Puisi-Puisi Akhmad Muhaimin Azzet

http://sastrakarta.multiply.com/
MENGANTAR MANUSIAKU

hari ini, aku mengantar manusiaku pergi
meninggalkan gerimis di perbukitan yang biru
selamat tinggal, duhai, lembah dan ngarai
juga jurang-jurang tempat indah menunggu

lorong-lorong kota akhirnya kusinggahi
ada yang bergetar, dari kabel dan televisi
manusiaku terpaku dibawah menara negri
ada yang mau runtuh, saat segalanya tergadai

hari ini, aku mengantar manusiaku pergi
bersama angin yang membadai di kepalaku
sebab langkah semakin ingin kembali
memunguti jejak yang kabur dari jantungku

Yogyakarta, 2006

DI LERENG MERAPI

asap tebal yang membumbung itu
mengarah ke utara
sementara aku menatap ke selatan

guguran lava menggetarkan jiwa
tetapi aku hanya terpaku
dalam pesona awan bergumpalan

–zet, sudah saatnya mengungsi
ke mana engkau menyelamatkan diri
namun kaki ini kaku, jiwa pun kelu

Yogyakarta, 2006

SEHARI SAJA

walau sehari saja aku menjadi sungai
sepanjang dada ini terasa tak lagi beruang
batu dan pasir betapa berhimpitan
dalam cairan limbah yang kian menghitam

ikan-ikan yang berenang di air mataku
lihatlah, bersusah payah bertahan
dari aroma busuk yang berhamburan
di antara kaleng bekas dan plastik
yang berserakan, timbul dan tenggelam

walau sehari saja aku menjadi sungai
sepanjang ususku terasa dialiri tembaga
yang membara di pertambangan celaka
tak sekadar mual atau ingin memuntah
sungguh nyeri melilit tiada lagi tara

Yogyakarta, 2006

RUMAH YANG GADUH

huruf demi huruf yang kita susun berloncatan
dari pintu ke pintu, mengusik kesunyian
tak pandang waktu terus menderu-deru
mengalahkan iklan televisi yang berputaran

demikianlah, rumah yang kita bangun
betapa gaduh tak berkesudahan
bagai gerbong tua melaju di atas makadam
yang bergemuruh tiada beraturan

selalu saja ada suara melebihi teriakan
persis letupan panas yel para demonstran
yang diprovokasi teriknya siang
lalu melemparkan ke seluruh ruang

Yogyakarta, 2006

05.53.57 WIB

masihkah engkau bertanya suara apakah itu
yang bergemuruh, ya betapa bergemuruh
lantas kita berlarian sungguh dalam ketakutan
sambil menggumamkan doa yang berloncatan

gemuruh itu seperti sepasukan entah bersautan
menjadikan seruang dada nyeri dan tertikam

sebab pagi baru saja menggeliat dalam hangat
jendela rumah masih tersisa deritnya usai dibuka
dan tanpa mengetuk pintu, bumi sontak guncang
semuanya mendadak melayang dan berjatuhan

Yogyakarta, 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *