Sastra Indonesia di Mata Dunia

Ahda Imran
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

DALAM pergaulan sastra dunia, sastra Indonesia adalah sebuah terra in cognita, ruang gelap yang tak diketahui dan tidak dikenal. Jika pun ada karya sastra Indonesia yang dikenal dan sempat disebut-sebut dalam pergaulan sastra dunia, semuanya selalu serbaparsial, tidak utuh dan menyeluruh. Karya sastrawan Indonesia di mata dunia selalu pada akhirnya hanya berhenti pada nama itu-itu saja, Chairil Anwar, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, W.S. Rendra, atau Y.B. Mangunwijaya. Karya mereka pun sebenarnya lebih dikenal hanya di kalangan dunia akademis atau universitas yang (kebetulan) memiliki program kajian bahasa dan sastra Indonesia, ketimbang di publik yang jauh lebih luas.

Dalam sejumlah hal, musababnya bukanlah karena karya sastra Indonesia tidak menarik di mata dunia. Akan tetapi, dalam pergaulan sastra masyarakat internasional, pembacaan atas sebuah karya sastra dari negeri yang asing dan jauh selalu menjadi menarik serta menimbulkan kepenasaranan ketika terdapat sejumlah referensi ihwal perkembangan karya sastra di negeri itu secara lebih menyeluruh sebagai suatu tradisi. Sialnya, inilah yang tidak dimiliki sastra Indonesia sehingga ia hanya dibaca kalangan terbatas di dunia akademik.

Tak adanya kemauan pemerintah untuk memperkenalkan kebudayaan dan karya sastra Indonesia ke mata dunia, mungkin bisa dijadikan salah satu musababnya. Tak hanya itu, sejumlah dosen dan peneliti sastra Indonesia di negara-negara Eropa, misalnya, sering tak bisa lagi membaca perkembangan sastra Indonesia mutakhir karena Perpustakaan Kedutaan Besar Indonesia sangat langka mengoleksinya. Paling tidak, bahan-bahan yang mereka perlukan sering tidak mencukupi. Musabab lainnya adalah tak ada lembaga yang berkonsentrasi pada penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa asing. Baik yang dikerjakan lembaga swasta apalagi pemerintah.

Di lain sisi, terdapat juga kenyataan berikutnya mengapa sastra Indonesia di mata dunia sering terbaca sebagai perkembangan yang parsial. Karena Indonesia adalah sebuah terra in cognita, maka sedikit saja ada cahaya penerang langsung mendapat tempat dalam pergaulan sastra dunia seraya mengandaikan bahwa lewat cahaya penerang itulah sastra Indonesia bisa tampak. Tentu saja ini tak salah, paling tidak, ada sedikit celah untuk membaca perkembangan sastra Indonesia. Hanya soalnya kemudian, cahaya penerang itu menganggap dirinya sebagai representasi dari keseluruhan perkembangan sastra Indonesia.

Dengan kata lain, pihak atau komunitas yang memiliki akses untuk masuk ke pergaulan sastra dunia, lewat lobi-lobi mereka yang canggih ke berbagai jaringan lembaga asing dengan isu-isu yang bisa “dijual” (dari mulai hak asasi manusia, pluralisme, hingga demokratisasi), terutama ke lembaga-lembaga jaringan dana internasional, sering memainkan politik citraan bahwa merekalah cahaya penerang bagi mata dunia untuk menatap sastra Indonesia sehingga terjadinya dominasi akses.

Mungkin tak apa, seandainya saja dominasi akses ini tidak dibarengi tendensi yang melulu berpusat pada kepentingan kelompok mereka. Yang kini terjadi adalah ketika akses ini hanya dipakai untuk membawa karya sastra Indonesia ke mata dunia menurut ukuran politik citraan yang mereka mainkan sehingga dalam pergaulan sastra dunia karya para sastrawan yang dikenal selalu hanya terbatas pada mereka yang berada di lingkaran kelompok tersebut. Sedangkan di luar itu sastra Indonesia tetap sebagai terra in cognita. Maka, yang terjadi kemudian adalah pemahaman mata dunia terhadap sastra Indonesia yang tak pernah lengkap sebab hanya berasal dari satu sumber yang mendominasi akses.
**

DEMIKIAN sejumlah pemikiran yang mengapung dalam seminar Jakarta Internasional Literature Festival (Jilfest) yang berlangsung di Jakarta, 12 Desember 2008. Seminar dalam festival yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Komunitas Cerpen Indonesia (KCI) ini merupakan rangkaian acara dari Jilfest yang berlangsung 11-14 Desember 2008. Festival ini diikuti sastrawan dan pengamat sastra dari Indonesia, Belanda, Swedia, Singapura,Portugal, RRC, dan Korea.

Meskipun tak ada tema tertentu yang dijadikan rujukan, namun festival dan seminar ini berangkat dari semangat melakukan pembacaan kritis ihwal apa dan bagaimana sastra Indonesia di mata dunia, peluang, dan tantangannya. Untuk keperluan itulah pembicara dihadirkan dari berbagai konteks yang berkorelasi ke arah itu; pandangan sejumlah pengamat sastra asing terhadap nasib karya sastra Indonesia di negara mereka, pengalaman sastrawan Indonesia yang karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, dan politik sastra di Indonesia yang dalam hubungannya dengan politik jaringan untuk “menguasai” akses ke tengah pergaulan sastra dunia lengkap dengan citraan untuk meraih kepercayaan lembaga dana internasional.

Baik sastrawan dan pengamat sastra Djamal Tukimin, M.A. (Singapura) maupun Prof. Dr. Koh Young Hun (Korea) menilai karya sastra Indonesia memiliki peluang besar diterima publik sastra di negara mereka. Termasuk prospek penerbitan karya sastrawan muda Indonesia, seperti yang terjadi di Singapura dengan sambutan yang hangat pada novel Ayat-ayat Cinta (Habbiburahman Shirazi) dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata).

“Padahal, dalam waktu yang bersamaan, karya para pengarang Singapura baru diterima setelah tampak ada peningkatan mutu yang sama dengan karya para pengarang Indonesia, meski karya itu sudah lama diterbitkan. Hal ini menunjukkan memang tren dan pengaruh Indonesia jauh lebih dominan dalam mengutarakan persoalan karena ada revolusi budaya yang agresif,” tutur Djamal Tukimin.

Seraya menuturkan bagaimana kuatnya pengaruh sastra Indonesia di Singapura yang telah terjadi sejak 1930-an, Djamal Tukimin mengemukakan sejumlah alasan mengapa karya sastra Indonesia mudah diterima di Singapura. Salah satunya adalah bagaimana sastrawan Indonesia memiliki sikap terbuka pada berbagai pemikiran seni. Ini berbeda dengan sastrawan Melayu yang agak feodal. Jika pun ada di antara mereka yang mulai bergeser, sastrawan Indonesialah yang memberi dan menjadi inspirasi mereka. “Pada awal abad ini masih ada dan masih muncul para sastrawan muda Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar di Singapura, walaupun tengah bersaing dengan karya sastra remaja yang ada,” ujarnya.

Jika Djamal Tukimin lebih melihat nasib sastra Indonesia di Singapura dalam konteks peluang penerbitan, Koh Young Hun melihat sejumlah celah yang bisa dijadikan peluang bagi sastra Indonesia untuk diterima publik yang lebih luas di Korea sekaligus juga tantangan yang kerap dijumpai selama ini. Seiring dengan mulai diperkenalkannya bahasa Indonesia di perguruan-perguruan tinggi di Korea tahun 1964, kajian terhadap budaya dan sastra Indonesia terus dilakukan. Termasuk ketika Koh Young Hun menerjemahkan sejumlah karya Pramoedya Ananta Toer ke dalam bahasa Korea. Demikian juga dengan Kim Jang Gyen dan Lee Yeon yang melakukan penelitian karya-karya Mochtar Lubis dan N.H. Dini. Selain itu, berbagai lembaga dan universitas pun kerap mengundang sastrawan Indonesia ke Korea.

Sastra dan bahasa sebagai pintu gerbang untuk mengenal tradisi dan budaya di Indonesia, paling tidak bagi Korea menjadi semacam kebutuhan yang niscaya dalam konteks investasi seperti penanaman modal. “Orang-orang Korea yang ingin menanam modal di Indonesia perlu memahami latar belakang budaya di Indonesia. Tidak sedikit penanaman modal dari Korea yang kurang berhasil gara-gara tidak dipahaminya budaya di negeri ini. Mereka yang cuma membawa modal dan teknologi punya kemungkinan besar gagal,” ujar Guru Besar Hankuk University of Foreign Studies Seoul, Korea ini.

Sejumlah kesempatan yang berkaitan dengan perkenalan sastra Indonesia di Korea dapat dikatakan berhasil. Akan tetapi, masyarakat Korea umumnya belum begitu tahu unggulnya khazanah sastra Indonesia. Dengan perkataan lain, khazanah sastra Indonesia memiliki taraf yang tinggi dan berpeluang digemari kalangan pembaca dunia. Oleh karena itu, ia berharap hendaknya pemerintah Indonesia memberi perhatian yang istimewa untuk memperkenalkan sastra Indonesia ke luar negeri, misalnya, dengan mendirikan lembaga yang menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa-bahasa asing atau menunjang lembaga swasta yang berhubungan dengan itu.
**

NASIB sastra Indonesia di mata dunia seolah hadir tanpa referensi yang utuh, baik pengenalan (promosi) ihwal tradisi perkembangannya, terlebih lagi tentang kebudayaan Indonesia itu sendiri. Berbeda dengan pengenalan seni pertunjukan tradisi Indonesia yang selalu diboyong pemerintah ke berbagai event di dunia internasional, pemerintah terkesan tidak memandang karya sastra sebagai aset yang perlu dipromosikan. Mata dunia bisa dengan jelas mengenal berbagai seni tradisi pertunjukan Indonesia, bahkan hingga makanannya, tetapi tidak tentang karya sastranya.

Ketidaktahuan masyarakat internasional pada sastra Indonesia inilah yang dengan sedih diceritakan cerpenis dan novelis Putu Wijaya, ketika di Berlin seorang penyair kulit hitam Amerika Serikat bertanya kepadanya, “Apakah di Indonesia ada penyair?”

Putu juga menuturkan pengalamannya yang lain ketika seorang penerbit di Berlin tertarik menerbitkan cerpen-cerpennya. Akan tetapi, penerbit itu mengatakan agar Putu jangan berharap terlalu banyak bahwa karya akan disambut masyarakat di Jerman. “Beberapa karya Pramoedya dan Mangunwijaya sudah diterjemahkan ke bahasa Jerman, tetapi di pasar tidak bunyi. Itu tidak disebabkan karya-karya mereka tidak menarik, tetapi karena masyarakat Jerman tidak memiliki referensi bahwa di Indonesia ada kehidupan sastra,” ujar Putu.

Nasib sastra Indonesia di mata dunia pada bagian lain juga menyimpan fenomena yang lain, ketika akses menuju pergaulan sastra dunia internasional itu dilakukan oleh pihak atau komunitas yang melakukan semacam strategi citraan. Citraan yang diembuskan dikaitkan dengan isu-isu aktual, seperti feminisme, pluralisme, hak asasi manusia, dan demokrasi kebudayaan. Dengan strategi citraan inilah, komunitas tersebut bisa merebut simpatik. Inilah politik sastra yang terjadi di Indonesia demi keperluan membangun akses menuju ke pergaulan sastra dunia. Bagian dari strategi citraan ini tampak ketika sebuah karya dinobatkan sebagai representasi dari pembenaran isu yang tengah dimainkan. Yang terjadi kemudian, di tengah minimnya pengenalan terhadap sastra Indonesia, ia dipahami dalam berbagai kejanggalan.

Lewat kajian kritis dan investigasinya yang mendalam terhadap berbagai sumber di Jerman, kritikus sastra Katrin Bandel memaparkan sejumlah permasalahan di balik popularitas Ayu Utami dengan karyanya Saman di Jerman dalam apa yang disebutnya dengan “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa”. Salah satu bagian dari politik itu adalah politik pencitraan Ayu Utami di berbagai media massa Jerman sebagai penulis (perempuan) muda Indonesia berbakat yang berani menulis hal-hal tabu yang sulit diterima masyarakat negaranya yang “kolot” dan “patriakis”.

Menurut Katrin, betapa Ayu Utami dan Komunitas Utan Kayu direpresentasikan dengan cara yang begitu tendensius dan menyesatkan di beberapa media Jerman dan negara di Eropa. Maka, lalu muncul semacam pertanyaan, apakah pembaca Eropa begitu mudah tertipu? Pembaca Jerman bebas membentuk pendapatnya sendiri, tetapi kebebasan itu ada batasnya ketika pembaca Jerman tidak mengenal dunia sastra Indonesia.

“Contoh menarik adalah resensi Birgit Kob di radio Jerman Deutschlandradio, 17 Desember 2007. Ia membandingkan novel Saman dengan puzzle yang tidak berhasil diselesaikan dan tidak berbentuk. Namun, kebingungan itu tidak membuatnya berkesimpulan bahwa novel itu kurang berhasil. Akan tetapi, justru dipahaminya sebagai bagian dari pengalaman baca sebagai pembaca Barat yang berhadapan dengan karya asing. Maka, kalau Saman dipilih di antara sekian banyak karya sastra Indonesia untuk disuguhkan pada pembaca Jerman, wajar kalau cara bercerita ala Saman-lah yang akan dianggap pembaca Jerman sebagai cara bercerita ?khas Indonesia?,” ucap Katrin Bandel.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply