Menyikap Sastra Perlawanan

Judul Buku : Nabi tanpa Wahyu
Penulis : Hudan Hidayat
Penerbit : Pustaka Pujangga, Lamongan
Edisi : I, Januari 2008
Tebal : xii + 218 halaman
Peresensi: Chavchay Syaifullah
Media Indonesia,19 Jan 2008

BUKU kumpulan esai-esai sastra yang ditulis Hudan Hidayat ini serasa menyimpan alternatif gagasan dari cara membaca dan menanggapi karya-karya sastra mutakhir Indonesia. Hal itu terlihat dari bagaimana Hudan selalu memosisikan keterlibatannya ke dalam teks yang dianalisisnya dan berusaha tidak berjarak.

Selain itu, dalam beberapa tulisannya, Hudan berhasil memerhatikan dirinya sebagai pelaku dari ideologi sastra yang dibelanya. Itulah kekuatan esai-esai Hudan, selain penulisnya adalah pelaku sejarah sastra, argumentasi-argumentasinya terasa ‘ideologis’. Sehingga, meski kadang terkesan gagap dan berliku-liku (metaforistik) dalam argumentasinya, Hudan terlihat sebagai orang yang berusaha keras menghadirkan dirinya dalam ideologi estetika yang ia nilai paling cocok untuk tradisi penulisan sastra di negerinya. “Buku ini bercerita tentang kemandirian sastrawan Indonesia menghadapi nilai-nilai yang dilahirkan kekuatan kapitalisme dan imperialisme Barat,” ungkap Hudan.

Maka, dalam Kredo Seni di atas Kredo Puisi yang ia tulis di halaman depan bukunya, berbunyi, “Sebagai novelis, saya tidak berdiam diri, tapi menghidupkan nurani. Menghidupkan kesadaran. Meluaskannya bersama kata-kata menangkap kebenaran Tuhan dan dunia. Kebenaran yang menunjukkan dirinya dalam pasang-pasangan. Dalam retakan dan pecahan.”

Tulisan-tulisan yang merunut pada 10 tahun masa kepenulisan Hudan (1997-2007) bisa jadi muncul sebagai refleksi dari mandeknya tradisi kritik sastra sehingga sebagai cerpenis dan novelis, ia harus mengajukan kritik (juga otokritik) sastra.

Karenanya, dalam bukunya, Hudan berani muncul lantang memasuki wilayah polemik sastra pornografi dan mempertanyakan secara kritis tafsir agama dalam fakta kehidupan manusia. Hal itu barangkali ia lakukan karena ia merasa sebagai penulis sastra pornografi lewat novelnya Tuan dan Nona Kosong (Melibas, 2006), sekaligus sebagai kritikus yang memberi basis pemikiran tentang kreativitas, kebebasan, seks, agama, dan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*