Pengarang Indonesia dan Dunia yang Terbuka

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

USAI Idul Fitri 2007 lalu Pemrov DKI Jakarta kembali merazia kaum urban baru, seakan menegaskan lagi “ketertutupan” Jakarta bagi mereka. Tetapi bagi kaum pengarang hal itu kini tidak penting-penting amat. Mau terbuka atau tertutup Jakarta bukan lagi yang memiliki fasilitas terlengkap dan oleh karena itu harus diserbu. Dunia telah berubah. Juga Tanah Air, berkat kemajuan teknologi informasi-komunikasi.

Dua puluh lima tahun yang silam pada Temu Sastra ’82 di TIM Jakarta, sastrawan Gerson Poyk mengungkapkan motivasi perpindahan kaum pengarang Indonesia ke kota besar. Antara lain, untuk mengembangkan “bakat alam” yang dimiliki akibat “pendidikan formal yang tersendat-sendat”, juga karena “tidak adanya perpustakaan” di daerah atau di tanah kelahiran. Kacaunya pendidikan, tak adanya perpustakaan, dan sulitnya komunikasi terutama dengan sesama sastrawan berpengaruh terhadap pengembangan kepengarangan.

Gerson tidak berlebihan, namun ia tentu bicara tentang pengarang segenerasi, juga sebelum dia. Dan kita pun tahu situasi kondisi Tanah Air masa generasi itu. Negeri belum lama merdeka, setelah terjajah lama. Ekonomi payah. Sekolah, terlebih-lebih perguruan tinggi terbatas jumlahnya. Yang memadai memang ada di kota-kota besar terutama di ibu kota negara, Jakarta.

Di Jakarta, sejak lama ada penerbit buku, koran, majalah, yang besar-besar. Juga majalah-majalah sastra atau kebudayaan. Setelah kemerdekaan kedutaan-kedutaan negara sahabat bermunculan dan perpustakaannya bisa pula dimanfaatkan untuk melongok dunia menyibak cakrawala. Sekolah maupun perguruan tinggi (untuk yang ingin melanjutkan pendidikan yang tersendat), tersedia. Tahun 1968, oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dibangun Taman Ismail Marzuki, dan kaum seniman bahagia karena punya tempat untuk berkreasi, berdiskusi, berkumpul; tadinya terpencar dan terpopuler di Senen, sebagaimana Malioboro di Yogyakarta. Hingga akhir dekade 1980 TIM seperti barometer berkesenian di Tanah Air; ada kebanggaan tampil di sana, seolah seseorang sudah ditahbiskan sebagai seniman/sastrawan nasional.

Namun, satu-dua dekade terakhir para sastrawan merasa tidak perlu lagi pindah ke kota besar, bahkan Jakarta sekalipun; justru banyak yang menetap di kota kecil bukan ibu kota provinsi. Sebutlah Ahmad Tohari di Tinggarjaya, Banyumas; Beni Setia di Caruban; Zawawi Imron di Sumenep; Gus TF Sakai dan Iyut Fitra di Payakumbuh; Acep Zamzam Noer di Tasikmalaya; Hardho Sayoko SPB di Kedungalar, Ngawi; Sunaryono Basuki KS di Singaraja, Bali; Mardi Luhung di Gresik, Jawa Timur serta banyak lagi lainnya. Semua sehat saja, baik saja, mampu menjaga kreativitas dengan apik. Atau pinjam istilah Gerson Poyk, mengembangkan bakat yang dimiliki.

Perubahan sikap itu tersebab banyak hal, tapi utama akibat pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih baik dibanding zaman generasi Gerson Poyk. Dan, lebih penting lagi, berkat kemajuan teknologi informasi-komunikasi luar biasa di tingkat global, yang juga melanda Tanah Air. Di mana pun orang sekarang bermukim tidak akan terpencil. Telepon seluler menghubungkan manusia satu sama lain. Televisi, komputer, internet, atau entah apa lagi membuka akses semua rupa informasi, tak kecuali yang ada di pojok-pojok dunia terjauh sekalipun. Sekat-sekat dunia telah rubuh. Dunia terbuka, menyatu. Menganga.

Ekonomi yang lebih baik daripada era ’50-an dan ’60-an juga melahirkan penerbit lebih banyak, bank lebih banyak, di samping sekolah-perguruan tinggi yang bertebaran di seantero Tanah Air. Toko buku di mana-mana. Satu-dua dekade lalu kita cuma memiliki majalah sastra-kebudayaan Horison serta Basis sesudah Budaya Jaya pun tidak terbit lagi di awal 1980-an. Selain Horison, Basis, belakangan muncul Kalam, Jurnal Puisi, Jurnal Cerpen serta sederetan lainnya di berbagai daerah.

Sementara itu koran serta majalah yang memuat esai, sajak, cerpen makin banyak. Beredar hingga pintu rumah. Mengirim karya lebih praktis, mudah, lewat e-mail, atau tak perlu ke pos. Begitu pula honor, tiap saat bisa dipantau atau diambil lewat ATM berbagai bank yang juga bertebaran di mana-mana, tak hanya di kota besar apalagi Jakarta tok.

Semua itu berkah, sudah tentu. Selain bebas stres akibat macet dan banjir Jakarta yang parah, honor mungkin terasa lebih sedap oleh pengarang karena biaya hidup di kota kecil atau di kampung relatif rendah. Lebih mendasar lagi, fokus. Dapat lebih konsentrasi mengkaji diri di tengah dunia seperti ini, menyigi ke putih-tulang pelbagai aspek negeri dewek, lantaran energi tidak hilang lenyap menguap dihisap hiruk-pikuk kota besar yang pengap.

Walhasil, ke depan, ada harapan kita tidak sekadar figuran di tengah-tengah dunia yang terbuka, menganga. Tak hanya konsumen. Ada harapan akan lahir karya-karya yang ikut bicara di percaturan dunia, beraroma Nusantara, sebagaimana karya pengarang asal India yang sekarang berkibar tidak ubahnya bendera. Bukankah dunia yang terbuka juga menyeragamkan dan orang rindu yang khas, yang spesifik? (Eh, jangan-jangan karena itu penyair Afrizal Malna meninggalkan Jakarta tinggal di Solo atau Yogya, agar dekat-dekat dengan roh Tanah Air; Ajip Rosidi memilih menetap dekat Borobudur, tak di Jakarta atau di Bandung setelah merantau lama di Jepang; atau Wisran Hadi yang balik lagi ke Padang dan tetap tidak guyah untuk tergoda hengkang ke kota lebih besar sebutlah Jakarta selesai mengajar di Kualalumpur.)

Tetapi agaknya memang ada yang hilang di tengah-tengah dunia seperti sekarang. Sebagaimana lazimnya teknologi, teknologi informasi serta komunikasi canggih dewasa ini juga tidak bebas dari karakternya yang cenderung menyendirikan manusia, termasuk kita, para pengarang. Komunikasi langsung yang heboh bergairah tergantikan komunikasi senyap lewat pesan-singkat, internet, telepon seluler. Dan kita pun kehilangan raut wajah, ekspresi, gerak tangan kawan bicara, yang kadang menggetarkan gelas kopi di meja. Dan tidak pula bisa serentak kita lakukan dengan banyak kawan, sewaktu rindu bertukar cerita perkara anak-cucu yang lucu maupun pergulatan-pergulatan kreatif dalam mengarang.

Malangnya, lembaga-lembaga berkompeten semisal Dewan Kesenian Jakarta kini pun tidak lagi menyelenggarakan pertemuan sastrawan bagai tempo dulu. Bahkan Wisma Seni di TIM telah digusur. Di atasnya berdiri gedung megah, modern, dingin. Padahal, di kamar-kamar wisma itulah terjadi pertemuan sastrawan se-Indonesia yang sesungguhnya, melalui percakapan-percakapan intens-manusiawi hingga larut hari.

Apa buat. Itu memang cerita lain lagi. Sekarang zaman berubah dan kita berada di tengah-tengah dunia yang terbuka, menganga, dengan coraknya yang sangat beda dengan dua puluh lima atau puluhan tahun yang silam. Walau tempo-tempo, memang terasa aneh atawa ganjil. ***

*) Pengarang dan wartawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *