Dengan Puisi Dia Mengubah

Ary Nugraheni
surabayapost.co.id

Itulah salah satu bait puisi karya sastrawan ternama Taufiq Ismail bertajuk ‘Kembalikan Indonesia Padaku’. Berkat konsistensinya menjadi satu-satunya sastrawan yang banyak menyimpan perhatian untuk Indonesia, maka belum lama ini di Jakarta sosok Taufik dihadiahi dengan konser bertajuk ‘A Tribute To Taufik Ismail’ oleh beberapa musisi ternama di Indonesia dari berbagai generasi. Mulai Bimbo, Dwiki Dharmawan, Ita Purnamasari, Krisdayanti, Maliq and D’Essential, dan Dea Imut.

Konser itu menandai 55 tahun Taufiq Ismail berkarya dalam dunia sastra Indonesia. Bahkan beberapa lirik puisinya, berhasil dinyanyikan oleh almarhum Chrisye lewat lagu berjudul ‘Bila Kaki, Tangan, dan Mulut Dikunci’, ada lirik puisi yang dinyanyikan pula oleh Achmad Albar, Bimbo, dan lain-lain.

Mempertahankan hal itu, tentu tak mudah bagi seorang sastrawan sekaliber apa pun. Maka, dari ribuan kumpulan puisi yang berhasil dibuat oleh Taufiq itu pun dijadikan satu dalam sebuah buku baru yang ia keluarkan pertengahan tahun 2008 ini berjudul ‘Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit’.

Saat ditemui di Menara 568 Cilandak Jakarta belum lama ini, Taufiq mengemukakan bahwa dirinya memang patut berbangga, karena di 55 tahun berkaryanya ini ia banyak dihadiahi ‘anugerah’ dari teman-teman dekatnya, bahkan lintas generasi pun menghadiahinya berupa lantunan lagu dari lirik-lirik puisi karyanya dalam konser a tribute pertamanya itu.

Namun Taufiq tetaplah manusia biasa, dalam sambutannya itu ia mengatakan kalau ia adalah setitik debu di tengah sahara Indonesia, kecil sekali. Tak pernah menggapai ke langit. Apalagi, hasil penjualan seluruh buku akan disumbangkan untuk pembangunan Rumah Puisi, yang digagas Taufiq Ismail.

“Buku baru saya itu bukan memperingati usia saya, tapi apa yang pernah saya perbuat dalam hidup ini. Sebab, hidup itu perbuatan,? imbuh Taufik.

Sastrawan kelahiran Bukittinggi ini mengatakan, di usianya yang menginjak kepala 7, ia hanya ingin mengajak generasi muda untuk menjenguk sejarah. Itu, kata Taufik, sangat penting dan sangat dibutuhkan bagi kesinambungan membangun Indonesia, di masa kini dan akan datang, agar penyegaran perjuangan selalu ada.

“Tapi, meratapi kepergian masa lalu yang menggembirakan dan terus memujanya adalah sikap memilukan bagi seorang yang berjiwa patriot. Sebab terpenting bagi kita, sekarang adalah menciptakan ‘surga’ di Indonesia yang telah lama dirampok oleh Orde Baru (Orba) dulu,” tutur Taufik.

Kata-kata Taufik itu merupakan ajakan kepada generasi muda, agar menyikapi sesuatu dengan bijaksana. Mengingat, tahun 2009 mendatang merupakan momen penting dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu pemilihan presiden (Pilpres) atau pemilu untuk memilih orang nomer satu di Indonesia yang diharapkan semua kebijakannya membawa perubahan yang lebih baik kepada warga negaranya.

Sastrawan Politikus?
Sebagai pencinta sastra, siapa pun barangkali tak pernah tidak memperhatikan proses kreativitas sastrawan Taufik. Dalam bersastra, karya Taufik memang nyaris tak pernah kering dan sepi dari muatan politik. Bahkan, Taufik sering membenturkan isu budaya, pendidikan, ekonomi, dan sosial dengan hiruk-pikuk yang berbau politik. Demikian halnya dengan Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer, B Soelarto, Muchtar Lubis, Wiratmo Soekito, dan penulis-penulis lain, maka Taufik sebagai sastrawan pelopor penandatangan Manikebu ingin juga memperlihatkan bahwa dengan berkesenian serta bersastra ia tetap menekuni politik.

Hal ini bisa dibuktikan sejak pertama kali ia menyandang gelar penyair pada tahun 1966. ketika itu, dengan semangat yang luar biasa? melalui sajak ?Tirani? dan ?Benteng?nya ia cukup andil menumbangkan Orde Lama/Orla (Soekarno), dan kita lihat di sana bagaimana ia menggambarkan zaman yang bergolak dan penuh idealisme itu. Lalu dilaksanakanlah Pemilu dengan hura-hura berdarah, segala tipu dan fitnah dalam teriakan histeris jurdil dan pesta demokrasi. Dan dengan gegap gempita, masyarakat bergegas menyongsong lahirnya Orba.

Kemudian saat Orba ditumbangkan (1998), Taufik ?malu-malu? meluncurkan buku berjudul ‘Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia’. Sajak Taufik memang mempunyai spirit juang yang tinggi. Daya ekspresi bahasa yang diluncurkan bisa membawa sentak tangan yang dikepalkan, telunjuk jari yang diacungkan, dan lengan baju yang disingsingkan.

Dalam sajak-sajak ?Tirani? terhadap Orla dapat kita lihat pemandangan seperti itu, meski sajak ini hanya berlaku satu kali, yaitu terhadap Orla. Tapi pilihan kata Taufik, tampak begitu berbobot dan ?matang?, bahkan hinggga sekarang masih mempunyai kekuatan yang sulit tertandingi oleh sastrawan lain.

“Saya tak keberatan mau disebut sastrawan politikus, sastrawan religius, karena bagi saya sekarang adalah karya-karya saya itu bisa membawa perubahan dari generasi ke generasi. Saya bisa bermanfaat buat orang lain saja, sudah bersyukur,” terang pria peraih berbagai penghargaan yang diantaranya American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57) ini.

Rumah Puisi di Sumbar
Kepedulian sastrawan Taufiq terhadap tumbuh-kembang sastra Indonesia, ternyata begitu total. Diam-diam ia juga membangun Rumah Puisi di kaki Gunung Singgalang dan kaki Gunung Merapi, Nagari Aia Angek, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat (Sumbar).

“Pembangunannya sudah dimulai 20 Februari 2008 lalu. Modal awal pembangunan adalah (uang) dari perolehan hadiah sastra Habibie Award 2007 sebesar 25.000 dollar AS, setelah dipotong pajak menjadi Rp200 juta,” ujar Taufik.

Keinginan membangun Rumah Puisi membersit setelah selesai melaksanakan program Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS), yang berlangsung selama enam hari di 12 kota, yang diikuti oleh 1.800 guru. Taufiq juga dikenal sebagai sastrawan yang tak pernah lelah melakukan kegiatan pembangunan apresiasi sastra di sekolah melalui kegiatan yang dinamai Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB).

Ia memboyong sebuah tim yang terdiri dari 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris dan menyebar mereka ke 213 SMA untuk membacakan karya sastra dan bertanya jawab dengan siswa dan guru di 164 kota, 31 provinsi serta membentuk 30 sanggar sastra siswa di seluruh Indonesia.

“Gagasan Rumah Puisi tumbuh dari pengalaman kolektif bersama tim redaktur (majalah sastra) Horison dan sahabat-sahabat sastrawan dalam 10 program gerakan membawa sastra ke sekolah, sejak 1998 hingga 2008 ini,” jelas Taufik.

Menjadi cita-cita menghimpun kegiatan-kegiatan tersebut di sebuah tempat, dimana pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat diselenggarakan, sastrawan dapat berinteraksi dengan siswa dan guru, buku-buku dapat diakses dalam sebuah perpustakaan, sanggar sastra siswa difasilitasi dan beberapa kegiatan sejenis dilaksanakan, di tempat yang diberi nama Rumah Puisi.

Menurut Taufiq, koleksi buku-bukunya di Jakarta akan menjadi penghuni pertama perpustakaan Rumah Puisi, disusul oleh koleksi buku para penyumbang berikutnya.

Di kawasan Rumah Puisi, yang terletak di tepi jalan lintas tengah Sumatera antara Padangpanjang dan Bukittinggi, dengan pemandangan alam yang indah terdapat bangunan utama, area pementasan, rumah sastrawan tamu, musholla, dapur, gudang, dan ruang terbuka.

Taufiq mengungkapkan, sejak awal gagasan membangun Rumah Puisi ini disambut dengan antusias oleh para sastrawan, guru-guru dan Pemerintah Propinsi Sumbar. Maka, buku baru setebal 2.996 bertajuk ‘Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit’ menandai kokohnya pertahanan seorang Taufiq selama ini dan hasil penjualan seluruh buku akan disumbangkan oleh Panitia Taufiq Ismail 55 Tahun dalam Sastra Indonesia untuk pembangunan Rumah Puisi tersebut. (*)

Nama: Taufiq Ismail
Lahir: Bukittinggi Sumbar, 25 Juni 1935
Agama: Islam
Isteri: Esiyati Ismail (Ati)
Anak: Abraham Ismail

Pendidikan:
– Sekolah Rakyat di Semarang
– SMP di Bukittinggi, Sumatera Barat
– SMA di Pekalongan, Jawa Tengah
– SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS
– Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI, Bogor, 1963

Karir:
– Penyair
– Pendiri majalah sastra Horison (1966)
– Pendiri Dewan Kesenian Jakarta (1968)
– Redaktur Senior Horison dan kolumnis (1966-sekarang)
– Wakil General Manager Taman Ismail Marzuki (1973)
– Ketua Lembaga Pendidikan dan Kesenian Jakarta (1973-1977)
– Penyair, penerjemah (1978-sekarang)

Kegiatan Lain:
– Dosen Institut Pertanian Bogor (1962-1965)
– Dosen Fakultas Psikologi UI (1967)
– Sekretaris DPH-DKI (1970-1971)
– Manager Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978)
– Ketua Umum Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1985)

Karya:
– Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.)
– Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970)
– Tirani (1966)
– Puisi-puisi Sepi (1971)
– Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971)
– Buku Tamu Museum Perjuangan (1972)
– Sajak Ladang Jagung (1973)
– Puisi-puisi Langit (1990)
– Tirani dan Benteng (1993)
– Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999)

Penghargaan:
– American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57)
– Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970
– SEA Write Award (1997)

Alamat Rumah:
Jalan Utan Kayu Raya No. 66 E, Jakarta Timur 13120 Telepon (021)8504959, 881190

Alamat Kantor:
Jalan Bumi Putera 23, Jakarta Timur