JERITAN LILIN KECIL

Is Faridatul Arifah
http://media-jawatimur.blogspot.com/

Pagi ini, rupanya sang surya mulai menantang hidup yang selalu berselimutkan kegagalan. Di sini, di kota ini. Kota yang penuh akan tantangan dan perjuangan. Mau tak mau harus kami lalui untuk menyambung hidup. Sejak aku umur 12 tahun, ayah dan ibu sudah meninggalkan kami. Sejak itu, kami berjuang untuk hidup sendiri. Kami begitu mendambakan kasih sayang sebuah keluarga.

?Ah,? serasa hidupku dipermainkan oleh dunia.? gumamku sambil menepuk-nepuk dada. Sekarang aku dan adikku tinggal di kolong jembatan. Kudirikan gubuk kecil dengan penghuni lilin-lilin kecil. Berteman dengan hewan-hewan kecil dan sampah yang berserakan. Kami mencari makan dengan berprofesi sebagai pemulung. Kami tak sungkan ataupun minder. Karena menurut kami itu salah satu pekerjaan yang halal dan tak merugikan orang lain. Tapi kadang kami juga merasa iri ketika melihat teman sebaya memakai seragam sekolah. Kami hanya sangat ingin sekolah seperti mereka. ?Tuhan adakah secerca kebahagiaan yang tersisa buat kami?? Ya, pertanyaan itulah yang selalu mengusik hidup kami. Siang dan malam kami selalu berusaha dan berdo?a. Berharap dunia akan takluk. Bertekuk lutut di kaki kami. ?Ah, mungkin ini hanyalah hayalan sebuah lilin kecil yang mendambakan kebahagiaan.? Tiba-tiba adikku datang dan duduk di sampingku.

?Kak, aku kangen bapak dan ibu. Sebenarnya mereka ada di mana Kak?? rintihnya.
Mataku terbelalak ketika Nia menanyakan hal itu. Aku mencoba menyembunyikan kenyataan itu dengan sedikit kebohongan.

?Iya, Kakak juga kangen sama mereka. Tapi kamu sabar ya. Mereka sekarang sedang bekerja mencari uang untuk kita.? kataku lirih.
Ibu?..
Kami rindu kehangatan pelukmu
Kami rindu belaian kasihmu
Kami rindu pancaran senyummu
Andai?.
Engkau masih bersama kami
Bercanda dalam keakraban hati
Berbicara menyusup nurani
Tuhan?..
Kami tak bisa tanpa mereka
Kami galau, kami rindu
Kami haus kasih sayang mereka
Kembalikan mereka ke dalam hati kami
Temani dalam peraduan, tenggelam dalam kedamaian
Kami yakin kalian bahagia di sana.
Jeritan hatiku merintih sambil kupeluk tubuh mungil adikku.
***

Tiga hari sudah perut kami tak terisi sekepal nasi. Dan adikku rupanya mulai sakit-sakitan. Aku bingung harus berbuat apa. Dengan tubuh lemas, Nia meraih tanganku dan mengiba padaku.

?Panggil ibu Kak. Nia kangen. Nia lapar. Nia sudah tak kuat.? katanya dengan lemas.
?Iya, sabar ya Nia. Kakak mau cari makanan dulu. Siapa tahu kakak dapat rizki.? kataku dan aku coba berlari sekencang-kencang mungkin mengalahkan angin yang berhembus menusuk sukmaku. Tibalah aku di sebuah warung penjual nasi. Kupandangi makanan yang berjajar di sana. Dengan sedikit menelan ludah, tiba-tiba pemiliknya datang membawa sepiring nasi bekas pembeli.

?Boleh saya minta nasi itu Pak?? kataku sambil menunjuk ke arah piring itu.
?Enak saja kamu. Itu ambil kalau mau.?
Nasi itu dibuangnya ke tong sampah. Dengan hati teriris, aku mencoba mengumpulkan nasi yang berserakan itu. Kuambil yang masih bersih. Dan aku masukkan ke dalam kantong plastik. Kemudian aku berlari menuju gubuk reotku.

?Nia, lihat, Kakak bawa makanan. Kamu makan ya.? kataku.
Nia memandangiku dan mengusap butir air mata yang selalu setia membasahi pipi.
?Kakak suapin ya? Maafin aku Nia. Kakak tak bisa menjagamu.? kataku dalam hati.
?Kakak tidak makan?? gumamnya lirih.
?Tidak, Kakak sudah kenyang kok.?

Kupegang kening Nia. Suhu badannya semakin tinggi. Aku berniat membawanya ke rumah sakit. Tapi bingung. Harus dengan apa aku bawa dia ke sana? Aku tak punya uang sepeserpun untuk biaya rumah sakit.

Kuambil baju yang terpajang di belakang pintu. Kuambil liontin. Lalu secepat kilat aku berlari menembus kegundahan. Berteman air mata yang terus mengalir tak terbendung. Sudah berkilo-kilo meter bahkan berpuluh-puluh kilo meter aku mencoba menawarkan liontin peninggalan ibu. Tapi tiada seorang pun tertarik. Bahkan untuk meliriknya saja tak ada yang mau. Nyapapun mereka enggan. Memang apalah arti dari sebuah liontin perak yang sudah kusam dan lusuh.

Tepat jam 11 siang. Saat aku duduk di sebuah taman yang indah dengan bunga-bunga yang bersemi mengelilingi indahnya air mancur. Berpadu dengan pancaran cahaya matahari yang mengikis bumi. Ku sandarkan tubuhku yang kurus di bawah rindangnya sebuah pohon.
?Ya Allah, mengapa Engkau bebani hamba dengan sesuatu yang tak mungkin hamba hadapi. Ya Allah, tabahkanlah hatiku.? keluhku dengan rasa hati yang terbebani.

Sambil melihat sebuah liontin yang sedari tadi bersahabat dengan tanganku. Sesaat aku teringat kepada ibu. Betapa beliau sangat menyukai liontin ini. Tiba-tiba di sampingku berdiri tegap sesosok lelaki dan melempar secuil senyumnya untukku.
?Hay, kok sendirian. Liontin kamu bagus banget. Apa liontin itu kamu jual?? tanyanya
?I?i?iya.? kataku gagap.

?Boleh aku melihatnya. Em??kamu kasih berapa?? tanyanya sekali lagi.
?Terserah anda.? gumamku
Lalu ia mulai merogoh saku kemejanya. Dan mengeluarkan selembar kertas berwarna biru.
?Ini, ambil.?

Aku tersenyum dan mengambil uang yang dia sodorkan kepadaku.
?Terima kasih.? jawabku sambil berlari. Saking senengnya aku tak lagi menghiraukan panggilannya. Saat aku berada di sebuah jalan yang berwarna hitam dan berpadu dengan garis vertikal putih, tanpa kusadari sebuah mobil menyerempetku. Tapi tak apa. Meskipun kakiku sakit, aku tetap berlari karena adikku sudah menunggu kedatanganku.
?Hay tunggu, siapa namamu??

Sepertinya seseorang yang menabrakku itu memanggil aku. Tapi tak sedikit pun kupedulikan. Aku tetap berlari karena adik kecilku telah menunggu. Tapi apa yang terjadi? Ketika aku sampai, kulihat wajah Nia pucat pasi. Dan suhu badannya semakin meninggi. Tanpa berfikir panjang, kuguendong tubuh kurus itu. Seperti mayat hidup tubuhnya. Sudah lemah tak berdaya. Bebrapa saat kami tiba di rumah sakit. Bukan penanganan ataupun pengobatan yang kami terima, melainkan cemooh dari orang-orang yang pintar yang tak tahu kepintarannya.

?Hey, mau apa kamu ke sini?? kata seorang dokter yang baru keluar dari kamar ICU.
?Adik saya sakit Dok. Tolong obati dia.? kataku sambil memelas penuh iba.
?Apa aku tak salah dengar? Emang kamu berani bayar berapa?? kata dokter itu.
?Saya cuma punya uang Rp. 50.000,00 dok. Tapi saya janji akan membayar semua kekurangannya. Saya janji Dok!? kataku sambil menyodorkan selembar uang itu.
?Ha..ha? cuman 50.000,00! Apa tidak salah?? kata dokter itu sambil membolak-balikkan uang itu dan melemparkannya tepat di mukaku.

?Tolong Dok obati adik saya.? kataku sambil bersujud di kakinya. Walau kutahu hal itu tidak pantas untuknya. Selang beberapa waktu dia melepaskan kakinya dari tanganku. Dan berjalan bak peragawati patah tulang. Kami hanya mampu menangis. Dan sepertinya adikku sudah tak kuat. Harus ke mana lagi aku melangkah. Semua rumah sakit telah kami singgahi, tapi tak satu pun dari mereka berbelas kasih. Kami berjalan menyusuri jalan yang tiada ujung. Dan sesekali merintih.

?Ya Allah, sampai kapan akhir dari semua ini?? rintihku
Adikku semakin lemas tak berdaya. Pada akhirnya dia pun menghembuskan nafas terakhirnya di atas gendonganku. Seketika itu aku menjerit.
?Tida??k, Nia??.. jangan tinggalin kakak sendirian Nia.. Nia, bangun?.? jeritku sambil memeluk jasad adik kecilku.

?Kamu pernah bilang sama Kakak, kamu harus terus menemani Kakak sampai kapanpun. Iya kan Nia!. Nia bangun. Nia, Nia??!!?
Jeritku kembali memecah bisingnya kendaraan. Tanpa sadar seseorang mendekatiku. Rupanya dia yang membeli liontin dan menabrakku tadi siang. Aku hanya bisa bersandar lemah di tepi jembatan.

?Kamu harus tegar. Ini adalah cobaan.? katanya sambil menepuk pundakku. Tapi aku hanya mampu menangis meratapi kepergian adikku tuk selamanya.
?Mari kita makamkan bersama.”

Aku hanya bisa mengangguk. Dan dia menggendong jasad tak bernyawa itu ke dalam mobilnya. Jembatan dan derasnya aliran sungai itu menjadi saksi bisu kegundahan hati ini. Jasad Nia kami kuburkan tepat di samping gubuk reotku. Kupeluk nisan yang berwarna putih itu dengan linangan air mata yang tak pernah kering. Disaksikan ilalang dan rumput liar. Bersinarkan senja merah yang mulai redup sepi. Bunyi di balik awan kembali dalam peraduan. Entah, aku masih belum rela atas kepergian Nia. Aku selalu bertanya-tanya, apakah Tuhan tak sayang padaku? Kini aku harus bisa hidup sendiri melawan kepalsuan. Dan bermain dengan kenyataan yang harus aku perjuangkan.
?Ya Allah, sungguh begitu berat perjalanan hidup ini!? gumamku.

Sampai sang sunyi datang, aku masih termangu menyaksikan adikku yang sedang menikmati tidur panjangnya. Aku hanya mampu berdo?a agar Nia bahagia di alam kedamaian itu. Aku tak tahu kapan dia datang. Tiba-tiba dia duduk disampingku dan mencoba menghiburku.

?Yang sabar ya. Oh ya aku Fahmi.? katanya dengan mengulurkan tangan pertanda keakraban.
?Rifha.? Kataku.
?Ini aku bawakan makanan. Dimakan ya. Kalau anggak entar sakit loh. Sudah relakan saja dia. Aku yakin adikmu pasti bahagia di sana.? bujuknya sambil menyodorkan bungkusan itu kepadaku.

?Kamu kenapa repot-repot datang ke sini?? kataku dengan pandangan kosong.
?Kalau boleh jujur, demi Allah aku sayang sama kamu. Sejak pertama kali kita bertemu, aku rasa kamu berbeda dengan gadis-gadis yang lain.? katanya sambil memegang erat tanganku. Dan sorot mata yang tajam itu seolah penuh harap.

?Ah, bulsyit. Kamu tidak bisa semudah itu merayu aku. Aku tak seperti cewek-cewek yang kamu temui.? bentakku
?Ok, kamu terserah mau bilang apa ke aku. Tapi sekarang aku minta kamu makan dulu. Nanti kamu sakit, ya. Udahlah Allah kan??
?Cukup, jangan sebut itu! Di mana letak keadilan dan kasih sayang-Nya?? kataku dengan kegalauan.

?Hay Rif, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan barusan?? kata Fahmi.
?Memang kamu tak merasakan apa yang selama ini aku rasakan. Bagaimana rasanya menjadi orang bodoh dan miskin sepertiku yang selalu dihina dan dicaci tiada henti. Sakit? sakit? rasanya hati ini. Berbeda denganmu. Sungguh, kamu tak pernah merasakan apa yang aku rasakan.!? kataku dengan derasnya air mata bak air terjun yang turun dari kelopak mataku. Dan semua menjadi hening. Hanya suara binatang- binatang kecil yang memecah kesunyian. Aku kembali merintih sambil mengusap air mata itu.

?Apakah adil kalau anak miskin dalam kebodohan harus kehilangan kasih sayang sebuah keluarga? Sejak kecil aku dambakan hal itu. Tapi apa yang kudapat? Malah aku sekarang kehilangan semuanya. Kehilangan masa depan, juga adikku. Dan sekarang aku sendiri berjuang melawan kemunafikan ini. Apakah itu yang dinamakan adil dan sayang??
Kini tangisku tidak bisa kubendung lagi. Luka dan kedukaan hati menjadi teman abadi. Isak tangisku semakin mengeras. Menyelimuti kebimbangan ini. Dia pun merangkul tubuhku dan berbisik halus mencoba mengingatkan diriku kepada Tuhan.

?Sudah. Istighfar Rif. Istighfar.? katanya seraya ingin mendamaikan jiwaku.
?Astaghfirullah hal adzim. Ya Allah, ampuni dosaku.?
Kutemukan kedamaian dalam pelukan Fahmi. Dialah sosok lelaki yang aku rindukan. Yang mampu memadam emosi dalam jurang kegelapan.
?Apakah kau mau menerimaku dan tinggal bersamaku? Aku damai di sampingmu.? katanya.
?Ya, tapi?? kataku ragu

Lalu dia menutup bibirku dengan jari telunjuknya. Dan menggelengkan kepala seraya dia tidak mau mendengar kata yang hendak aku katakan.
?Terima kasih Tuhan. Kau berikan aku kebahagiaan yang selama ini aku nanti. Ridhoilah jalan hidup yang telah kami pilih ini.? pintaku dalam hati.

Seraya angin, bulan dan sahabat-sahabat kecilku ikut merasakan kebahagiaan ini.
?Bapak, Ibu dan Nia, semoga kalian juga bahagia di sana. Seperti kebahagiaan yang kini kurasa.? gumamku dalam hati.
Dan aku mulai terlelap dalam timangan sang sunyi, bersama kehangatan cinta kasih.**

Lamongan, 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *