Pancasila bukan Pencak Silat

Aridus
http://www.balipost.co.id/

DI Jakarta, 1 Juni , 62 tahun silam, Ir. Soekarno menyampaikan uraiannya tentang Dasar Negara di depan anggota Dokuritsu Junbi Choosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/BPUPKI). Kala itu, Fat Boy dan Little Boy — julukan dua bom atom Amerika Serikat (AS) — belum memporakporandakan dua kota industri Jepang, Nagasaki dan Hiroshima. Sedangkan bala tentara Dai Nippon yang terkenal kejamnya, masih menduduki sebagian besar wilayah Indonesia.

“Bayangkan! Sejak awal 1945, kekalahan demi kekalahan diderita Jepang dalam Perang Pasifik melawan pasukan Sekutu di bawah komando AS. Takluknya Jerman dan Italia lewat Perjanjian Postdam, menyebabkan Jepang sebagai salah satu dari Tiga Poros Negara Fasis, yang masih bertahan. Dalam posisi terjepit, kondisi kejiwaan serdadu Jepang bisa mengubah temperamen mereka jadi tambah bengis. Nah, di tengah-tengah suasana genting itulah Bung Karno memaparkan Dasar Negara yang kemudian disebutnya Pancasila, untuk sebuah republik yang bahkan belum diproklamirkan,” ujar Rubag.

“Ih, ngeri! Nenek dan kakekku bercerita, jangankan kurang ajar, salah memberi hormat saja orang bisa disepak dan ditempeleng disertai umpatan bagero! Bahkan, pedang Jepang yang terlanjur disebut samurai oleh kebanyakan orang, sering menebas kepala orang yang dianggap menentang kekuasaan atau memotong jari-jari tangan para pencuri. Malah kudengar banyak gadis yang dipaksa jadi jugun ianfu atau pemuas nafsu serdadau Jepang, sehingga sekarang para korban syahwat itu menuntut ganti rugi. Bung Karno dkk pasti punya nyali supergede, sehingga berani bicara soal dasar negara dan kemerdekaan di tengah-tengah penjajahan brutal itu,” kilah Nengah Minggir.

“Bukan cuma nyali gede, juga otak cair, patriotisme tinggi dan nasionalisme tebal! Coba simak, ucapan lain yang nyerempet-nyerempet bahaya saat membicarakan dasar negara itu! Jika Dai Nippon memberikan kita kesempatan untuk merdeka hari ini, kata Bung Karno, maka dengan mudah Gunsei-kan (kepala pemerintahan militer pendudukan Jepang) diganti dengan orang yang bernama Condro Asmoro dan Soomubucho (kepala departemen urusan umum) diganti Abdul Halim. Juga bucho-bucho (kepala-kepala departemen) lain diganti orang-orang Indonesia, lanjutnya, karena kita sudah siap untuk merdeka. Wacana serupa juga dituangkan dalam tulisan berjudul ‘Mencapai Indonesia Merdeka’ saat negeri ini masih dijajah Belanda tahun 1933, membuat Bung Karno ditangkap dan tanpa diadili dibuang ke Ende, Flores lalu ke Bengkulu, Sumatera Selatan.”

“Luar biasa! Pantas ada yang berpendapat bahwa hampir setengah dari usia Bung Karno dihabiskan di bui, meninggal pun dalam status tahanan di negeri yang diproklamasikan kemerdekaannya. Bahkan setelah 37 tahun meninggal juga status tahanannya tidak dicabut. Bila dalam film ada judul ‘Beranak dalam Kubur’, Proklamator RI itu kini masih Ditahan dalam Kubur,” celetuk Meregeg.

“Tragisnya, selama Orde Baru, Pancasila yang digali Bung Karno justru dijadikan momok untuk menakut-nakuti rakyat. Tidak sedikit orang disiksa, dikirim ke penjara atau dihilangkan untuk selamanya dengan label ‘anti-Pancasila’, padahal mereka cuma mengkritisi kekuasaan yang sewenang-wenang. Ini sebuah paradoks! Pancasila dilahirkan saat Indonesia di bawah penjajahan yang kejam, namun digunakan sebagai topeng kekejaman saat negeri ini merdeka. Lucunya lagi, selama pemerintahan Soeharto, Hari Kelahiran Pancasila nyaris dilupakan, tapi Hari Kesaktiannya setiap 1 Oktober dirayakan. Pertanyaannya, kok nggak lahir, apanya yang sakti?” komentar Nyampuh.

“Untuk menyegarkan ingatanmu, coba dengar salah satu puisi sarkastik KHA Mustofa Bisri dalam ‘Ohoi Kumpulan Puisi Balsem’. Dor! Hidup Ketuhanan yang Maha Esa! Dor! Dor! Hidup Kemanusiaan yang Adil dan Beradab! Dor! Dor! Dor! Hidup Persatuan Indonesia! Dor! Dor! Dor! Dor! Hidup Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Hidup keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia! Dor! Dor! Dor Pancasila ! Dor! Dor!” sela Retig.

“Wah, kalau gitu, Pancasila banyak pintunya dong! Dor dalam bahasa Inggris kan artinya pintu? Padahal sila kelima berpintu paling banyak, kenapa keadilan masih sangat langka bagi seluruh rakyat negeri ini? Apa karena semua pintunya terbuka hingga masuk angin?” tanya Rampug lugu.

“Dasar goblok! Dor itu suara mesiu yang mendorong timah panas yang bisa melubangi batok kepalamu! Saking kesalnya melihat kesewenang-wenangan Rezim Soeharto, Mustofa Bisri menulis lebih vulgar lagi dalam ‘Gelap berlapis-lapis’, … maka pancasila kalian pun selama ini adalah; kesetanan yang maha perkasa, kebinatangan yang degil dan biadab, perseteruan indonesia, kekuasaan yang dipimpin nikmat kepentingan dalam perkerabatan/perkawanan, kelaliman sosial bagi seluruh rakyat indonesia… Semuanya ditulis dengan huruf kecil pertanda kemarahan bercampur kekecewaan meletup ke ubun-ubun,” sambung Retig.

“Sayang, ketika rezim Soeharto dan Orde Baru gulung tikar, kekerasan sudah beranak pinak. Didorong angin puyuh demokrasi dari negeri antah berantah, anarkhisme merebak dalam gelombang awal Era Reformasi. Dor bercampur api dan perkosaan menyemarakkan slogan ‘Vox populi vox Dei’ dalam huru-hara Mei 1998. Bahkan atas nama Tuhan, beberapa tahun kemudian ada kelompok yang mengganti suara dor menjadi boom, menyebabkan Legian hancur dan ratusan nyawa melayang, 12 Oktober 2002. Bahkan kesaktian Pancasila diuji dan dilecehkan, tepat pada perayaannya 1 Oktober 2005, ketika bom bunuh diri lagi meledak di Kuta dan Jimbaran. Ternyata karya sastra Mustofa Bisri tidak berlebihan, malah terkesan kehabisan stok kata-kata untuk mengulas segala bentuk degradasi moral yang terjadi selama ini,” ulas Nengah Minggir.

“Ya, itu lantaran tidak semua peristiwa boleh diulas, bukan semata-mata karena keterbatasan kosakata. Apalagi atas nama undang-undang, ada pihak-pihak tertentu diizinkan berbekal senjata saat bertugas. Ironisnya, tidak semua paham tentang guna dan fungsi senjata yang mereka pegang, sehingga ada anak buah yang menembak komandan, sebaliknya ada komandan yang menghabisi anak buah. Tragisnya, Rabu lalu dari Pasuruan Jatim terdengar tragedi mengejutkan tentang empat warga sipil yang tewas diterjang peluru karena masalah sengketa tanah berlarut-larut,” ujar Nyampuh.

“Mudah-mudahan di zaman kebebasan berbicara ini tidak ada orang usil memplesetkan Pancasila jadi ‘pencak silat’, meski Pancasila pernah disakralkan dan dianggap sakti dengan tujuan melanggengkan kekuasaan. Memang kenyataannya di masyarakat, seperti di kompetisi pencak silat, yang kuat dan kuasa serta banyak uanglah yang menentukan kebijakan publik, sehingga yang lemah hidup seperti kerakap tumbuh di batu. Padahal Bung Karno dkk bersusah payah memikirkan dan menempuh bahaya menyusun lima dasar negara, yang di atasnya republik ini didirikan. Warisan ini, konon, melebihi substansi yang dikandung Declaration of Independence yang ditinggalkan Thomas Jefferson dkk untuk bangsa AS, juga Manifesto Komunis yang dirancang Lenin dkk untuk Uni Soviet,” imbau Rubag.

“Setuju! Pancasila bukan pencak silat! Kalau wajah buruk, jangan cermin yang dibanting! Marilah kita bersama-sama mengoreksi diri, karena tidak paham nilai-nilai yang terkandung dalam dasar negara, yang juga falsafah dan pandangan hidup bangsa itu,” sambut Radug yang sebelumnya hanya diam mendengar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *