Puisi-Puisi Mutia Sukma

http://sastrakarta.multiply.com/
Sebuah Kota

hallo Yogya
kukepak sayap yang hampir patah
bulubulu yang gagal tumbuh
di sengat asap
bau selokan
juga bunga dan buah busuk
mengambang memenuhi kotaku
aku datang mengunyah setiap
kilometer angkaangka serta jarum jam
yang tak mau ditahan

di sini
kau malah termangu saja
di sudut taman
daun kuning murbai
hambur di pelataran
jari lentik menari
memainkan selendang lalu
melenggang kemudian
ikut gugur bersama daundaun
kuning murbai
hanya ada sambalsambal cerita
yang memerahkan pipiku yang gembil

ini kupulangkan
gambar malioboromu
yang dari kemarin kugenggam
maaf telah membentuk
lipatanlipatan
garis murung dan lupa
dinyanyikannyanyikan

ah, kau tak mau menerimanya?
sudah bosankah menyesap segala aroma?
sungguh, aku tak mau
gambar ini lagi

darimu aku belajar
mengeja ceritacerita kota
yang lebih segar dari kotaku sendiri
kubuang gambar malioboro
dan aku mulai terbang

pulang!

Di Rahim Pandan Berduri Pulau Bintan Mengeram

pandan berduri
kelahiran?
alamat paling mengerikan
untuk sampai pada limas;
duri? duri?
daun pandan yang tercecap wanginya
pada seorang batik
yang mengekalkanku pada warna dunia
dan mengajarkan bahasa angin
bahasa air yang serupa gelombang rambutku
lalu mereka yang mengintipku mandi itu
ingin berenang di dalamnya
jenang perkasa
julela?julela?
ramalan mana yang kau baca
sebagai tanda terang di depan
yang membuatmu silau di belakang
dan membuatku selalu mengigau
tentang sampan
dilaju gelomban yang
menghentikan aku
pada pelabuhan paling tepi
serupa rambut dara

sampailah aku

o? sungai yang perawan

kutemukan ikan wewarni
berliuk di antara batu beraroma lumpur
dan perutnya pun tambun
oleh cinta.

mantang
maka jadilah aku
jadilah mapoi
jadilah kelong
yang dituntun menyusuri jalan lurus

serupa alis
yang menyimpan doa pada tiap bulunya
bintan? bintan
utara, barat, timur
terjagalah

– busur dan anak panah
tiba juga pada hari libur –

2007

Padamu Juga
:roro kidul

padamu juga
persembahan sesaji bumi kepada laut
lewat seorang tua yang pandai
merapal mantera
cara memuja menjadi nafas
yang kau lepas saat sukma ikut lepas
kau mengenal dia bukan?
seorang tua yang kautitipi pesan
laut kepada bumi
semoga iya, harapnya

padamu juga
dagingnya berhenti menggemuk
untuk menjalankan tirakatmu
di hari pemujaan
akankah kau benarbenar datang
berkereta kencana, bergaun biru
berparas ayu?

“aku melihatnya!”
teriak lelaki di sudut gubug itu
bersama gaun jeritan yang lamat hilang
seluruh waktu begitu terangkum bisu
matamata sayu yang pelan menunduk
dan bergumam dalam hati
“lelaki beruntung, melihat ratu ayu.”

satu melihatmu
seribu lagi mulai menunggu.

Yogya, 07

Menunggu Sinterklas Datang
masih buatmu; do

sesetiap pion yang selalu memakan
tanpa nada skak, kau menyerang
dari belakang
menggayung lupa kata-kata
yang tak kau entas
di pematang berhitam, berputih

sekarang telah pukul duabelas malam
tubuhmu sudah bergidik ingin pulang
tapi tidak!
malam masih panjang
dia cukup santun untuk cepat-cepat
kau bangunkan tawanya

bila rindu pulang datang
berangkatlah ke dapur
raciklah segala salah dalam
kantong-kantong sinterklas
hidangkan di pertandingan
pada malam natal yang nyaris
bertabrakan
agar semua berubah berkah
lalu raja dan ratu
di permainan caturmu
gegas membuka gerbong yang
menerbangkan beribu rahasia

namun, kalau kau masih rindu pulang
sabar, tunggu sebentar
natal belum datang

februari 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *