Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
PATAPAN-NUSANTARA

Ke lengkung langit timur
tengah malam, saat jemari para pahlawan
mengusap ubun-ubun Nusantara di muka bumi
ujung gerigi ulir bintang mengukir
gugusan rejang rajah tapak kaki peziarah
aku datang, Patapan
pejalan ribuan mil ke tanah silam

Aku dan masa lalumu:
berbaring, beradu punggung di hening pucuk tidur
agar dalam mata yang sama-sama mengatup
ada titik yang sama-sama dipandang, kegelapan
meski bunga mimpi tak sama saat menguncup

Berjalan di pematang-pematang kertas
yang berdenyar oleh tinta sajak-sajakmu
kurasakan tapak kaki melesak, jejak berkerak
ujung apakah namanya
bagi pengembara yang lupa langkah kakinya?
engkau membacakan kitab hayat bait terakhir:
batas apakah namanya, jika gerak adalah berpikir?

Doa lengang para pertapa
mengangkut bermilyar kubik debu
bersamaku, tiba di selasarmu:
oh, lama nian tak ada tamu

Aku dan mata sembab kesedihanmu:
seperti tembarau dan rumput gelagah
menyuling embun surgawi dari pancuran langit
serupa lidah sidang fakir saat mencecap ludah
lumpuh dan tabah, tapi tak mau jika harus menadah
namun aku kecut takut bersama jerit
sementara engkau tegar menantang sakit

Hidup derana di negeri gemah ripah loh jinawi
tentu tidak seperti degup majas di dalam puisi
karenanya, Nusantara harus dipetakan kembali
agar masa lalu dan mata sembab kesedihanmu
menjadi ibukota seluruh fakir-miskin rakyatnya
di dataran tinggi keinginan para pahlawan
yang tak terkabul karena tamak-loba manusia

Jadilah yang tertinggi, Patapan
sebab hanya di tempat yang tertinggi
semburat cahaya sempana langit Nusantara
tiba pertama kali di muka bumi

09/2006

CANDIN-MANDANGIN

Diterbangkan oleh angin gending
melayang-layang di atas buih
untuk mengunjungi seorang kawan
yang bertapa mencari napas Bangsacara
di Gili Mandangin
di bawah purnama gemilang
dengan kepungan awan putih ledang

Di sini, di pulau yang diterbangkan angin
nyaliku habis oleh tunggu
karena harus pulang
sebelum bunga-bunga laut merekah
padahal, ia hanya sekali
dalam lama dan panjang penantian

Seperti seorang pelaut
yang berlayar lalu pulang dengan tangkapan
tiba-tiba aku ingat sesuatu
yang menghabiskan semua niat
untuk bertahan:
seorang Ragapadmi
dengan kesendirian sebagai kecantikannya

07/10/2006

WARNA LAUT

Memasuki Tanglok
dengan sesuap kecut dalam ucap
membawa degup laut ke darat
degup rindu menjelang sekarat
aku akan tiba di hatimu kembali
dengan selamat

Pelayar, alangkah gagah
bukan karena laut yang tak bertepi
tetapi karena aroma matahari
di dalam tiap tarikan napasnya
terasa berbumbu, kuat sekali

Sungguh, aku tak benar-benar ingin
melukiskan perjalanan itu sekarang
sebab cerita tentang warna laut
tak akan sepenuhnya utuh
andai kuceritakan ia kembali di darat

08/10/2006

SUMPAH PENYAIR

Hari ini, aku pergi mengembara
mencari kembali rumah bahasa

Kata-kata berdesing, di jalanan
membawa kisah veteran
yang bertahan hidup melawan lupa
dan para penyair yang takut
pada hantu-hantu pikiran
mematuk khayalnya
berusaha melupakan kenyataan

Hari ini, aku memohon ampun
atas lacur bahasa yang hancur
sebab merendahkan leluri leluhur

Hari ini, aku kembali pulang
ke rumah yang lama kutinggalakan
rumah rumpun bahasa ratusan
rumah bersama suku berinda
sampai aku benar-benar jadi tua
mengatak kata-kata

Penyair yang tak berdaya
menguapkan cinta dan citra tanah air
kapankah nikmat menggubah syair
agar seluruh kata menyebut Allah
dalam berdzikir?

Hari ini, aku pulang ke rumah bijana
pulang ke rumah kita:
Bahasa Indonesia

28/10/2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *