Mata Penuh Sihir

Vita Devi Ajeng Pratiwi*
http://media-jawatimur.blogspot.com/

Hujan belum reda padahal sudah pukul lima sore. Aku berlari-lari kecil, mengendap-endap di antara emperan took, menuju kedai kecil di pertigaan jalan. Aku masuk ke kedai itu dan duduk di sudutnya kemudian kupesan segelas wedang jahe, minuman tradisional yang dapat menghangatkan tubuhku dari dinginnya hujan.

Kuperhatikan sekelilingku, banyak juga orang yang datang ke kedai ini. Seorang pelayan datang membawa pesananku. Tak lupa kuucapkan terimakasih kepadanya, kuminum sedikit wedang jaheku, tanpa sengaja aku melihat seorang pria duduk agak jauh di depanku. Matanya begitu tajam menatapku. Gejolak hatiku ingin menatap mata itu. Perlahan kuangkat wajahku dan?ah, mata itu begitu teduh, menyimpan ribuan rahasia. Aku mencoba menyelaminya, tapi aku tak bisa. Mata itu keburu pergi bersamaan dengan pemiliknya.

Andai aku tahu siapa pemilik mata itu, aku akan menjadi penyelam di kedalamannya, tentu saja seizin pemiliknya. Pasti aku akan menjadi orang yang beruntung di dunia. Ah, andai saja.

Hujan mulai reda dan aku pun melanjutkan perjalananku pulang ke rumah.
Esok harinya aku kembali ke kedai itu dan berharap bertemu dengan si pemilik mata itu. Sudah pukul enam, tapi kemana si pemilik mata itu? Apakah tidak akan datang? Ribuan pertanyaan memenuhi benakku, tapi tak satu pun terjawab.

Aku sudah menghabiskan segelas teh hangat ketika sosok itu berjalan dengan santai masuk ke kedai. Akhirnya, si pemilik mata itu datang. Dengan sorot mata seperti kemarin dia terus menatapku. Aku tak sanggup menatapnya lekat-lekat. Aku takut mata itu membunuhku perlahan-lahan.

Akhirnya pukul tujuh dan aku pun beranjak keluar dari kedai sambil sekali kulirik pria itu. Begitu mengagumkan, gagah dan sempurna. Kali ini dia tidak menatapku, melainkan menatap gelas kosong di hadapannya. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi dia begitu serius memperhatikan gelas itu.

Aku sudah di luar kedai dan merasakan udara yang sangat dingin. Hari sudah malam. Rintik hujan mulai turun. Aku kembali menepi, tak berani turun ke jalan. Hujan tambah deras, tapi aku harus pulang. Kulangkahkan kakiku menembus ribuan panah hujan. Tiba-tiba sebuah tangan menarikku ke tepi. Aku kaget. Aku menoleh ke arahnya. Ah, si pemilik mata itu. Dia telah menarik tanganku. Tatapannya masih sama. Hanya saja kali ini lebih berbinar-binar. Entah apa yang membuatnya begitu. Tapi dia masih membuatku tidak kuasa untuk bergerak atau melakukan apa-apa. Aku serasa disihir oleh tatapan matanya dan diperintahkan untuk diam dan menikmati keindahan matanya. Dia terus memegangiku seakan tak mau melepasku, meski hari sudah larut malam.
“Jangan pulang dulu. Hujan masih terlalu deras. Tidak baik untuk kesehatan anda,” katanya.

Aku tersentak dari tamasyaku menikmati matanya. Perlahan kulepas gengamannya. Sudah pukul sembilan, berarti telah lama kunikmati tatapan matanya. Aku bagai orang bisu, yang tak dapat mengucapkan satu kata pun untuk menyapanya. Dia mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri, “Yudha.”

Nama itu menggema di telingaku. Nama yang bagus, pikirku. Aku masih tak mampu menggerakkan tanganku seolah-olah patung hidup saja. Tapi aku berusaha membalasnya dengan mengulurkan tanganku lalu kuucapkan namaku, “Larasati.”

Kata itu seakan keluar saja dari bibirku. Kupandang matanya sekali lagi. Mata itu terlalu indah dan tatapannya menukik indah di relung hatiku. Ah, akhirnya kutahu siapa pemilik mata itu.

Gerimis tak juga reda. Malam semakin kelam dan hanya nyanyian belalang bersahutan dengan katak di pedalaman. Sehunus sunyi menjadi irama bagi tarian gerimis.

Tiba-tiba saja aku berpikir seandainya saja malam ini adalah malam yang tak akan pernah beranjak dari tepian waktu, maka aku akan selalu terbang untuk kesekian kalinya menikmati mata yang penuh dengan sihir itu. Ah, seandainya saja.

“Kamu dengar bisik angina,” kata Yudha tiba-tiba memecah keheningan.
“Maaf, aku kurang mengerti maksud Mas Yudha!”
“Andai saja kamu mendengarnya!”
Aku tersenyum menangkap gelagat aneh yang hendak dimainkan orang yang berdiri di depanku ini, seperti ada misteri yang meligkupi dirinya yang hendak diledakkan tapi entah kepada siapa.

Lamongan, 2007

*) Penulis adalah Pelajar MA. Matholi?ul Anwar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *