Kasih, Di Balik Tirai Kabut

Yuyun Ifa Naliah*
http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/

Embun bening. Begitu suci mengantung di pucuk-pucuk daun. Setia membenamkan hasrat hati. Dalam keindahan suasana, kelopak bunga bergoyang melambai, seakan memanggilku datang menikmati keindahan bentuk dan keharumannya. Kicau burung, setia bernyanyi menemani langkah kaki, menapaki jalanan panjang.

Kemegahan pagi menyambut hari pertamaku di sini. Di mana eksotisme pegunungan terhampar di pertengahan kota, Malang. Begitulah, selama kurang-lebih enam minggu ke depan, aku akan tinggal di sini?merajut kisah, melepas kepergian waktu ditemani keindahan hari.

Aku singgah di kota ini untuk melakukan study yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi yang ada di Jogjakarta, di mana aku kuliah di sana. Dan tak terasa perputaran jarum jam begitu cepat, tiga minggu telah berlalu. Tentunya, tinggal 3 minggu lagi aku di sini. Tapi, selama itu aku masih juga ragu. Sebenarnya apa yang masih memberat di pikiranku. Pasalnya, setiap kali aku melakukan aktivitas, seperti ada sesuatu yang sangat rahasia tersimpan di kota ini.
* * *

Pada senja penghujung yang perlahan pergi menyimpan berjuta kisah, aku pergi ke taman di pinggiran kota. Aroma bunga terapung saat langkah menginjak rumput taman. Terdengar bisik gemerisik dedaunan bergoyang terhempas angin mengantar kepergian hari. Seorang gadis berkerudung merah jambu duduk di bangku tua, tersenyum seperti menyambut kedatanganku.

Layaknya bertarung melawan ingin, aku mencoba menjauh darinya. Namun belum tiga langkah ayun kaki, suara lirih tertahan memberat di punggungku. Refleks kutoleh sumber suara merdu itu. Senyum manja gadis itu tergambar di lensa mataku.
?Apa kakak mengingatku?? Suaranya lembut.

Perlahan dengan keraguan, aku berjalan mendekat. Melangkah lambat. Menikmati setiap teksture paras ayunya, seraya menjumputi sepai-sepai memori pada buntalan waktu dalam ingatan.
?Yuni,? kataku. Seperti tersadar dan menemukan diri bangun dari kabut mimpi. Berhadapan dengannya.
?Benar, kak. Ternyata, kakak masih ingat aku.?

Perlahan aku duduk di sisinya, seraya meyakinkan diri sekali lagi untuk percaya, bahwa dia adalah gadis itu. Gadis yang pernah mengambil hatiku dan menuangkan mataair percintaan di gelas kerinduanku.

beranjak hati dari lelapnya
meneduh bisik batin
pada rindang kasih
detik mengantar
langkah mimpi terdalam
jauh di batas gapura waktu
walau tak kan teraih
lirihnya terkenang
bila hanya waktu kasih
yang melukis kanvas hari

Dengan melodi indah dia menyadarkanku dari dimensi lamunan yang mengajakku membaca lembar-lembar kisah.
* * *

Hembus angin malam ini menjajarkan rasa pada dinding cakrawala. Sebatas akhir dari rindu. Kabut menidurkan cahaya rembulan, mengurai mimpi-mimpi dalam relung kasih. Kubiarkan perasaan hanyut dalam arus sungai rindu yang ia gariskan sebelum hari berbaris datang dan menjauhkan.

Aku tersenyum, teringat perjalananku dengan dia. Ke Goa Maharani, Waduk Gondang, dan Pantai Pasir Putih Goa Angin. Indahnya kebersamaan yang terjalin, memotret panorama alam dalam perpaduan cinta.

Sesekali ia menatapku. Rupanya, waktu tak cukup banyak merubah dirinya. Polos, pendiam, dan penuh dengan keyakinan. Senyumnya yang manja itu, seperti barisan bintang yang berbaur di kelambu malam, menemani rembulan yang tunggal.

Aku ingin terus menyambung dan memperpanjang barisan kata-kata, menghilangkan segala rindu yang menjamah sekujur jiwa. Barangkali dapat kembali saling mengisi dan mencurahkan taburan kasih di sepanjang langkah hidup. Hingga rahasia-rahasia terbuka di dada.

?Sampai di sini saja, kak.? Ia berisyarat mengakhiri perjamuan rindu malam ini. Sungguh waktu begitu cepat berlalu. Saat kulihat arloji yang selalu menempel di tiap aktivitas, tahulah, bila kebersamaan ini telah berlangsung lebih dari lima jam. Aku sendiri tak yakin dengan apa yang terjadi. Aku hanya diam.

?Selama bumi masih berotasi, malam akan digantikan terangnya siang. Begitu juga pertemuan kita malam ini. Saat rembulan berpulang ke peraduan, kata pisah akan menjemput kita. Dan masa itu telah tiba,? katanya seperti memberi pesan untuk tak mudah menyalahkan waktu yang berjalan seperti terburu-buru dalam perasaanku.

?Aku punya hadiah. Buat kakak.? Dari dalam tas ia mengambil bungkusan cantik bermotif bunga-bunga.
?Terima kasih.? Kuterima pemberiannya.
?Baiklah, aku mohon diri.?
Ia bergegas membereskan. Berdiri dan memeluk tubuhku erat. Barangkali untuk yang pertama dan yang terakhir kali. Lantas ia pergi dengan menggoreskan senyum manisnya, dan berjalan menembus dinginnya malam. Perlahan sosoknya hilang dalam dekapan tirai kabut.

Aku membuka bungkusan yang ia berikan. Sebuah gelas kaca yang masih tercium harumnya mataair rindu. Sesaat aku terdiam. Tak menyangka. Ternyata ia begitu setia. Menyimpan dan merawat gelas yang telah kami gunakan sebagai wadah mataair rindu lima tahun lalu. Barangkali begitu juga nasib cintaku yang tersimpan di palung hatinya. Airmataku mengalir jatuh. Sebentar dalam kabut aku berjalan ke tempat biasa aku melepas lelah. Dalam lensa mataku, masih tergambar senyum manis bentukan bibirnya.
Lantas ketika rembulan pulang ke bibir langit, kabut masih mengurung sepi. Tirai kabut yang tak terlupakan.

Lamongan, 2007

*) Pelajar MA. Matholi?ul Anwar, Simo Sungelebak, Karanggeneng, Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *