Yin-Hua

Arie MP Tamba
http://jurnalnasional.com/

Metropolitan ini serba kusut
Tiada hari tanpa macet
Apalagi
Kini muncul si jago serobot
Bus Way
Macet di mana-mana
Ada yang bilang
Bangun saja kereta bawah tanah
Ada yang usul
Bikin saja monorel
Banyak pula yang berseru
Ah! Tak macet itu bukan Jakarta!
Bus Way
Bus Way
Melancarkan atau
Memacetkan
Wong cilik jadi
Bingung

(Bus Way, Song Hoa, Jakarta 5 Mei 2004)

Inilah sajak Bus Way karya Song Hoa, seorang penyair yang tergabung dalam Komunitas Sastrawan Yin-Hua (Indonesia-Tionghoa), yang kegiatannya semakin marak seiring bertiupnya angin reformasi di bidang politik dan kebudayaan sejak tumbangnya Orde Baru. Puisi Song Hoa dapat ditemukan dalam Seribu Merpati, Bunga Rampai Sastra Yin-Hua (2006) yang diterbitkan bekerja sama dengan PDS HB Jassin.

Menurut Jeanne Laksana, Ketua Yin-Hua, sebagian besar pengarang Yin-Hua kini berumur 50 tahun ke atas. Meski dilahirkan di Indonesia, tapi mereka dibesarkan dalam lingkungan pendidikan dan kebudayaan Tionghoa dan Indonesia. Mereka menerima pendidikan bahasa Mandarin, hingga lebih mahir berkarya dengan bahasa Mandarin (Tionghoa).

Maka, bila karya-karya mereka yang sudah dibukukan kemudian diterbitkan juga di dalam bahasa Indonesia, hal itu telah melalui penerjemahan. Untuk terus membangun kesepahaman atas keberadaan dan peran pengarang etnis Tionghoa ini, penerjemahan karya-karya dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia dan sebaliknya, adalah salah satu agenda rutin Yin-Hua. Banyak buku terjemahan sudah diterbitkan. Namun masalah regenenerasi tetap menjadi persoalan yang membayang.

Sastra diaspora, itulah penamaan yang diberikan penyair dan pengamat sastra Iwan Gunadi untuk karya-karya sastra perantauan keturunan Tionghoa ini. Dalam penelitian Iwan, menggeliatnya kembali kegairahan menerbitkan karya-karya sastra Yin-Hua, secara simultan bisa dikatakan bersamaan dengan aktifnya Komunitas Sastra Indonesia 1990-an. Wilson Tjandinegara, seorang sastrawan Yin-Hua yang juga rajin menerjemahkan karya teman-temannya ke dalam bahasa Indonesia, bahkan termasuk seorang pengurus di Komunitas Sastra Indonesia.

Sementara itu, mengikuti hasil penelitian Claudine Salmon (1981), fenomena sastra karya peranakan keturunan Tionghoa sudah jauh berakar sejak masa-masa menjamurnya Sastra Melayu Rendah di Indonesia pada 1870. Setengah abad sebelum terbitnya novel Azab dan Sengsara, karya Merari Siregar oleh Balai Pustaka, yang sampai kini dianggap novel perdana Indonesia yang menggunakan bahasa Sastra Melayu Tinggi, sebagai cikal bakal bahasa Indonesia.

Tak pelak lagi, dua politisasi kebudayaan bisa dikatakan pernah menggerus kehadiran para sastrawan perantauan keturunan Tionghoa ini dari peta sejarah sastra Indonesia. Yang pertama adalah politik kolonialisme Belanda yang “merendahkan” mereka ke dalam pelabelan ?Sastra Melayu Rendah? atau ?Sastra Pasar?. Padahal sejak kemunculannya pada 1870, hingga 1950-an saja, menurut Claudine, telah ada sekitar 3.005 judul karya sastra dari 806 pengarang perantauan.

Beberapa penelitian membuat karya-karya itu kemudian bisa dikenali dan dibaca kembali, sebagai kekayaan sastra Indonesia yang teramat berharga bila diabaikan. Sebut saja Oey Se karya Thio Tjien Boen dan Lo Fen Koei karya Gouw Peng Liang. Loe Fen Koei pernah difilmkan oleh sutradara berbakat Hanny R Saputra dengan skenario Afrizal Malna.

Lalu yang juga banyak dikenal adalah Boenga Roes dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay. Kwee Tek Hoay, dari penelusuran Leo Suryadinata (1989), selain penulis novel juga terkenal sebagai penulis drama, buku-buku agama dan filsafat. Pada zaman Belanda Tek Hoay pernah mengasuh majalah Panorama, Moestika Panorama, Moestika Romansa, dan Moestika Dharma. Di majalah-majalah inilah Tek Hoay menulis pengamatannya tentang perkembangan politik dan kebudayaan masyarakat Tionghoa umumnya di Indonesia.

Lalu, politisasi kebudayaan yang kedua adalah kebijakan Orde Baru yang melarang penggunaan bahasa Tionghoa dan huruf Han sejak 1967. Hal ini langsung membuat karya-karya sastra (dan para sastrawan) peranakan keturunan Tionghoa raib dari kehidupan sastra Indonesia. Tak ada lagi media khusus yang berbahasa Tionghoa untuk karya-karya mereka. Yang ada hanyalah sebuah koran dwibahasa, Harian Indonesia.

Meski dibatasi, menurut penyair Yin-Hua, Cecilia K, yang juga redaktur koran tersebut, Harian Indonesia benar-benar dimanfaatkan oleh para sastrawan diaspora sejak 1966. Sejumlah karya dihadirkan dalam dua bahasa: Indonesia dan Tionghoa. Tapi, seiring reformasi dekade terakhir, karya-karya sastra perantauan ini sudah kembali diterbitkan dalam bahasa Mandarin.

Yang unik dari karya-karya sastra keturunan Tionghoa ini adalah: perbedaan yang mencolok dengan semangat sastra “leluhur” ? yang memuja alam dan tatakrama kehidupan masyarakat Tionghoa masa lalu. Meski menggunakan bahasa Mandarin dalam menyampaikan ekspresinya, namun tema-tema yang diusung sastrawan diaspora ini acapkali syarat dengan persoalan sosial kemasyarakatan setempat. Sastra mereka begitu kontekstual. Di antaranya, puisi Son Hoa di atas. Bus Way!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *