaca untuk kembali merenungkan rahasia hidup-sebagaimana keberadaan Tuhan yang ada di dalam diri kita. Dan ini yang paling saya suka : Dharmadi, lewat puisinya tidak memakai bahasa khotbah.

Kerendahan hati Dharmadi-seperti bumi-seperti filosofi mikul dhuwur mendem jero- agaknya yang justru mengajak pembaca untuk merenungkan tentang hakikat kehidupan, yang didasari oleh kesadaran diri yang dimiliki Dharmadi bahwa, hidup di dunia ini hanya sementara.

Pemakaian simbol/metafora yang sederhana yang dipakai dalam puisinya, namun mengena, saya rasa itulah ciri dan kekuatan puisi Dharmadi
***

*) Penyair, pembawa acara kegiatan sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *