Lintang Widodareni

Rita Zahara
http://oase.kompas.com/

Lintang Widodareni M.Hum menikah dengan Rangga Pakusadewo M.A. 15 Februari 2003 pukul 08.00 WIB. Kupandangi tulisan bertinta emas itu di atas kertas undangan berwarna coklat muda.

?Ehmmmm?, kucium kertas itu dalam-dalam. Aroma parfum menyegarkan menusuk saraf-saraf hidungku. Kututup mata, kulambungkan khayalan. Diam-diam aku menikmati angan-angan. Ya, angan-angan, yang sebentar lagi menjadi kenyataan. Angan-angan yang indah dan wangi seperti kertas undangan itu.

Rangga Pakusadewo, Mas Dewo aku memanggilnya. Akhirnya akan menjadi suamiku. Dulu aku nyaris berputus asa kalau aku tak kan pernah memperoleh laki-laki seperti dia.

Cerdas, kritis, tidak neko-neko, sederhana, dan tidak sombong. Entah apa yang bisa menyatukan kami, yang jelas kami punya kesukaan yang sama yaitu berdiskusi.

Bagiku ini keputusan yang terlalu cepat. Menikah, setelah kami saling kenal kurang lebih enam bulan. Selama itu pula tak ada ritual khusus bagi kami sebagaimana biasanya orang berpacaran. Kami bertemu jika ada forum diskusi di komunitas tempat kami bernaung. Selebihnya kami bisa bertemu di kampus, itupun dengan teman-teman. Sepenuhnya kusadari, ini keputusan yang teramat cepat. Kuyakini ini berhubungan dengan usianya yang beranjak setengah baya, 48 tahun dan ia anak satu-satunya keluarga Pakusadewo. Ya Tuhan garis hidupku kah ini untukku. Pikiranku jauh melayang, mencoba mencari makna semua ini.

Jabatan tangan, ucapan selamat, pelukan, ciuman pipi kanan pipi kiri sampai gurauan murahan terlontar untukku menjelang hari pernikahan. Saudara dekat, saudara jauh, teman, sahabat, kolega atau apalah namanya yang lain turut gembira mendengarnya. Ada nada gembira sepenuh hati, tapi ada juga yang mengajakku untuk berpikir rasional.

?Lintang, apa kamu gak salah milih suami kayak dia. Dia itu udah uzur. Sekarang kelihatan masih kuat, tapi tunggu satu sampai dua tahun lagi, pasti udah kayak kakek-kakek. Masih banyak daun muda yang menjanjikan, ada Bang Zai, Mas Koko, Uda Firman atau yang sebaya sama kita ada Penta, Surya, apa Suparno yang dari dulu ngejar-ngejar kamu, tapi kamu tolak mentah-mentah. Mereka itu gak jelek-jelek banget kok, paling gak mereka itu cukup enak dilihat lah. Lagi pula mereka punya karir yang bagus, dan saat ini mereka udah gak mau pusing-pusing milih perempuan. Katanya, asal mereka dapat perhatian cukup itu sudah lebih dari segalanya.

Kamu itu apa kualat sama Suparno makanya malah dapat perjaka tua, hanya gara-gara dia bilang pengin kamu supaya jadi wanito. Wani ditoto, perempuan yang bisa ditata, diatur sama laki-laki, trus kamu marah-marah kayak kebakaran jenggot sama dia. Enggak mau lagi denger suaranya yang masih medok logat Jawanya itu?, Rini sahabatku selalu mengatakan demikian dan selalu menganggapku membuat keputusan gila..

?Apa kamu kehilangan akal sehat? kamu itu jauh lebih muda, kamu itu kayak anak sama bapak. Lah, kamu itu beda dua puluh tahun, sedang berkarir, masih punya banyak keinginan ini-itu yang belum tercapai. Lah kok mau-maunya nikah sama bujang lapuk yang patut dipertanyakan segala-galanya. Biar gimanapun, laki-laki itu patut dicurigai, kalau sampai umur segitu belum menikah. Kalau gak homo, frigid, pedofilia, impoten, atau mengalami gangguan seksual lainnya, lalu sejak dulu itu kebutuhan biologisnya disalurkan kemana?? Bu Mirna yang sering jadi penasehat spiritualku tiada henti mengatakan itu padaku.

?Laki-laki itu kalau sudah terlalu lama hidup sendiri, sudah mati rasa. Maksudnya sudah gak ada gairah sama perempuan. Apa kamu gak takut, kalau sebenarnya dia bukan laki-laki normal. Apa kamu yang gak normal?? tanya Pak Joko yang sudah kuanggap sebagai bapak sendiri.

Mengapa mereka sephobia itu?, mengapa mereka selalu memberi harga mati untuk menilai orang seperti Mas Dewo. Apa mereka pikir usia adalah segala-galanya untuk menikah. Aaaahhhh, kutarik nafas panjang, sambil membuang letih yang sangat karena memikirkan jalan berpikir mereka yang begitu naif untuk menilai seseorang. Aku semakin tak peduli dengan segala macam komentar yang kerap kudengar jika bertemu orang-orang yang mengetahui rencana pernikahanku .
* * *

?Kepiwaianku tampil di forum diskusi adalah salah satu hal yang membuat Mas Dewo tertarik padaku. Di antara peserta diskusi, akulah yang dianggap paling dewasa menguraikan dan memecahkan masalah. Bicaraku yang ceplas-ceplos dan terkesan urakan dianggap sangat menyenangkan. Tapi entahlah, jalan berpikirku yang sederhana justru dianggapnya rumit dan filosofis.

Kulihat wajahku semakin berseri-seri menyambut hari yang kunanti. Beberapa orang teman menganggapku sudah tak tahan mau menikah, tidak dewasa mengambil keputusan, egois, bahkan ada yang mengatakan aku dipelet karena tidak rasional memilih Mas Dewo. Kututup telingaku rapat-rapat, yang ada hanya satu bunyi yang kudengar, yaitu suara orangtuaku yang menyetujui pernikahan ini.
* * *

Aku tak banyak mengundang orang. Hanya teman-teman terdekat saja yang kuundang. Tidak ada ritual khusus seperti biasanya orang menikah. Tak ada janur kuning, tak ada makanan yang enak-enak apalagi panggung hiburan. Akupun hanya berdandan sederhana. Aku terus menghitung waktu, dari detik, menit sampai ke jam. Dan seakan tanpa kompromi, jarum jam terus berputar.

Kulihat warna make-up di wajahku sudah memudar dibasahi keringat. Keadaan semakin memanas. Jantungkupun kian berdegub. Dan degubannya kian kencang.

Kulihat temanku Onanong Thipommol yang datang jauh-jauh dari Thailand sudah bermandikan keringat karena kepanasan menunggu kapan acara dimulai. Kulihat juga Mas Joko tukang bakso langgananku di kampus yang juga kuundang, tertidur pulas di kursi dan wajah-wajah lain yang memancarkan keresahan. Aku berusaha menenangkan diri, walau suasana semakin riuh.

?Kriiing, kriiiiiiing, kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiing?, suara telepon berbunyi panjang. Nyaring bunyinya mampu membuat sekelilingku terperangah dan tersentak. Aku bergegas masuk ke ruang tengah rumah. Kuangkat gagang telepon yang mulai rusak itu.

?Lintang, ini aku Dewo. Lintannngg?. Mas Dewo memutuskan pembicaraan dengan nada yang miris. Aku tak pernah mendengar suaranya seperti itu.

?Mas, Mas Dewo, ada di mana? Kita semua sudah menunggu?? Aku bertanya dengan kecemasan yang memuncak.

?Lintanggg?????.?, suaranya bertambah miris, aku semakin cemas sambil melambungkan hal yang terburuk kan terjadi saat itu.

?Lintang, aku masih di Malang. Aku, akuuuu?.?, suaranya mengecil, nyaris tak terdengar olehku dan kulihat wajah-wajah cemas sekelilingku semakin bertambah.

?Mas Dewo, sebenarnya ada apa?? aku bertanya sambil berusaha tenang meski tak bisa rasanya kusembunyikan karena kuyakini ada sesuatu yang tidak diinginkan.

?Kita tidak jadi menikah, aku berkata jujur semalam pada orangtuaku tentangmu, keluargamu dan tentang kita selama ini, jadi maafkan aku. Akuuu??

Belum selesai Mas Dewo bicara, aku melepas gagang telepon tanpa berdaya.

Langsung kering rasanya kantung air mataku, sehingga tak ada sebulirpun air mata yang jatuh. Aku terdiam, seakan berada di dunia lain yang tak pernah kutapaki. Entah ada berapa pasang mata yang menyaksikkan tragedi ini. Mereka hanya menjadi saksi. Saksi yang tak mungkin bisa mengubah keadaan saat itu.

Sejak dulu aku menegaskan padanya bahwa aku akan selalu dikecam, dimaki, dilabel atau apalah namanya oleh masyarakat. Meskipun Mas Dewo terkagum-kagum dengan riwayat hidupku, dengan perjuanganku sampai aku bisa menyandang gelar master humaniora di perguruan tinggi terkemuka. Ia harus tunduk oleh keputusan yang seakan telah disepakati bersama. Meskipun kini aku memiliki status yang cukup dipandang oleh sebagian masyarakat, aku tetaplah anak seorang pelacur dan seorang residivis.

Menurut cerita, ibuku menghilang entah kemana setelah mengetahui bapakku di tembak mati oleh polisi intel di Kali Jodo karena berusaha melarikan diri. Ia telah lama menjadi buronan. Saat itu aku baru berumur satu hari. Aku dibuang oleh ibuku di Kampung Pedongkelan. Aku ditemukan oleh Pak Tukimin di pagi hari saat bintang timur masih terlihat di langit. Saat itu ia ingin buang hajat besar di jamban Danau Ria-Rio. Bapak yang sederhana itu sekarang kukenal sebagai ayahku dan Ibu Ngatinem ibuku. Meskipun mereka selalu hidup dalam kekurangan, aku selalu diberikan yang terbaik oleh mereka karena mereka memberinya dengan cinta dan kasih sayang. Dari mereka aku belajar tentang hidup, agama, etika dan moral.

Suatu hari di saat wisuda sarjanaku, mereka memperlihatkan foto orangtuaku dan menceritakan siapa asal-usulku. Terbang ke langit lapisan ke sembilan rasanya saat itu setelah mendengar dan mengetahui darimana asal-usulku. Serasa aku diluluhlantakkan oleh sesuatu yang nyaris tak pernah kuduga. Seminggu aku mengurung diri di sebuah desa yang jauh dari keramaian. Aku merenungi garis hidupku. Aku berusaha bangkit dari keterpurukkan jiwa. Jiwa yang hancur berkeping-keping. Susah payah aku mengembalikan semangat hidup. Dan syukurlah semangat hidupku kembali, bahkan menggelegak.

Menurut Pak Tukimin, foto itu ditemukan dibawah ranjang ibuku. Keadaannya sudah lusuh kekuning-kuningan. Seorang wanita cantik berambut lurus panjang menggunakan sackdress sedang memegang sebatang rokok, duduk di bangku sofa dan menyilangkan kakinya dan seorang pria bertubuh kurus berambut model punk rock merangkulnya, ditangan kanannya memegang botol minuman. Anggap saja itu adalah bapakku. Karena ibuku memang tidak pernah diketahui siapa suami resminya. Yang jelas laki-laki yang ada di foto itu adalah yang terakhir bolak-balik di gubuknya yang dekat Danau Ria-Rio. Laki-laki itu sering dipanggil Fredi oleh ibuku, tapi kadang-kadang ibuku memanggilnya Komar. Dan kadang-kadang ada serombongan polisi yang mencari Udin dengan identitas yang sama seperti Fredi atau Komar itu. Yang jelas, warga Pedongkelan saat itu mengenal ibuku sebagai pelacur yang jika sedang tidak punya uang, suami tetanggapun diajak kencan walau hanya dibayar cukup untuk membeli nasi bungkus. Kadang tidak dibayarpun bersedia karena yang penting hasrat tersalurkan. Kebiasaan ini sudah menjadi candu, jika tidak berkencan kepalanya menjadi pening dan badannya terasa lemas.

Fredi atau Komar atau Udin, dikenal sebagai laki-laki yang pernah jadi buronan dan disembunyikan oleh ibuku. Berkat rayuannya yang begitu mantap, Fredi alias Komar alias Udin berhasil terselamatkan dari kejaran polisi. Sebagai balas budi, Fredi alias Komar alias Udin harus bisa menjadi tempat penyaluran hasrat ibu yang sulit terkendali. Hingga pada suatu hari saat mereka berkencan di gubuk, seorang tetangga yang sedang asyik mengintip mereka terpaksa memberi tahu kalau Fredi, alias Komar alias Udin sedang dicari polisi. Fredi tersentak lalu lari tunggang langgang, belum lengkap mengenakan pakaiannya ia langsung pamit pada ibuku, lalu pergi bersembunyi ke Kali Jodo.

Reni, Widodareni nama lengkapnya, meskipun sedang hamil selalu siap untuk dikencani. Entah sudah berapa banyak benih laki-laki yang betaburan di dalam rahimnya. Yang jelas aku tak akan pernah tahu terlahir dari pertemuan sperma dari laki-laki yang mana. Entah itu sperma supir truck, bandit, laki-laki hidung belang, om-om, kakek-kakek, anak ingusan atau laki-laki yang cuma sekedar mencari variasi seks karena saat itu ibuku terkenal sebagai pelacur yang permainannya cukup panas. Mendengar cerita dari orang yang pernah bermain dengan ibuku saja katanya mampu membangkitkan birahi. Yang lajang, yang beristri, yang tua, yang muda, tanpa banyak kompromi ingin segera mencoba.

Mereka penasaran karena menurut cerita, hampir semua laki-laki akan dibuat bertekuk lutut sebelum permainan selesai.

Cerita tentang pelacur Widodareni inipun baru kutahu dari Abah Yayat, sesepuh Kampung Pedongkelan yang saat itu menjabat sebagai Ketua RT. Ia tahu persis tentang kisah pelacur Widodareni, karena Reni sering membuat ulah. Reni yang sering jadi rebutan laki-laki terkenal dengan rayuannya yang begitu manis, cantik pula dan termasuk perempuan yang banyak digemari di kalangan laki-laki yang suka keberanian perempuan di atas ranjang. Tidak jarang terjadi pertengkaran di antara mereka hanya untuk memperebut waktu kencan bersama Reni.

Hari ini, 15 Februari 2003. Aku menyatakan diri bahwa aku tetap anak pelacur dan residivis. Pelacur Widodareni dan Fredi alias Komar alias Udin, residivis itu kuanggap saja sebagai bapakku. Aku menunggu entah sampai kapan hingga orang bisa melihat diriku seutuhnya sebagai Lintang Widodareni, yang menurut Pak Tukimin berarti Bintangnya Bidadari. Bukan Widodareni, pelacur Kampung Pedongkelan atau residivis yang entah siapa nama aslinyanya itu.

Jakarta Dalam Kontemplasi, November 2003 Menunggu Sahur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *