Ambisi mendirikan dinasti baru

KISAH TIGA NEGARA Oleh: Lo Guanzhong
Diterjemahkan oleh: A.S. Udin
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti, 1987
Peresensi: A. Dahana
http://majalah.tempointeraktif.com/

SETELAH terbitnya seri novel Batas Air (Shuihuzhuan), yang sekarang sudah selesai sampai empat jilid, perkenalan kita dengan kesusastraan klasik Cina bertambah lagi dengan turunnya buku Kisah Tiga Negara. Buku tersebut merupakan terjemahan langsung dari bahasa Cina, yang aslinya berjudul San Guo Yanyi, ditulis oleh Luo (bukan Lo) Guanzhong, seorang sastrawan yang hidup pada masa Ahala Yuan (1260- 1341).

Berlainan dengan Batas Air, yang tokoh-tokohnya fiktif, Kisah Tiga Negara merupakan sebuah roman sejarah. Para pelakunya pernah hidup dan berperan, dan kejadiannya sendiri dilatarbelakangi suatu priode khusus dalam sejarah kuno Cina yang dikenal dengan nama Zaman Tiga Negara, San Guo Shidai. Cerita dalam buku berlangsung pada tahun Masehi 168 sampai 265.

Zaman itu ditandai dengan keadaan kacau di Cina — sesuatu yang lazim dalam sejarah Cina — ketika Ahala Han (221 SM–265 M) sedang menghadapi saat-saat keruntuhannya. Sebenarnya, jauh sebelum itu, perebutan pengaruh di antara raja-raja muda, ketidakpuasan di kalangan rakyat, dan kelemahan dalam keraton Han sendiri telah menyebabkan masa Ahala Han dibagi dua, yakni Han Barat (206 SM – 24 M) dan Han Timur (25 – 220 M).

Kisah Tiga Negara bercerita tentang masa menjelang robohnya Ahala Han Timur dan itu dimulai dengan meletusnya serentetan pemberontakan petani — lagi, salah satu ciri khusus dalam sejarah dinasti-dinasti di Cina. Salah satu yang terhebat dari gerakan petani itu dikenal dalam sejarah Cina, dengan nama Pemberontakan Serban Kuning (Huangjin Qiyi). Upaya dari beberapa jago perang feodal untuk memadamkan pemberontakan tersebut telah melahirkan tiga tokoh yang menjadi para pemegang peranan utama dalam novel tersebut.

Yang pertama adalah Zao Cao, yang menjadi pendiri Kerajaan Wei (220-265) dengan lokasi sekitar lembah Sungai Kuning (Huanghe) dengan ibu kota Luoyang. Sebenarnya, pada mulanya Zao Cao punya motlf untuk menyelamatkan Kaisar Han dari genggaman seorang kebiri (kasim atau thaykam) yang bernama Dong Zhuo. Tapi lama-lama keinginan untuk menyelamatkan dinasti itu menjurus ke perebutan kekuasaan, bahkan ia berambisi untuk menguasai seluruh Cina dan mendirikan dinasti baru.

Tokoh kedua adalah Liu Bei, pendiri kerajaan Shu (221-263). Ia bermaksud memulihkan kebesaran Ahala Han, dan dibantu oleh dua saudara angkatnya Guan Yu dan Zhang Fei. Mereka amat terkenal karena “bersumpah di kebun persik” untuk mati bersama walau bukan dilahirkan bersama. Liu Bei juga punya seorang “spri” yang kemudian diangkat sebagai perdana menterinya.

Pembantu utama yang terkenal dengan nama Kong Ming ini pandai dalam urusan strategi perang, di samping ahli dalam astrologi. Malah tokoh Guan Yu kemudian dipuja sebagai dewa perang, dan di kalangan etnik Cina di sini dikenal dengan nama Kuan Kong.

Sosok yang ketiga adalah Sun Quan, yang berhasil mendirikan kerajaan Wu (222-280) yang sekarang terletak di dataran rendah Sungai Yangzi dengan ibu kota Wu Chang, dan kemudian dipindahkan ke Nanjing. Sun juga hanya ingin menyelamatkan negara dari perpecahan, tapi pada akhirnya ia pun berambisi untuk melepaskan diri dari kekaisaran Han.

Sebagian besar novel itu dengan demikian menceritakan liku-liku persaingan di antara ketiga tokoh tersebut. Kisah Tiga Negara sangat terkenal, dan malah sudah menjadi bagian dari kesusastraan klasik dunia. Buku itu telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, dan versi Inggrisnya terbit pada 1925, dengan judul Romance of the Three Kingdoms, dialihbahasakan oleh C.H. Brewitt Taylor.

Novel ini sangat populer di kalangan generasi tua, terutama politikus dan ahli strategi militer Cina. Ada yang mengatakan, Sanquo Yanyi merupakan penerapan teori politik, perang, dan strategi yang diketengahkan oleh Sunzi pada zaman Cina Kuno. Buku yang dikenal dengan nama Zhanfa (Strategi Perang) itu sampai sekarang masih dibaca, bahkan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Membaca versi bahasa Indonesia buku itu bagaikan mendengarkan tukang cerita. Luo Guanzhong memang menulisnya dalam gaya itu. Mungkin penerjemahnya hanyut ke dalam gaya tersebut, sehingga kadang-kadang kita menemukan beberapa kalimat yang rasanya tidak atau belum selesai.

Secara umum, buku Kisah Tiga Negara adalah karya kesusastraan Cina klasik yang lebih dikenal ketimbang Batas Air. Konon, taktik-taktik perang yang dilukiskan di dalamnya telah menjadi inspirasi bagi Mao Zedong dalam menulis karya-karya militer dan dalam perjuangan bersenjatanya untuk mendirikan pemerintah komunis di Daratan Cina.

Di samping itu, dalam novel tersebut kita bisa menemukan orang-orang gagah perkasa dengan budi pekerti luhur, selain kelakuan tokoh-tokoh licik dengan watak keji dan tipu muslihatnya. Generasi tua Cina sering mengambil contoh tingkah laku para pemegang peranan utama dalam novel itu sebagai bahan pelajaran moral.

Dibandingkan dengan Batas Air, Kisah Tiga Negara penuh dengan mitos, bahkan mendekati klenik. Itu terutama muncul pada bagian-bagian yang berhubungan dengan kaisar Cina sebagai Putra Langit (Tianzi). Tak mengherankan, karena novel itu ditulis pada masa ahala-ahala, maka kelihatan penuh dengan semangat feodal. Selamat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *