Potret Buram Pendidikan Dalam Cerpen

I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/

HIDUP adalah perjuangan. Karena itu, setiap manusia yang lahir ke dunia senantiasa berjuang mempertahankan eksistensinya sesuai dengan swadarma-nya masing-masing. Dalam berjuang, mereka berharap memperoleh kemenangan. Sasaran itu secara logika sah dan secara naluriah pun tidak salah.

Karena itu, bakat bawaan dan aksi profesi setiap orang berbeda-beda, maka cara berjuang pun bersifat interpersonal. Seorang tentara berjuang dengan mengangkat senjata, penari berjuang mengolah tubuh untuk mempertontonkan diri hingga menusuk hati memuaskan penonton, dan sastrawan berjuang melalui karya sastra yang dihasilkan. Cerpenis sebagai kelompok sastrawan pun tidak pernah surut perjuangannya melalui kritik-kritik yang dilancarkan. Kritik itu pada hakikatnya adalah protes terhadap keadaan yang timpang sekaligus protes terhadap (orang) yang melahirkan ketimpangan. Tegasnya, gugatan itu bersumber dari realitas sosial karena sastra (termasuk cerpen) tidak lahir dari kekosongan sosial sehingga protes sastrawan lewat karyanya mencerminkan wajah masyarakatnya.

Danarto dalam cerpennya “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” misalnya, melancarkan protesnya terhadap dunia pendidikan formal (sekolah) yang cenderung verbalistik, jauh dari keseharian anak-anak dan masyarakat lingkungannya. Anak-anak dipenjara dalam tembok kelas. “Mengapa mesti belajar di dalam kelas saja? Apakah padang rumput yang luas itu bukan kelas?”

Begitu pula cerpen Putu Wijaya dalam judul “Merdeka”. Dalam cerpen ini Putu mengisahkan Merdeka yang lahir bersamaan dengan ulang tahun Kemerdekaan dinilai sangat jenius, melebihi kemampuan teman sebayanya.

Kejeniusannya inilah membuat Merdeka sangat disegani teman-temannya. Tapi gurunya dibuat kesal. Karena itulah Merdeka tidak lulus lantas mengumpat teman-temannya yang berkemampuan pas-pasan. Dari sini pula Merdeka melancarkan protes terhadap dunia pendidikan. “Teman-teman Merdeka yang goblok semuanya mendapat pekerjaan dan jabatan. Bahkan yang dulu lulus karena membeli ijazah dan nodong kepala sekolah mendapat posisi penting. Merdeka melihat kejanggalan itu dengan jijik. Ia merasa diperlakukan tak adil. Kontan saja ia mencak-mencak, berkoar menggelar aksi protes”.

Ditautkan dengan sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini, kedua cerpen tersebut terasa pas dan kontekstual sehingga tidak salah panitia “Siswa Bertanya Sastrawan Bicara” akhir Agustus 2002 lalu memilihnya sebagai materi pelecut mencegah kelumpuhan siswa dalam mengapresiasi sastra. Lebih-lebih dengan cerpen Putu Wijaya itu, tingkat aktualitas dan kontekstualitasnya saat ini begitu menyengat ditautkan dengan pemberitaan media massa tentang program sarjana 3,5 bulan dan 1,5 tahun yang dibenarkan karena menggunakan pasal rupiah.

Protes terhadap dunia pendidikan yang buram itu juga dilakukan Seno Gumira Ajidarma melalui cerpen “Pelajaran Mengarang”. Cerpen terbaik pilihan Kompas 1993 ini mengisahkan seorang siswa kelas V, Sandra, yang gagal menyelesaikan tugas mengarang yang diberikan oleh Ibu Guru Tati. Dalam waktu 60 menit Sandra hanya menghasilkan suatu potongan kalimat dalam karangannya: “Ibuku seorang pelacur….”

Kebingungan yang dialami murid ketika mendapat tugas mengarang, dalam cerpen itu, ditampilkan melalui sosok Sandra. Melalui tokoh ini pula pengarang sesungguhnya sedang melancarkan protes terhadap rendahnya budaya menulis di kalangan siswa. Selain itu, melalui cerpen ini, pengarang juga memprotes bias pendidikan: aturan norma yang ditanamkan dan disuburkan di sekolah ternyata amat tandus dan kering di lingkungan masyarakat. Ada kesenjangan antara sekolah dan masyarakat dalam penyelarasan nilai-nilai etika moral berbangsa dan bernegara.

Potret buram pendidikan seperti itu juga menjadi bahan kontemplasi AA Navis dalam salah satu cerpennya, “Sang Guru Juki” (2001). Dalam cerpen ini AA Navis, melalui tokoh Si Dali, melancarkan protes terhadap Juki yang meninggalkan tugas mengajar agar tidak disangka mengkhianati teman-teman yang berjuang menegakkan kebenaran. Alih profesi dari guru ke pejuang yang dilakukan Juki menodai dunia pendidikan. Betapa tidak, Juki yang berangkat dari guru menjadi pejuang tega-teganya meninggalkan anak-istrinya dengan dalih berjuang, lalu kawin lagi di setiap tempat pengungsian. Juki kawin lebih dari tiga kali. Itu artinya ia laki-laki tukang kawin sekaligus tukang cerai.

Dengan watak guru Juki seperti itu, dapat dibayangkan bagaimana nasib anak-istri pertamanya yang ditinggal dengan drama sandiwara yang dibungkus lewat profesi pejuang perang. Dari sini terlukis betapa pendidikan anak dalam keluarga terabaikan dan pendidikan formal di sekolah tak terurus sepenuh hati.

Setting cerita masa revolusi fisik yang digambarkan AA Navis dalam cerpen ini memberikan petunjuk bahwa sejak awal kemerdekaan perhatian terhadap dunia pendidikan begitu memprihatinkan. Suatu hal yang amat kontroversial bagi negeri yang mencantumkan tujuan pendidikan dalam UUD-nya dengan kalimat indah: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Justru Mundur
Potret buram pendidikan juga tersirat dalam cerpen “Festival Matajen” karya Made Wianta. Cerpen yang dinobatkan sebagai salah satu cerpen terbaik Bali Post 2001 — dalam buku “Obituari Bagi yang Tak Mati” (OBYTM) ini menyoroti betapa kroposnya nilai-nilai pendidikan sehingga tajen (judi) disahkan sebagai sarana menggali dana untuk pembangunan pura. Melalui tokoh Pan Suci yang guru, pengarang memprotes cara-cara penggalian dana lewat judi apalagi untuk membangun pura. Tapi protes Pan Suci berbuah kecewa. Suaranya nyaris tak terdengar di tengah-tengah suryak siu warga Banjar Delod Pangkung.

Masih dalam buku OBYTM, dalam cerpen “Omong Kosong” pun Imtihan Taufan menyoroti telah terjadinya keganjilan dalam dunia pendidikan kita. “Para kurawa bernyanyi dalam seragam Pandawa dan berteriak-teriak menjadi pemilik kebenaran”. Selanjutnya disebutkan, “Kami muak angka-angka biru. Semua adalah omong kosong. Biarlah angka-angka merah menjadi penghias, sebab jalanan adalah sekolah yang paling indah dan mendebarkan hati”.

Begitu banyaknya cerpen bertebaran menyuarakan protes terhadap dunia pendidikan di negeri ini, tetapi dunia pendidikan kita tidak mengalami kemajuan, justru mengalami kemunduran. Ini diakui Taufiq Ismail saat penutupan SBSB akhir Agustus 2002 lalu. Katanya, jagat pendidikan Indonesia 78 tahun silam sama dengan Amerika sekarang. Bukankah ini sebuah kemunduran bagi pendidikan Indonesia hari ini?

Kemunduran itu makin kentara ketika jual beli ijazah dan gelar diobral dengan rupiah. Gila gelar mewarnai jagat pendidikan kita bersamaan dengan kemerosotan moral dan mental bangsa yang kian menjadi-jadi. Parameternya terlihat dari semakin seringnya negeri ini mendapat predikat terkorup dalam berbagai survai tingkat regional maupun internasional.

Sadar akan keadaan bangsa yang kian memprihatinkan itu, rupanya cerpenis berusaha menepuk bahu para pengambil kebijaksanaan melalui cerpen-cerpennya. Mengingatkan penguasa dengan cara berbudaya dan manusiawi. Masalahnya, masih tersisakah waktu untuk baca sastra termasuk cerpen? Jika tidak, marilah kita belajar malu mengatakan diri sebagai bangsa berbudaya luhur. Orang berbudaya itu senantiasa baca sastra. Dengan demikian, protes yang dilakukan oleh orang berbudaya terhadap dunia pendidikan, pada hakikatnya merupakan potret buram pendidikan yang perlu segera mendapat perhatian dan perbaikan demi kelangsungan hidup berbangsa yang berperadaban. Bangsa seperti yang dicita-citakan itu mustahil terwujud tanpa perhatian serius terhadap dunia pendidikan. Cerpenis telah memberikan atensinya, kini tinggal aplikasinya di jajaran elite bangsa.

One Reply to “Potret Buram Pendidikan Dalam Cerpen”

  1. Syarat menjadi warga belajar adalah dia sedang hidup dan dapat membedakan perbuatan baik dan benar, orang yang dapat membedakan perbuat baik dan benar menurut google berusia 13 tahun. Kenyataan sekarang pendidikan itu diselenggarakan mulai usia 5 tahun bahkan ada pendidikan usia dini seperti PAUD (pendidikan usia dini). Jaman Dulu termasuk angkatan orang tua kita belum berani menyebut pendidikan tapi Taman kanak-kanak istilahnya bagaimana cara bermain yang baik.
    Syarat orang mengajar adalah dia sedang hidup dan keabsahan dia menjadi pengajar, demikian juga orang lain seperti tentara, penjuang, ulama, dosen, pencuri, sastrawan dan banyak lagi terkait dengan profesi atau pekerjaannya, Singkat kata orang melakukan dharma hanya dan hanya jika dia hidup.
    Pendidikan itu penting jika menjarkan bagaimana cara hidup yang sesuai dan tepat waktunya, bagaimana cara berupaya untuk hidup, dan bagaimana cara berperan yang baik dalam kehidupan. Jadi kegagalan sistem pendidikan artinya kegagalan hidup para yang hidup mengupayakan penghidupan dalam kehidupan pendidikan. (bukan sistem pendidikan yang gagal). Solusi untuk perbaikan adalah hanya dan hanya jika diajarkan bagaimana cara hidup untuk bisa berupaya dalam kehidupannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *