Istri

Putu Wijaya
http://www.jawapos.com/

Tiba-tiba saja istri saya murung. Saya jadi bingung. Dengan cemas saya intip terus kenapa dia jadi begitu banyak melamun. Saya khawatir pikirannya akan blong, lalu setan masuk. Kalau sudah ada di dalam, biasanya setan tidak akan keluar sebelum orangnya mati. Ketika beberapa kali dia tak menjawab waktu ditanya, saya mulai ketakutan. Yakin itu pertanda lampu merah…

”Puluhan tahun merawat Bapak, ibumu itu wanita hebat,” kata saya kepada Ani, anak kami satu-satunya.

”Ibumu tidak lemah sebagaimana umumnya anggapan orang tentang perempuan. Dia wanita perkasa. Bertahun-tahun dia banting tulang tanpa pernah mengeluh. Dia membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyiapkan makanan di dapur, melayani aku, belum lagi mendengarkan semua keluh-kesahku tentang kegagalan yang sambung-menyambung. Tak pernah sekali pun putus asa apalagi menyesal. Semuanya diterima dengan sabar, tawakal, hati besar, dan rasa hormat yang tidak pernah berkurang setetes pun, terhadap aku, suaminya. Meskipun aku sudah sering menipu. Segala janji yang aku umbar waktu kami mau menikah, tentang rumah, mobil, masa depan, dan sukses, semuanya memang hanya gombal. Ya, aku sudah mengkadalinya dengan seribu janji palsu. Tapi ibumu tidak pernah menggugat. Baginya itu semua adalah kenyataan yang harus diterima.”

Ani tertawa.

”Kau tidak perlu ketawa. Ini bukan untuk ditertawakan. Aku sedih, tapi mau apalagi, sebab hanya itu yang bisa aku berikan kepada dia. Aku bangga sebab ia bisa menerima segala kekuranganku.”

”Bagaimana tidak, kalau adanya hanya itu?”

”Persis! Memang itu yang selalu dia katakan!”

”Ibu kan selalu mencoba menolong Bapak.”

”Betul! Ibu kamu itu adalah orang suci. Tapi itu semua terjadi waktu dia masih muda. Sekarang dia sudah manula. Memang keinginannya tetap menggebu-gebu untuk mengabdi pada suami, tetapi pasti jasmaninya sudah tidak kuat lagi. Sekarang dia sudah rapuh. Kita tidak bisa mengharapkan dia seperti dulu lagi.”

”Tidak mungkin!”

”Tidak bisa! Aktivitasnya yang luar biasa dan sambung-menyambung itu sudah membuat ibumu sekarang lelah. Sepeda yang tua akan dilemparkan ke gudang dan tidak dipakai lagi, kalau ada yang baru. Tapi ibumu bukan sepeda. Dia manusia. Lagipula aku bukan jenis lelaki yang suka poligami. Istri adalah ratu rumah tangga. Dan itu cukup satu. Hanya saja kalau dia sudah lemah, kita mesti membantunya dan sama sekali bukan menggantinya. Seorang manusia tidak bisa digantikan oleh manusia lain, karena jiwa dan kehadiran seseorang tak ada duanya, tak bisa diganti. Kalau dia hilang, hilang saja dan kita kehilangan. Kalau dia lelah, dia berubah dan kita kehilangan, kita harus mengatasinya dengan cara paling tidak memperlambat kehilangan itu. Ibumu juga tahu itu. Tapi dasar jiwanya besar, semua itu tidak dia pedulikan.

Bapak sudah ribuan kali bilang dan terus bilang, sudah jangan terlalu memaksakan diri bekerja, tapi ibumu itu bukan ibumu kalau dia tidak tersenyum dan tidak mempedulikan permintaanku. Ia tidak ada waktu untuk berhenti, karena kalau dia diam, seluruh rumah menjadi beku. Itu fakta! Dia tahu, dia adalah pusat gerak di rumah kita ini. Jadi dia terus saja, terus saja bekerja. Jadi Ani, kita harus melakukan tindakan cerdas sekarang. Paksa dia supaya beristirahat dan bersenang-senang. Paksa minum susu, ajak nonton televisi. Jalan-jalan, makan angin, seperti ibu-ibu yang lain. Hidup bukan hanya di dalam rumah, di luar sana kehidupan lebih lengkap. Ibu kamu harus kita manjakan sekarang. Karena itu, kita perlu sekali cari pembantu untuk meringankan tugas-tugas ibumu!”

”Salah!”

”Apa?”

Ternyata Ani punya pendapat lain yang sebaliknya. Dia menyuruh saya duduk dan mendengarkan teorinya yang sama sekali berbeda. Bahkan bertentangan.

”Bapak duduk saja dan dengarkan baik-baik, sebab ini penting.”

”Kamu jangan takut, uang bulanan kamu tidak akan Bapak kurangi untuk bayar pembantu.”

”Silakan duduk!”

Terpaksa saya duduk.

”Jadi begini. Bapak sudah salah kaprah!”

”Salah kaprah?”

”Sudah dengarkan saja dulu. Kalau sudah mengerti boleh membantah. Kalau bisa. Kalau tidak, terima saja apa yang akan saya tunjukkan yang Bapak ingkari selama ini.”

”Hee! Apa maksudmu dengan ingkari?”

”Dengerin!”

”Tapi…”

”Mau denger tidak?!”

Ani membentak. Dengan dongkol terpaksa saya dengarkan.

”Jadi, coba ingat-ingat dengan sejujurnya, bagaimana ketika Bapak muda dulu. Ketika Bapak baru menikah dengan ibu. Ingat kan?”

”O ya dong! Kami saling mencintai dan saling menerima seluruh diri masing-masing, tidak seperti kalian yang muda-muda sekarang, hanya menerima sebagian dari orang yang jadi teman hidup kalian. Itu namanya bukan cinta tapi dagang! Akhirnya tidak sampai setahun sudah cerai!”

Ani menggeleng. ”Satu anak muda gagal, semua media rebut, tapi sepuluh juta yang lainnya berhasil didiamkan saja. Itu tidak adil! Bapak hanya menghitung yang dimuat oleh koran kuning itu, bukan yang nyata ada. Sudah, saya mau bicara dulu! Jadi, ketika Bapak muda, Bapak pasti terlalu egois. Betul tidak?!”

”Siapa bilang?”

”Semua anak muda egois! Itu tanda kegairahan hidup.”

”Jadi normal kan?”

”Siapa bilang tidak normal?”

”Bagus. Terus?”

”Menurut ibu, kalau dia telat masak, apalagi masakannya kurang enak, Bapak pasti ngamuk.”

”Ya dong! Itu wajar. Aku sudah banting tulang cari duit, apa salahnya aku menuntut makan enak? Itu bukan marah, itu hanya pernyataan orang yang lapar dan sudah capek!”

”Tunggu! Tak usah membantah. Nanti saya bela Bapak. Ibu juga mengerti. Dia paham, sebab Bapak yang banting tulang Bapak harus diperlakukan istimewa. Ibu mendukung kok, jangan takut. Sebab kalau Bapak sampai sakit, roda rumah-tangga akan berhenti berputar. Seperti kata Bapak, ibu adalah ratu rumah tangga, tapi Bapak juga adalah motor yang menggerakkan kehidupan rumah tangga. Kalau motor berhenti bekerja, kita semua habis!”

”O ya? Ibumu ngomong begitu?”

”Itu penafsiran Ani sendiri. Jadinya ibu selalu kerja mati-matian membuat rumah bersih, supaya Bapak puas. Tidak hanya di meja makan tapi juga, maaf terus-terang saja, di tempat tidur. Ya nggak?!

Sudahlah, Ani sudah dewasa, jadi Bapak harus jujur tentang apa saja. Ani nanti juga pasti akan mengalaminya kalau sudah berkeluarga. Di samping itu, kembali ke ibu, tugas ibu yang lain bertumpuk. Ani sendiri juga harus diurus. Karena anak tunggal, mengurus Ani pasti lebih sulit dari mengurus lima anak. Kata ibu, Ani supercerewet, lebih cerewet dari Bapak. Kurang diperhatikan sedikit, Ani pasti ngambek. Diajak diskusi, menutup mata dan telinga! Jadi ibu terpaksa ekstra hati-hati. Akhirnya kedudukannya memang kepencet seperti banana split. Tapi jangan salah. Manusia yang kepencet bukannya tambah lembek. Terutama perempuan. Umur perempuan menurut riset lebih panjang dari kebanyakan lelaki, justru karena lebih banyak menderita. Seperti olahragawan, kalau badannya ditempa terus, ia menjadi keras dan liat. Jadi, karena tugas berat, ibu menjadi ampuh, sehat, kuat, dan berkepribadian mantap. Alias arif bijaksana. Betul tidak?”

Saya mengangguk sambil mencoba menduga-duga anak itu mau ngomong apa.

”Setuju tidak?”

”Setuju!”

”Nah, sekarang Bapak sudah tua bangka, maaf sudah tambah usia. Bapak juga jadi bijaksana, Bapak tidak banyak menuntut lagi. Ani juga sudah mulai mandiri. Akibatnya, parah, ibu jadi kehilangan beban. Kehilangan keseimbangan. Dalam kehilangan keseimbangan, ibu jadi tak punya arah.

Seperti layangan putus, ibu melayang dan bingung, merasa dirinya tidak berarti. Kehilangan arti sangat berbahaya, karena ibu jadi kehilangan kepercayaan diri. Kehilangan kepercayaan menyebabkan ibu bertanya apa gunanya lagi hidup kalau tidak bermanfaat. Itu pertanyaan yang sangat, sangat berbahaya. Ya kan Pak?”

Saya terkejut.

”Ya atau tidak?”

Ketika saya mau menjawab, Ani lebih dulu bicara. ”Kalau sudah mata gelap ibu bisa bunuh diri.”

”Ani!”

”Ya! Jadi ibu bukan membutuhkan seorang pembantu, Pak, ibu membutuhkan siraman jiwa. Bapak paham maksudku?”

”Siraman jiwa?”

”Ya.”

”Maksudmu cinta?”

”Itu juga.”

”Kalau itu Bapak sudah berikan! Apa dia tidak merasa?”

”O ya tentu saja. Ibu cukup peka dan jujur. Ibu merasakan cinta Bapak sepenuhnya. Tapi cinta saja tidak cukup!”

Saya kembali terkejut.

”Jadi ibumu menuntut materi?”

”Bukan!”

”Ibumu tidak cetek. Moralnya tidak sehina itu!”

”Siapa bilang dia hina?!”

”Lalu apa?”

Ani berpikir.

”Ibu kamu itu bukan gila materi Ani! Imannya masih kuat. Dia bukan benci atau pura-pura tidak butuh duit. Dia itu tahu bahwa duit itu perlu bahkan sangat penting. Tapi dia memang tidak pernah percaya bahwa duit yang menentukan segala-galanya. Bagi dia yang lebih menentukan adalah manusia. Dan ibu kamu sudah membuktikan bahwa apa saja yang bisa didapatkan oleh uang bisa didapatkan oleh manusia, kalau perasaannya sudah terlatih. Itu ibu kamu, tahu! Karena itu aku memilih dia dari sekian wanita-wanita cantik yang lain.”

”Tahu!”

”Kalau tahu, jangan coba-coba membandingkan. Manusia tidak bisa dan tidak perlu dibandingkan!”

”Siapa yang membandingkan!”

”Kamu! Jadi, ha-ha-ha, jangan coba-coba memanfaatkan keadaan ibumu kalau kamu sendiri yang ingin punya rumah bagus, mobil atau duit banyak. Ibumu sama sekali jauh dari tuntutan begitu-begituan! Kalau…”

Ani memotong.

”Bapak ngelantur!”

”Tidak! Aku mencoba mengajak kamu kembali pada kebenaran. Bagaimana mulianya hati ibu kamu itu!”

”Bapak coba duduk lagi!”

Saya sudah berdiri dan mau pergi. Tapi Ani dengan keras memaksa duduk. Setelah duduk, dia masih menunggu supaya saya tenang. Setelah itu, ia berbisik.

”Kita harus membawa ibu ke dokter.”

Saya terhenyak. ”Apa? Dokter? Ibu kamu tidak sakit!”

”Maksud saya konsultan, bukan dokter.”

”Konsultan?”

”Ya. Psikolog!”

Saya terperanjat. ”Ani! Kau pikir ibumu gila apa?”

”Bukan hanya orang gila saja yang harus konsultasi ke psikolog, orang sehat juga melakukannya sebelum telanjur sakit.”

”Kamu ngawur! Ibumu itu waras sewaras-warasnya, seperti kamu dan Bapak!”

”Bapak dan Ani juga harus ikut untuk dites!”

Aku ternganga. ”Ibu kamu mau kamu tes?”

”Bapak juga!”

”Edhan, kamu edhan! Kamu yang harus ke dokter jiwa!”

”Yak! Ani juga! Kita bertiga sama-sama ke psikolog. Kita terus-terang saja nanti bahwa belakangan ini ibu terlalu banyak melamun.”

”Apa salahnya melamun? Aku juga suka melamun bukan karena sakit tapi karena berpikir.”

”Nah itu dia. Bahaya sekali!”

Aku bengong.

”Kita semua, bertiga, Bapak, Ani juga, sama-sama konsultasi ke psikolog,” kata Ani kemudian membujuk ibunya. Aku diam saja seperti kambing congek.

”Bukan karena kita gila, Bu, tapi untuk mencegah supaya jangan ikut gila dalam keadaan dunia yang semakin aneh ini. Psikolog itu teman Ani, jadi tidak usah bayar. Ani juga sudah menjelaskan kepada dia, bahwa kita bertiga mau konsultasi untuk mendapat bimbingan bagaimana menghadapi persoalan-persoalan kehidupan yang sudah semakin sulit ini. Masak setelah reformasi malah semakin banyak pejabat yang korupsi. Masak dalam kemerdekaan kita semakin miskin dan menderita. Kalau begitu apa gunanya kemerdekaan. Katanya partai adalah organisasi yang menghimpun kekuatan untuk melindungi kepentingan rakyat dan negara, tetapi nyatanya partai menjadi kerajaan yang menyebabkan negara menjadi lemah. Mengapa pergantian tahun selalu kita hadapi dengan perasaan cemas, seakan-akan tahun baru adalah ancaman baru yang lebih buas? Jadi begitu. Ibu mau mendampingi Bapak dan Ani?”

Karena dibujuk seperti itu, istriku akhirnya menyerah. Lantas kami bertiga mengunjungi psikolog.

***

”Kami bertiga sama sekali tidak sakit,” kata Ani kepada psikolog temannya. ”Tetapi kami datang hanya untuk melihat dengan lebih jelas,apakah ada yang rawan dalam ketahanan jiwa kami menghadapi tantangan tahun baru, agar kami nanti dapat tetap bekerja secara normal dan jiwa yang sehat.”

Psikolog lalu menoleh pada saya.

”Ya, itu betul,” kata saya cepat karena merasa diminta bicara. ”Kami datang untuk mengetahui apakah kami tidak salah melangkah selama puluhan tahun ini. Kalau ada kesalahan, kami ingin memperbaikinya. Karena meskipun kami adalah tiga jiwa dan tiga tubuh, tapi hati kami adalah satu di dalam keluarga. Jangan sampai di antara kami tidak ada pembagian rasa yang sama. Jangan sampai salah satu kami tertekan karena tidak berani menyampaikan unek-unek, gara-gara khawatir mengganggu perasaan yang lain. Terus terang, kami datang untuk bisa lebih menyatu dan padu lagi sebagai keluarga.”

Psikolog itu mencatat. Tetapi kemudian ia berhenti, karena sudut matanya melihat istri saya mulai termenung. Saya terpaksa ikut melirik. Ternyata pelupuk mata istri saya bergetar. Ani juga menoleh saat kedua bibir ibunya bergetar, seperti sedang berjuang untuk mempertahankan sesuatu.

Sepi sekali di dalam ruangan praktik psikolog itu, sehingga detak jarum jam duduk terdengar jelas. Lalu seekor cecak berdecak di langit-langit ruangan. Waktu itu, istri saya tidak mampu lagi menahan tangis. Lalu butir air mata merambat di pipinya.

Ani menoleh pada psikolog sambil memberikan isyarat, seakan-akan berkata: ”Itu lihat sendiri. Jiwa ibuku sedang labil.”

Psikolog cepat meraih kotak tisu, lalu mengulurkan selembar. Istri saya menerima lalu menghapus air matanya. Tanpa ditanya kemudian dia bercerita.

”Sudah puluhan tahun, tahun berganti. Saya tidak pernah bertanya ke mana segala yang sudah terjadi akan pergi. Apa terus hilang begitu saja. Atau tersimpan di sebuah tempat yang tidak kelihatan. Tempat yang pasti besar sekali karena setiap tahun akan datang lagi apa yang sudah kejadian di dalam satu tahun. Bagaimana kalau tempat itu penuh. Ke mana semua itu harus dibuang?”

Dia membersihkan ingusnya, lalu menyambung. ”Tiba-tiba saja tak sengaja terpikir. Baru sekarang saya merasa disapa. Segala yang terjadi dalam setahun ini, seakan-akan pamitan. Dia mengatakan kita akan berpisah, karena dia harus pergi dan tidak pernah akan kembali lagi. Perasaan saya jadi remuk. Baru sekarang saya sadari bahwa ada sesuatu yang lama dan akan hilang dan ada sesuatu yang baru yang harus kita pelajari agar kenal. Tetapi nanti setelah itu, semua yang baru itu juga akan pergi dan hilang. Pergi terlalu cepat sebelum kita benar-benar bisa mengenalnya. Itu membuat pikiran saya terganggu. Untuk pertama kali di dalam hidup saya, baru kali ini saya sadari, bahwa tahun berganti.”

Psikolog mengulurkan beberapa tisu lagi. Air mata istri saya kembali berhamburan.

”Sudah hampir 30 tahun berlalu, kenapa baru sekarang saya sadar sebuah tahun akan tergelincir ke tepi waktu, lalu lenyap entah ke mana. Sementara kita menjadi lebih tua, mungkin sekali makin dewasa, tetapi belum tentu tambah bijaksana. Menjadi tua bisa saja menjadi lebih bodoh, malas atau pemarah, karena sudah mengalami banyak hal yang mengecewakan. Semua itu membuat saya menangis, meskipun sebenarnya saya benci menangis karena cengeng. Maaf.”

”Oh tak apa-apa, Bu, bicara saja terus. Itu baik untuk mengendorkan emosi.”

Istri saya menggeleng.

”Tidak. Sudah cukup. Saya tidak bisa menangis terus. Selama ini saya terlalu sibuk bekerja. Saya lupa memikirkan bahwa saya harus berusaha mengenalnya, sebelum dia hilang.”

Kurang mengerti saya nyeletuk. ”Dia siapa?”

”Masa lalu itu! Mesti aku merawatnya agar tahu apa bedanya dengan yang baru datang. Aku sedih, mungkin kebanyakan perempuan atau jangan-jangan hampir semua perempuan nasibnya seperti aku ini.”

Istri saya tak melanjutkan, karena kemudian ia menangis tersedu-sedu. Ani terkejut. Ia cepat menghampiri lalu memeluk ibunya. Ia mengajaknya berdiri lalu menggiringnya pulang. Psikolog itu tidak berusaha mencegahnya.

Tinggal saya.

”Maaf.”

”Ya?”

”Maaf.”

”Kenapa, Pak?”

”Mestinya hanya saya, bukan istri anak saya yang datang kemari. Mereka waras.”

”Tak apa Pak, itu sudah jadi tugas saya.”

”Maaf.”

”Kenapa?”

”Saya sudah stadium berapa?” (*)

Jakarta 18 Desember 08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *