Dari Secarik Pembungkus Terasi

Arif Firmansyah, Rinny Srihartiny, Rana Akbari
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sastra daerah punya struktur cerita, model penokohan, dan tema yang lebih sederhana, serta pembaca yang lebih tradisional.

Potongan cerita pendek di kertas pembungkus terasi menarik perhatian seorang gadis kecil. Sambil berjalan, matanya menatap setiap kalimat. Saking asyiknya menikmati cerita dalam bahasa Sunda itu, si gadis tak tahu terasi yang dibeli jatuh entah di mana. Ia baru sadar setelah tiba di rumah. Saat ibunya bertanya, ia menjawab sekenanya, “Mungkin terasi itu tertinggal di warung.”

Kisah tersebut bukan penggalan cerita fiksi, melainkan kisah nyata yang dialami Holisoh M.E. puluhan tahun silam. Perempuan kelahiran Cileunyi, Bandung, 25 Desember 1952 ini mengingat kembali babak penting dalam perjalanan kariernya sebagai penulis cerita dalam bahasa Sunda. Holisoh kecil penasaran mengapa orang bisa menulis cerita di atas kertas pembungkus terasi. Minatnya menulis mulai tumbuh sejak tersengat cerita seru yang baru dinikmatinya.

Holisoh tak salah memilih jalan. Sejak serius menulis cerita pendek atau carita pondok dalam bahasa Sunda pada 1973, namanya menghias semua penerbitan berbahasa Sunda. Karya pertamanya, Pasen Anyar (Pasien Anyar), dimuat di majalah Hanjuang. Hingga kini tak kurang dari 500 karya lahir dari tangannya. Sastrawan Ajip Rosidi menyebutnya pengarang Sunda paling produktif. Beragam penghargaan pernah ia terima. Roman Kembang-Kembang Petingan (Kembang-Kembang Pilihan) memenangi Hadiah Sastra Lembaga Basa Jeung Sastera Sunda (LBSS) tahun 2000. Tahun lalu giliran Hadiah Sastra Rancage 2003 mampir ke pundaknya.

Kepala Sekolah SD Cileunyi V Bandung ini bukan satu-satunya perempuan sastrawan daerah yang masih berkarya. Pencinta sastra Sunda masih mengenal Chiye’ Retty Isnendes dan Dyah Padmini. Keduanya pernah meraih Hadiah Sastra Rancage 2000 dan 2001 untuk sastra Sunda. Retty lewat kumpulan sajak Kidang Kawisaya (Kijang Terjerat Mantra) dan Padmini dengan kumpulan sajak Jaladri Tingtrim (Samudra yang Tenang).

Karya sastra dalam bahasa Jawa yang lahir dari tangan perempuan sebenarnya tak kalah menarik. Pada era 1980-an, muncul nama Yunani dan Tiwiek S.A., yang rajin menulis cerita bersambung di majalah Jaya Baya dan Penjebar Semangat. Tema yang diangkat tak beranjak jauh dari problem bani hawa dalam masyarakat yang patriarki. Cerita bersambung Ayu Sri Rahayu karya Yunani menampilkan pergulatan batin perkawinan perempuan kelas menengah.

Tema karya sastra dalam bahasa daerah itu sebenarnya tak banyak berbeda dengan karya dalam bahasa Indonesia. Problem sosial dan perempuan selalu menempati urutan teratas. Hanya struktur cerita yang membedakan keduanya. Karya sastra yang lahir dari tangan perempuan pada era 2000-an ini mengalami perubahan luar biasa. Para perempuan muda seperti Ayu Utami, Dewi Lestari, Nukila Amal, Linda Christanty, dan tiga pemenang sayembara penulisan novel DKJ 2004 mencoba sebuah gaya bercerita baru. Bahkan mereka tak segan menggunakan setting negeri asing yang tak pernah mereka jamah.

Keberanian melakukan eksperimen itu yang belum dicoba sastrawan daerah. Sejak kemunculan Yunani dan Tiwiek S.A., struktur cerita linier dengan satu tokoh utama tetap bertahan hingga hari ini. Pemilihan setting cerita pun tak beranjak jauh dari lingkungannya. Cerita pendek di majalah berbahasa Jawa, Penjebar Semangat, mungkin jadi contoh terkini. Bandingkan dengan struktur cerita yang digunakan tiga pemenang sayembara penulisan novel DKJ 2004 lalu.

Menulis karya sastra dalam bahasa daerah memang tak mudah. Penguasaan tema, kosakata, dan struktur bahasa saja tak cukup. “Perlu memahami budaya tempat bahasa itu berkembang,” kata Holisoh. Tujuannya agar tak salah menempatkan kata. Setiap kata bukan cuma dipahami artinya, tapi juga maknanya. Ada beberapa kosakata yang mengalami pergeseran makna seiring dengan perkembangan zaman. Bagian ini yang sering kali menjadi hambatan penulis.

Langkah paling aman menyiasati kekurangan kosakata hanya menggali dari cerita lawas. Karya Rahmatullah Ading Affandi, Yus Sutiana, dan Ajip Rosidi menjadi bacaan wajib Retty Isnendes. Karya lama sastrawan Sunda ini setidaknya menambah kosakata yang tak ditemukan dalam buku terbitan terkini.

Mantan karyawati pabrik tekstil KTSM Bandung ini bukan tak tertarik menulis dalam bahasa Indonesia. Pengalaman pahit di bagian spinning selama dua tahun sebenarnya menjadi sumber gagasan menulis. “Tapi, banyak diksi yang tidak pas kalau ditulis dalam bahasa Indonesia,” kata alumni Jurusan Sastra Sunda IKIP Bandung ini. Ia merasa lebih cocok menulis cerita dalam bahasa Sunda. Apalagi, cita-citanya menjadi sastrawan Sunda seperti Ajip Rosidi tak pernah padam.

Karya Retty, yang kebanyakan berbentuk sajak, mengangkat masalah sosial. Karya pertamanya tentang cinta, Kasumba Kuring (Merah Muda Saya), dimuat di majalah Mangle tahun 1994. Tema sosial juga ditemukan dalam cerita pendek dan roman Holisoh. Sedangkan Dyah Padmini memilih tema spiritual. “Mungkin karena ibu mengajarkan saya zikir Asmaul Husna sejak remaja,” kata Dyah, yang ikut melatih silat bersama suaminya di Lembang, Bandung.

Tema yang mereka pilih sebenarnya tak jauh berbeda dengan karya sastra dalam bahasa Indonesia. Holisoh menjadi bahan perbincangan seru gara-gara menulis kehidupan wanita pekerja seks komersial dalam Kembang-Kembang Petingan. Roman setebal 185 halaman ini mengisahkan Enok yang berganti nama menjadi Tati setelah terjun ke dunia pelacuran karena sakit hati pada suaminya.

Holisoh menuai protes dan cacian karena mengangkat tema “tabu” dalam sastra Sunda. Ibu empat anak ini dinilai tak punya kepekaan sebagai pendidik. Makian keras membuatnya nyaris berhenti menulis jika tak ada kabar bagus dari LBSS, yang memberinya anugerah sastra empat tahun lalu. “Kenapa kalau tema pelacuran dan seks dalam (novel) bahasa Indonesia dianggap biasa?” kata penulis buku Katineung (Kerinduan Kasih) 1988 ini.

Karya dalam bahasa daerah memang punya banyak masalah. Bukan cuma terikat oleh struktur bahasa yang baku, tapi juga tradisi. Itu pun belum termasuk soal uang yang bisa dijala. Satu cerita pendek dalam bahasa Indonesia bisa dihargai ratusan ribu rupiah untuk sekali terbit di media. Bandingkan dengan honor penulis carita pondok, yang cuma Rp 45 ribu. “Sajak cuma dihargai Rp 30 ribu,” keluh Retty Isnendes. Buku kumpulan sajak pertama mahasiswa pascasarjana UGM ini, Kasumba Kuring (1994), cuma dihargai Rp 900 ribu plus 10 eksemplar buku.

Tumpukan masalah itu bertambah tinggi jika ditambah soal minimnya penerbitan berbahasa daerah. Masyarakat Sunda pernah punya majalah Hanjuang. Lalu ada mingguan Giwangkara, surat kabar Galura, dan majalah Mangle serta penerbit buku Kiblat Buku Utama dan Girimukti Pusaka. Pencinta sastra Jawa masih punya Penjebar Semangat. Pada 1960-an, Yogyakarta punya surat kabar Kembang Brayan sampai 1971. Setelah itu muncul majalah Djaka Lodang. Dari Solo, lahir mingguan Dharma Nyata dan Parikesit pada awal 1970-an. Di Surabaya, muncul Jaya Baya pada 1980-an, yang tetap bertahan hingga sekarang.

Meski digedor banyak soal, toh karya sastra dalam bahasa daerah tak pernah punah. Ketika karya sastra dalam bahasa Indonesia menjadi bahan perbincangan seru di ruang seminar, sastra daerah tetap bertahan. Setidaknya ada segelintir orang yang menekuni wilayah sempit ini, meski tak menjanjikan popularitas dan materi berlimpah.

Retty ingin seperti Ajip Rosidi, Dyah Padmini mau berpartisipasi memajukan budaya Sunda, tapi Holisoh punya alasan lain. “Saya takut merusak kalau menulis dalam bahasa Indonesia,” tuturnya. Menulis dalam bahasa Sunda adalah pilihan hidup yang tak mungkin ditinggalkan, meski materi yang diterima tak seberapa. Di tengah kesibukan mengajar di sekolah dasar, ia tetap melahirkan karya dari sebuah mesin ketik kuno. Sesekali ia masih membaca karya sastrawan Sunda seperti M.A. Salamun dan Muhammad Amri. Tentunya bukan di atas kertas pembungkus terasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*