Lelaki yang Menghindari Hujan

Satmoko Budi Santoso
http://www.balipost.co.id/

Kisah yang paling menarik kuceritakan barangkali adalah soal hujan. Banyak ingatan peristiwa berharga yang akan menyembul ketika aku berbicara tentang hujan. Peristiwa-peristiwa yang tak diam-diam menyungkup di kepala, menjdai endapan alpa yang terbuang begitu saja. Tapi, apakah aku masih perlu mengenang hujan?

KURAPIKAN syal yang kukenakan, hampir saja beranjak pulang, ketika tak seorang pun yang kutunggu di kafe itu datang. Tak ada seorang kawan yang menepati janjinya, sekadar menghabiskan waktu bersama denganku. Bukan apa-apa. Aku suka berkelakar. Biasanya, kalau semua kawanku menepati janjinya untuk datang, aku bisa berkelakar tentang apa saja. Kelakar-kelakar yang ringan, kelakar-kelakar yang bisa dipantik entah dari isi kiriman SMS yang saru, entah masa kecil yang memalukan.
Yang pasti, justru bukan kelakar tentang hujan.

”Ssst,” kataku, ketika seorang kawan akan memulai kelakarnya dengan hujan. Sungguh, siapapun yang akan memulai berkelakar tentang hujan, aku segera menyergap perhatian, mengalihkan pembicaraan.

Pertemuan terakhir antara aku dan kawan-kawanku malah membicarakan peristiwa yang — syukurlah — sangat jauh dari kemungkinan hujan. Waktu itu, seorang kawan memancing perbincangan dengan berbicara masalah kebiasaan suatu masyarakat, yang mempercayai kutukan bernama pulung gantung. Jadi, menurut kawanku, ketika ada celeret cahaya merah dari langit turun di sebuah kampung, tak lama lagi akan ada orang yang bunuh diri. Celurit, belati, kelewang, sabit atau benda tajam apa pun bukanlah alat pengantar kematian secara akrab, karena orang yang bunuh diri akan memilih gantung diri. Berarti, yang paling berguna sebagai pengantar kematian hanyalah tali gantungan berwujud tambang kecil atau sobekan kain menjelujur, pokoknya yang mampu menghentikan aliran darah pada tenggorokan, pada leher, dan si penggantung diri benar-benar akan mati.

Keyakinan itulah yang menggerakkan orang-orang di sebuah kampung yang dirahasiakan kawanku itu sehingga ketika ada seorang warga kampung yang melihat celeret cahaya merah seperti meteor jatuh, maka buru-burulah semua warga kampung memukul kentongan, sebagai tanda mengusir kemungkinan jatuhnya korban seorang warga kampung yang akan bunuh diri. Tak cukup hanya dengan memukul kentongan, semua warga kampung akan bersepakat untuk secepat mungkin mengadakan ruwatan dengan cara membikin orang-orangan seperti memedi sawah, yang dianggap sebagai pengganti seseorang yang mau bunuh diri.

Orang-orangan itulah yang akan digantung tepat di tengah lapangan sepak bola kampung, lantas dibakar. Yang jelas, jangan sampai seminggu sejak seseorang melihat celeret cahaya merah, acara ruwatan itu harus terselenggara. Meski begitu, ujar kawanku, belum tentu bencana pulung gantung itu tertolak. Lebih dari sekali, acara ruwatan tak bisa dibilang manjur. Tetapi ada warga kampung yang bunuh diri, dengan alasan apa pun. Biasanya, karena alasan ekonomi atau patah hatilah yang menyebabkan orang-orang di kampung itu makin berkurang jumlahnya, satu-persatu, jangan heran kalau setahun lebih dari sepuluh orang. Namun, dengan adanya ruwatan sungguh pernah menghalau peristiwa gantung diri, setidaknya sekitar dua bulanan setelah ada celeret cahaya merah tak terjadi peristiwa gantung diri.

”Ah, sudahlah, kita ini nongkrong di kafe, kenapa malah membicarakan mitos seperti itu? Mendingan ngomongin pernikahan Ine Febriyanti,” sanggah seorang kawan yang waktu itu bosan dengan arah pembicaraan yang terkesan mengada-ada.

”Bukan begitu, si kawan kita satu ini amat keberatan bicara hal-hal yang romantis,” tukas si pencerita, menunjuk diriku. Aku manyun.

Kini, kulihat arloji, terhitung sudah dua jam aku menunggu kawan-kawanku di kafe itu. Kalau aku mau, tinggal kupanggil seorang wanita penghibur yang duduk jauh di depanku untuk sekadar menemani. Aku hapal dengan siapa saja yang sering singgah di kafe itu. Namun, aku jengah untuk menikmati pilihan itu. Dan yang membuatku sebal, tak satu pun SMS dariku dibalas oleh salah seorang kawanku. Ketika satu persatu kawanku kuhubungi, rupa-rupanya mereka sengaja mematikan HP. Aku tambah kesal.

Tiba-tiba — inilah sialnya dengan bulan Desember — hujan menggemuruh datang. Siapa pun yang tahu kafe langgananku sekaligus tahu meja-kursi tempatku nongkrong pasti akan paham betapa aku harus menyingkir, pindah ke lain meja, karena tak mungkinlah tetap bertahan di sebuah meja yang hanya dipayungi langit. Aku biasa memilih duduk di tempat yang boleh dibilang bukan bagian dalam kafe. Aku suka duduk di bagian luarannya, namun masih tetap berada dalam satu area kafe itu.

Bagaimana aku tidak berpikir tentang hujan kalau di sebuah musim menjelang pergantian tahun aku masih bertemu dengan hujan? Padahal, meskipun aku menggenggam segepok cerita menarik yang berkaitan dengan hujan, bukankah aku selalu keberatan menceritakannya?

Karena tak ada kawan yang malam ini akan datang menemani, dan aku sudah memastikannya, maka kuputuskan untuk bertahan dengan cara menghibur diri dengan request lagu-lagu tertentu. Sambil kuperhatikan seorang bartender yang bego, memain-mainkan botol agar perhatian banyak orang condong kepadanya, namun sia-sia. Bukankah dalam suasana kafe yang sepi tak satu pun pengunjung mau memperhatikannya? Kuhitung pengunjung kafe hanya berjumlah tujuh kepala. Lagi pula, karena suara penyanyinya juga pas-pasan, lama-lama aku jadi malas request lagu-lagu tertentu. Aku memilih nongkrong saja, menunggu hujan reda, dan segera mungkin memutuskan pulang.

Sampai larut malam, sampai jam dugem di kafe itu habis, hujan masih saja mengguyur. Aku dihampiri oleh bartender culun yang bego itu.

”Kesepian, Mas,” ujarnya. Dari aksen atau logat bicaranya aku menangkap kesan ia seorang banci.
Benar, memang.
”Kenapa ngelihat terus,” ucapnya, ”kaget kalau aku gay?”
”Nggak, enggak,” jawabku, sengaja menyembunyikan rasa gugup.
Ia mengerling, dengan pancaran mata yang sungguh-sungguh menggetarkan.
Tulang-tulangku seperti keropos. Rontok.
”Kita jalan?”

Aku masih terdiam. Pertanyaannya yang jelas-jelas menantang diriku akhirnya kujawab dengan mengalihkan sorot mata pada hujan di luar kafe.
”Nggak suka hujan? Takut masuk angin? Bawa mobil, kan?”
Benar. Ke mana-mana pun pergi aku selalu mengendarai mobil. Logikanya, tak mungkinlah ada sepercik air hujan yang akan mengenai tubuhku. Kenapa aku risau dengan hujan? Kalau aku berkeberatan bercerita tentang ingatan hujan, bukankah aku mestinya masih bisa menerima hujan itu sendiri?
”Tolonnglah aku, antarkan pulang. Kalau keberatan dengan ajakan kencanku, cukuplah Anda mengantarku pulang. Atau, Anda tak berselera?”

Dengan mengenakan payung dibawanya, aku memasuki mobil. Sepanjang perjalanan ia banyak bercerita tentang apa pun, dan tentu, akan kucegat pembicaraannya yang bakalan menyinggung hujan.

Malam itu, entah kenapa, aku berubah pikiran. Sebagai pengganti kekecewaan karena kawan-kawanku culas menepati janji, kuputuskan menginap di rumahnya. Sampai akhirnya pagi hari, aku mesti berangkat ke kantor, dan seluruh badanku pegal-pegal karena sama sekali tak tidur.

Tepat ketika aku akan berangkat ke kantor, semua kawanku mengirim SMS bersamaan. Kesemuanya meminta maaf tak dapat menepati janji. Kesemua alasannya sama, hanya karena hujan.

Tentu, aku makin bertambah mendendami hujan, karena kali itu, karena hujan pulalah aku memilih orang selain kawan-kawanku — yang tentu saja masih harus belajar memahami diriku — untuk menemani menghabiskan malam. Kini, ia, bertender culun yang di mataku tetap saja bego bahkan ketika kutahu bagaimana selera pergumulannya, masih tertidur pulas. Tak apa. Ketika malam sepulang dari kafe sudah kubilang kalau pagi-pagi aku mesti berangkat bekerja, dan ia pun mengerti dengan berkata, ”Kalau aku masih tertidur, yah pergi saja.”

Aku memang pergi, pergi begitu saja. Menutup pintu ruang tamu, membuka pagar rumahnya — sesungguhnya kontrakankah? — dan menancap mobil.

Pada hari yang ceria, sama sekali tidak hujan, dan berhasil membunuh banyak kenanganku terutama ketika aku tertipu karena mobilku sempat dibawa kabur seorang kawan, salah seorang gay yang tinggal di lain kota. Entah kini kabarnya, kata banyak kawan, ia sudah meninggal, tertembak polisi, gara-gara lebih dari dua kilo ganja kering terbukti ia tenteng dan ia lari tunggang-langgang karena kejaran polisi. Tentang mobilku? Aku ikhlaskan entah nyangkut di tangan siapa, aku yakin dibawa kawan-kawan terdekatnya.

Sayang, malam itu aku bergumul tanpa ganja. Padahal, siapapun tahu, bagaimana rasanya bergumul dengan aroma ganja? Bagaimana jika ditambah pil ekstasi? Berapa jam aku bisa bertahan, menundukkan malam hanya dengan bergumul? ***

Yogyakarta, 2003.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *