Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua

kompas-cetak

Batang Nilau

pada hari aku pergi
sebatang nilau berkilau di tepi ladang
diurapi matahari pagi baru datang
aku pun seperti baru dilahirkan
meski tak mengubah nama-nama hari,
tujuh kata dalam sepekan
aku pergi bukan ke pekan senin, kemis atau minggu
aku turun-mendaki bukan membawa buah,
kayu atau duri di punggung
aku pergi membawa keringat ladang
yang lengket di potongan pakaian rombeng
pada hari aku akan pergi
dua-tiga batang nilau menyisih
membuka-mengatupkan mataku tengah hari
sementara suara seruling sayup
menyuling air-kata di cekung pipi:
aku akan pergi, mungkin lusa atau sepekan lagi
aku akan pergi, mungkin segera atau tak kembali.
pada hari aku bakal pergi
deretan batang nilau memutih
menggeriapkan sepi di ladang menjelang sore hari
putih-putih kasih ibu,
putih-putih rambut, susu, tulang, merapuh
pada hari aku tak tentu pergi
batang-batang nilau merah-kuning-gading disepuh
cahaya senja hari, seperti gurat risau di rona pipi
gadis-gadis merana lepau kopi
pada hari aku menolak pergi
gerombolan batang nilau tegak serupa hantu
malam hari, menghalauku pergi jauh
atau sembunyi di balik pintu
pada hari aku belum mengenal kata pergi
semua batang nilau, yang dekat atau yang jauh,
adalah sahabat sejati sekaligus musuh abadi
dalam gelap-terang hari-hari
milik matahari itu juga
di bumi
pada hari tak ada kata
setiap batang dan ranting nilau
membuat bayangan hitam dari jelaga matahari,
hingga kepergian tak terucapkan: tertutup rapat
di buku-buku kusam dalam almari, tempat menyimpan
pakaian rombengku tadi
pada hari yang tak ada, dan segalanya tak terduga
aku sesungguhnya masih mencipta:
batang-batang nilau, hijau ladang dan bayang-bayang,
dengan sulingan air-kata yang kusinggung murung
di bait ketiga, tengah hari: hingga seketika itu juga tetesnya
jatuh di telapak tanganku, yang semalaman lalu sekarat
menulisi kepergian ini
tapi di keesokan pagi, tiada temaram, tanganku
menjelma jadi ranting dan daun sebatang nilau
yang berkilau tenang di tepi ladang
diurapi matahari pagi baru datang
tepat pada hari aku pergi
ya, pada hari aku akhirnya pergi
dan merasa seperti baru dilahirkan.

/Rumahlebah Yogyakarta, 2007

Babaranjang*

aku melihat legam punggungmu, ayah
atau orang lain seperti ayah, berkelebat
begitu dekat, dengan tulang belakang terentang
serupa rel atau tangga ke langit, menyunggi barang galian
perut bumi?melintasi hamparan bahu
dan bungkuk kudukmu, berpunuk, penuh bungkulan
serupa getah karet baturaja, sehitam batubara bukitasam
terentang jauh dan panjang, o, babaranjang!
segalanya terdedah di atas bak hitam terbuka, tapi siapa
yang bisa menyentuh muatanmu, kecuali si tangan panjang
sumber derita, di kota-kota dan bandarlama atau pelabuhan hampa
meski segalanya masih terikat pada rel karat itu
tulang punggung ayahku atau orang lain
yang sama getas dan kelabu.
ya, aku melihat punggungmu ayah, beribu-ribu punggung,
berjejer dari gunung ke kota hingga pantai terujung,
di sana, dicambuk gigir roda-roda baja, terkelupas
dan berdarah, di tengah gigil dan deru rindu semesta
kusaksikan pemandangan menakjubkan dari derita:
kereta hitam bak terbuka melaju terbang ke bulan
yang perlahan gerhana!

/Palembang, 2006

* Babaranjang: sebutan untuk kereta api barang (bak terbuka) yang biasa mengangkut hasil tambang batubara dan hasil bumi lainnya di daerah Sumatera Selatan.

Hantu Debu

1.
Dari debu kembali ke debu,
lenyap tak tentu. Ini tubuh
gumpalan batu?tumbuh dari debu,
luruh jadi debu, serupa candu mengendap
di jalan-jalan, beterbangan di jalan-jalan; dihamburkan siang
digentayangkan malam: makhluk jejadian apakah gerangan
menunggu kita di langit biru?

Jadi nebula, kita mungkin memadatkan jagat raya
dengan batu-batuan yang lain, debu yang lain
lalu bersama talkin dan bintang jatuh
ada yang luruh ke bumi
kembali ke pangkal jalanan, muasal siang dan malam
sebagai batu hitam tak terjamah
sipongang tangan dan ucapan
atau debu kelabu pudar
hinggap di bubungan, atap rumah kenangan.

Suatu ketika, seorang perempuan bermata basah
tertegun dengan sapu di tangan
ngungun menatap retak loteng
(tempat ternyaman pesta tikus bulan)
dan ia mengerti, ia paham:
ada debu yang tak biasa
tercecer di lantai ruang
tempat seseorang pernah berjaga
di batas kegilaan dan kewarasan; memasuki malam,
mengintai dan diintai kata-kata liar
lebih dari sekadar lengking ronda di jauhan
atau mimpi tikus bulan; seseorang yang pernah
dicintainya sekarang pun tak usai
dengan seribu kendi dan kandil di dada.

Sejak itu, malam ia nyalakan lampu di kamar itu
karena tahu ada yang datang, meski tak ada
bayang-bayang. Siang, ia pahami isyarat debu
yang jatuh dari langit loteng
barangkali luruh lewat celah genteng
(belum lagi dipanggil tukang)
jadi bukan lantaran pesta tikus-tikus semalam!

Lalu dengan tangan gemetar ia akan menyapu
menyatukan sekalian debu
dengan tanah halaman,”Dari debu kembali ke debu, huu!”
dan melenguh di ambang pintu.

Sekali debu luruh di ikal rambutnya, ia usap
dan jatuh di bahu?terasa masa lalu meresap
sebagai tangan kukuh atau lembut jemari lelaki
yang sesekali, ah, menyelusup juga ke celah susu
tapi lalu mendadak henti dilerai cicak-cicak di loteng
cemburu-sepi! Ia tengadah,
sisa debu jatuh ke bola mata,
perih mengerdip, masa lalu kembali bangkit
dan berlinanglah airmata?

2.
Debu hinggap di buku-buku, di kitab-kitab lama
tak terbaca, di kain kebaya, di kaki anak-anak
di halaman, dan yang merangkak
di dalam rumah
debu jatuh di rambut, di curam pipi
dan mata perempuan yang basah
seperti hujan turun di halaman di atas pagar,
di luar rumah,”Bagaimana merekat debu
yang terlepas dari ijuk sapu
agar utuh satu saja kenanganku?” ia mendamba
agar kalau lengket di tanah, menghamparlah
seluas pandangan, atau batu untuk digenggam
sebagai jantung malam penghalau rindu dendam
dan kalau tetap berupa debu, masuklah ke almari pakaian
biar tersimpan dalam lipat ingatan, walau cuma debu
tapi asal mula penciptaan
bahkan bintang-bintang, planet-planet,
dan petir bersabung
melebatkan hujan di kampung bukan tercipta dari tenung

Dan perempuan itu kini tak lagi murung
ia tahu, langit menyimpan semua kenangan, segala kejadian,

“Gelap atau terang, tetap kusebut ia planet
dan bintang-bintang. Ia yang tercipta dari nenat
kabut-debu, memadat jadi nebula, jadi batu-batu
yang bercahaya di jagat raya dan berkilau disepuh
fajar-matahari,”

fajar yang kemudian muncul di balik tirai
hujan reda, menampak batu-batu kuyup
serupa gumpalan tubuh yang baru pulang
dari kembara; dan yang masih mengembara
dibayangkan perempuan itu seperti debu
disapu air lewat parit dangkal dekat halaman
melintasi pagar kayu batas kecil di bumi
dan ia pun bergumam,”Dari air kembali ke air,
terus mengalir, bersama debu, bersama cintaku,”
dan hanyut ke laut.

3.
Tengah malam, sebatang lilin menyala
di kamar temaram hujan-petir seharian
padamkan arus pijar sekalian bohlam
maka perempuan yang kini kasmaran
menyalakan api-fajarnya sendiri
dengan uap keringat, jantung yang memompa
denyut darah, dan mata tak lagi hampa.

Ia menunggu debu jatuh
tepat di sumbu
lilin perkawinan yang terbakar, dan ia amsal
sebagai matanya, hangat menerima kecupan.

“Jatuhlah, dan kau mungkin akan terbakar
tapi seperti lilin, kunyalakan penuh debar,
apa bahasa lainku untuk menyatakan
sukacita penantian?”

Kucing hitam mengeong di lorong
di jalan ke dapur tembus ke sumur
tempat ia sering melihat kelebat lelakinya lewat, tinggi jangkung
di larut malam terdengar sendok kopi berdenting
dan di ranjang matanya tak bisa pejam, ia pun bangkit ke belakang
kadang hanya untuk melihat punggung bungkuk lelakinya
menghadap kertas-kertas penuh coretan. Saat begini tenang,
ingin ia berpapasan di lorong sempit itu lagi,
kelabu kusam dua badan tak bisa menghindar
tapi sebagai bayang-bayang, lelakinya akan menempel ke dinding
dan memanjang hingga ke loteng mengisi sepenuh ruang
dengan hablur kenangan.

“Datanglah, walau berupa bayang-bayang
dari sini lekat kupandang; akan kubakar lilin lain,
mungkin tanda lahir, atau kunyalakan kayu di tungku
agar semua bayang menari minta dibangkitkan
dan abu menjelma hangat debu dirimu!”

Di luar, angin bangkit lagi, menggeram lagi
pohon-pohon menggeriapkan mantel daun-daunnya
dahan dan reranting menggarit kusen dan jendela
sungguh terasa asing (tak ada lolong anjing)
hingga suara hening ganjil
menyusup pada secuil nyala api
yang kini, di ujung lilin penghabisan, liar menari
dan perempuan itu mengerti, ada yang datang
tak terbilang, bersama deru angin, gemertak genteng
dan retak loteng, luruh
dan jatuh
di sumbu!

Ia pejamkan mata
ia merasa kandil di dadanya gemerlap
seribu kendi tak sanggup memadamkannya
dan memang tak akan memadamkannya
lalu ia menyanyi lagu lama
kesukaan lelakinya, waktu bersama,

“Jiwa yang mengembara, mengembaralah:
dari debu kembali ke debu, lenyap tak tentu
dari air kembali ke air, terus mengalir
dari api kembali ke api, berkobar
dan tak padam-padam lagi,
cintaku!”

/Yogyakarta-Ponorogo, 2006-2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *