JANGAN PERGI

Reni Lismawati
http://media-jawatimur.blogspot.com/

Aku menemukan sesuatu di bola matanya. Suatu kehidupan yang mungkin tak akan pernah aku dapatkan dari bola mata siapa pun. Mata itu yang memberi aku kehangatan dalam keteduhan pandangannya saat aku benar-benar rapuh oleh hujatan-hujatan dunia. Ya Tuhan, aku tidak mau kehilangan bola mata yang teduh itu. Bola mata yang selalu membuat aku semangat untuk melangkah.
***

Malam ini aku langkahkan kakiku menuju tempat yang menyakitkanku. Sebab di tempat inilah, semua bola-bola mata keteduhan dalam batinku harus lenyap dan hilang dalam kerasnya penderitaan. Ibuku, orang yang benar-benar berarti untuk aku. Keteduhan matanya yang selalu membuat hatiku tenteram. Dia meninggalkanku di tempat ini. Dan kini, Mas Farhan kekasihku, terbaring tak berdaya di sini.

Malam ini, tepat pukul 19.00. Sungguh jarum jam begitu cepat berputar. Menghabiskan sisa-sisa panjang usianya yang semakin hilang. Dia berbaring di atas dipan dengan berselimut kain putih. Matanya yang teduh itu kini seperti tiada lagi. Dia sepertinya lelah. Dan mata itu kini berbaring tanpa kehangatan yang menyelimutinya. Setiap saat, dia mengerang kesakitan. Aku tak tega melihat mata itu. Mata yang memberiku kehidupan. Namun kini dia tidak punya kehidupan sendiri. Aku merasa sakit.

?Jangan pernah menutup matamu yang indah ini untukku. Walaupun mataku akan tertutup. Jika mataku tertutup, matamulah yang akan jadi mata ke duaku untuk melihat dunia.? begitu ujarnya. Kata-kata itulah yang tidak mampu aku lupakan dalam hidupku.

Aku pulang dengan kecemasan dan banyak pertanyaan. Apakah mata teduh itu tetap jadi milikku?!!?…. Dalam setiap dukaku?!!?. Apakah mataku yang akan berduka jika ia tinggalkan aku dalam kesepian ini?!?.

Kangker telah mengambil tubuh dan matanya dari hidupku. Apakah nyawanya juga akan meninggalkan aku? Ya Tuhan ? cukup tubuhnya saja yang berbaring. Dan matanya selalu beristirah. Tapi, nyawanya jangan perna ambil dari sisiku. Dia begitu berarti untukku. Keteduhan matanya dan kearifan tutur katanya yang membuatku tidak akan pernah mau kehilangan dia. Dia yang selalu mengajarkan aku untuk selalu dekat dengan Allah. Cara dia mencintaiku yang tak pernah aku temukan pada laki-laki lain. Meski pada waktu itu, kita hanya bertemu sebatas tak sengaja waktu di kampus. Kita hanya sebatas surat menyurat, itu pun kadang enggan dia lakukan. Sebab baginya menulis surat cinta adalah sebagian dari dosa.
***

Sabtu pukul 09.00 tepat, kabar menghantam telingaku. Terasa hancur lebur jiwa ragaku. Dia?dia telah pergi dengan beribu-ribu bahkan berjuta-juta cinta dan kasih sayang yang menetes bersama tetesan air mataku. Ya Tuhan? kenapa Engkau ambil dia dari hidupku dengan beribu-ribu kenangan. Dan beribu-ribu kesedihan. ?Apakah mataku tetap menjadi mata keduanya?!? begitu pikirku. Mata itu telah pergi. Jauh dariku bersama keteduhannya. Dan mungkin aku tidak akan menemukan keteduhan mata yang dimilikinya. Dia telah mencuri hatiku.

Hari ini aku begitu tersiksa. Aku langkahkan kakiku menuju pemakamannya yang masih basah dan begitu banyak bertabur bunga. Hatiku semakin tersayat. Apakah mata teduh itu juga terkubur di dalam sana?!? Dan apakah dia sekarang memandangku dari sana?!? Suara langkah kaki membuyarkan lamunanku yang tiada terasa meneteskan beberapa air mata. Dengan menyodorkan selembar amplop, dia berkata ?Biarkanlah dia bahagia di sana!!……?. Begitu pahit perkataan itu menempel di hatiku. Aku semakin merasa bahwa mata teduh itu takkan kembali.

Ku buka amplop putih dengan corak bunga-bunga yang lembut warna merah. Seperti dirinya yang lembut bersama kasih sayangnya. Pun sebait demi sebait ku baca untaian kata dalam amplop itu.

Assalammu?alaikum?.
Lia, telah aku ukir namamu di hatiku. Dan tak ku coba hilangkan bayanganmu di mataku. Karena kau begitu berarti untukku. Walaupun aku begitu takut akan dosa Lia…. Namun kini Tuhan begitu ingin nyawaku. Jadi biarkan aku tenang dengan Tuhanku!!!. Jangan menangis Lia!!!

Lia, sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan padamu, tentang kebahagiaanku yang telah mendapat restu dari orang tuaku untuk melamarmu, dan dukaku karena aku tak mungkin menikahimu karena penyakitku ini. Lia, bukan karena aku tak mau bercerita padamu, hanya saja aku tak mau kau sedih sebelum waktunya.

Lia? aku harap kau tidak menyesal atas kepergianku. Aku ingin kau mencari orang yang lebih baik dariku. Orang yang bias menjadi pendampingmu selamanya. Dan tidak akan meniggalkanmu seperti aku !!

?Farhan?
Air mata deras mengalir membasahi pipi ini. Ternyata mata teduh itu hilang sudah dari kehidupanku. Apakah aku bisa dapatkan mata teduh itu kembali?!? Apakah aku bisa mendapat seorang dengan mata seteduh Mas Farhan?!?

Beribu-ribu pertanyaan mengoyak ragaku. Bahkan sang waktu pun tak mampu menjawabnya untukku. Kini tinggal kebisuan dalam hidupku. Kebisuan yang selamanya akan menjadi milikku….

Ku berjalan terus tanpa henti
Dan dia kini telah pergi…
Ku berdo?a di tengah indah dunia
Ku berdo?a untuk dia yang… ku rindukan
Memohon untuk tetap tinggal
Jangan engkau pergi lagi…
Berselimut di tengah dingin dunia
Berselimut dengan dia yang ku rindukan
Would be nice
To hope you
Would be nice
To take your home
Would be nice
To kiss you?
Memohon untuk tetap tinggal
Dan jangan engkau pergi lagi
Bernyanyilah na?. na? na?
Menyanyilah untuk dia yang ku rindukan
Jangan pernah lupakan aku, jangan
Hilangkan diriku. 1

Aku berjalan tanpa arah yang pasti. Aku tak pernah memiliki tujuan hidup yang berarti. Hanya tujuan untuk bisa mengubur kenangan tentang mata itu. Seperti mengubur jasad Mas Farhan… Aku sadar semua mahluk pasti akan mati, tapi? Rasanya aku belum ikhlas untuk melepas kepergian Mas Farhan. Bagiku, kepergian Mas Farhan begitu cepat. Aku tak sanggup menerima semua kenyataan ini. Sungguh!
***

Tiga tahun berlalu sudah. Aku masih tetap menyimpan kenangan itu dengan baik dan rapi dalam hatiku. Dan mungkin tak akan aku hilangkan semua kenangan itu, walaupun aku telah mendapat pengganti Mas Farhan.

Tetapi begitu susah untuk mencari paengganti Mas Farhan walaupun selama ini telah ada enam orang yang melamarku. Dan semuanya aku tolak. Aku masih menuggu seseorang yang mempunyai mata seteduh mata Mas Farhan. Dan sifat yang selembut sifat Mas Farhan. Tak tahu sampai kapan… Mungkin saja sampai ada keajaiban untuk kembali dan bersama Mas Farhan. Atau hingga aku menyusul Mas Farhan ke dunianya.

?Jika sang waktu tak dapat mempertemukan kita, biarkan dia terus berlalu dengan membawa segala kenangan… Kenangan yang telah kita buat bersama. Hingga dia mempertemukan kita dalam gerbang surga dengan beribu-ribu kenikmatan cinta? **

Lamongan, 26 Februari 2008

1) Lirik lagu (Jangan Lupakan Aku) yang dipopulerkan Band Nidji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *