Sajak-Sajak Kesaksian Oka Rusmini

Judul: Patiwangi
Pengarang: Oka Rusmini
Penerbit: Bentang
Tebal: viii + 195 hal
Tahun: Juli 2003
Peresensi: Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

”untuk lelaki kecilku
Pasha Renaisan
yang pandai pengajariku kesabaran, ketabahan
dan penderitaan menjadi perempuan”

KALIMAT dari baris-baris sajak (sajak pendek?) tersebut termuat pada halaman persembahan buku kumpulan puisi terbaru dari penyair Bali Oka Rusmini yang berjudul ”Patiwangi”. Bisa dipastikan, sajak pendek yang terdiri atas empat baris tersebut ditulis Oka sebagai ”persembahan” buat putranya bernama Pasha Renaisan (3 th), buah perkawinan Oka dengan penyair Arif B Prasetyo.

Sajak pendek itu, meski seolah hanya sebuah ”kata persembahan”, ternyata menjadi cukup penting keberadaannya dalam buku kumpulan puisi ini. Karena, sajak persembahan tersebut berbicara tentang ”anak” (yang kebetulan juga lelaki) dan sang ibu (perempuan), di mana Oka nanti akan banyak berbicara tentangnya — tentang keberadaan ke-perempuan-annya dalam peran kehidupan di tengan keberadaan dan peranan lelaki.

Oka memang dikenal sebagai salah satu penyair (sastrawan) perempuan Indonesia yang cukup banyak menyuarakan harkat perempuan dalam dominasi patriakhis, terutama dalam kehidupan dan budaya masyarakat Bali yang banyak ”dipinjam” Oka untuk materi dan tema-tema tulisannya. Di luar Bali, Oka ”punya nama” dan mendapat banyak pujian karenanya. Bahkan Oka dinilai sebagai (penyair perempuan) ”pemberontak” yang melakukan pelawanan terhadap gender, dengan sajak atau karya-karya sastra lainnya yang acap menampakkan ”protes” atas dominasi laki-laki terhadap kaum wanita dalam kehidupan.

Begitulah, setidaknya, pujian yang diberikan pada Oka oleh banyak kalangan (sastra) di luar Bali. Bahkan, beberapa karya sastra Oka kemudian mendapat penghargaan karenanya, seperti cerpennya yang berjudul ”Pemahat Abad” yang terpilih sebagai cerpen terbaik majalah sastra Horison tahun 1990-2000, novel ”Sagra” yang memenangkan Lomba Cerita Bersambung Femina 1998, bahkan pada pertengahan Oktober ini novel ”Tarian Bumi”-nya terpilih sebagai buku sastra terbaik 2003 oleh Pusat Bahasa Jakarta.

Buku puisi ”Patiwangi” ini adalah salah satu dari karya-karya Oka yang sudah beredar ke kalangan pembaca sastra Indonesia. Buku yang memuat 113 sajak yang ditulisnya pada kurun 1990-1998 ini dibagi menjadi tiga bagian — 17 sajak bagian pertama bertajuk ”Potret”, 39 sajak bagian kedua bertitel ”Upacara”, dan 57 sajak bagian ketiga berjudul ”Totem”. Sajak ”Patiwangi” yang dijadikan sebagai judul buku, ada pada bagian kedua di halaman 98. Sejak ”Patiwangi” ditulis pada 1995, terdiri dari 24 baris tersusun atas 7 bait. Pengertian ”Patiwangi” menurut catatan penyairnya adalah pati = mati dan wangi = keharuman, yakni upacara yang dilakukan terhadap perempuan bangsawan di Pura Desa untuk menghilangkan kebangsawananannya, karena menikahi laki-laki yang berkasta lebih rendah. ”Seringkali upacara ini berdampak psikologis bagi para perempuan bangsawan,” demikian catatan yang disertakan penulisnya. Secara lengkapnya sajak ”Patiwangi” berbunyi sbb.;

”inilah tanah baruku/ mata air menentukan hidupnya/ ikan-ikan memulai percintaan baru/ batang-batang yang menopang daun-daun muda/ membuat upacara penguburan// telah kucium beragam bunga/ dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah/ suara genta menyumbat mata angin/ tak mampu mengantar dewa pulang// kubuat peta di Pura/ Puta/ mengantar warnaku pada silsilah matahari/ bumi mengeram, tanah memendam amarah/tak ada pecahan suara/ menyelamatkan warnaku// para lelaki menantang matahari/ penunggu warga perempuan pilihannya/ tak ada upacara untuknya di setiap sudut Pura// para pemangku hanya mencium bangkai dupa/ terlalu banyak dewa yang harus diingat/ dan para lelaki terus meminang// karena namaku/ kuharus punya sejarah upacara// anak-anak/ kelak kumandikan dari pilihan ini”.

Selain ”Patiwangi”, masih banyak lagi sajak yang bertema Bali dalam buku ini. Sebutlah misalnya sajak ”Bajang-Bajang”, ”Tilem”, ”Tanah Bali”, ”Siluet Matinya Bali”, hingga ”Kintamani”. Banyak lagi sajak bertemakan Bali lain yang tak secara langsung memakai judul Bali, semisal ”Dongeng itu Bernama Luka”, ”Sajak Kartu Lima”, ”Romantisme Patung”, saampai ”Perempuan Batu”.

Sajak-sajak yang secara langsung membicarkaan (keberadaan) perempuan Bali, misalnya, juga cukup banyak kita dapati dalam buku ”Patiwangi” ini seperti ”Parodi XXXII”, ”Pesta Api”, serta ”Sebuah Tarian”.

Sajak yang menyoal keberadaan perempuan secara umum dalam kaitannya dengan feminisme dan patriakhi banyak bisa dibaca dalam antologi yang dikemas-cetak manis dan cukup menawan ini. Di samping, sajak bertemakan lain yang merupakan ”rekaman” atau ”catatan” dari pengalaman-pengamatan dan perjalanan hidup Oka. Termasuk misalnya sajak-sajak yang menceritakan pengalaman hidup Oka waktu masa kanak-kanaknya di Jakarta saat hidup bersama orangtuanya (sebagai orang urban) di asrama tentara. Suka-duka dan kenangan sang penyair yang terasa mengharukan misalnya, diungkap dalam beberapa sajak semisal ”Episode Ciliwung dan Tanjung Barat” dan ”Rumah Untuk Bapak”.

Buku puisi Oka Rusmini ini memang cukup beragam isi dan temanya. Namun, dalam kapasitasnya sebagai buku kumpulan puisi tunggal (perseorangan) — lebih-lebih untuk penyair (dari) Bali yang rata-rata tak terlalu banyak jumlah puisinya — buku ini terkesan agak kurang selektif dalam menampilkan sajak-sajaknya.

Tetapi kesan itu tentu relatif dan tak sepenuhnya benar. Hal ini lantaran Oka memang tergolong sangat produktif dalam berkarya. Sajak-sajaknya — dan tentu saja karya sastranya yang lain — cukup seabrek, semuanya tentu penting untuk didokumentasikan dengan baik, termasuk dalam sebuah kemasan buku. Buku ini, bisa jadi, untuk ”menyelamatkan” dan mendokumentasikan sebagian sajak Oka. Bisa jadi pula, sajak-sajak Oka lainnya yang ditulis pada periode yang sama dengan yang ada dalam buku ini, tak dimasukkan dalam buku ini.

Yang jelas, buku ”Patiwangi” ini telah hadir dan menambah khazanah kesusasteraan Indonesia. Kalangan sastra di Bali, setidaknya, perlu merasa bangga punya salah seorang sastrawan perempuan yang produktif seperti Oka Rusmini.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*