Otak-atik Krisis

D. Zawawi Imron
http://www.jawapos.com/

”Pada era modern sekarang ini kita tidak usah khawatir kalau terjadi krisis moneter dan ekonomi,” ujar seorang teman pada awal 1990-an.

”Kenapa kita tak perlu khawatir?” tanya saya.

”Karena pasti akan segera bisa dibereskan oleh para pakar moneter dan ahli ekonomi,” jawab teman saya optimistis. Saya terkesima dengan ucapan yang penuh keyakinan dan kepastian itu. Sebuah jawaban yang sangat rasional.

Tapi, kemudian, pada 1997 terjadilah krisis moneter. Para begawan yang ditugasi pemerintah saat itu segera memeras pikiran dan bekerja keras. Hasilnya tentu ada, tapi krisis itu setahun kemudian berlanjut dengan berakhirnya sebuah orde yang menamakan dirinya Orde Baru.

Akhirnya pendapat teman saya bahwa ”krisis moneter akan bisa dibereskan oleh para pakar moneter” itu tidak sepenuhnya benar. Kalau sekadar retorika kita bisa saja menjawab, ”Itupun sudah ditangani oleh para begawan, kalau yang menangani bukan pakar, keadaan akan jauh lebih buruk lagi.”

Nah, dengan jawaban seperti itu, seolah-olah persoalan sudah selesai. Tapi, sejatinya tidak begitu, ada tanggung jawab intelektual untuk mengkaji persoalan sampai ke akar masalah dari penanggung jawab; dari mana datangnya krisis, dan kenapa teori yang sudah diterapkan mendapat ganjalan. Dari mana datangnya ganjalan dan sandungan, semua harus ditemukan. Siapa tahu datangnya sandungan itu tidak dari luar (eksternal) melainkan dari keterbatasan ilmu kita sendiri. Dan, kalau sandungan itu datangnya dari diri sendiri, apa yang harus kita lakukan? Minta bantuan orang lain, tenang, pura-pura tenang, memberi jawaban-jawaban retoris, atau mengundurkan diri dari jabatan?

Repotnya, pakar yang mengurus negara yang urusannya sedang mendapat cobaan seperti itu, meskipun telah berbuat dengan setulus pengabdian dan kerja keras yang optimal tetap akan menjadi bulan-bulanan kritik. Lebih runyam lagi kalau yang menyampaikan kritik itu bukan ahli moneter yang bicaranya asal bunyi, yang penting kritiknya lantang, keras, dan pedas.

Kalau kita kembali ke hati nurani, para pakar atau menteri di bidang apa pun, yang gagal atau kurang berhasil menangani sebuah kasus atau krisis, kemudian menemukan jalan butu, panik, atau kelimpungan, mereka tidak membutuhkan kritik pedas dan ejekan sinis yang kian memperkeruh masalah. Sebenarnya mereka memerlukan pikiran-pikiran positif dan cerdas untuk memperbaiki kinerjanya agar bisa segera bebas dari masalah.

Pada saat seperti itu, para pakar yang berada di luar struktur, atau ”bermukim di angin” (kata Rendra), perlu bicara atau menulis sumbangan pikiran-pikiran baru yang segar. Kritik membangun adalah sedekah, sumbangan yang sangat berharga.

Pihak yang dikritik, harus menerima dengan lapang dada, di samping bersikap selektif karena tidak mustahil kritik yang disampaikan oleh orang yang kebetulan lawan politik sekalipun, kalau tercetus dari akal sehat dan jiwa yang jernih, bisa menjadi mutiara hikmah yang cemerlang dalam membereskan krisis. Sebuah kegagalan akan bisa dicari sebabnya antara lain, dengan ”introspeksi”. Instrospeksi kadang bisa dikembangkan dari pikiran orang lain. Siapa tahu, seorang pakar karena tidak pernah mengambil jarak antara diri dengan ilmu yang dimiliki, tiba-tiba sudah merasa mapan berasyik masyuk dengan ilmu dan teorinya sendiri. Sehingga tidak ada ruang bagi pikiran orang lain untuk ikut memberi warna lain. Jadilah ia pakar ”berkacamata kuda”.

Padahal yang namanya ”ilmu” dan ”teori” adalah sesuatu yang terus berubah dan berkembang sesuai dengan keadaan dan tantangan zaman. Ilmu yang bisa berkembang dan dapat mendukung kebudayaan yang sehat, perlu memandang dialog atau kerja dialogis menjadi sesuatu yang niscaya untuk dilakukan secara berkesinambungan.

Itulah mengapa skripsi, tesis, dan desertasi harus ditulis lengkap dengan rujukan dari berbagai pendapat pakar. Mungkin karena perkembangan ilmu tidak boleh mandek. Ilmu adalah kontinyuitas. Ilmu tanpa dialog akan tersandung pada krisis keilmuan, sehingga tidak bisa menyelesaikan krisis. Sikap keilmuan model ”kacamata kuda” seperti itu tidak akan mampu membaca dan menyadari adanya krisis, meskipun dalam kenyataan yang sebenarnya sudah terjadi krisis. Jika para pakar tidak bisa menyadari dan menangani krisis yang harus dibereskan, jangan salahkan kalau orang awam tidak percaya lagi kepada ilmuwan.

Orang boleh tidak percaya kepada pakar yang gagal menjalankan tugasnya, tapi jangan sampai masyarakat tidak mempercayai ilmu lagi. Dan, kita perlu belajar percaya bahwa sebuah krisis yang gagal ditangani tentu karena diurus oleh orang yang bukan ahlinya.

Ketika jurus semua pakar yang bersinergi tetap tidak berhasil, itu pertanda Tuhan punya skenario lain yang tidak bisa dibantah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *