Filsafat Organisme dan Kearifan Ekologis

Afthonul Afif
http://www.korantempo.com/

Setiap kali musim hujan tiba, hampir bisa dipastikan bencana alam pun melanda. Banjir dan tanah longsor di beberapa daerah menjadi penanda bagi datangnya musim hujan tahun ini. Saya sepenuhnya tidak yakin bencana yang telah menjadi rutinitas tahunan itu semata-mata fenomena alam tanpa campur tangan manusia. Saya memastikan bahwa ada yang salah dalam sikap mental kita dalam berinteraksi dengan alam sekitar. Kita harus berani jujur bahwa kita tak lagi memiliki kesadaran ekologis. Atas nama ilmu pengetahuan dan pertumbuhan ekonomi, kita dengan jumawa menempatkan alam sebagai entitas yang bisa ditundukkan dan penyuplai sumber daya yang seolah-olah tanpa batas.

Sayangnya, mempersoalkan sikap mental yang eksploitatif itu acap kali dianggap sebagai tindakan yang sia-sia di negeri ini. Padahal, tanpa berusaha mencari tahu sebab mendasar di balik sikap mental itu, pemecahan masalah terkait dengan pemulihan kerusakan ekologis dan penanganan dampak bencana alam tidak mungkin berdampak komprehensif. Dalam konteks ini, menghadirkan gagasan filosofis, terkait dengan bagaimana kita harus berinteraksi dengan alam, saya pikir tetap relevan untuk disuarkan. Dampaknya mungkin tidak bersifat praktis-fungsional, namun saya pikir tetap penting bagi upaya-upaya untuk menumbuhkan kesadaran bersama betapa urgen dan mendesaknya agenda-agenda penyelamatan ekologi kita agar kelestariannya tidak semakin terancam.

Filsafat organisme
Filsafat organisme barangkali dapat disebut sebagai satu-satunya sistem pengetahuan yang paling radikal mengkritik paradigma sains modern yang materialistis-reduksionistis. Meskipun sistem berpikir ini lahir di awal abad yang lalu, saya pikir tetap relevan untuk dibahas dalam kondisi dunia yang mengkhawatirkan seperti saat ini. Filsafat yang dirintis Alfred North Whitehead ini mencoba melakukan revitalisasi terhadap tradisi ontologi yang dianggap mengalami kebangkrutan, seiring semakin dominannya paradigma keilmuan modern yang semata bertumpu pada ontologi materialisme.

Whitehead yakin bahwa materialisme ilmiahlah yang telah menjadi cikal-bakal lahirnya dominasi manusia atas alam semesta. Watak eksploitatifnya bersifat imanen dalam dirinya, karena melihat dunia hanya sebagai gugusan materi yang statis sehingga dapat dikalkulasi secara eksak. Sebagai reaksi dan tawaran alternatif terhadap materialisme ilmiah yang menghegemoni pikiran dan sains modern ini, Whitehead mencanangkan sebuah aliran filsafat yang ia sebut “filsafat organisme”. Filsafat organisme mengedepankan keutuhan, integrasi, di antara jejaring-jejaring realitas dalam bingkai pemikiran sistemik. Dalam Process and Reality (1978), dia mengatakan bahwa tujuan dari filsafat organisme adalah mencanangkan kosmologi baru yang berbasis pada sistem, di mana unsur-unsur pembentuk sistem tersebut bersinergi menciptakan keteraturan yang padu. Artinya, ada kesalingterkaitan di antara unsur-unsur tersebut menciptakan entitas utuh yang tidak sekadar penjumlahan dari unsur-unsur pembentuknya (the whole is not equivalent to the sum of its parts).

Setiap entitas di dunia ini–Whitehead menyebutnya sebagai satuan aktual–memiliki nilai-nilai intrinsiknya sendiri-sendiri, tak terkecuali manusia. Bila manusia hanyalah bagian kecil dari benda-benda dunia, maka tidak otentik lagi mengatakan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta (antroposentrisme). Manusia hanyalah satuan aktual di antara satuan-satuan aktual lainnya. Dunia, dalam konteks ini, adalah rajutan dari satuan-satuan aktual itu, di mana ia eksis karena dalam dirinya terkandung spirit–yang oleh Whitehead disebut sebagai solidaritas (solidarity). Artinya, meskipun setiap satuan aktual dalam dirinya sendiri merupakan suatu proses penciptaan (self-creation), proses itu bukan merupakan aktivitas yang terpisah dari yang lain.

Pengandaian ontologis tersebut selanjutnya melahirkan pengandaian moral tertentu. Karena manusia hanyalah salah satu penyangga tegaknya dunia, dalam dirinya selalu terkandung kesadaran purba, kesadaran pra-eksistensi, tentang rasa kesatuan dengan satuan aktual lainnya. Dengan demikian, unsur paling awal dan utama yang membentuk kesadaran moral manusia adalah simpati, yang oleh Whitehead dimaknai sebagai perasaan yang sama dengan yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk menyingkirkan kecenderungan kesadaran kita untuk melihat diri kita sebagai yang terpotong dari dunia.

Diri ekologis
Refleksi mendalam atas posisi manusia sebagai sub-entitas dari keagungan alam semesta diharapkan akan mampu membangkitkan kesadaran kritis untuk kemudian menunda terlebih dulu setiap klaim atas sentralitas posisi manusia sebagai penentu perkembangan alam semesta. Whitehead menyebut tahapan kesadaran manusia ketika mampu melampaui kekerdilan persepsinya atas semesta, dan kemudian mampu menemukan cara pandang yang utuh dengan seluruh realitas ekologisnya sebagai “diri ekologis”. Diri ekologis adalah “diri” yang mempunyai tanggung jawab untuk melestarikan dan menciptakan keselarasan hubungan dengan satuan-satuan aktual lainnya.

Jika dicermati lebih jauh, pemikiran ekologi Whitehead juga merupakan bentuk kritik ganda terhadap tradisi Barat, yaitu terhadap pandangan materialisme ilmiah dan konsep kosmologi agama-agama Semit yang berwatak antroposentris, terutama Yahudi. Letak kritik Whitehead terhadap konsep ekologi Yahudi didasarkan pada anggapan bahwa alam semesta ini dihadiahkan Tuhan kepada bangsa Yahudi untuk ditaklukkan dan dimanfaatkan secara penuh. Manusia bebas berkehendak dalam memperlakukan alam semesta. Pandangan dunia seperti inilah yang menjadi cikal-bakal eksploitasi manusia terhadap alam semesta. Manusia tidak merasa bersalah karena telah mendapatkan legitimasi teologis.

Meskipun banyak kritik dialamatkan pada pemikirannya yang spekulatif itu, terutama dari para filsuf penganut materialisme, tidak bisa diingkari bahwa Whitehead adalah filsuf Barat paling penting yang berkontribusi bagi eksisnya gagasan holistik dalam melihat dunia. Banyak pemikir Barat sesudahnya yang terpengaruh oleh cara berfilsafatnya, sebut saja Arne Naess (penggagas paradigma ekologi-dalam), Fritjof Capra (fisikawan yang mempopulerkan paradigma holistik dalam sains modern), dan David Ray Griffin (penggagas teologi holistik).

Terlepas dari segala kritik yang dialamatkan kepadanya, pemikiran Whitehead telah memberikan sumbangan besar dan warna lain dalam pemikiran filosofis–atau semacam kunci untuk membuka gembok penjara filsafat Barat yang notabene berwatak materialistik-positivistik.

*)Penekun filsafat, tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *