CAF? SOCRATES*

Abonk El ka?bah
http://media-lamongan.blogspot.com/

?Huff?akhirnya? bisik hatiku yang merasa bebas ketika dosen meninggalkan ruangan. Serasa aku kembali ke taman Eden kini, padang rumput nan hijau bertabur merah bunga mawar yang mulai merekah, menyambutku bak pahlawan yang pulang dari medan tempur Jahanam.

Segera kupasang head setku dan suara Matthew Bellamy segera lepas dari MP3 hp. Buas, liar, namun harmonis menyergap gendang telingaku. Ku lirik LCD hand phone, jam 13.00. Efektifitas! hp langsung berdering mengingatkanku akan janji pada seorang teman yang mungkin sekarang mulai beku di deretan meja caf? samping kampus.
Ku percepat langkahku menuruni anak tangga kuil para intelektual. Sedikit perenggangan otot leher, membantuku untuk rileks sebelum kembali pada arena perdebatan panjang dengan sahabatku.

4 menit 53 detik, waktu yang ku butuhkan untuk sampai pada satu bangunan dengan cat warna biru yang berada tepat di depan pintu gerbang. Oleh pemiliknya tempat ini dibaptis sebagai caf?, walaupun aku kurang sepakat. Bagi ku ini hanyalah warung dengan 2 bilik. Masing-masing bilik terdapat 4 meja dan 16 kursi plastik. Tidak ada satupun kriteria caf? yang sanggup dipenuhi warung ini, selain menyediakan kopi bagi para pelanggannya dan lebih bersih dibanding warung yang berderet sepanjang jalan Kertamukti.

Aku segera masuk ke bilik bagian dalam dekat dapur. Inilah nenek moyang restoran open kitchen! yang didirikan oleh peranakan Brebes. Bagi ku berdiskusi di bilik bagian dalam lebih nyaman, karena tidak harus terganggu dengan wajah-wajah cantik yang terus berkelebat di balik jendela kaca besar caf?. Walaupun aku harus menanggung konsekuensi untuk terus menikmati wajah lusuh pelayan yang hilir mudik. Tapi ini lebih realistis dari pada kecantikan nisbi diluar sana.

?Casanova? sapa sahabatku, setengah mengejek kisah cintaku yang tak pernah bertahan lebih dari tiga bulan. Atau malah tentang mantanku yang kini kalau digabungkan jari tangan dan kakiku pun tak cukup untuk menghitungnya.

?Fachri? balasku menyebutkan satu tokoh di novel ayat-ayat cinta sebagai respek terhadap lelaki yang masih percaya pada cinta sejati.
?Ha ha ha? sahabatku tertawa senang bukan kepalang. Seakan Sandra Dewi baru saja memohon untuk menjadi yang halal baginya.

Aku duduk di depan dia. Kami saling berhadapan dan dipisahkan meja kayu warna putih dengan asbak dan segelas jus alpukat diatasnya.
?Jadi apa yang membuatmu butuh saran dari orang yang mulai muak dengan kisah cintanya ini?? tanyaku langsung pada inti permasalahan.
?Amateur?
?Possessive??
?Sacrifice?
?Irrational!? aku membentaknya.
?Perasaan? kata sahabatku tegas.
?Ha ha ha? aku mulai terhibur dengan si cengeng ini.

?Maksudmu??
?Es Cappuccino..? teriakku pada pelayan yang memberi isyarat, mau minum apa aku siang ini.
?Bisa kita lanjutkan??
?Silahkan? jawabku sambil menyalakan sebatang rokok.
?Komentar apa yang kau hadiahkan padaku sobat??
?Konvensional?
?Proses?
?Maskulinitas? kataku sambil memperlihatkan otot bahu.
?Tahapan?
?Absurd?

?Entahlah?? sobatku yang baru mengenal cinta itu mulai menyerah.
?Itu lah wanita. Tidak kah kau ingat? Sigmund Freud tidak tahu pasti apa keinginan wanita, sampe Adam-pun mesti turun dari surga. Apalagi bayi seperti kita?
Dialektika berhenti. Oase ide sobat ku, Andi, ternyata kering sebelum musim panas tiba. Ejakulasi dini. Layu sebelum berkembang. Entah kalimat apa lagi yang pantas buat mengolok-olok sahabatku yang sudah mencapai klimaks sebelum aku sekalipun merasakan orgasme dari diskusi disiang nan panas ini. Memalukan.
Es cappuccino datang menghampiri meja kami. Segera ku dinginkan otakku yang hari ini bekerja layaknya mesin diesel.

?Kita para pejantan sudah menaklukkan berbagai benua, menuliskan kisah kita dalam sejarah. Tak seharusnya kita menyerah pada mereka yang berjalan di belakang kita dengan keranjangnya?.

?Selalu tentang penaklukan, tapi lupa dengan perawatan? Andi mengingatkanku.
?Makhluk superior?
?Emansipasi?
?Taklid buta?
?Aku didepan tembok Cina?
?Ini bukan tentang pertahanan kokoh buat menghalau musuh?
?Lalu??
?Pengenalan diri?
?Untuk??

?Ingat Sun Tze kawan! Kenali dirimu sebelum kau berperang. Bagaimana kau akan menaklukan seseorang kalau kau belum pernah menaklukan dirimu??
?Masuk akal?
?Ha ha ha, seharusnya kau panggil aku suhu?
?Sejak kapan Casanova berwarga negara Cina??
?Sejak para pria berbondong bondong menziarahi Monalisa di Museum de lovre Perancis?
?Ha ha ha, kau ternyata masih suka memperolok Da Vinci?
?Bukan, tapi penikmat seni yang rabun? aku berapologi
?Apa itu kecantikan?? tanya Andi. ?Keindahan kah??.

?Lebih?
?Maha karya??
?Lebih?
?Kesempurnaan??
?Tak sampai?
?Lalu??
?Bagiku itu hanya konsep?
?Bukannya Value??
?Lebih tepatnya produk?
?Sesungguhnya??
?Ssst?biarkan dia tenang di dalam sini? kataku sambil menunjuk ke otak kananku.
?Lantas apa yang harus ku bawa dari pertemuan kali ini??
?Tesis yang harus kau cari anti tesisnya?
?Saran??
?Terus mendengarkan kata hatimu?
?Tapi aku bukan sufi dan yogi?
?Apakah selain mereka, manusia tak ada yang punya hati?? aku bertanya sambil melotot ke arah Andi. Dia diam tak bersuara, aku tahu kalau kali ini dia merasa bersalah dan menyesal dengan pertanyaannya.

?Maaf?
?Teruslah berjalan dengan yang kau yakini?
?Lalu??
?Dengarkan suara yang tak mampu ditangkap telinga?
?Lalu??
?Lihatlah segala sesuatu dengan kekuatan pikiranmu bukan sang penipu kasat mata?
?Terus??
?Asahlah hatimu untuk terus merasakan semua yang menyelimuti hidupmu?
?Hasilnya??
?Pengembangan? kata ku sambil meniupkan asap rokok diantara ruang yang memisahkan aku dan Andi. Dia mengangguk tanda mengerti.

?Sobat kau jangan mengulangi kebodohan Vasco Da Gama yang merasa telah sampai pada tanah penghasil rempah-rempah, padahal dia masih di tanah India? pesanku kemudian pergi meninggalkan Andi sendiri untuk menyelami kehidupannya.**

Jakarta, 2008

*) Judul buku yang menginspirasi cerpen ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *