Ranting Sakura: Novel Tentang TKW, oleh TKW, untuk Kita

Judul: Ranting Sakura
Penyusun: Maria Bo Niok
Penerbit: P_Idea, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, April 2007
Tebal: xii + 176 halaman
Panyingkul, Edisi Sabtu, 11-08-2007.
Peresensi : MG. Sungatno *

Sebuah novel tentang tenaga kerja wanita (TKW). Ditulis oleh mantan TKW. Mencoba menampilkan sisi lain kehidupan pahlawan devisa; yakni cerita yang tidak melulu berbau penderitaan, penyiksaan, dan penelantaran TKW oleh para majikan yang jahat. Terkadang terdapat alur cerita yang membingungkan, cerita yang tiba-tiba terputus, namun novel ini tetap layak dibaca.(p!)

Sebagai seorang penulis novel, Maria Bo Niok agaknya patut diacungi jempol. Selain sebagai penulis yang lahir dari embrio perkumpulan seni-sastra para pekerja migran, tema yang ditampilkan Bo Niok dalam novel ini juga amat spesifik, yakni berkaitan dengan persoalan para pekerja Indonesia di luar negeri.

Tapi berbeda dengan tema keterlantaran, penyiksaan, kecelakaan, dan kekecewaan tenaga kerja wanita (TKW) kita yang sering disajikan di media massa, tema novel ini agak lain. Kalau pemberitaan media massa tentang TKW lebih banyak menyoroti sisi buruk para majikan, Bo Niok justru menyoroti para TKW bisa bekerja sama dengan baik dengan para majikannya.

Penulis yang pernah menjadi TKW selama bertahun-tahun setelah usahanya ludes akibat kebakaran di Pasar Wonosobo ini, mengangkat tokoh TKW yang memiliki kecocokan cara pandang dengan majikan serta para kerabatnya. Penulis juga secara tersirat mendukung TKW yang berminat dan berkonsentrasi mengembangkan bakat seninya. Sehingga image para TKW yang selama ini terkesan dilematis, ‘bodoh’, dan patut dikasihi, menjadi lebih jelas, walaupun belum bisa merubahnya secara keseluruhan. Karena dalam prakteknya memang banyak TKW yang masih demikian keadaannya.

Kalau ditelaah lebih lanjut, kisah dalam novel ini jarang ditemukan di dalam ranah penulisan fiksi di Indonesia. Apalagi cerita lintas budaya dan negara ini mengangkat kisah cinta tokohnya, hingga menjadi pelukis dan penulis di bumi pertiwi.

Memang, setelah membaca sedikit gambaran di atas, mungkin pembaca akan menilai tema cinta dalam novel ini tidak jauh dari tema cinta yang diangkat para penulis lain, yakni cinta yang penuh kemenangan dan kepecundangan yang kemudian dibubuhi intervensi tokoh ketiga. Tetapi cerita yang mengekor dari cerita utama itulah yang membuat cerita ini unik. Yakni sebuah kesuksesan yang diraih oleh tokoh utama (Amei) dalam dunia tulis menulis dan jurnalistik, setelah menapaki skenario anti klimaks.

Kaya Sindiran

Penulis yang bernama asli Siti Mariam Ghozali ini memang sedikit pedas dalam menyematkan berbagai sindiran terhadap objek yang menjadi setting tempat dan suasana dalam cerita. Sindiran dan kritikan sudah dapat ‘tercium’ pada halaman-halaman awal ketika penulis mengisahkan tokoh utama Amei atau Meimei. Amei yang terlahir dari pasangan ibu keturunan China dan ayah keturunan Jawa, yang masa kecilnya acapkali disuguhi makanan singkong bakar gaya ndeso, menjadi tercengang melihat koki sebuah restoran di Taiwan yang menyajikan singkong bakar. Singkong itu masih utuh dengan kulitnya, tidak sedikitpun gosong, dan rasanya lebih gurih dibandingkan singkong di Indonesia.

Ada juga masakan yang bernama nasi rames yang dalam kehidupan Amei ketika di Jawa banyak ditemukan di warung-warung Tegal dan lainnya. Hanya saja di Taiwan sebutan masakan nasi seperti itu disebut nasi Bentang dan penjualannya pun tidak berada di warung, melainkan di restoran yang besar dan penuh pengunjung.

Berangkat dari dua contoh ini, secara tidak langsung, penulis menyindir warga Indonesia untuk lebih memahami budayanya sendiri. Sehingga seni dan budaya yang kita miliki berabad-abad lamanya menjadi lebih hidup dan tetap eksis serta mampu mengangkat nama Indonesia.

Bukan hanya itu, penulis juga merespon corak pandang dan anggapan warga asing terhadap Indonesia. Seperti tentang moral, ekonomi, hingga kesemrawutan lalu lintas di jalanan Indonesia (hlm. 16, 35-49). Yang lebih aktual sedikit adalah tentang kongkalikong para pegawai di kantor imigrasi (hlm.122-126).

Namun, terkadang alur novel ini agak membingungkan. Juga terdapat cerita yang sedikit membingungkan, karena sepertinya terputus. Ketika penulis menayangkan tokoh Amei melihat dan mengamati proses pembakaran singkong sampai matang dan ia terkagum-kagum hingga imajinasinya melayang-layang dan menghampiri dunia lampau, penulis lupa menyambungkan kembali ceritanya yang sempat terputus ketika mengenang sesuatu (hlm. 7). Begitu juga dalam penggunaan bahasa, tokoh David, Aling, Chen Chen serta majikan Amei ketika kerja di Hongkong, yang awalnya bisa bahasa Indonesia tiba-tiba belakangan dibatalkan penulis sendiri dengan cara gamblang menjelaskan orang-orang tadi tidak bisa memahami bahasa Indonesia.

Latar belakang penulis sebagai orang Jawa sedikit mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesianya. Dalam hal ini tidak begitu masalah, malah dapat menambah keotentikan dan ciri khusus pada penulis, tapi kalau tidak diberi arti atau catatan tersendiri juga mereportkan pembaca. Seperti penggunaan kata boro-boro (hlm. 7), mewanti-wanti ( hlm.120) dan yang lainnya.

Tetapi terlepas dari keunikan dan kekurangannya, novel ini cukup layak untuk dibaca.(p!)

*) Citizen reporter Sungatno dapat dihubungi melalui email cahsucen@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *